Suriansyah, juga disebut sebagai Suryanullah atau Sultan Suria Angsa dan Pangeran Jaya Sutera, adalah pendiri Kesultanan Banjar yang memerintah sejak penobatannya sebagai raja pada tahun 1520, disusul dengan keislamannya serta penobatannya sebagai sultan pada tahun 1526 hingga kematiannya pada tahun 1540/46. Ia merupakan penguasa Banjar pertama yang memeluk agama Islam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Suriansyah سوريان شاه | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pangeran Jaya Sutera[1][2][3] | |||||||||
| Sultan Banjar | |||||||||
| Berkuasa | 1526 – 1540[4]/46 | ||||||||
| Penobatan | 24 September 1526 | ||||||||
| Pendahulu | Dirinya sendiri (sebagai Raja) | ||||||||
| Penerus | Rahmatullah | ||||||||
| Raja Banjar | |||||||||
| Berkuasa | 1520 – 1526 | ||||||||
| Pendahulu | Jabatan dibentuk (Pangeran Tumenggung sebagai penguasa Negara Daha) | ||||||||
| Penerus | Dirinya sendiri (sebagai Sultan) | ||||||||
| Putra Mahkota dari Negara Daha | |||||||||
| Berkuasa | 1525 – 1526 | ||||||||
| Kelahiran | Raden Raga Samudera[5][6] Tidak diketahui Kerajaan Negara Daha | ||||||||
| Kematian | 1540/46 Kesultanan Banjar | ||||||||
| Pemakaman | |||||||||
| Pasangan | Ratoe Sa'adah
| ||||||||
| Keturunan | |||||||||
| |||||||||
| Wangsa | Wangsa Banjarmasin | ||||||||
| Ayah | Raden Mantri Alu[5] | ||||||||
| Ibu | Ratu Intan Sari Galuh Baranakan[5] | ||||||||
| Agama | Islam Sunni | ||||||||
Suriansyah,[8] juga disebut sebagai Suryanullah[5][9][10][11][12][13][14] atau Sultan Suria Angsa[15][16][17] dan Pangeran Jaya Sutera, adalah pendiri Kesultanan Banjar yang memerintah sejak penobatannya sebagai raja pada tahun 1520, disusul dengan keislamannya serta penobatannya sebagai sultan pada tahun 1526 hingga kematiannya pada tahun 1540/46.[1][2][4][5][18][19] Ia merupakan penguasa Banjar pertama yang memeluk agama Islam.[20][21]

