Menulis adalah tindakan menciptakan representasi yang bertahan lama dari sebuah bahasa. Suatu sistem tulisan mencakup seperangkat lambang tertentu yang disebut aksara, beserta aturan-aturan yang mengatur bagaimana lambang-lambang itu mewakili suatu bahasa lisan tertentu. Setiap bahasa tulis berakar pada bahasa lisan yang mendasarinya; dan meskipun penggunaan bahasa bersifat universal di seluruh masyarakat manusia, sebagian besar bahasa lisan tidak memiliki bentuk tulisan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Menulis adalah tindakan menciptakan representasi yang bertahan lama dari sebuah bahasa. Suatu sistem tulisan mencakup seperangkat lambang tertentu yang disebut aksara, beserta aturan-aturan yang mengatur bagaimana lambang-lambang itu mewakili suatu bahasa lisan tertentu. Setiap bahasa tulis berakar pada bahasa lisan yang mendasarinya; dan meskipun penggunaan bahasa bersifat universal di seluruh masyarakat manusia, sebagian besar bahasa lisan tidak memiliki bentuk tulisan.[1]
Menulis merupakan kegiatan yang bersifat kognitif sekaligus sosial, melibatkan proses neuropsikologis dan fisik. Hasil dari kegiatan ini—yang juga disebut tulisan (atau sebuah teks)—adalah rangkaian lambang yang diukir secara fisik, dipindahkan secara mekanis, atau direpresentasikan secara digital. Membaca adalah proses yang berhubungan langsung dengan menulis, yakni menafsirkan teks tertulis, dengan pelakunya disebut sebagai pembaca.[2]
Secara umum, sistem tulisan tidak membentuk bahasa tersendiri, melainkan menjadi sarana untuk mengodekan bahasa sehingga dapat dibaca oleh orang lain lintas ruang dan waktu.[3][4] Meskipun tidak semua bahasa memiliki sistem tulisan, bahasa-bahasa yang memilikinya dapat memperluas dan melengkapi kemampuan bahasa lisan dengan menciptakan bentuk-bentuk bahasa yang tahan lama, yang dapat disampaikan melintasi jarak (misalnya melalui surat tertulis) dan disimpan sepanjang waktu (seperti dalam perpustakaan).[5] Tulisan juga memengaruhi jenis pengetahuan yang dapat diperoleh manusia, karena memungkinkan manusia mengeksternalisasi pemikiran mereka dalam bentuk-bentuk yang lebih mudah untuk direnungkan, dikembangkan, ditinjau ulang, dan diperbaiki.[6][7][8]
Setiap kegiatan menulis merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara alat yang tersedia, tujuan penulis, kebiasaan budaya, pola pikir kognitif, genre, pengetahuan tersirat maupun eksplisit, serta batasan dan kendala dari sistem yang digunakan.[9] Alat tulis yang digunakan untuk membuat inskripsi fisik meliputi jari, stilus, kuas tinta, pensil, pena, dan berbagai teknik litografi. Permukaan tempat inskripsi dapat dibuat meliputi tablet batu, tablet tanah liat, bilah bambu, papirus, tablet lilin, vellum, perkamen, kertas, lempeng tembaga, dan papan tulis.[10]
Mesin ketik, serta pengolah kata digital, memungkinkan penulis menghasilkan teks yang konsisten secara visual melalui sarana papan ketik.[11]
Kemajuan dalam bidang pemrosesan bahasa alami dan pembangkitan bahasa alami telah melahirkan perangkat lunak yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk tulisan formulaik tertentu (misalnya ramalan cuaca dan laporan olahraga) tanpa keterlibatan langsung manusia setelah konfigurasi awal.[12] Lebih umum lagi, teknologi ini digunakan untuk mendukung proses penulisan seperti menghasilkan rancangan awal, memberikan umpan balik berdasarkan rubrik, menyunting naskah, dan membantu penerjemahan.[13]

Secara historis, tulisan muncul untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks secara ekonomi dan sosial. Setelah berkembang, penerapannya mencakup pencatatan hasil panen dan kekayaan lain, pendokumentasian sejarah, pelestarian budaya, serta pengodean pengetahuan melalui kurikulum dan daftar teks yang dianggap mengandung pengetahuan dasar (misalnya Kanon Kedokteran) atau nilai artistik (misalnya kanon sastra). Tulisan juga menjadi alat bantu administrasi, seperti dalam kode hukum, catatan sensus, kontrak, akta kepemilikan, pajak, perjanjian dagang, dan perjanjian antarnegara. Charles Bazerman menjelaskan bahwa “penandaan simbol pada batu, tanah liat, kertas, dan kini memori digital—masing-masing lebih portabel dan lebih cepat menyebar daripada yang sebelumnya—menyediakan sarana untuk tindakan yang semakin terkoordinasi dan memori yang meluas di antara kelompok manusia dalam ruang dan waktu.”[14]
Inovasi lebih lanjut mencakup sistem hukum yang lebih seragam dan dapat diprediksi, penyebaran versi teks suci yang mudah diakses, serta berkembangnya praktik penyelidikan ilmiah dan pengelolaan pengetahuan—semuanya sangat bergantung pada bentuk bahasa tertulis yang portabel dan mudah diperbanyak. Sejarah penulisan berjalan seiring dengan berbagai fungsi tulisan dan pengembangan sistem aktivitas yang melahirkan serta menyebarkan praktik menulis.[15]
Motivasi individu untuk menulis mencakup kemampuan untuk melampaui batasan ingatan pribadi[16] misalnya melalui daftar tugas, resep, pengingat, buku catatan, peta, atau petunjuk untuk tugas maupun ritual yang kompleks. Alasan lain meliputi penyebaran gagasan dan koordinasi sosial (misalnya melalui esai, monograf, selebaran, rencana, petisi, manifesto), pengungkapan kreativitas dan bercerita, pemeliharaan hubungan kekerabatan dan jaringan sosial lainnya,[17] korespondensi bisnis terkait barang dan jasa, serta tulisan hidup seperti diari atau jurnal pribadi.[18]
Penyebaran global sistem komunikasi digital seperti surel dan media sosial telah menjadikan kegiatan menulis semakin penting dalam kehidupan sehari-hari, di mana sistem ini berbaur dengan teknologi lama seperti kertas, pensil, papan tulis, printer, dan mesin fotokopi.[19] Sebagian besar tempat kerja di negara maju kini ditandai oleh banyaknya aktivitas tulis-menulis.[20] Dalam banyak profesi seperti hukum, akuntansi, desain perangkat lunak, dan sumber daya manusia, dokumentasi tertulis bukan hanya hasil utama, tetapi juga menjadi cara kerja itu sendiri.[21] Bahkan dalam pekerjaan yang tidak secara langsung berhubungan dengan menulis, praktik pengelolaan arsip rutin membuat hampir semua karyawan menulis setidaknya sebagian dari waktu mereka.[22]
Kegiatan menulis menjiwai hampir seluruh aktivitas niaga sehari-hari. Sebagai contoh, dalam satu siang, seorang pedagang grosir mungkin menerima pertanyaan tertulis tentang ketersediaan suatu lini produk, lalu berkomunikasi dengan pemasok dan produsen melalui surat perintah kerja dan perjanjian pembelian, berkirim email untuk menegaskan jadwal pengiriman dengan perusahaan pengangkutan barang, menulis faktur, serta meminta bukti penerimaan dalam bentuk tanda tangan tertulis.
