Siklon Seroja adalah sebuah siklon tropis yang mulai terbentuk di selatan Nusa Tenggara Timur, Indonesia, pada 3 April 2021. Siklon tersebut memiliki kekuatan angin maksimum 140 km/jam dan menyebabkan banjir di beberapa wilayah Nusa Tenggara, Indonesia dan Timor Leste. Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang setinggi 4-6 meter yang berpeluang terjadi di perairan barat Lampung, Selat Sunda, bagian selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Pulau Sawu, Kupang, dan Pulau Rote. Daerah pesisir Aceh, Mentawai, Bengkulu, Jawa Tengah, Pulau Sumba, Selat Bali, Selat Lombok, dan Selat Alas juga berpotensi mendapat gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter. Terbaru pada Jumat 9 April, BMKG juga mengingatkan akan adanya potensi hujan lebat-sedang yang disertai kilat serta angin kencang di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali meski tak seekstrim ketika Siklon Seroja ini masih ada di dekat NTT, yang telah menjauh dari wilayah Indonesia dan berada di Samudera Hindia. Siklon Seroja merupakan siklon ketujuh dalam musim siklon wilayah Australia 2020–2021 dan satu-satunya yang hingga kini menyebabkan korban jiwa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Siklon Seroja mendekati Australia Barat pada tanggal 11 April | |
| Sejarah meteorologi | |
|---|---|
| Terbentuk | 3 April 2021 |
| Menghilang | 12 April 2021 |
| Siklon tropis parah kategori 3 | |
| 10-minute sustained (Aus) | |
| Angin tertinggi | 65 |
| Hembusan angin tertinggi | 90 |
| Tekanan terendah | 971 hPa (mbar); 28,67 inHg |
| Siklon tropis setara Kategori 1 | |
| 1-minute sustained (SSHWS/JTWC) | |
| Angin tertinggi | 75 |
| Tekanan terendah | 968 hPa (mbar); 28,59 inHg |
| Efek keseluruhan | |
| Korban jiwa | 272[1][2] (Siklon tropis paling mematikan ketiga di wilayah Australia) |
| Hilang | 102 |
| Kerusakan | >$491 juta (2021 USD) |
| Daerah yang terkena dampak | |
| IBTrACS | |
Bagian dari Musim siklon wilayah Australia 2020–21 | |
Siklon Seroja adalah sebuah siklon tropis yang mulai terbentuk di selatan Nusa Tenggara Timur, Indonesia, pada 3 April 2021.[3][4] Siklon tersebut memiliki kekuatan angin maksimum 140 km/jam (85 mph) dan menyebabkan banjir di beberapa wilayah Nusa Tenggara, Indonesia dan Timor Leste.[5] Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang setinggi 4-6 meter yang berpeluang terjadi di perairan barat Lampung, Selat Sunda, bagian selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Pulau Sawu, Kupang, dan Pulau Rote. Daerah pesisir Aceh, Mentawai, Bengkulu, Jawa Tengah, Pulau Sumba, Selat Bali, Selat Lombok, dan Selat Alas juga berpotensi mendapat gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter.[6][7] Terbaru pada Jumat 9 April, BMKG juga mengingatkan akan adanya potensi hujan lebat-sedang yang disertai kilat serta angin kencang di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali meski tak seekstrim ketika Siklon Seroja ini masih ada di dekat NTT,[8] yang telah menjauh dari wilayah Indonesia dan berada di Samudera Hindia.[9] Siklon Seroja merupakan siklon ketujuh dalam musim siklon wilayah Australia 2020–2021 dan satu-satunya yang hingga kini menyebabkan korban jiwa.
