Sirisori Amalatu, dikenal pula sebagai Sirisori Sarane, Sirisori Sarani, atau Sirisori Kristen adalah negeri di Kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Sebelumnya negeri ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Saparua hingga pada tahun 2015 Saparua Timur dimekarkan menjadi kecamatan sendiri berdasarkan Perda Maluku Tengah Nomor 11 Tahun 2015. Berdasarkan catatan BPS, Sirisori Amalatu tergolong sebagai negeri swadaya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sirisori Amalatu Sirisori Sarani/Sirisori Kristen Louhata Amalatu | |
|---|---|
| Negara | |
| Provinsi | Maluku |
| Kabupaten | Maluku Tengah |
| Kecamatan | Saparua Timur |
| Luas | 165 Ha [1] |
| Jumlah penduduk | 1.868 jiwa (Data Tahun 2021)[2] |
| Kepadatan | jiwa/km2[3] |
Sirisori Amalatu, dikenal pula sebagai Sirisori Sarane, Sirisori Sarani,[4] atau Sirisori Kristen adalah negeri di Kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Sebelumnya negeri ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Saparua hingga pada tahun 2015 Saparua Timur dimekarkan menjadi kecamatan sendiri berdasarkan Perda Maluku Tengah Nomor 11 Tahun 2015. Berdasarkan catatan BPS, Sirisori Amalatu tergolong sebagai negeri swadaya.[5]
Sebagai sebuah negeri atau negeri adat, Sirisori Amalatu dipimpin oleh seorang raja yang berkedudukan layaknya kepala desa. Apabila raja belum terpilih, tampuk kepemimpinan dijabat oleh pejabat negeri.Jabatan raja di Sirisori Amalatu dipangku oleh fam (matarumah parentah) Kesaulya (kadang dieja sebagai Kesaulija).
Dikisahkan bahwa di sekitar daerah Honimua yang masuk petuanan Sirisori Amalatu terdapat sumber air bersih yang biasa digunakan untuk keperluan minum dan memasak. Untuk menjamin kebersihan air minum tersebut, Raja Sirisori Amalatu mengeluarkan titah atau perintah yang isinya melarang semua orang untuk mandi di sumber air bersuh tersebut. Perintah larangan mandi itu dikenal sebagai sirisori yang di kemudian hari dipakai untuk menyebut sebuah negeri. Sebelumnya, Masyarakat Louhata (sirisori) menempati daerah Honimua atau pantai soa Honimua yang mana daerah tersebut sudah diduduki oleh kepemimpinan dua kapitano yaitu Kapitano Patasiwa dan Patalima. Kedua kapitano ini seringkali terlibat dalam peperangan antar satu sama lain dengan Kapitano Patasiwa dipimpin oleh Liklikwatil (tuan tanah) dan Kapitano Patalima dipimpin oleh Salatalohy. seiring berjalannya waktu datanglah seorang pengembara dari tanah onin dan bergabung dengan dua Kapitan tersebut dan seiring berjalannya waktu hubungan yang berjalan semakin baik.
Masyarakat Louhata di pantai Soa Honimua, dibawah pimpinan Masbait Pusan masih hidup dalam kesederhanaan. Masyarakat Louhata hidup dari hasil hutan dan hasil kebun dengan cara kerja bersama, di mana ada masyarakat yang harus ke laut dan ada yang harus ke hutan untuk mengelolah atau mengambil hasil hutan atau hasil kebun. Setiap hasil yang diperoleh dibagi secara merata sesuai jumlah jiwa disetiap poporisa. Tempat tinggal mereka di awali di pantai soa honimua kemudian berpindah ke liamatany,amaillalo, dan di Henalatu diangkat Masbait Pusan sebagai Latu yang pertama karena berbagai persoalan terjadi peperangan dan kisah panjang sehingga masyarakat Louhata berpindah menduduki Elhau.
Negeri Sirisori pada akhirnya terpecah menjadi dua bagian. Perpecahan itu terjadi karena perbedaan agama. Sebagian bertahan dengan agama Islam, sisa yang lain memilih dibaptis dan memeluk ajaran Protestan. Kedua Negeri (Sirisori Islam dan Sirisori Kristen) pada akhirnya diperintahkan dan dipaksa untuk bermukim di pesisir. Permukiman di pesisir mereka pertahankan hingga saat ini. Untuk menggambarkan perjalanan sejarahnya, Sirisori Amalatu diberikan gelar adat (teun) Louhata Amalatu Sigumala Hatukarang Pailemahu. Sedangkan gelar Sirisori Islam adalah Louhata Amapatti Nurlatu Tomagola Pailemahu. Kata louhata sendiri bermakna (ber)kumpul untuk menfengarkan titah.