Dalam skala yang lebih besar, sistem modern di bidang keuangan, perbankan, dan bisnis bertumpu pada dokumen tertulis—mulai dari peraturan, kebijakan, hingga prosedur; penyusunan laporan dan dokumen pemantauan lainnya guna membuat, menilai, serta mempertanggungjawabkan keputusan dan operasional; penciptaan dan pemeliharaan arsip; komunikasi tertulis internal antarbagian untuk mengoordinasikan pekerjaan; komunikasi tertulis yang menjadi produk kerja untuk diserahkan kepada bagian lain maupun kepada klien; hingga komunikasi eksternal kepada klien dan masyarakat luas.[23][24]
Lembaga bisnis dan keuangan juga sangat bergantung pada berbagai dokumen hukum tertulis seperti kontrak, laporan kepada lembaga pemerintah, catatan pajak, dan laporan akuntansi.[25] Lembaga keuangan dan pasar yang menyimpan, menyalurkan, memperdagangkan, mengasuransikan, atau mengatur aset bagi klien maupun institusi lain sangat bergantung pada catatan tertulis (yang kini kerap berbentuk digital) untuk menjaga integritas dan keandalan peran mereka.[26]
Banyak sistem pemerintahan modern dibentuk dan disahkan melalui konstitusi tertulis, baik di tingkat nasional maupun negara bagian atau organisasi lainnya. Aturan dan prosedur tertulis umumnya menjadi pedoman bagi berjalannya berbagai cabang, departemen, dan lembaga pemerintahan, yang secara rutin menghasilkan laporan dan dokumen lain sebagai bentuk produk kerja serta pertanggungjawaban atas tindakan mereka.
Selain lembaga legislatif yang merancang dan mengesahkan undang-undang, hukum-hukum tersebut dijalankan oleh cabang eksekutif, yang dapat mengeluarkan peraturan tertulis lebih lanjut untuk menjelaskan isi undang-undang serta cara pelaksanaannya.[27] Pemerintah di berbagai tingkat juga lazimnya menyimpan catatan tertulis mengenai warga negara—mencakup identitas, peristiwa hidup seperti kelahiran, kematian, pernikahan, dan perceraian; penerbitan izin untuk kegiatan tertentu; tuduhan pidana, pelanggaran lalu lintas, serta berbagai sanksi besar maupun kecil; dan kewajiban serta pembayaran pajak.[28]
Penelitian dalam disiplin akademik umumnya diterbitkan dalam bentuk artikel jurnal atau monograf panjang. Argumen, eksperimen, data observasional, dan bukti lain yang dihimpun selama proses penelitian dituangkan dalam tulisan, dan menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya. Pengumpulan data dan penulisan naskah ilmiah sering kali didukung oleh hibah yang memerlukan proposal berisi nilai dan kebutuhan pendanaan penelitian tersebut.[29] Data dan prosedur biasanya dicatat dalam buku catatan laboratorium atau berkas awal lainnya.[30] Pra-cetak dari karya yang akan diterbitkan dapat dipresentasikan di konferensi akademik atau diunggah ke peladen web terbuka guna memperoleh umpan balik dari rekan sejawat serta membangkitkan minat terhadap penelitian tersebut.
Sebelum penerbitan resmi, dokumen semacam itu biasanya dibaca dan dievaluasi melalui proses penelaahan sejawat oleh para ahli yang menentukan apakah karya tersebut memiliki nilai dan mutu yang memadai untuk diterbitkan.[31]
Publikasi tidak serta-merta menjadikan temuan atau klaim suatu penelitian sebagai kebenaran mutlak; ia hanya menandai bahwa penelitian tersebut layak mendapat perhatian dari kalangan spesialis. Seiring waktu, ketika karya tersebut dikutip dalam artikel tinjauan, buku pegangan, buku teks, atau karya lain, dan digunakan dalam penelitian berikutnya, ia akan terlembagakan sebagai pengetahuan yang dapat dipercaya secara kontekstual.[32]
Berita dan peliputan berita merupakan inti dari partisipasi warga serta pemahaman mereka terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk tindakan dan integritas pemerintah, tren ekonomi, bencana alam dan tanggapannya, peristiwa geopolitik internasional (termasuk konflik), juga olahraga, hiburan, buku, dan kegiatan rekreasi lainnya.
