Budhi Muliawan Suyitno adalah birokrat, akademisi, dan guru besar asal Jawa Tengah. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi di bawah kepemimpinan Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid. Ia berkarier di Departemen Perhubungan di sepanjang karier birokratnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Budhi Muliawan Suyitno | |
|---|---|
| Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Indonesia ke-31 | |
| Masa jabatan 1 Juni 2001 – 23 Juli 2001 | |
| Presiden | Abdurrahman Wahid |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 18 Desember 1953 |
| Kebangsaan | |
| Partai politik | Independen |
| Almamater | Institut Teknologi Bandung (Ir.) ENSMA (DEA, Dr.) Universitas Pancasila (Prof.) |
| Pekerjaan | birokrat, akademisi, guru besar |
Budhi Muliawan Suyitno adalah birokrat, akademisi, dan guru besar asal Jawa Tengah. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi di bawah kepemimpinan Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid.[1] Ia berkarier di Departemen Perhubungan (sekarang Kementerian Perhubungan) di sepanjang karier birokratnya.
Budhi Muliawan Suyitno memulai pendidikan dasarnya di SD Negeri 1 Purwodadi, ia lulus pada tahun 1965. Kemudian, ia lanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kudus selama 3 tahun, dan lulus pada 1968. Budhi kemudian melanjutkan pendidikan menengah atasnya di kabupaten yang sama, yakni di SMA Negeri Kudus dan lulus pada 1971.
Selepas SMA, Budhi pindah ke Bandung dan berkuliah di Institut Teknologi Bandung program studi aeronautika. Ia mendapatkan gelar insinyur pada tahun 1977.[2]
Budhi Muliawan Suyitno menyelesaikan gelar masternya (DEA) dalam Ilmu Material dari ENSMA (École nationale supérieure de mécanique et d'aérotechnique) Poitiers, Prancis, tahun 1985. Gelar doktornya juga didapat dari ENSMA pada 1998.[3]
Budhi memulai karier di Kementerian Republik Indonesia sebagai staf yunior dan kemudian dipromosikan di berbagai posisi. Ia pernah menjadi Staf Ahli Menteri Perhubungan untuk Bidang Keselamatan Keselamatan Transportasi, Kementerian Perhubungan periode Oktober 2000 - Juni 2001. Tugas dan fungsi utama sebagai staf Ahli Menhub adalah pemberi saran dan kajian terkait dengan peraturan disektor keselamatan dan keamanan transportasi.
Budhi juga pernah menjabat sebagai Inspektur Jenderal Departemen Perhubungan[4] (2005–2007), Direktur Jenderal Perhubungan Udara[5][6] (2007–2009), dan Pejabat Direktur Jenderal Kereta Api (2013) sampai memasuki masa purnatugas (Januari 2014). Pencapaian tertinggi kariernya adalah Menteri Perhubungan Republik Indonesia tahun 2001, sebagai anggota Kabinet era Abdurrahman Wahid.[7]
Pada awal kariernya sebagai inspektur kelaikan udara ia berpartisipasi dalam berbagai training dibidang penerbangan antara lain: engine and airframe courses DC-10 jet jumbo (10 minggu, USA), NC-212 (4 minggu, Bandung), dan Hercules (2 minggu, Jakarta).
Budhi juga melakukan electronic-avionics Fokker F-27-500 (8 minggu, Amsterdam), Helikopter dan Gas Turbines (8 minggu, Curug-Indonesia), dan FAA’s Aircraft Certification (1 minggu, Singapura). Lebih lanjut, ia juga mengikuti pelatihan spesialisasi seperti Non Destructive Techniques (6 minggu, yang diselenggarakan oleh FAA Academy, USA), Aircraft Damage Tolerance (2 minggu, Jakarta), Aircraft Accident Investigation (1 minggu, Jakarta), Boeing Aging Aircraft Training (1 minggu, Bangkok diselenggarakan oleh Boeing Co) dan Train Air Management Course (2 minggu, yang diselenggarakan oleh ICAO Montreal).
Selama bertugas sebagai Direktur Sertifikasi Kelaikan Udara, ia juga bertugas sebagai ketua tim sertifikasi baik untuk CN-235 (JAA Sertifikat yang dikeluarkan pada bulan Agustus 1995) maupun Sertifikasi N-250 (dibatalkan pada bulan Oktober 1995).
Saat menjadi Dirjen Perhubungan Udara, dia menjalin kerjasama dengan Yunani pada Juni 2008. Ia menandatangani Perjanjian hubungan udara bersama Duta Besar Yunani untuk Indonesia Chalarambos Christopoulos. Perjanjian itu mencakup hak angkut penerbangan, penunjukan maskapai, keselamatan dan keamanan penerbangan, tarif dan rute penerbangan.[8]
Selain bekerja di dalam Kementerian, Budhi juga mengajar di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Dia secara reguler mengajar Engineering Sciences baik di S1 dan S2 di Universitas Pancasila.[9] Sejak 2013 Budhi diangkat menjadi Ketua Jurusan Teknik Mesin. Pada 2014, Budhi menjadi ketua Pusat Riset Energi di universitas yang sama.
Seiring kariernya Dr. Budhi M. Suyitno memperoleh penghargaan di Indonesia dan ASEAN. Antara lain Profesional Engineer (IPM) dari Insinyur Indonesia (PII), Honorary Fellow dari Federasi Teknik Organisasi ASEAN dari ASEAN Federation of Organization Teknik (AFEO) dan juga Insinyur ASEAN dari AFEO. Ia terpilih sebagai Anggota AIPI (komisi ilmu rekayasa) pada tahun 2002. Dia juga anggota dari ASEAN Academy of Engineering.
Tesisnya tentang “The Fatigue Crack Propagation of Steel” mencangkup test frequency as a new variable during fatigue crack propagation in vacuum environment.
Selanjutnya Budhi M. Suyitno bersama-sama dengan
Beberapa karya ilmiah yang diterbitkan, antara lain: