Seri Rambai adalah sebuah meriam Belanda abad ke-17 yang kini berada di Benteng Cornwallis di George Town, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO dan ibu kota negara bagian Pulau Pinang, Malaysia. Meriam tersebut merupakan meriam perunggu terbesar di Malaysia, diperbincangkan dalam berbagai legenda dan ramalan maupun sebagai simbol kesuburan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Seri Rambai adalah sebuah meriam Belanda abad ke-17 yang kini berada di Benteng Cornwallis di George Town, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO dan ibu kota negara bagian Pulau Pinang, Malaysia. Meriam tersebut merupakan meriam perunggu terbesar di Malaysia, diperbincangkan dalam berbagai legenda dan ramalan maupun sebagai simbol kesuburan.
Meriam tersebut didatangkan ke kawasan Selat Malaka pada awal 1600-an, saat Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) mempersembahkannya kepada Sultan Johor demi mendapatkan konsesi dagang. Pada tahun 1613, Kesultanan Aceh menyerang dan menghancurkan Johor, menawan Sultannya serta membawa pulang Seri Rambai ke Aceh. Menjelang akhir abad ke-18, meriam tersebut dikirim Aceh ke Selangor dan ditempatkan di sebelah salah satu benteng dekat kota tersebut. Pada 1871, pemerintah kolonial Britania (Inggris) menyerang Selangor sebagai balasan atas serangan bajak laut. Britania membakar kota tersebut, menghancurkan bentengnya dan merampas Seri Rambai. Meriam tersebut lalu disimpan di Esplanade di George Town, dan pada 1950-an dipindahkan ke Benteng Cornwallis.
Sejarah Asia Tenggara diwarnai dengan kisah-kisah terkait meriam: ada yang dikatakan memiliki kekuatan supranatural; ada yang dihormati karena memiliki arti spiritual dan budaya; ada yang dikenal hadir dalam momen-momen penting sejarah.[1] Kronik Istana Kaca dari Burma mencatat sebuah kisah tentang Perang Burma-Siam (1765–1767) yang mengilustrasikan sifat-sifat supranatural sebuah meriam. Setelah upaya menghalau serangan-serangan Burma di ibu kota Siam mengalami kegagalan, Raja Siam memerintahkan agar "roh penjaga" kota tersebut, sebuah meriam besar bernama Dwarawadi, digunakan untuk menghambat pergerakan musuh. Sebuah upacara diadakan untuk memasang dan menembakkan meriam tersebut ke arah musuh, tetapi mesiunya gagal meledak. Khawatir karena telah diabaikan sang roh penjaga, para petinggi kerajaan memohon agar sang raja menyerah saja.[2][a]
Di Jakarta, Meriam Si Jagur, sebuah meriam Portugis yang dipamerkan di sebelah Museum Fatahillah, dijadikan simbol kesuburan.[4] Penulis Aldous Huxley pada tahun 1926 menyebut meriam tersebut sebagai "Dewa Bersujud" yang dibelai, diduduki dan dimintai doa oleh wanita yang ingin memiliki anak.[5] Ada pula meriam Phaya Tani yang berada di dekat halaman gedung Kementerian Pertahanan Thailand di Bangkok. Meriam ini direbut dari Kesultanan Pattani pada 1785,[6] dan merupakan sebuah simbol identitas budaya di Pattani. Rasa kehilangan akibat dirampasnya meriam ini masih terasa di Pattani sampai sekarang: saat Bangkok menolak untuk mengembalikan meriam tersebut dan malah mengirim sebuah replika pada tahun 2013, para pengebom yang diduga pemberontak menghancurkan replika tersebut sembilan hari kemudian.[7]

Seri Rambai adalah sebuah meriam Belanda yang ditempatkan di atas tembok Benteng Cornwallis di George Town, ibu kota Penang dan sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO.[8] Dua artikel tentang meriam tersebut diterbitkan di Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. Artikel pertama adalah sebuah penjelasan singkat dari sejarah meriam tersebut di Selat Malaka; artikel kedua adalah sebuah kajian mendetail yang diriset oleh Carl Alexander Gibson-Hill, seorang mantan direktur Museum Nasional Singapura dan presiden Perhimpunan Fotografi di kota-negara tersebut.[9] Surat-surat kabar juga membahas meriam tersebut; pada 2013, Sunday Times memulai sebuah artikel tentang Penang dengan komentar "Meriam-meriam tak selalu memiliki nama, tetapi Seri Rambai, di tembok Benteng Fort Cornwallis, adalah sesuatu yang cukup spesial".[8]
