Wayang Kulit gagrak Yogyakarta atau wayang kulit gaya Yogyakarta merupakan wayang kulit yang secara morfologi memiliki ciri bentuk, pola tatahan, dan sunggingan (pewarnaan) yang khas. Selain itu dalam pertunjukan wayang kulit gagrag Yogyakarta juga memiliki unsur-unsur khas yaitu, lakon wayang, catur, karawitan . (Wayang Kulit gagrak Yogyakarta bisa juga disebut Ringgit Wacucal Gagrak Ngayogyakarta).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Wayang Kulit gagrak Yogyakarta atau wayang kulit gaya Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀ꦒꦒꦿꦏ꧀ ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠcode: jv is deprecated , translit. Wayang kulit gagrag Ngayogyakarta) merupakan wayang kulit yang secara morfologi memiliki ciri bentuk, pola tatahan, dan sunggingan (pewarnaan) yang khas. Selain itu dalam pertunjukan wayang kulit gagrag Yogyakarta juga memiliki unsur-unsur khas yaitu, lakon wayang (penyajian alur cerita dan maknanya), catur (narasi dan percakapan), karawitan (gendhing, sulukan, dan properti panggung). (Wayang Kulit gagrak Yogyakarta bisa juga disebut Ringgit Wacucal Gagrak Ngayogyakarta).
Latar belakang sejarah wayang kulit gagrag Yogyakarta tidak lepas dari kaitan historis berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1755. Wayang Kulit Gaya Yogyakarta ini sendiri diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan tokoh wayang Arjuna yang dikenal dengan nama Kanjeng Kiai Jayaningrum. Sejarah wayang kulit Yogyakarta erat kaitannya dengan kisah Pangeran Mangkubumi yang meninggalkan Kraton Mataram di Surakarta diikuti oleh abdi dalem kinasih yang ahli menatah dan menyungging wayang kulit, bernama Jayaprana dan anaknya, Jaka Penatas.[1]
Ciri khas dari wayang kulit gaya Yogyakarta biasanya terlihat dari kakinya seperti orang menari. Kaki belakang wayang gaya Yogyakarta ini posisinya berjingkat (jinjit) dan jari-jari kakinya mengembang ke bawah. Panjang tangannya sampai jari kaki, sehingga lebih panjang dibandingkan dengan wayang kulit purwa gaya Surakarta.[2]
Wayang gaya Yogyakarta tampil lebih gagah, lebih ekspresif dan dinamis. Sunggingan siten-siten atau tanah yang menghubungkan kaki depan dan belakang warnanya merah polos. Ciri lainnya, pakaian wayang kulit gaya Yogyakarta kebanyakan mahkota (makutha), jamang sada saeler, jamang sulaman, sisir, ron, sumping, gelapan, (bledhegan), utah-utah, praba, kelat bahu, badhong, uncal-uncal diberi hiasan intan-intan. Tokoh raksasa terlihat lebih besar dan untuk manusia kera matanya dua, sementara tokoh wayang dewa mengenakan topi oncit seperti rumah siput (kethu keyongan). Tokoh wayang putri biasanya payudaranya besar dengan wiron jarik ke depan.[3]
Wayang kulit gaya Yogyakarta ini, secara ringkas, memiliki ciri yang pertama menggambarkan wayang (ringgit) bergerak, hal ini ditandai dengan tampilan posisi kaki yang melangkah lebar terutama pada tokoh jangkahan (gagahan). Ciri yang kedua memiliki tampilan bentuk tambun yaitu penggambaran bentuk tubuh yang sedikit lebih pendek dan kekar (gemuk) yang dinamakan dengan dhepah. Ciri yang ketiga yaitu pada umumnya tokoh-tokoh dalam wayang kulit gaya Yogyakarta mempunyai tangan yang sangat panjang hingga menyentuh kaki. Ciri yang keempat dari tatahannya dapat diketahui bahwa hampir semua tatahan tokoh wayang menggunakan unsur tatahan yang dinamakan inten-intenan, terutama pada pecahan uncal kencana, sumping, turida, dan bagian busana lainnya. Ciri yang kelima tokoh wayang kulit gaya Yogyakarta menggunakan sungging tlancap yang pada masa lampau disebut dengan sungging sorotan, yaitu unsur sungging yang berbentuk segitiga terbalik yang lancip-lancip seperti bentuk tumpal pada motif kain batik. Ciri keenam yaitu pada bagian sinten-sinten atau lemahan yaitu bagian di antara kaki depan dan kaki belakang umumnya diwarna dengan warna merah.[4]