Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kerajaan Negara Daha

Kerajaan Negara Daha adalah salah satu kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan. Ibukota Kerajaan Negara Daha berada di Nagara, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kekuasaan di Wilayah Kerajaan Negara Daha kemudian diambil alih oleh Kerajaan Banjar pada tanggal 24 September 1526. Pada masa pemerintahan Kerajaan Negara Daha, semua keturunan rajanya bergelar Pangeran. setelah wilayah kerajaan ini menjadi kekuasaan dari Kerajaan Banjar, keturunan dari para penguasa Kerajaan Negara Daha memakai gelar Andin.

kerajaan di Asia Tenggara
Diperbarui 23 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kerajaan Negara Daha
Untuk Kerajaan Daha yang terletak di Jawa Timur, lihat Kerajaan Kadiri.
Untuk nama desa di Kecamatan Bumiayu, lihat Negaradaha, Bumiayu, Brebes.
Kerajaan Negara Daha
1481–1526
Ibu kotaKuta Nagara (pusat pemerintahan)
Bandar Muara Bahan (pusat perdagangan)
Bahasa yang umum digunakanBanjar Kuno
Agama
Siwa–Buddha
Kaharingan
Islam (minoritas)
PemerintahanMonarki
Maharaja 
• ± 1481
Sari Kaburangan
• ????–1520
Pangeran Tumenggung
Sejarah 
• Didirikan
1481
• Dibubarkan
1526
Didahului oleh
Digantikan oleh
krjKerajaan
Negara Dipa
kslKesultanan
Banjar
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Artefak yang ditemukan di situs Candi Laras koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Kerajaan Negara Daha adalah salah satu kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan. Ibukota Kerajaan Negara Daha berada di Nagara, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kekuasaan di Wilayah Kerajaan Negara Daha kemudian diambil alih oleh Kerajaan Banjar pada tanggal 24 September 1526.[1] Pada masa pemerintahan Kerajaan Negara Daha, semua keturunan rajanya bergelar Pangeran. setelah wilayah kerajaan ini menjadi kekuasaan dari Kerajaan Banjar, keturunan dari para penguasa Kerajaan Negara Daha memakai gelar Andin.[2]

Awal Pendirian

Sebelum terbentuknya kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan, masyarakat masih berkelompok berdasarkan wilayah aliran sungai. Setelah itu, terbentuk sebuah kesatuan politik yang menggabungkan kelompok-kelompok tersebut menjadi sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Negara Dipa. Kerajaan ini kemudian berganti nama menjadi Negara Daha.[3]

Pemerintahan

Pada masa pemerintahan Kerajaan Negara Daha, pusat pemerintahan di daerah Kalimantan Selatan terletak di muhara hulak, Nagara.[4]

Kerajaaan Negara Daha juga memiliki bandar perdagangan di Muara Bahan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.[5]

Penduduk asli Kerajaan Negara Daha berasal dari Suku Banjar Masih.[6] Mereka menghuni wilayah hilir Sungai Barito dan Batang Banyu dan berbahasa Banjar. Selain itu, terdapat pendudukan dari Suku Banjar Kuala, Suku Banjar Pahuluan, dan Suku Dayak.[7]

Raja-raja

Pendiri sekaligus raja pertama dari Kerajaan Negara Daha adalah Sekarsungsang.[8] Ia diberi gelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Pusat pemerintahannya di Muara Hulak dan pelabuhannya di Muara Bahan. Wilayah kekuasaan Negara Daha adalah Sewa Agung, Bunyut, Karasikan, Balitung, Lawai, dan Kotawaringin. Raja terakhir Kerajaan Negara Daha adalah Raden Sukarama. Setelahnya Kerajaan Negara Daha oleh Raden Samudera. Anak Raden Sukarama yang bernama Pangeran Tumenggung menentang keputusan ayahnya dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja Kerajaan Negara Daha. Raden Samudera sebagai pewaris tahta akhirnya melarikan diri dan mendirikan kerajaan di wilayah Banjarmasin. Setelah itu ia meminta bantuan Kerajaan Demak untuk mengambil kembali kekuasaannya. Raden Samudera dapat mengambil kembali kekuasaannya sebagai raja di Kerajaan Daha dan mendirikan Kerajaan Banjar yang bercorak Islam.[9]

Keruntuhan

Runtuhnya Kerajaan Negara Daha disebabkan terjadinya perselisihan di antara pewaris kerajaan dan berkembangnya agama Islam mulai di wilayahnya. Kerajaan Negara Daha akhirnya runtuh pada tahun 1526 dan menjadi bagian dari Kerajaan Banjar.[10] Bekas wilayah Kerajaan Negara Daha diberikan kepada Pangeran Tumenggung yang berpusat di wilayah di Batang Alai.[11] Setelah kerajaan Negara Daha runtuh, gelar kebangsawan dari keturunan raja diubah dari Pangeran menjadi Andin.[12]

Kehidupan Masyarakat

Kegiatan utama masyarakat Kerajaan Negara Daha adalah membuat kerajinan tangan dari bahan gerabah dan logam. Pusat kegiatan masyarakat berada di wilayah Tumbukan Banyu. Produk utama yang dibuat adalah genteng dan batu bata.[13]

Referensi

  1. ↑ Kurniawati, D., dan Mulyani, S. (2012). Daftar Nama Marga/Fam, Gelar Adat dan Gelar Kebangsawanan di Indonesia (PDF). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. hlm. 57. ISBN 978-979-008-495-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)[pranala nonaktif permanen]
  2. ↑ Kurniawati, D., dan Mulyani, S. (2012). Daftar Nama Marga/Fam, Gelar Adat dan Gelar Kebangsawanan di Indonesia (PDF). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. hlm. 58. ISBN 978-979-008-495-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)[pranala nonaktif permanen]
  3. ↑ Saifullah dan Dewi, S. F. (2018). Keberadaan Etnik atau Urang Banjar di Malaysia. Padang: Hayfa Press. hlm. 3. ISBN 978-602-8372-88-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Rozani; et al. (2016). Kelola Rakyat atas Ekosistem Rawa Gambut: Pelajaran Ragam Potret dan Argumen Tanding (PDF). Jakarta: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. hlm. 200. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Wajidi (2016). "Inskripsi Pernyataan Kematian pada Kompleks Makam Qadhi Jafri, Sosok Ulama dan Ahli Waris Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari". Amerta. 34 (1): 53.
  6. ↑ Saifullah dan Dewi, S. F. (2018). Keberadaan Etnik atau Urang Banjar di Malaysia (PDF). Padang: Hayfa Press. hlm. 3–4. ISBN 978-602-8372-88-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Saifullah dan Dewi S. F. (2018). Keberadaan Etnik atau Urang Banjar di Malaysia (PDF). Padang: Hayfa Press. hlm. 4–5. ISBN 978-602-8372-88-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Takari; et al. (2008). Masyarakat Kesenian di Indonesia (PDF). Medan: Studia Kultura. hlm. 143. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-10-30. Diakses tanggal 2020-08-28. ;
  9. ↑ Sunarningsih (2013). "Kerajaan Negara Daha di Tepian Sungai Negara, Kalimantan Selatan". Naditirawidya. 7 (2): 88. doi:10.24832/nw.v7i2.94.
  10. ↑ Alimaturraiyah, Hariansyah, dan Wahab (2019). "Pemikiran Pendidikan Islam K. H. Muhammad Zaini Abidin Ghani (Studi Pendidikan Akhlak di Martapura, Kalimantan Selatan)". Insania. 24 (1): 86. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)[pranala nonaktif permanen]
  11. ↑ Sahriansyah (2015). Sejarah Kesultanan dan Budaya banjar (PDF). Banjarmasin: IAIN Antasari Press. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ↑ Sahriansyah (2015). Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar (PDF). Banjarmasin: IAIN Antasari Press. hlm. 20. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Sunarningsih (2013). "Kerajaan Negara Daha di Tepian Sungai Negara, Kalimantan Selatan". Naditirawidya. 7 (2): 93. doi:10.24832/nw.v7i2.94.
  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Kalimantan
Kalimantan Barat
Nanga Bunut · Tanjungpura · Pontianak · Kubu · Sintang · Mempawah · Meliau · Sambas kuna · Sambas · Sanggau · Selimbau · Sekadau · Landak · Tayan · Piasak · Jongkong
Kalimantan Tengah
Kotawaringin
Kalimantan Selatan
Negara Daha · Negara Dipa · Kuripan · Banjar · Pagatan · Batulicin · Pulau Laut · Kusan · Sabamban · Tjingal · Sampanahan
Kalimantan Timur
Kutai Kertanegara · Kutai Martapura · Paser · Berau · Sambaliung · Gunung Tabur
Kalimantan Utara
Bulungan · Tidung
Malaysia Timur dan Brunei
Brunei · Sarawak · Sulu

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Awal Pendirian
  2. Pemerintahan
  3. Raja-raja
  4. Keruntuhan
  5. Kehidupan Masyarakat
  6. Referensi

Artikel Terkait

Asia Tenggara

bagian tenggara benua Asia

Pesta Olahraga Asia Tenggara

Kompetisi multi-olahraga negara-negara di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Buddha di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya muncul pada akhir abad ke-7 menandai keberadaannya sebagai salah satu kekuatan maritim tertua dan berpengaruh di Asia Tenggara. Berasal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026