Sejarah maritim Odisha, atau yang dikenal sebagai Kalingga pada zaman kuno, dimulai jauh sebelum 800 SM menurut sumber-sumber awal. Orang Odia yang tinggal di timur India di sepanjang pesisir Teluk Benggala berlayar menyusuri pantai India, menuju Indochina dan Nusantara, memperkenalkan kebudayaan mereka kepada orang-orang yang mereka datangi. Kakawin Manjusrimulakalpa abad ke-6 menyebut Teluk Benggala sebagai Kalingodra dan di era India Klasik, Teluk Benggala lebih dikenal sebagai Kalinga Sagar, yang menunjukkan pentingnya Kalingga dalam perdagangan maritim. Tradisi lama masih dirayakan dalam festival tahunan Boita Bandana termasuk perayaan utamanya di Cuttack di Sungai Mahanadi yang disebut Bali Jatra, yang diadakan selama tujuh hari pada bulan Oktober–November di berbagai distrik di pesisir, dengan yang terbesar adalah di Cuttack.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari sebuah serial tentang |
| Budaya Odisha |
|---|
| Sejarah |
| Budaya |
|


Sejarah maritim Odisha, atau yang dikenal sebagai Kalingga pada zaman kuno, dimulai jauh sebelum 800 SM menurut sumber-sumber awal. Orang Odia yang tinggal di timur India di sepanjang pesisir Teluk Benggala berlayar menyusuri pantai India, menuju Indochina dan Nusantara, memperkenalkan kebudayaan mereka kepada orang-orang yang mereka datangi. Kakawin Manjusrimulakalpa abad ke-6 menyebut Teluk Benggala sebagai Kalingodra dan di era India Klasik, Teluk Benggala lebih dikenal sebagai Kalinga Sagar (Laut Kalingga),[1][2] yang menunjukkan pentingnya Kalingga dalam perdagangan maritim.[3] Tradisi lama masih dirayakan dalam festival tahunan Boita Bandana termasuk perayaan utamanya di Cuttack di Sungai Mahanadi yang disebut Bali Jatra, yang diadakan selama tujuh hari pada bulan Oktober–November di berbagai distrik di pesisir, dengan yang terbesar adalah di Cuttack.[4]
Terletak di pesisir timur India, Kerajaan Kalingga kuno membentang dari Sungai Gangga hingga Godavari, mencakup sebagian wilayah Negara Bagian Odisha, Andhra Pradesh, dan sekitarnya.[5] Menurut ilmuwan politik Sudama Misra, negeri Kalingga awalnya mencakup wilayah yang kini menjadi Distrik Puri dan Ganjam.[6] Sungai-sungai yang dapat dilayari, termasuk Gangga, Mahanadi, Vamsadhara, dan Godavari, menyediakan akses ke kawasan pedalaman, tempat ditemukannya batu permata, dengan delta-delta sungai yang dapat dimanfaatkan sebagai pelabuhan alami. Dari pelabuhan-pelabuhan ini, penduduk wilayah tersebut berdagang melalui laut dengan Sailan di selatan, Burma di timur, dan lebih jauh lagi dengan negara-negara di Asia Tenggara Maritim, Indochina, dan Tiongkok. Kegiatan maritim di Kalingga begitu masif sehingga apa yang kini dinamai Teluk Benggala dahulu disebut Laut Kalinga.[7]
Pesisir daerah ini tidak stabil. Angin muson barat daya membawa sedimen di sepanjang pantai, terkadang membentuk gundukan pasir dan tanjung yang melindungi pelabuhan, tetapi di lain waktu mengikis pemecah gelombang. Sungai-sungai membawa lumpur, memperluas delta-delta, dan mengisi bekas pelabuhan. Karena alasan ini, beberapa pelabuhan yang disebutkan pada zaman dahulu sudah tiada lagi, atau telah sangat menurun.[7] Misalnya, Danau Chilika dulunya merupakan pelabuhan penting, tetapi kemudian tidak dapat digunakan oleh kapal-kapal laut dalam karena pendangkalan.[8]
Ada dua jenis pelabuhan di awal era Odisha. Pembagian ini dibuat berdasarkan lokasinya:[9]
Beberapa pelabuhan yang disebutkan oleh ahli geografi Ptolemaeus pada abad ke-2 Masehi adalah Nanigaina (Puri), Katikardama (Kataka), dan Kannagara (Konark).
