Suku Pa-O adalah etnis minoritas yang tinggal di timur Myanmar, dengan populasi sekitar 612.000 yang mencakup sekitar 13,4% dari total populasi di Negara Bagian Shan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

PAOH (~1948) ပအိုဝ်ႏခွိုꩻ ပအိုဝ်းလူမျိုး | |
|---|---|
Wanita Pa-O di Danau Inle di Myanmar | |
| Jumlah populasi | |
| >612000 | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Pa'O, Burma | |
| Agama | |
| Buddha Theravada | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Karen, Karenni, Kayan |


Suku Pa-O (bahasa Karen Pa-O: ပအိုဝ်ႏလိုꩻမျိုꩻ; bahasa Burma: ပအိုဝ်းလူမျိုးcode: my is deprecated , pəo̰ lùmjóʊ; bahasa Shan: ပဢူဝ်း; bahasa Karen Poe Timur: တံင်သူ, juga dieja Pa'O atau Paoh) adalah etnis minoritas yang tinggal di timur Myanmar, dengan populasi sekitar 612.000 yang mencakup sekitar 13,4% dari total populasi di Negara Bagian Shan.[1]
Suku Pa-O menetap di wilayah Thaton, Myanmar modern, sekitar tahun 1700 SM. Dahulu, orang Pa-O mengenakan pakaian berwarna-warni hingga Raja Anawrahta dari Kerajaan Pagan mengalahkan Raja Makuta dari Kerajaan Thaton (juga disebut Manuha). Suku Pa-O kemudian diperbudak dan dipaksa mengenakan pakaian berwarna nila untuk menunjukkan status mereka.[2]
Suku Pa-O dalah kelompok etnis terbesar kedua di Negara Bagian Shan. Mereka juga tinggal di Negara Bagian Kayin, Negara Bagian Kayah, Negara Bagian Mon, dan Region Bago. Dewasa ini, banyak orang Pa-O yang melarikan diri ke Provinsi Mae Hong Son, di Thailand Utara untuk menghindari konflik militer yang sedang berlangsung di Myanmar.
Mereka terdiri dari dua kelompok berbeda: Pa-O Dataran Rendah, yang tinggal di Thaton, dan Pa-O Dataran Tinggi, yang tinggal di sekitar Taunggyi. Suku Pa-O terbagi lagi terdapat sebanyak dua puluh empat subkelompok:[3] Htee Ree, Jamzam, Jauk Pa'O, Khrai, Khunlon, Khonlontanyar, Kon jam, Loi Ai, Padaung, Pahtom, Pa nae, Pan Nanm, Nan kay, Mickon, Miclan, Ta Kyor, Taret, Tahtwe, Tatauk, Taungthar, Tayam, Ta Noe, Warphrarei, dan Yin Tai.
Pwe Lu-phaing (Festival Roket Api) diadakan dari bulan April hingga Juli. Tujuan festival ini adalah untuk mendatangkan hujan deras agar mengguyur desa-desa selama musim tanam. Menurut tradisi Pa'o, roket atau petasan ditembakkan untuk membantu awan menghasilkan hujan. Kepala desa menentukan ukuran roket. Roket terbesar dapat memuat hingga 20 kilogram bubuk mesiu dan memiliki jangkauan 5–6 mil. Roket, yang awalnya terbuat dari bambu, saat ini terbuat dari besi. Sebelum ditembakkan, roket diarak mengelilingi kuil setempat di pundak seseorang. Festival ini juga menunjukkan persatuan dan persahabatan antara desa-desa saat mereka berkumpul selama satu minggu. "Pwe" berarti festival, "Lue" berarti donasi, dan "phaing" berarti menghapus dosa.[4]
Hari Nasional Pa'o, atau Den See Lar Bway, dirayakan pada hari bulan purnama di bulan Tabaung, yang jatuh pada bulan Maret.[5] Hari Nasional adalah hari untuk mengenang leluhur dan pemimpin masa lalu, seperti Raja Suriya Janthar, yang ulang tahunnya juga dirayakan pada Hari Nasional. Suku Pa-O menggelar pawai besar melalui Taunggyi yang diikuti oleh festival.[6]
Mayoritas masyarakat Pa-O menganut agama Buddha,[7] yang berarti bahwa sebagian besar festival mereka didasarkan pada hari-hari raya Buddha. Sebagian orang Pa'o beragama Kristen, dan beberapa menganut kepercayaan animisme. Poy Sang Long (bahasa Burma: ရှင်ပြုပွဲcode: my is deprecated ; bahasa Karen Pa-O: ပွယ်ꩻသျင်ႏလောင်ꩻ) merupakan perayaan inisiasi anak laki-laki muda menjadi biksu cilik.[8]
Khun Thar Doon (1940–1978) adalah salah satu bintang musik Pa-O mula-u. Ia membentuk band Pa'o modern pertama pada awal 1970-an. Salah satu lagunya yang terkenal adalah "Tee Ree Ree", sebuah lagu tentang solidaritas Pa'o.[9] Lagu ini masih dinyanyikan di festival-festival tradisional hingga saat ini. Doon muncul di sampul album Guitars of the Golden Triangle: Folk and Pop Music of Myanmar (Burma), Vol. 2, yang diterbitkan oleh label Sublime Frequencies.[10] Beberapa artis lain yang mungkin termasuk Lashio Thein Aung, Saing Saing Maw, dan Khun Paw Yann.
Aung Kham Hti adalah pemimpin Organisasi Nasional Pa-O (PNO). Partai tersebut saat ini memiliki tiga perwakilan di Majelis Rakyat, satu di Majelis Nasional, dan enam di Majelis Lokal.[11] Khun San Lwin, mantan anggota PNO, saat ini menjabat sebagai Ketua Zona Otonom Pa-O.[12]