Meskipun berita dan surat kabar berkembang pesat dari abad ke-18 hingga ke-20, perubahan ekonomi dan teknologi dalam produksi serta distribusi berita telah membawa tantangan besar dan cepat terhadap dunia jurnalisme dan cara pengetahuan serta partisipasi warga diorganisasi.[33][34] Perubahan ini juga menimbulkan tantangan baru terhadap etika jurnalisme yang telah dikembangkan selama satu abad terakhir.[35]
Pendidikan formal merupakan konteks sosial yang paling erat kaitannya dengan pembelajaran menulis, dan banyak siswa tetap membawa asosiasi ini jauh setelah meninggalkan sekolah.[36]
Selain membaca tulisan, baik berupa buku teks, bacaan wajib, maupun bahan ajar lainnya serta buku pilihan pribadi—para siswa juga banyak menulis di sekolah pada berbagai jenjang: dalam ujian, esai, catatan pelajaran, pekerjaan rumah, serta evaluasi formatif dan sumatif. Sebagian dari kegiatan ini secara eksplisit diarahkan pada pembelajaran menulis, tetapi sebagian besar difokuskan pada penguasaan mata pelajaran itu sendiri.[37][38]
Sistem tulisan dapat diklasifikasikan secara umum berdasarkan satuan bahasa yang diwakili oleh lambang-lambangnya:[39][40]

Suatu logografi ditulis menggunakan logogram, yakni lambang tertulis yang mewakili kata atau morfem tunggal.[39] Banyak logogram memiliki struktur internal, dengan komponen yang dapat mencerminkan aspek fonografis maupun ideografis dari morfem tersebut (misalnya radikal aksara Tionghoa dan determinatif hieroglif).[41]
Sistem logografis utama yang masih digunakan hingga kini adalah aksara Tionghoa, yang dipakai terutama untuk menulis bahasa Tionghoa dan Jepang, serta secara historis digunakan pula untuk bahasa-bahasa lain di wilayah yang dipengaruhi kebudayaan Tionghoa, seperti Korea dan Vietnam. Sistem logografis lainnya mencakup aksara paku dan aksara Maya.[42]
Silabari adalah seperangkat lambang tertulis yang mewakili suku kata,[39] biasanya berupa kombinasi konsonan diikuti vokal, atau vokal tunggal. Dalam beberapa sistem tulisan, suku kata yang lebih kompleks (seperti konsonan–vokal–konsonan atau konsonan–konsonan–vokal) dapat memiliki lambang khusus tersendiri. Suku kata yang terdengar mirip tidak selalu ditulis dengan bentuk yang serupa.[39]
Silabari paling cocok digunakan untuk bahasa-bahasa dengan struktur suku kata yang sederhana, seperti bahasa Jepang. Sistem tulisan silabis lainnya termasuk Linear B dan silabari Cherokee.[43]
Suatu alfabet adalah himpunan lambang tertulis yang mewakili konsonan dan vokal.[39]
Alfabet yang hanya memiliki huruf untuk konsonan disebut abjad atau konsonantaria; meskipun demikian, tanda diakritik kadang digunakan untuk menunjukkan vokal yang mengikuti konsonan. Alfabet paling awal merupakan abjad, dipengaruhi oleh lambang-lambang yang mewakili konsonan tertentu dan berasal dari hieroglif Mesir. Sebagian besar abjad juga berasal dari wilayah Timur Tengah, yang mencerminkan variasi vokal yang relatif terbatas dalam morfologi bahasa Semit yang dituturkan di kawasan tersebut.[39]
Dalam sebagian besar alfabet di India dan Asia Tenggara, vokal ditandai melalui tanda diakritik atau perubahan bentuk pada konsonan dasar. Sistem semacam ini disebut abugida atau alfasilabari.[39] Istilah abugida berasal dari urutan huruf awal dalam aksara Geʽez, salah satu abugida penting yang digunakan untuk menulis berbagai bahasa di Etiopia dan Eritrea.[44]