Hingga Mei 2021, diperkirakan setidaknya 272 orang tewas akibat siklon tropis tersebut, dengan 183 orang di Indonesia, 42 di Timor Leste, dan satu di Australia.[10] Setidaknya 72 orang dari Indonesia dan 30 dari Timor Leste masih hilang. Siklon tersebut merusak atau menghancurkan lebih dari 20.000 rumah dan lima jembatan di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sementara lebih dari 12.000 orang dievakuasi ke tempat penampungan milik pemerintah. Sekitar 9.000 orang mengungsi di Timor Timur, sementara sedikitnya 10.000 rumah terendam.[11] Laporan kerusakan dari Kalbarri, Australia Barat mulai berdatangan segera setelah badai menghantam. Siklon ini diperkirakan menyebabkan kerugian lebih dari $490,7 juta (USD 2021), sebagian besar terjadi di Indonesia. Kerusakan yang disebabkan oleh Siklon Seroja di Indonesia digambarkan sebagai bencana besar.[12][13][14]


Pada 3 April 2021, sebuah sistem tekanan rendah 22U terbentuk di selatan Pulau Timor.[15][16] Sistem tersebut terbentuk di lingkungan yang mendukung perkembangannya.[17] Hingga saat ini, sistem tekanan rendah tersebut berada di wilayah tanggung jawab (AoR) TCWC Jakarta.[18] Joint Typhoon Warning Center (JTWC) mengeluarkan peringatan pertama terhadap Tropical Cyclone 26S pada 4 April pukul 23.00 WITA (15:00 UTC).[19] Sistem tekanan rendah tersebut perlahan berkembang menjadi Siklon Tropis Kategori 1 dan diberi nama Seroja oleh TCWC Jakarta pada 5 April pukul 04.00 WITA (20:00 UTC) saat siklon tersebut berada 95 km di utara Pulau Rote.[20][21] Pada 5 April pukul 20.00 WITA (12:00 UTC), Siklon Seroja berada di dekat 11°06′S 121°18′E / 11.1°S 121.3°E / -11.1; 121.3 dan bergerak ke arah barat daya menjauhi Indonesia dengan kecepatan pergerakan 11 km/jam.[22]
Pada 6 April pukul 02.00 WITA (18:00 UTC), Seroja terus bergerak dengan kecepatan 14 km/jam ke arah barat daya barat, menjauhi garis pantai Indonesia. Siklon ini meningkat menjadi siklon tropis Kategori 2 pada hari tersebut dan menghasilkan angin dengan kecepatan 10 menit 100 km/jam dan tekanan di tengahnya sebesar 982 hPa.[16] Aliran udara kering dari timur membuat Seroja melemah kembali menjadi siklon tropis Kategori 1.[16] Prediksi jalur dan intensitas siklon juga terganggu oleh keberadaan sistem tekanan 23U di barat Seroja.[16] Di hari yang sama pukul 08.00 WITA (00:00 UTC), Siklon Seroja berada di dekat 11°24′S 119°48′E / 11.4°S 119.8°E / -11.4; 119.8 (seroja) dan bergerak ke arah barat daya menjauhi Indonesia dengan kecepatan pergerakan 25 km/jam.[23]
Pada 7 April 2021 pukul 08.00 WITA (00:00 UTC), Siklon Tropis Seroja berada di koordinat 12°06′S 118°12′E / 12.1°S 118.2°E / -12.1; 118.2 (Seroja). Kecepatan angin maksimum 10 menit sebesar 65 km/jam, kecepatan angin maksimum 1 menit sebesar 85 km/jam, dan gust dengan kecepatan 95 km/jam. Tekanan barometrik sentral minimum tercatat sebesar 996 hPa. Pada saat itu, siklon bergerak dengan kecepatan 35 km/jam ke arah barat daya.[24]

Pada 8 dan 9 April, Badan Meteorologi Australia memprakirakan Siklon Seroja akan menerjang wilayah pesisir Australia Barat di sekitar Teluk Shark (wilayah antara Perth hingga Carnarvon) pada hari Minggu hingga Senin (11-12 April). Siklon Seroja telah berinteraksi dengan Tekanan Rendah Tropis 23U menghasilkan fenomena yang jarang terjadi pada siklon tropis yaitu Efek Fujiwhara. Pada 9 April dini hari WITA, 23U telah berkembang menjadi Siklon Tropis Odette.[25][26]
Pada 9 April pukul 20.00 WITA (12:00 UTC), Siklon Seroja berada di koordinat 20°12′S 108°48′E / 20.2°S 108.8°E / -20.2; 108.8 (Seroja) dan meningkat menjadi siklon tropis Kategori 2. Kepatan angin maksimum 10 menit sebesar 95 km/jam, kecepatan angin maksimum 1 menit sebesar 100 km/jam, dan gust dengan kecepatan 120 km/jam. Tekanan barometrik sentral minimum tercatat sebesar 985 hPa. Pada saat itu, siklon bergerak dengan kecepatan 30 km/jam ke arah barat daya.[27]

