Somdet Phra Chao Luk Ther Chao Fa Bajrakitiyabha Narendira Debyavati atau Bajrakitiyabha, Putri Rajasarini Siribajra. Ia adalah cucu pertama Raja Bhumibol Adulyadej and Ratu Sirikit dari Thailand. Ia adalah anak tunggal dari Raja Maha Vajiralongkorn dengan Putri Soamsavali.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bajrakitiyabha พัชรกิติยาภา | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Putri Rajasarini Siribajra | |||||
Putri Bajrakitiyabha pada tahun 2013 | |||||
| Duta Besar Thailand untuk Austria, Slovakia, dan Slovenia | |||||
| Masa jabatan 4 September 2012 – 1 October 2014 | |||||
| Dicalonkan oleh | Yingluck Shinawatra | ||||
| Perdana Menteri |
| ||||
Pendahulu Somsak Suriyawong Pengganti Attayut Srisamut | |||||
| Kelahiran | Phra Chao Lanh Ther Phra Ong Chao Bajrakitiyabha 07 Desember 1978 Bangkok, Thailand | ||||
| |||||
| Wangsa | Mahidol | ||||
| Dinasti | Chakri | ||||
| Ayah | Raja Rama X | ||||
| Ibu | Soamsawali, Putri Suddhanarinatha | ||||
| Agama | Buddha | ||||
| Tanda tangan | |||||
Somdet Phra Chao Luk Ther Chao Fa Bajrakitiyabha Narendira Debyavati atau Bajrakitiyabha, Putri Rajasarini Siribajra (bahasa Thai: พัชรกิติยาภาcode: th is deprecated ; Pengucapan Thai: [pʰátɕʰaráʔ kìtìjaːpʰaː]; RTGS: Phatchara Kitiyapha; "Putri Bajrakitiyabha, Cucu Diraja"; lebih dikenal dengan nama Putri Pa atau Patty,[1] lahir 7 Desember 1978). Ia adalah cucu pertama Raja Bhumibol Adulyadej and Ratu Sirikit dari Thailand. Ia adalah anak tunggal dari Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X) dengan Putri Soamsavali.
Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati, Sang Putri Rajasarinisiribajra Mahavajrarajadhida adalah putri sulung dari Raja Vajiralongkorn dengan Putri Soamsawali.[2][3] Beliau lahir pada hari Kamis, 7 Desember 1978 di Istana Ambara, Istana Dusit.[4] Beliau merupakan cucu pertama dari Raja Bhumibol Adulyadej dan Ibu Suri Sirikit. Gelar beliau saat lahir adalah Putri Bajrakitiyabha.
Sesuai tradisi kerajaan, setelah penobatan raja, permaisuri dan anggota keluarga kerajaan akan diberikan gelar kehormatan yang baru. Pada 5 Mei 2019, dalam rangkaian Upacara Penobatan Raja, Raja Vajiralongkorn menilai bahwa Putri Bajrakitiyabha telah menjalankan tugas-tugas kerajaan dengan penuh ketekunan dan bakti sejak masa pemerintahan sebelumnya hingga saat ini. Beliau telah banyak membantu meringankan beban tugas kerajaan sehingga sangat dipercaya oleh Raja. Oleh karena itu, Raja menitahkan agar Putri Bajrakitiyabha diberikan gelar kehormatan sesuai tradisi kuno sebagai Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati, serta menganugerahkan Ordo Dinasti Chakri dan Medali Sandi Kerajaan Rama X Kelas 1.[7]
Pada 28 Juli 2019, dalam upacara memperingati hari ulang tahun Raja, Raja Vajiralongkorn menyatakan bahwa Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati sebagai putri sulung telah berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas kerajaan dan menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Beliau sering mewakili Raja dalam berbagai kesempatan dan mengurus urusan pribadi Raja dengan sangat baik, sehingga sangat meringankan beban kerja kerajaan.
Selain itu, Putri Bajrakitiyabha telah lama aktif dalam kegiatan amal melalui Yayasan Relawan Friends in Need (Pa) di bawah Palang Merah Thailand, di mana beliau menjabat sebagai ketua. Beliau juga pernah bertugas di Perutusan Tetap Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Dalam bidang hukum, beliau memiliki keahlian yang mumpuni dan berkarier sebagai Jaksa di Kejaksaan Agung Thailand. Beliau juga mendirikan "Proyek Kamlangjai" (Proyek Inspirasi) untuk meningkatkan kualitas hidup para narapidana. Mengingat jasanya yang besar bagi negara dan rakyat, dipandang perlu untuk meningkatkan gelar kehormatannya sesuai tradisi kerajaan.