Tulisan pertama kali muncul pada masa Zaman Perunggu Awal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang semakin kompleks dari negara-kota Sumeria di selatan Mesopotamia. Pada masa itu, kompleksitas perdagangan dan administrasi telah melampaui daya ingat manusia, sehingga tulisan paku Sumeria menjadi sarana yang andal untuk mencatat transaksi, menyimpan catatan keuangan, serta mendokumentasikan peristiwa sejarah dan kegiatan sejenis lainnya.[45]
Tulisan paku, yang digunakan untuk menuliskan bahasa Sumeria, dengan relatif cepat diikuti oleh munculnya hieroglif Mesir. Keduanya berevolusi dari sistem proto-tulisan antara tahun 3400 hingga 3100 SM, dengan teks-teks koheren tertua berasal dari sekitar ca 2600 SM.[46] Sementara itu, aksara Lembah Indus (ca 2600–ca 2000 SM), yang ditemukan pada berbagai artefak hasil peradaban Peradaban Lembah Indus di anak benua India, hingga kini belum berhasil diuraikan. Para ahli juga belum sepakat apakah aksara tersebut benar-benar berfungsi sebagai sistem tulisan yang sesungguhnya.[47] Meskipun asal-usul visualnya tidak tampak jelas, terdapat kemungkinan besar bahwa difusi budaya dari Mesopotamia telah memperkenalkan konsep tulisan kepada masyarakat Lembah Indus.[48]

Pada tahun 1970-an, arkeolog Denise Schmandt-Besserat mengemukakan sebuah teori yang menghubungkan tulisan paku dengan benda-benda tanah liat kecil yang sebelumnya tidak dikategorikan, disebut "token", yang paling tua ditemukan di wilayah Zagros, Iran. Sekitar tahun 8000 SM, masyarakat Mesopotamia mulai menggunakan token tanah liat untuk menghitung hasil pertanian dan barang-barang produksi mereka. Kemudian, token-token ini ditempatkan di dalam wadah tanah liat besar yang berongga (bulla, atau amplop globular) dan disegel rapat. Jumlah token di dalam wadah tersebut kemudian diwakili oleh gambar-gambar yang ditekan pada permukaannya, satu gambar untuk setiap token di dalamnya. Tahap berikutnya, mereka meninggalkan penggunaan token dan mulai menggambarkan simbol-simbol token tersebut langsung di atas permukaan tanah liat. Untuk menghindari penggambaran berulang (misalnya menggambar 100 topi untuk mewakili 100 topi), mereka mulai menggunakan tanda-tanda kecil sebagai penanda jumlah.[49]
Tulisan paku (dari bahasa Latin cuniuscode: la is deprecated , terj. har. 'baji') muncul sekitar ca 3200 SM sebagai bagian dari teknologi pencatatan ini. Menjelang akhir milenium ke-4 SM,[50] masyarakat Mesopotamia mulai menggunakan stilus berbentuk segitiga yang ditekan ke tanah liat lembut untuk mencatat angka. Sistem ini kemudian diperkaya dengan penggunaan stilus tajam untuk menggambarkan apa yang sedang dihitung melalui piktograf. Stilus bundar dan tajam secara bertahap digantikan oleh stilus berbentuk baji; pada awalnya hanya digunakan untuk merekam logogram, tetapi pada abad ke-29 SM unsur fonetik mulai diperkenalkan untuk mewakili suku kata dalam bahasa Sumeria, menghasilkan sebuah sistem tulisan serbaguna yang lengkap.[51][52]