Raden Samudera adalah putera dari Puteri Galuh Beranakan (Ratu Intan Sari) yaitu puteri dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha. Dan nama bapaknya adalah Raden Mantri Alu, keponakan Maharaja Sukarama. Nama "Suriansyah" sering dipakai sebagai nama anak laki-laki suku Banjar.
Menurut naskah Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin alias Hikayat Banjar resensi I, Suriansyah merupakan keturunan ke-6 dari Lambung Mangkurat dan juga keturunan ke-6 dari pasangan Puteri Junjung Buih dan Maharaja Suryanata. Maharaja Suryanata dijemput dari Majapahit sebagai jodoh Puteri Junjung Buih, saudara angkat Lambung Mangkurat. Suriansyah juga merupakan keturunan ke-3 dari Raden Sekar Sungsang.
Legitimasi politik yang muncul bagi masyarakat Banjar bahwa seorang raja atau calon pengganti raja haruslah putra tertua raja yang lahir dari ibu yang juga berdarah raja (putera gahara). Hal ini mengacu pada pasangan Suryanata dan Junjung Buih sebagai idealisasinya. Para tutus raja atau garis lurus keturunan raja-raja (dalam konsepsi Hinduistik) yang juga berarti tutus naga (dalam konsepsi religi asli), diyakini sebagai wakil dewa di dunia. Tradisi ini dengan sendirinya menjadi sumber legitimasi politik bagi setiap penguasa yang silih berganti bertahta. Meskipun Kesultanan Banjar yang muncul pada abad ke-16 adalah Kerajaan Islam, tetapi tradisi politik yang diwariskan dari masa Negara Dipa itu ternyata tetap kuat mewarnai proses suksesinya. Aturan ini rupanya sangat dipahami oleh Maharaja Sukarama, raja kedua Negara Daha (kelanjutan Negara Dipa). Diceritakan dalam Hikayat Banjar, Maharaka Sukarama mempunyai empat orang istri dan empat orang putra dan satu orang putri. Mereka masing-masing adalah Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung, Pangeran Bagalung, Pangeran Jayadewa, dan si bungsu perempuan bernama Puteri Galuh Baranakan. Dua yang terakhir merupakan seibu sebapak yaitu Putri Galuh Baranakan dan Pangeran Jayadewa yang hilang ketika berburu. Keempat istri raja tersebut rupanya tidak berdarah bangsawan tetapi putri dari para mentri kerajaan, sehingga sang raja mengawinkan Putri Galuh Baranakan dengan putra saudaranya sendiri, Raden Bagawan, yang bernama Raden Mantri. Pasangan ini, Galuh dan Mantri kemudian melahirkan Raden Samudera. Karena berdarah murni, oleh Sukarama, Raden Samudera dianggap lebih berhak mewarisi takhta Daha daripada yang lainnya.[22] Meskipun anak-anaknya keberatan atas keputusan itu, tetapi Sukarama bersikukuh.
Setelah kematian Maharaja Sukarama, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumanggung, yang menginginkan ambisi tahta, berusaha menyingkirkan Pangeran Samudera. Hal ini kemudian memicu perang saudara yang membawa Kerajaan Negara Daha pada keruntuhannya.
Setelah lama menyamar sebagai nelayan dengan nama Samidri, Raden Samudera yang masih remaja secara perlahan mengumpulkan kekuatan, hingga akhirnya ia diakui oleh sejumlah kepala kampung di hilir Sungai Barito, dan menjadikan sungai tersebut basis kekuasaannya. Oleh para kepala kampung tersebut, ia diangkat menjadi Raja pada tahun 1520 dengan gelar Pangeran Jaya Samudera.
Penguasa Kesultanan Demak memberi syarat untuk membantunya dalam peperangan melawan pamannya, maka pada tanggal 24 September 1526 (6 Zulhijjah 932 Hijriyah), Pangeran Samudera setuju memeluk Islam dan memilih gelar "Sultan Suryanullah" atau "Suriansyah", dari kata surya (matahari) dan syah (raja) yang disesuaikan dengan gelar dari Raden Putra (Rahadyan Putra) yaitu Suryanata, seorang Raja Hindu sebelumnya. Gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah diberikan oleh seorang dai Arab.[23] Setelah aksesinya, ia berhasil mengalahkan para pesaingnya dan menjadi penguasa Banjar tunggal.[24]
Ketika Suriansyah pertama kali mengatur kerajaan, Patih Masih menjabat sebagai Mangkubumi, yang posisinya lebih tinggi daripada Empat Menteri atau dalam bahasa Banjar disebut Mantri Ampat yaitu 4 orang deputi yaitu:[20][25][26][27]
Dibawah Gampiran dan Panumping terdapat 30 wilayah Mantri (Mantri Sikap). Keempat deputi ini juga berwenang sebagai hakim.
Setelah kejatuhan Negara Daha, patih tertua, Aria Taranggan diangkat sebagai Mangkubumi dengan wewenang untuk menangani masalah administrasi negara dari seluruh wilayah negara, menentukan keputusan terakhir terhadap seseorang yang dijatuhi hukuman mati, dan menentukan perihal hak penyitaan segala harta benda yang dijatuhi hukuman.
Keempat deputi juga memilik wewenang sebagai jaksa dan hakim, tetapi segala keputusan mereka berdasarkan sebuah kodifikasi hukum yang disebut Kutara yang disusun oleh Aria Taranggana ketika menjabat Mangkubumi Negara Daha.
Selain itu, Suriansyah juga memebentuk sejumlah kementerian:
Sekitar pertengahan pemerintahannya, Suriansyah membangun sebuah masjid di pinggir Sungai Kuin, yang kemudian dinamai Masjid Sultan Suriansyah.

Suriansyah memodifikasi sistem militer untuk kepentingan perluasan wilayah. Sejak penobatannya pada tahun 1526, Banjar mengalami perluasan wilayah yang cukup signifikan. Daerah-daerah yang takluk pada masa pemerintahan Suriansyah disebutkan dalam Hikayat Banjar:[28]
Sudah itu maka orang Sebangau, orang Mendawai, orang Sampit, orang Pembuang, orang Kota Waringin, orang Sukadana, orang Lawai, orang Sambas sekaliannya itu dipersalin sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim barat sekaliannya negeri itu datang mahanjurkan upetinya, musim timur kembali itu. Dan orang Takisung, orang Tambangan Laut, orang Kintap, orang Asam-Asam, orang Laut-Pulau, orang Pamukan, orang Paser, orang Kutai, orang Berau, orang Karasikan, sekaliannya itu dipersalin, sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim timur datang sekaliannya negeri itu mahanjurkan upetinya, musim barat kembali.[5]


Sultan Suryanullah diperkirakan mangkat pada tahun 1540[20] atau 1546, hal ini seperti yang tertulis pada nisannya. Setelah mangkat, Suriansyah mendapat gelar anumerta Panembahan Batu Habang dan Susuhunan Batu Habang, yang dinamakan berdasarkan warna batu bata merah (habang) yang menutupi pusara kuburannya di Komplek Makam Sultan Suriansyah di Banjar Lama, sekarang Kuin Utara, Kalimantan Selatan.
Tanggal masuk Islamnya Suriansyah dan segenap rakyatnya, 24 September 1526, diperingati sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin, sekitar 499 tahun yang lalu.
Suriansyah dari Banjar Meninggal: 1540 | ||
| Didahului oleh: Jabatan dibentuk |
Sultan Banjar 1526 – 1540 |
Diteruskan oleh: Rahmatullah dari Banjar |
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Pangeran Tumenggung (penguasa Negara Daha) |
Raja Banjar 1520 – 1526 |
Diteruskan oleh: Rakyatullah |