Maka, Raja menitahkan pelantikan Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati menjadi gelar *Krom* (gelar tinggi bagi keluarga kerajaan) dengan nama resmi Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati, Sang Putri Rajasarinisiribajra Mahavajrarajadhida, serta menganugerahkan Ordo Sembilan Permata.[8]
Dalam buku protokol istana tahun 2022, nama singkat beliau disebutkan sebagai Putri Rajasarinisiribajra Mahavajrarajadhida.[9]
Pada 15 Desember 2022, Biro Rumah Tangga Kerajaan mengeluarkan pernyataan bahwa pada 14 Desember, Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati tidak sadarkan diri akibat masalah jantung. Hal ini terjadi saat beliau sedang melatih anjing peliharaannya untuk berkompetisi dalam ajang Thailand Working Dog Championship by Royal Thai Army 2022 yang dijadwalkan berlangsung pada 10–19 Desember di Pusat Pelatihan Batalyon Anjing Militer, Distrik Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima. Tim dokter kerajaan segera membawa beliau untuk mendapatkan pertolongan pertama di Rumah Sakit Pak Chong Nana hingga kondisinya stabil di tingkat tertentu, sebelum kemudian diterbangkan dengan helikopter kerajaan untuk menjalani perawatan intensif dan pemeriksaan menyeluruh di Rumah Sakit Chulalongkorn, Palang Merah Thailand.[10]
Pada 19 Desember 2022, Biro Rumah Tangga Kerajaan mengeluarkan pernyataan kedua yang melaporkan bahwa kondisi umum beliau stabil pada tingkat tertentu. Detak jantung beliau dapat dikendalikan melalui pengobatan, namun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jantung belum berkontraksi dengan optimal. Meskipun demikian, angiografi koroner tidak menunjukkan adanya kelainan. Tim dokter memberikan pengobatan dan menggunakan peralatan medis untuk membantu fungsi jantung, paru-paru, serta ginjal sambil memantau kondisi beliau dengan ketat.[11]
Pada 7 Januari 2023, pernyataan ketiga dikeluarkan yang menyimpulkan bahwa hilangnya kesadaran sang Putri disebabkan oleh aritmia (gangguan irama jantung) yang parah akibat peradangan jantung yang dipicu oleh infeksi Mycoplasma. Pada saat itu, dilaporkan bahwa sang Putri secara keseluruhan masih belum sadarkan diri.[12]
Pada 15 Agustus 2025, Biro Rumah Tangga Kerajaan merilis pernyataan keempat yang melaporkan bahwa selama penggunaan alat bantu fungsi paru-paru dan ginjal, tim dokter menemukan adanya infeksi berkala sehingga diberikan tambahan antibiotik. Sejak 9 Agustus 2025, dokter mendeteksi adanya infeksi parah yang masuk ke dalam aliran darah (sepsis). Hal ini mengharuskan pemberian berbagai jenis antibiotik secara bersamaan serta obat stimulan untuk menstabilkan tekanan darah yang rendah.[13]
Pada 19 Agustus 2025, pernyataan kelima melaporkan bahwa tekanan darah beliau masih rendah. Tim dokter terus memberikan obat stimulan tekanan darah bersama dengan antibiotik, serta tetap menggunakan peralatan medis untuk menggantikan fungsi ginjal dan alat bantu pernapasan secara berkelanjutan.[14]
Pada 31 Agustus 2025, pernyataan keenam menginformasikan bahwa kondisi infeksi secara keseluruhan telah membaik. Tekanan darah beliau mulai stabil setelah penghentian obat stimulan. Tim dokter tetap memberikan antibiotik untuk mengontrol infeksi dan melanjutkan penggunaan alat bantu fungsi paru-paru serta ginjal sambil memantau perkembangan kesehatan beliau dengan sangat dekat.[15]
Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati aktif menjalankan berbagai tugas kerajaan, mulai dari bidang kemanusiaan melalui Yayasan Relawan Friends in Need (Pa) di bawah Palang Merah Thailand, hingga bidang hukum yang merupakan keahliannya. Beliau juga sering mewakili Raja dalam berbagai acara resmi. Saat menempuh pendidikan di Universitas Thammasat, beliau berpartisipasi dalam Pertandingan Sepak Bola Tradisional Chula–Thammasat dan bertugas membawa simbol Dharmachakra, lambang resmi universitas tersebut. Di ranah internasional, beliau pernah bekerja di Perutusan Tetap Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Dalam kapasitasnya sebagai diplomat, sang Putri menunjukkan kepemimpinan dan dedikasi yang tinggi. Kecerdasan dan kepribadiannya yang anggun telah diakui oleh komunitas internasional, yang pada gilirannya memperkuat peran dan prestise Thailand dalam diplomasi multilateral. Tugas-tugas diplomasinya mencakup peran sebagai perwakilan Thailand dalam Sidang Umum PBB ke-60 di New York. Beliau bertanggung jawab dalam Komite Ketiga (masalah pencegahan kejahatan, peradilan pidana, hak asasi migran, dan imigrasi) serta Komite Keenam (hukum laut, hukum perdagangan internasional, dan penanggulangan terorisme). Kontribusi dan pemikiran yang beliau berikan kepada kementerian luar negeri sangat bermanfaat bagi penetapan posisi strategis Thailand dalam berbagai isu global yang penting.