Seri Rambai dapat menembakkan peluru 28 pon, memiliki panjang 325 cm dengan kaliber 15 cm; larasnya berukuran 302 cm. Meriam tersebut dicetak pada 1603 dan merupakan meriam perunggu terbesar di Malaysia. Meriam ini memiliki pegangan bergaya lumba-lumba, dan di depannya terdapat bagian dekoratif yang menampilkan tiga pasangan singa heraldik dengan ekor melingkar yang panjang. Setiap pasang singa mengapit sebuah vas yang berisi bunga. Di antara pegangan dan cap VOC di pangkalnya terdapat sebuah inskripsi Jawi berhias perak yang menceritakan direbutnya meriam tersebut oleh Aceh pada 1613. Di bagian pangkal terdapat tanda tangan pembuat meriam tersebut beserta tanggal pembuatannya, yang dicetak melingkari meriam dalam bentuk "cincin".[10][b][c]
Upaya Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara bergantung pada dua strategi utama: pertama, menyerang langsung aset-aset Spanyol dan Portugis di kawasan tersebut, termasuk benteng Portugis di Malaka maupun pelayaran Spanyol di antara Manila dan Acapulco; kedua, membuat persekutuan dengan penguasa-penguasa setempat dan menawarkan bantuan militer dengan syarat konsesi dagang.[17] Pada 1603, VOC memulai persekutuan penting dengan Kesultanan Johor, dan mereka menggabungkan kekuatannya untuk merebut Santa Catarina, sebuah kapal kerakah Portugis yang sedang melewati Selat Singapura.[18] Kargo dari kapal tersebut kemudian dijual ke Eropa untuk sekitar 3.5 juta florin, setara dengan setengah modal awal VOC, dan dua kali lipat modal Perusahaan Hindia Timur Britania.[19] Setelah kejadian tersebut, mungkin pada 1605, para pejabat VOC menghadiahkan Seri Rambai kepada Sultan Johor.[20][d]
Salah satu pesaing utama Johor pada masa itu adalah Kesultanan Aceh, sebuah pusat perdagangan kosmopolitan dan pusat pembelajaran agama dan ideologi. Kebangkitan Aceh dimulai pada awal 1500-an. Selama beberapa dasarwarsa selanjutnya, kesultanan tersebut meluaskan wilayahnya di Sumatra dan sempat meminta bantuan militer dari Suleiman I dalam rangka menyingkirkan Portugis dari Malaka.[21] Pada 1613, Aceh melancarkan serangan ke Johor, menghancurkan ibu kotanya dan menawan sang sultan, keluarganya, beserta pengikut dekatnya. Aceh merebut Seri Rambai saat serangan tersebut dan membawanya pulang: di laras meriam tersebut kini terdapat catatan beraksara Jawi yang menyebutkan peristiwa tersebut dan para panglima Aceh yang terlibat.[22][e]
Tak ada catatan sejarah tentang meriam tersebut antara 1613 dan 1795. Pada 1795, Aceh mengirim Seri Rambai kepada Sultan Ibrahim dari Selangor untuk membalas jasa-jasa seorang saudara Sultan Ibrahim dalam sebuah perang.[24] Pada Juni 1871, sekelompok bajak laut merebut sebuah kapal jung Penang, menewaskan 44 awak dan penumpangnya, dan membawa kapal tersebut ke Selangor. Pemerintah kolonial Britania menanggapinya dengan mengerahkan sebuah kapal uap dan sebuah kapal perang milik Angkatan Laut Britania ke Selangor dengan perintah untuk menangkap para pembajak dan mengambalikan kapal jung yang dirampas.[25] Setelah serangkaian pertempuran dan datangnya bantuan pasukan dan artileri, kota tersebut dibakar, benteng-bentengnya dihancurkan dan Seri Rambai dibawa ke Penang.[26] Saat itu, rasa kehilangan meriam tersebut sangat terasa di Selangor; menurut sebuah ramalan setempat, kota tersebut akan meraih kembali kemasyhuran lamanya hanya jika Seri Rambai dipulangkan.[27]
Menurut legenda, Seri Rambai tidak benar-benar diturunkan di Penang tetapi dibuang ke laut lepas pantai George Town dan dibiarkan selama hampir satu dasawarsa. Menurut cerita ini, meriam tersebut akhirnya dipungut kembali oleh seorang bangsawan Selangor yang mengikatkan tali ke meriam tersebut, dan secara magis meriam tersebut mengapung dan bergerak ke daratan atas perintah sang bangsawan.[28] Sampai 1950-an, meriam tersebut dipamerkan di Esplanade di jantung kota George Town, berdekatan dengan Benteng Cornwallis.[29][f] Di sinilah meriam tersebut diberi nama Seri Rambai, dan memperoleh reputasi sebagai simbol kesuburan.[28] Meriam tersebut sempat diamankan pada masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, tetapi dikembalikan ke Esplanade setelah perang selesai.[13] Pada 1953, sebuah artikel The Straits Times melaporkan sebuah pencarian meriam lama untuk dipajang di Benteng Cornwallis, menyebutkan bahwa meriam terdekat saat itu ada di Esplanade, sekitar 200 meter dari lokasi Benteng Cornwallis.[31] Pada 1970, Seri Rambai telah ditempatkan di atas tembok Benteng Cornwallis, tetapi salah satu rodanya sudah tidak ada lagi.[32]
Di dekat terminal feri di Butterworth (kota terbesar kedua di Pulau Pinang yang berada di daratan Malaya), terdapat sebuah meriam tua yang menurut tradisi Tionghoa lokal adalah pasangan wanita dari Seri Rambai. Menurut kisah ini, meriam tersebut meninggalkan "kekasih"nya dan mengapung dari Pulau Penang ke Butterworth. Riwayat dari kalangan Melayu memberikan kisah asal-usul yang berbeda bagi meriam Butterworth ini, meski sama-sama meyakini bahwa Seri Rambai memiliki pasangan.[33] Kemungkinan adanya kembaran atau "kerabat" Seri Rambai bukannya dugaan tanpa dasar. Seorang peneliti yang mengkaji Si Jagur di Jakarta menemukan sebuah meriam serupa di Museum Militer Lisbon dan menyimpulkan bahwa keduanya dibuat oleh Manuel Tavares Bocarro, seorang pemimpin Portugis di Makau.[34] Sebuah cerita menyatakan bahwa Phaya Tani di Pattani memiliki sebuah kembaran yang bernama Seri Negara. Keduanya direbut saat Pattani ditaklukkan Siam dan diperintahkan untuk dibawa ke Bangkok. Satu versi dari cerita tersebut mengisahkan bahwa Seri Negara jatuh ke laut di Teluk Pattani saat sedang diangkut ke atas kapal; klaim lainnya menyatakan bahwa meriam tersebut hilang di laut saat kapal Siam yang mengangkatnya tenggelam.[35]
Buku / Monografi
Jurnal / Majalah
Surat Kabar / Agensi Berita
Situs web
<a href=\"./Wikipedia:Artikel_pilihan\" title=\"Ini adalah artikel pilihan. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.\" id=\"mwAlc\"><img alt=\"Ini adalah artikel pilihan. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.\" resource=\"./Berkas:Fairytale_bookmark_gold.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Fairytale_bookmark_gold.svg/20px-Fairytale_bookmark_gold.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"100\" data-file-height=\"100\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Fairytale_bookmark_gold.svg/40px-Fairytale_bookmark_gold.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwAlg\"/></a></span>\n"}' id="mwAlk"/>
5°25′16″N 100°20′37″E / 5.421022°N 100.343677°E / 5.421022; 100.343677[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Seri_Rambai¶ms=5.421022_N_100.343677_E_ <span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">5°25′16″N</span> <span class=\"longitude\">100°20′37″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">5.421022°N 100.343677°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">5.421022; 100.343677</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwAl0\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt156\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwAl4\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwAl8\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Seri_Rambai&params=5.421022_N_100.343677_E_\" class=\"external text\" id=\"mwAmA\"><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwAmE\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwAmI\"><span class=\"latitude\" id=\"mwAmM\">5°25′16″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwAmQ\">100°20′37″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwAmU\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAmY\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAmc\"></span></span><span class=\"geo-default\" id=\"mwAmg\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwAmk\">5.421022°N 100.343677°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwAmo\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAms\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwAmw\">5.421022; 100.343677</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwAm0\"/></span>"}' id="mwAm4"/>