Pada abad ke 16, Latu (Raja) pertama Louhata (Siri Sori) ialah Masbait Pusan. Pada tahun 1618 Belanda mulai mengangkat Raja-Raja, Patih-Patih, serta orang-orang kaya di pulau Honimua. Pattiluwa Kesaulija diangkat menjadi Patih di Elhau, tetapi masyarakat Louhata tetap memanggilnya dengan sebutan Upu Latu. Pattiluwa baru menjadi Kristen pada 2 Juli 1621. Pada tahun 1647, ketika Herman Pattiluwa Kesaulija meninggal, ia digantikan oleh adiknya Mahubessy yang menjadi patih Honimua. Mahubessy berpindah ke Agama Islam, akan tetapi kembali memeluk Agama Kristen dan diakui dengan nama baptis Daniel Mahubessy Kesaulija. Daniel Mahubessy Kesaulija kemudian diberikan gelar Kese Uliyono yang berarti “buang sorban” oleh Masyarakat Louhata yang beragama Islam. Pada saat itu mereka berusaha untuk mengangkat penguasa Louhata yang beragama Islam sehingga seringkali timbul percecokan dengan mereka yang beragama Kristen. Anak - anak Daniel Mahubessy Kesaulija kemudian terbagi dalam penganut Agama Islam dan Kristen.
Pada tahun 1650, Manuel Taranate Kesaulija, yakni anak dari Herman Pattiluwa Kesaulija menggantikan Daniel Mahubessy yang adalah pamannya. Pada Tahun 1654, di wilayah Kota Honimua dibangun sebuah benteng oleh belanda dengan nama Hollandia. Pada Tahun 1669, seorang cucu dari Pattinaya dan cicit dari Tomanunuwe, diangkat menjadi patih Honimua, menggantikan Manuel Taranate Kesaulija. Namun Karena ia masih berada di bawah umur, maka posisinya untuk sementara diwakili oleh Fransisco Molle. Pada tahun 1692 masyarakat Louhata di Honimua dipimpin oleh Patih Jacob Salawane Kesaulija yang adalah anak dari Mahubessy. Selanjutnya, Jacob Salawane Kesaulija diganti oleh Gerrit Jacobs Kesaulija. Pada tanggal 19 Agustus 1704 Gerrit Jacobs Kesaulija mengalami sakit saraf yang mengakibatkan pemerintahan Louhata diwakilkan oleh Kepala Soa nomor dua yaitu Hendrik Putilaka. Gerrit Jacob Kesaulija pun diberhentikan secara resmi tanggal 30 September 1705. Pada tahun 1712 Paulus Kulipa Kesaulija resmi menjadi Patih Honimua. Pemerintahannya tidak berlangsung lama dan ia diberhentikan pada tanggal 6 September 1712 digantikan oleh Fransisco Bakar Kesaulija yang menjadi Patih Honimua sampai dengan tahun 1735. Ia kemudian digantikan oleh Jacob Bakar Kesaulija, yang pada pemerintahannya nama pusat pemerintahan masyarakat Louhata diubah menjadi Tanah Siri Sori. Dengan demikian seluruh tanah Honimua yang dikuasai oleh pemerintahan Louhata sejak Zama Latu Lima termasuk seluruh wilayah Honimua dari Waenahia sampai dengan Umekonno disebut Siri Sori.
Sirisori Amalatu terletak di Jazirah Tenggara Pulau Saparua bersama dengan Sirisori Islam, Ullath, dan Ouw, Saparua Timur, Maluku Tengah. Negeri tergolong negeri pesisir.[6] Selain wilayah negeri induk, Sirisori Amalatu memiliki sebuah dusun atau kampung yang bernama Pia. Dengan negeri induk, Pia dipisahkan oleh tanah-tanah adat (pertuanan) Tuhaha dan Saparua.[7]
Negeri induk di Jazirah Tenggara mempunyai batas-batas sebagai berikut:[8]
Sementara itu, Dusun Pia mempunyai batas-batas sebagai berikut.
Sirisori Amalatu memiliki enam soa. Berikut soa-soa yang ada dengan matarumah masing-masing di dalamnya.
Sirisori Amalatu tercatat memiliki hubungan gandong negeri Tamilouw (Islam), Hutumuri (Kristen Protestan), dan Sirisori Islam. Selain itu, berdasarkan kisah bahwa tiga moyang Tamilouw, Hutumuri, dan Sirisori memiliki dua saudara perempuan, Nyai Intan dan Nyai Mas, yang masing-masing menikahi Kapitan Bakarbessy dari Waai dan Kapitan Manuhutu dari Haria. Oleh sebab itu, masyarakat negeri ini juga menganggap Waai dan Haria sebagai saudara gandong. Ada pun ikatan pela diikat dengan Negeri Ouw.