Beliau menjabat sebagai dosen tamu untuk program magister di Fakultas Hukum, Universitas Thammasat.[30]
Yayasan Relawan Friends in Need (Pa) Palang Merah Thailand berawal dari pelaksanaan Proyek Relawan Friends in Need (Pa) yang dibentuk saat terjadi banjir besar di Bangkok pada tahun 1995. Saat itu, banyak warga yang terdampak sehingga bantuan dari pemerintah dan organisasi amal yang ada tidak dapat menjangkau seluruh wilayah secara merata. Hal ini sempat memicu ketegangan di antara warga yang merasa kurang mendapatkan empati dan bantuan dibandingkan wilayah tetangga mereka.
Pada pagi hari tanggal 29 Oktober 1995, Putri Bajrakitiyabha turun langsung untuk menjalankan misi proyek ini pertama kalinya dengan menggalang bantuan dari masyarakat di stasiun pengisian bahan bakar. Kemudian pada siang harinya, beliau mengunjungi warga di Soi Charan Sanit Wong 34 (distrik Bangkok Noi) serta Soi Charan Sanit Wong 82, 84, dan 86 (distrik Bang Phlat).
Kehadiran beliau di lapangan berhasil meredakan ketegangan situasi. Sejak saat itu, proyek ini terus berkembang hingga secara resmi terdaftar sebagai yayasan pada 21 November 2001.
Selain itu, pada 14 Maret 2011, Putri Bajrakitiyabha bersama Putri Soamsawali menginstruksikan Associate Professor Dr. Pichit Suvarnprakorn sebagai wakil untuk mengirimkan 3.000 paket bantuan guna membantu para korban dalam aksi kemanusiaan pasca gempa bumi dan tsunami Tohoku 2011 di Jepang.[31]
Proyek ini didirikan pada 14 September 2001 saat beliau masih menjadi mahasiswa hukum. Langkah awal dimulai dengan kunjungan ke narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Pusat, Lardyao, Bangkok. Beliau menaruh perhatian besar pada kualitas hidup dan kondisi kesejahteraan para tahanan.
Proyek Kamlangjai kemudian memperluas jangkauan bantuannya kepada anak-anak yang lahir dari ibu yang sedang menjalani masa hukuman, serta narapidana wanita lanjut usia. Agar inisiatif ini dapat diadopsi secara global, sang Putri berperan penting dalam mengusulkan dan merancang standar minimum PBB untuk perlakuan terhadap narapidana wanita, yang dikenal dengan nama "Enhancing Life for Female Inmates" (ELFI) atau Protokol Bangkok.
Yayasan Nabha didirikan atas prakarsa Putri Bajrakitiyabha pada 13 Februari 2014, di mana beliau menjabat sebagai ketua yayasan. Yayasan ini berfokus pada kegiatan amal sosial dengan prinsip memberikan kesempatan dan menjadi jembatan bagi pengembangan kualitas hidup masyarakat yang kurang beruntung, khususnya mantan narapidana dan narapidana yang masih menjalani hukuman. Yayasan Nabha juga aktif mengampanyekan pentingnya memberikan kesempatan kedua agar mereka dapat kembali berintegrasi dan hidup normal di tengah masyarakat.
| Gelar bangsawan untuk Bajrakitiyabha, Putri Rajasarini Siribajra | |
|---|---|
| Gaya referensi | Yang Teramat Mulia |
| Gaya penyebutan | Kebawah Paduka Baginda |
| Gaya alternatif | Chao Fa |