Sejak abad ke-26 SM, tulisan paku diadaptasi untuk menuliskan bahasa Akkadia yang berkerabat dengan rumpun Semitik Timur (meliputi Asyur dan Babilonia), yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Mesopotamia selatan – dan juga diadaptasi oleh bahasa lain seperti Elam, bahasa Hatti, bahasa Hurri, dan Het. Bentuk tulisan yang serupa juga ditemukan pada aksara Ugarit dan Persia Kuno. Dengan diadopsinya Aram sebagai lingua franca di Kekaisaran Asyur Baru (911–609 SM), aksara Aram Kuno juga diadaptasi ke dalam sistem tulisan paku Mesopotamia. Naskah tulisan paku berbahasa Akkadia yang paling akhir ditemukan sejauh ini berasal dari abad ke-1 M.[53]

Hieroglif tertua yang diketahui (dari bahasa Yunani, terj. har. 'tulisan suci') berupa label tanah liat milik penguasa Pradinasti bernama "Kalajengking I", yang berasal dari sekitar ca abad ke-33 SM dan ditemukan di Abydos (kini Umm el-Qa’ab); – kemungkinan lain adalah Palet Narmer yang bertarikh sekitar ca 3100 SM.[54] Sistem tulisan hieroglif bersifat logografis, tetapi juga mengandung unsur fonetik, termasuk bentuk abjad yang efektif. Kalimat tertua yang berhasil diuraikan ditemukan pada cetakan segel dari makam Seth-Peribsen di Abydos, yang berasal dari Dinasti Kedua (abad ke-28 atau ke-27 SM). Selama masa Kerajaan Lama, Tengah, dan Baru (2686–1077 SM), sekitar 800 hieroglif digunakan; sedangkan pada masa Yunani-Romawi (30 SM – 642 M), lebih dari 5.000 lambang hieroglif yang berbeda telah tercatat.[55]
Tulisan memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan kekaisaran Mesir, dan kemampuan melek huruf terhadap sistem hieroglif yang rumit ini hanya dimiliki oleh kalangan elit terpelajar, yakni para juru tulis yang melayani otoritas keagamaan, istana faraon, serta lembaga militer.[56]
Dari berbagai sistem tulisan pra-Columbus di wilayah Mesoamerika, yang tampaknya mencapai tingkat perkembangan paling tinggi—dan satu-satunya yang berhasil diuraikan—adalah aksara Maya. Inskripsi tertua yang dapat diidentifikasi sebagai tulisan Maya berasal dari abad ke-3 SM.[57] Sistem tulisan Maya memanfaatkan sekitar 800 lambang yang berbeda, – terdiri terutama dari logogram (simbol yang mewakili kata atau morfem), serta dilengkapi dengan sejumlah silabogram yang digunakan untuk menuliskan imbuhan, membedakan pembacaan suatu logogram, atau bahkan menggantikan logogram tertentu sepenuhnya.[58]
Contoh tulisan tertua yang masih bertahan di Tiongkok – berupa inskripsi pada tulang ramalan—biasanya pada plastron (bagian bawah tempurung kura-kura) dan skapula (tulang belikat sapi)—yang digunakan untuk praktik peramalan. Artefak-artefak ini bertarikh sekitar ca 1200 SM, pada masa Dinasti Shang Akhir. Sejumlah kecil inskripsi pada perunggu dari periode yang sama juga berhasil ditemukan.[59]
Aksara Proto-Elam, yang digunakan antara ca 3200–ca 2900 SM, ditemukan pada tablet tanah liat di berbagai situs di Iran modern, dengan sebagian besar berasal dari penggalian di Susa, kota kuno yang terletak di sebelah timur Sungai Tigris.[60] Aksara ini diyakini sebagian bersifat logografis, berkembang dari tulisan paku awal, dan menggunakan lebih dari 1.000 tanda. – Namun, inskripsi-inskripsinya “telah, dan akan tetap menjadi, permasalahan besar dalam pembahasan mengenai tulisan karena mewakili masa melek huruf yang masih sangat kabur.”[61]