Saat masih menjadi sistem tekanan rendah, Seroja mengakibatkan curah hujan tinggi dan badai petir di Nusa Tenggara Timur.[28][29][30] Di Kabupaten Lembata, 14 desa diterjang banjir bandang akibat limpasan dan material dari Gunung Lewotolo.[31] Pada 4 April 2021, 41 orang terkonfirmasi meninggal dunia, 9 mengalami luka berat, dan 27 orang hilang akibat aliran lumpur yang menenggelamkan rumah dan menghancurkan jembatan penghubung di Pulau Flores dan Pulau Adonara.[32][33][34] Jalan Trans Timor terendam dan memutus jalur antarkabupaten.[35] Sebuah jembatan yang menghubungkan Kota Kupang dan Kabupaten Malaka juga hancur.[36]
Hingga, 5 April pukul 05:00 WITA (21:00 UTC), 67 orang dilaporkan tewas.[37] Tingginya korban tewas diduga akibat kebanyakan orang sedang tidur saat siklon memasuki daratan.[38] Empat truk bahan bakar Pertamina dilaporkan rusak.[39] Dampak siklon ini juga dirasakan hingga Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, menyebabkan 27.000 orang terdampak banjir.[40] Hingga 10 April, korban tewas di Indonesia tercatat sebanyak 176 orang.[2] Selain itu pula, 15.500 hektare lahan pertanian yang tersebar di 18 dari 23 kabupaten/kota di NTT mengalami kerusakan dan terancam puso atau gagal panen. 52.730 rumah dan sejumlah infrastruktur serta fasilitas umum dilaporkan mengalami kerusakan. Hingga hari kedelapan pascabencana, diketahui masih ada 8.866 pengungsi yang tersebar di 18 daerah tersebut dari yang semula total pengungsi mencapai 27.948 orang.[41]
| Provinsi NTT | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Kota/Kabupaten | Meninggal Dunia | Hilang | Luka-luka | Keluarga Terdampak | Orang Terdampak | Rumah Rusak |
| Kota Kupang | 6 | - | 8 | 10.121 | 50.605 | 71 (RB), 351 (RM), 9.699 (RR) |
| Kab. Kupang | 12 | 3 | - | Tidak ada data | Tidak ada data | 3540 (RB), 963 (RM), 2043 (RR) |
| Kab. Flores Timur | 72 | 2 | 73 | Tidak ada data | 95.626 | 82 (RB), 34 (RR) |
| Kab. Malaka | 6 | - | - | Tidak ada data | 2.000 | 428 (RB), 3.848 (RR) |
| Kab. Lembata | 46 | 22 | 49 | Tidak ada data | Tidak ada data | 346 (RB), 343 (RR) |
| Kab. Ngada | - | - | 3 | 214 | 866 | 68 (RB), 50 (RR) |
| Kab. Sumba Barat | - | - | - | 67 | 284 | 54 |
| Kab. Sumba Timur | - | - | - | 15.462 | 77.310 | 250 (RB) |
| Kab. Sumba Tengah | - | - | - | 21 | 150 | 21 |
| Kab. Ende | 1 | - | - | 373 | 1.401 | 18 (RB), 56 (RR) |
| Kab. Rote Ndao | - | - | 5 | Tidak ada data | Tidak ada data | 635 (RB), 736 (RM), 1.523 (RR) |
| Kab. Sabu Raijua | 3 | 5 | - | Tidak ada data | 3.800 | Tidak ada data |
| Kab. Alor | 28 | 13 | 25 | 39.980 | 155.412 | 669 (RB), 438 (RM), 856 (RR) |
| Kab. Belu | - | - | - | 899 | 2.080 | 13 (RB), 8 (RM), 2 (RR) |
| Kab. Timor Tengah Utara | - | - | - | 1.179 | 3.489 | 150 (RB) |
| Kab. Timor Tengah Selatan | - | - | - | 1.404 | 5.198 | 504 |
| Kab. Sikka | 1 | - | - | - | 742 | 1 (RB), 10 (RM) |
| Kab. Sumba Barat Daya | - | - | 2 | - | - | 68 (RB), 1 (RM), 50 (RR) |
| Provinsi NTB | ||||||
| Kab. Bima | 2 | - | - | 10.185 | 29.182 | 380 (RB), 2.777 (RM), 2.176 (RR) |
| Kab. Dompu | - | - | - | 1.895 | 7.580 | 1.895 |
| Kab. Lombok Utara | - | - | - | 30 | 77 | 30 |
Keterangan: RB=Rusak Berat, RM=Rusak Menengah, RR=Rusak Ringan

Di Timor Leste, 3 orang tewas akibat tanah longsor, termasuk seorang balita berusia dua tahun.[43] Delapan orang juga dilaporkan tewas di Dili, ibukota Timor Leste.[44][45] Siklon menyebabkan pemadaman listrik di seluruh wilayah Timor Leste dan merusak kediaman presiden.[45] Hingga 8 April, korban tewas di Timor Leste tercatat sebanyak 42 orang.[46]