Pelabuhan-pelabuhan penting lainnya di pesisir Kalinga adalah Tamralipta, Khalkatapatna, Manikapatna (Chelitalo), Palur (Dantapura), Gopalpur (Mansurkota), Dosarene, Sonapur, Baruva (Barua), Kalingapatnam, dan Pithunda.[9] Kemudian pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi, sumber-sumber Arab menyebutkan Ganjam, Kalinganagar, Keylkan, Al-Lava, dan Nubin. Pada abad ke-15, pelabuhan-pelabuhan yang masih berfungsi termasuk Balasore, Pipili, Ganjam, Harishapur, Chandabali, dan Dhamra.[7]

Penggalian di Golbai Sasan menunjukkan adanya kebudayaan Batu Baru yang berasal dari sekitar tahun 2300 SM, diikuti oleh kebudayaan Tembaga, dan kemudian kebudayaan Besi yang dimulai sekitar tahun 900 SM. Peralatan yang ditemukan di situs ini menunjukkan adanya pembuatan perahu, mungkin untuk tujuan perdagangan di pesisir.[11] Peninggalan berupa tulang ikan, mata kail, tombak berduri, dan seruit menunjukkan bahwa penangkapan ikan merupakan bagian penting dari perekonomian.[7] Beberapa artefak dari Zaman Tembaga mirip dengan yang ditemukan di Vietnam, yang menunjukkan kemungkinan adanya kontak dengan Indochina pada periode yang sangat awal.[11]
Teks-teks seperti Jataka dan kronik dari Sailan menyebutkan Dantapura dan Simhapura, dengan Dantapura menjadi pelabuhan yang masyhur di zamannya. Pelancong Tiongkok Hiuen Tsang menyebut kota pesisir yang disebut Che-li-ta-lo, yang diidentifikasi sebagai Puri di masa modern.[12] Sumber-sumber sejarah awal mencatat bahwa Kalingga menjadi bawahan Magadha pada tahun 362 SM, memperoleh kembali kemerdekaan selama perang saudara di Magadha sekitar tahun 320 SM, tetapi sekitar tahun 261 SM ditundukkan oleh Maharaja Asoka dari Maurya (269 SM hingga 232 SM).[13] Situs di Sisupalagarh, yang ditempati dari abad ke-3 SM hingga abad ke-4 M, telah diidentifikasi sebagai Tosali, ibu kota provinsi Ashoka, dan dengan Kalinganagara, ibu kota Kalingga setelah memperoleh kembali kemerdekaannya dari kekaisaran Maurya pada awal abad ke-1 SM pada masa pemerintahan Kharavela.[11] Sejarah pada abad-abad berikutnya sangat kompleks. Kadang-kadang bagian utara dan selatan Kalingga merupakan negara yang terpisah, kadang-kadang bersatu. Kadang-kadang Kalingga merdeka, kadang-kadang menjadi pembayar upeti kepada negeri tetangga yang lebih kuat.[13]
Dinasti Bhauma-Kara memerintah Utkala, yang mencakup bagian utara dan timur Odisha, dari abad ke-8 hingga ke-10 M.[13] Para penguasa ini membayar upeti kepada Gaudeshwar Devapala (810–850 M), penguasa Dinasti Pala di Benggala.[14] Pada suatu periode, para penguasa Utkala dipaksa untuk mengakui kedaulatan dinasti Tamil Chola di bawah raja mereka Rajendra Chola I (1012–1044), yang dengannya mereka bersekutu melalui ikatan pernikahan.[15] Setelah memperoleh kembali kemerdekaannya, Raja Anantawarma Chodagangadewa (1078–1191) menguasai wilayah yang luas dari Sungai Gangga hingga Godavari,[5] dan memindahkan ibu kotanya dari Kalinganagar ke Kataka. Kekuasaan Odisha berkembang dan memudar selama berabad-abad berikutnya, tetapi baru pada tahun 1568 Odisha akhirnya kehilangan kemerdekaannya.[13]



Aturan dan petunjuk mengenai pembangunan kapal tercatat dalam Juktikalpataru yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Catatan Madalapanji menunjukkan bahwa Raja Bhoja membangun banyak kapal dengan kayu lokal.[16] Penemuan banyak kapak kayu dan artefak lainnya dari Danau Chilika menunjukkan bahwa Golabai merupakan pusat pembuatan perahu.[11]
Segel tembikar dari Bangarh dan Chandraketugarh (400 SM hingga 100 SM) menggambarkan kapal laut yang mengangkut jagung. Kapal-kapal tersebut memiliki tiang tunggal dengan layar persegi.[7] Penggambaran kapal paling awal di Odisha terdapat pada sebuah dekorasi pahatan yang menampilkan dua kapal, ditemukan di dekat Kuil Brahmeswara, Bhubaneswar, dan sekarang menjadi koleksi Museum Negara Odisha.[17] Kapal pertama mengangkut seekor gajah di bagian depan, dua orang duduk di tengah dan dua pelaut dengan dayung di belakang yang mengemudikan kapal.[11]

Dari Juni hingga September, angin muson musim panas bertiup dari barat daya, dari Sailan menuju Kalinga. Dari Desember hingga awal Maret, angin muson bertiup ke arah sebaliknya.[18] Asia Tenggara juga memiliki pola angin musiman yang serupa.[19]

Di Indonesia, pada bulan Juli dan Agustus, angin muson timur bertiup dari Australia ke arah barat laut, lalu bergeser ke arah timur laut saat melintasi khatulistiwa. Pola ini berbalik arah selama Januari dan Februari.[20] Para navigator awal memanfaatkan angin musiman ini, berlayar dengan mengandalkan bintang, warna air, kemunculan ular laut, dan perilaku terbang burung laut.[21]
Kapal-kapal Kalinga tidak dapat melakukan pelayaran laut yang panjang tanpa singgah di tengah perjalanan untuk memuat makanan dan air. Kapal-kapal yang berangkat dari Tamralipta akan menyusuri pantai Burma, berhenti di Kepulauan Nikobar, suatu perjalanan yang berlangsung satu bulan. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan ke tenggara, lalu berlayar menyusuri pantai Semenanjung Melayu dan melintasi Selat Malaka, lalu ke Jawa atau Bali, atau ke timur laut menuju Indochina atau Tiongkok. Rute alternatif adalah ke selatan menyusuri pantai India, lalu berhenti di Sailan, lalu berbelok ke tenggara ke Sumatra.[7]
Palur, dekat Sungai Rushikulya di distrik Ganjam, merupakan pelabuhan penting pada abad ke-2 Masehi. Eksplorasi arkeologi telah menemukan fragmen keramik seladon Tiongkok, tembikar rolet Romawi, dan pecahan amfora, yang menunjukkan bahwa pelabuhan tersebut melakukan perdagangan internasional yang signifikan. Sebuah medali yang tidak biasa memiliki gambar raja bergaya Kushana dengan prasasti beraksara Brahmi di satu sisi, dan kepala Romawi dengan prasasti beraksara Romawi di sisi lainnya.[11] Sebuah koin Romawi milik Kaisar Tiberius telah ditemukan di Salihundam, dan koin-koin Romawi lainnya telah ditemukan di situs-situs lain, memberikan bukti lebih lanjut tentang perdagangan dengan Kekaisaran Romawi.[7]