Aksara tulisan paku Elam, yang digunakan antara ca 2500 – 331 SM, diadaptasi dari tulisan paku Akkadia. Pada setiap periode penggunaannya, tulisan paku Elam rata-rata memanfaatkan sekitar 130 simbol, – dengan total 206 tanda yang tercatat sepanjang sejarahnya — jauh lebih sedikit dibandingkan sebagian besar sistem tulisan paku lainnya.[39]
Sebelum ditemukannya alfabet Yunani pada Zaman Besi, hieroglif Kreta telah digunakan pada artefak-artefak dari Kreta sejak awal hingga pertengahan milenium ke-2 SM. Linear B, sistem tulisan milik bangsa Yunani Mikenai, digunakan di Knossos di Kreta serta di daratan Yunani antara ca 1450–1200 SM.[62] Sementara itu, Linear A—yang hingga kini belum berhasil diuraikan, digunakan di Kepulauan Aegea dan daratan utama antara ca 1800–1450 SM.[63]
Alfabet diyakini hanya pernah diciptakan sekali dalam sejarah manusia, oleh suatu komunitas penambang pirus bangsa Kanaan di Semenanjung Sinai sekitar ca 1800 SM untuk menuliskan bahasa Semitik Barat,[64] “dalam konteks pertukaran budaya antara penutur bahasa Semitik dari wilayah Levant dan komunitas di Mesir.”[65] Bentuk tertua yang diketahui ini disebut Aksara Proto-Sinai, yang mengadaptasi konsep serta sebagian bentuk hurufnya dari tulisan hieroglif Mesir, tetapi sepenuhnya menerapkan nilai bunyi khas Semitik Barat bagi huruf-hurufnya, alih-alih menggunakan sistem bunyi Mesir.[66] Penanggalan pasti asal-usul aksara ini, serta asal grafis dari banyak bentuk hurufnya, masih belum jelas, dan hingga kini aksara tersebut belum berhasil diuraikan.[67] Sekitar 30 inskripsi kasar telah ditemukan di situs pertambangan pegunungan Mesir yang dikenal sebagai Serabit el-Khadem, dengan simbol-simbol yang masing-masing mewakili satu bunyi konsonan alih-alih kata atau konsep, suatu dasar bagi sistem alfabet. Penggunaan alfabet baru meluas antara abad ke-12 hingga ke-9 SM.[64]
Alfabet Fenisia (ca 1050 SM) merupakan keturunan langsung dari Proto-Sinai. Baik Proto-Sinai maupun Fenisia tergolong abjad, yakni sistem yang hanya merepresentasikan bunyi konsonan. Alfabet Fenisia kemudian diadaptasi menjadi alfabet Yunani (ca 800 SM), yang untuk pertama kalinya memperkenalkan tanda khusus untuk bunyi vokal — dengan memanfaatkan beberapa lambang konsonan Fenisia yang tidak terpakai.[68] Dari salah satu variannya, alfabet Cumae, lahirlah alfabet Etruria beserta keturunannya, termasuk alfabet Latin.[69] Keturunan lain dari alfabet Yunani mencakup alfabet Sirilik, yang digunakan untuk menulis bahasa seperti Bulgaria dan Rusia.[70] Alfabet Fenisia juga diadaptasi menjadi aksara Aram, yang kemudian melahirkan berbagai sistem tulisan Asia Barat seperti aksara Ibrani persegi dan aksara Arab,[71] serta sistem tulisan Asia Selatan aksara Brahmik.[72]
Dalam sejarah tulisan, teks keagamaan memainkan peranan yang sangat penting. Beberapa himpunan teks keagamaan bahkan menjadi karya tulis populer tertua, atau satu-satunya bentuk tulisan dalam suatu bahasa tertentu, dan dalam beberapa kasus masih tetap dibaca serta dihormati di berbagai belahan dunia hingga kini.[73][halaman dibutuhkan][74][75]