Perdana Menteri Timor Leste, Taur Matan Ruak, menyatakan bahwa banjir akibat siklon ini merupakan bencana paling merusak yang pernah dialami negara itu selama 40 tahun terakhir.[43] Pemerintah Timor Leste mengadakan pertemuan darurat untuk menghadapi situasi ini.[47] Saat ini, pemerintah setempat sedang merencanakan respons darurat yang harus dilakukan. Menurut Lusa News Agency, kurangnya sumber daya yang dimiliki oleh Timor Leste saat ini akan menyulitkan proses mitigasi.[48] Berkaitan dengan hal ini, Portugal siap mengirimkan bantuan untuk Timor Leste, seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Portugal Augusto Santos Silva.[49] Uni Eropa dan PBB menyatakan simpati dan kesiapan mereka untuk membantu Timor Leste.[49]
Beberapa sekolah di Perbatasan Indonesia–Timor Leste dievakuasi oleh prajurit TNI sebelum roboh.[50][51] Polisi bersama TNI di Kefamenanu mengevakuasi sebagian besar penduduk kota akibat banjir di daerah tersebut.[52] Atas nama masyarakat Indonesia, Presiden Joko Widodo dalam sebuah konferensi pers pada 5 April 2021 menyampaikan duka cita kepada korban.[53][54] Ia juga mengimbau institusi terkait untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh siklon.[55]
Proses evakuasi di Kabupaten Flores Timur terkendala kurangnya alat berat, akses yang kurang memadai menuju laut, dan kurangnya area pengungsian.[34][56] Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya dapat memperbaiki 82% kerusakan infrastruktur kelistrikan yang terdampak, sementara sisanya cukup sulit untuk diperbaiki akibat cuaca ekstrem.[57][58] Kota Kupang menyatakan keadaan darurat bencana, tetapi pemerintah masih terkendala kurangnya anggaran dan personel untuk menangani bencana.[35] Sebuah jembatan darurat dibangun untuk membantu evakuasi di Flores Timur.[59] Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo, berencana mengunjungi Flores Timur pada 5 April 2021.[60][61] Selain perahu karet, pengungsian, dan personel, pemerintah Indonesia juga mengirimkan bantuan makanan, selimut, masker, dan tes cepat antigen COVID-19.[62][63][64] Pertamina merespons dengan mengganti empat truk bahan bakar yang rusak akibat banjir untuk membantu distribusi bahan bakar di daerah terdampak.[65] Hingga 5 April pukul 12:00 WITA (04.00 UTC), rute logistik bahan bakar menuju Pulau Adonara telah pulih.[66] Bandar Udara Internasional El Tari kembali dibuka pada 5 April pukul 10:00 WITA (02:00 UTC) setelah ditutup semalam sebelumnya.[67]
Distribusi bantuan masih terkendala kondisi cuaca dan kerusakan infrastruktur.[68][69] Dewan Perwakilan Rakyat meminta pemerintah untuk mempercepat distribusi bantuan dan meminta bantuan prajurit TNI.[63][70] Menteri Sosial mengirimkan bantuan bagi korban banjir di Bima.[71] Pemerintah pusat tengah mempersiapkan anggaran tambahan untuk membantu korban dan memperbaiki kerusakan.[72]
Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada dua hari sebelum terbentuknya siklon telah memperingatkan kemungkinan terbentuknya siklon tropis di atas Laut Sawu, pemerintah pusat dan daerah dinilai lambat dalam melakukan persiapan untuk menghadapinya.[73] WALHI menilai penanganan yang dilakukan pemerintah lambat, pihaknya sempat mendesak Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat, untuk menyatakan kondisi darurat bencana.[74][75] Partai Keadilan Sejahtera mengkritik Presiden Joko Widodo karena menghadiri pernikahan Atta Halilintar daripada langsung menangani bencana akibat siklon ini.[76][77]
Tagar #PrayforNTT menjadi viral di Indonesia melalui media sosial Twitter.[78][79]
Data terbaru, sebanyak 174 orang meninggal dunia di NTT dan 48 orang masih hilang. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) jumlah korban jiwa masih tetap sebanyak 2 orangPemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Informasi siklon terkini: