dr. Sudarsono Mangoenadikoesoemo adalah Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir I sejak 5 Desember 1945 - 12 Maret 1946 menggantikan Dr. Hadjidharmo Tjokronegoro, Menteri Sosial sebelumnya dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Dalam Kabinet Sjahrir II serta Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir III masa kerja 2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sudarsono | |
|---|---|
| Duta Besar Indonesia untuk India ke-1 | |
| Masa jabatan 1950–1953 | |
| Menteri Dalam Negeri Indonesia Ke-3 | |
| Masa jabatan 12 Maret 1946 – 2 Oktober 1946 | |
| Presiden | Soekarno |
| Perdana Menteri | Sutan Syahrir |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1911-04-09)9 April 1911 Salatiga, Hindia Belanda |
| Meninggal | 6 Juni 1976(1976-06-06) (umur 65) Jakarta, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai politik | PSI |
| Anak | Juwono Sudarsono |
| Kerabat | Mochtar Kusumaatmadja Sarwono Kusumaatmadja (keponakan) |
| Pekerjaan | Dokter Diplomat |
dr. Sudarsono Mangoenadikoesoemo[1] (09 April 1911 – 06 Juni 1976) adalah Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir I sejak 5 Desember 1945 - 12 Maret 1946 menggantikan Dr. Hadjidharmo Tjokronegoro, Menteri Sosial sebelumnya dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Dalam Kabinet Sjahrir II[2] serta Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir III masa kerja 2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947.[3][4]
Soedarsono dilahirkan di Salatiga pada tanggal 9 Mei 1911. Dia menempuh pendidkan awal di ELS, MULO, dan AMS B Jogjakarta.[5] Kemudian dia melanjutkan pendidikanya ke Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta dan lulus pada tahun 1938. Dia juga bergabung dengan organisasi Pemuda Indonesia dan pernah menjadi ketua dari tahun 1928-1929. Beliau juga pernah menjadi ketua redaksi Indonesia dan menjadi sekretaris Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia cabang Jakarta. Setelahnya, dia menjadi dokter di Jawatan Pemberantasan Penyakit Malaria di Jakarta, Ciamis, dan terakhir di rumah sakit Cirebon pada masa Jepang.[6] Selama di Cirebon, beliau menjadi pemimpin PUTERA cabang Cirebon dan bergabung dengan gerakan bawah tanah Sjahrir dan menikah dengan Moespiah (yang merupakan saudara perempuan dari Ibu Mochtar dan Sarwono Kusumaatmadja).[5][1] Ketika di Ciamis inilah anaknya Juwono Sudarsono lahir.
Kaisar Hirohito mengumumkan menyerahnya Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945. Mendengar kabar menyerahnya Jepang, Sutan Sjahrir mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mereka menolak. Akhirnya rencana Sjahrir untuk mengumumkan proklamasi gagal dan menimbulkan kekecewaan di antara pengikut Sjahrir. Namun, pengikut Sjahrir di Cirebon mengumumkan proklamasi kemerdekaan dikarenakan pesan Sjahrir tidak diterima. Sudarsono memimpin proklamasi di Cirebon. Proklamasi Kemerdekaan Cirebon dihadiri 150 orang yang berasal dari anggota Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) di persimpangan jalan dekat Alun-Alun Kejaksaan. Naskah yang dibacakan Soedarsono berasal dari Sjahrir dan sayangnya naskah tersebut hilang. Akibat tindakan Soedarsono, beliau menjadi bulanan Kempeitai dan harus bersembunyi.[7]
Sudarsono diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1945. Pada tahun 1946 beliau diangkat oleh Sutan Sjahrir menjadi Menteri Dalam Negeri selama tujuh bulan dan kemudian menjadi Menteri Negara Urusan Beras untuk India pada Kabinet Sjahrir III. Beliau berhasil mengumpulkan dan menjual beras ke India.[6] Setelah penyerahan kekuasaan, Sudarsono diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk India dari tahun 1950-1953. Sudarsono meninggal dunia pada tanggal 6 Juni 1976 di Jakarta.[8]
Ia adalah ayah dari Juwono Sudarsono, akademis, diplomat dan politikus ulung serta pejabat menteri pada era pemerintahan 5 presiden mulai, yaitu Presiden Soeharto, Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.
(Indonesia) pnri,go.id Diarsipkan 2014-01-11 di Wayback Machine. (Indonesia) kemendagri
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Sutan Syahrir |
Menteri Dalam Negeri Indonesia 1946 |
Diteruskan oleh: Mohamad Roem |
| Jabatan diplomatik | ||
| Jabatan baru | Duta Besar Indonesia untuk India 1950–1953 |
Diteruskan oleh: Lambertus Nicodemus Palar |