Perdagangan dengan Asia Tenggara dimulai pada abad ke-1 Masehi, dan mungkin memiliki asal-usul yang jauh lebih awal. Temuan-temuan selanjutnya termasuk koin-koin Sailan abad ke-12 dan koin-koin Tiongkok abad ke-14. Koin-koin serupa dari Sumatra menunjukkan adanya perdagangan antara Odisha, Sailan, dan Sumatra.[7] Perdagangan bukannya tanpa risiko. Raja-raja Kalingga, Siam, dan Jawa harus secara berkala melancarkan ekspedisi untuk menumpas bajak laut yang beroperasi di Selat Malaka dan di seluruh Asia Tenggara Maritim.[22]
Manikapatna adalah sebuah pelabuhan di tepi Chilika yang berkembang pesat sejak awal sejarah hingga abad ke-19 Masehi. Penggalian telah menemukan berbagai jenis tembikar dari berbagai wilayah India, dan koin-koin dari Sailan dan Tiongkok. Tingkat yang lebih modern berisi seladon dan porselen Tiongkok, serta tembikar glasir Arab. Sebuah masjid dari abad ke-18 memiliki prasasti yang mengatakan bahwa para pelaut dan pedagang berdoa di sana sebelum pergi melaut.[8]
Menurut sumber abad ke-6 Masehi, Kalingga terkenal akan gajahnya, yang untuknya dibangun pasar di Sailan, bersama dengan batu-batu mulia, gading, lada, pinang, dan tekstil halus. Sebagai imbalannya, Kalingga mengimpor mutiara dan perak dari Sailan.[23] Jagung dan beras juga diekspor oleh Kalingga. Para pedagang mengimpor rempah-rempah dan cendana dari Indonesia Timur, beberapa di antaranya diangkut ke pasar Mediterania.[7] Sebuah perahu yang digambarkan di Kuil Matahari Konark dari abad ke-13 tampak mengangkut jerapah, yang menunjukkan perdagangan dengan Benua Afrika, yang mungkin dilakukan dengan kapal-kapal Arab.[11]
Myanmar dikenal dengan nama Kalingarat pada abad ke-7 SM, di mana terdapat bukti permukiman yang sangat awal di selatan Negara Bagian Mon. Pada abad ke-2 M, orang Kalingga menguasai Kalaymyo, lembah Sungai Arakan, dan Bago, di sekitar Teluk Mottama. Sisa-sisa kapal yang digali di Tante, dekat Yangon, diduga merupakan milik para pedagang Kalingga. Nama tempat dan kesamaan arsitektur juga menunjukkan adanya kontak dekat di seberang Teluk Benggala.[24] Buddhagat, kitab suci berbahasa Burma, menceritakan hubungan dagang dengan para pedagang Buddha dari Kalingga, yang mengundang para misionaris datang untuk menyebarkan agama Buddha, serta memunculkan dominasi politik Kalingga di sebagian wilayah pesisir Myanmar selama abad ke-4 hingga ke-7 M. Koin-koin dengan simbol Hindu yang ditemukan di Pegu mengonfirmasi kontak ini.[25]

Para emigran dari Kalingga datang ke Kamboja pada abad ke-3 SM untuk melarikan diri dari Maharaja Asoka. Namun, setelah Ashoka memeluk agama Buddha dan mengirim misionaris ke Kamboja, mereka menerima ajaran tersebut dan membantu menyebarkan agama tersebut di wilayahnya.[26] Monumen-monumen awal bangsa Khmer (di Kamboja modern) tampaknya berasal dari pengaruh Andhra, bukan dari Kalingga.[27] Namun, meski beberapa prasasti yang ditemukan di Angkor Wat di Kamboja berbahasa Sanskerta, sebagian lainnya menggunakan aksara Kalingga.[28] Arsitektur candi Angkor Wat menunjukkan pengaruh dari candi Jagannath Puri di Odisha.[29]
Catatan pertama perdagangan dengan Tiongkok ditemukan dalam catatan Fa Hsien (399–411 M) yang berlayar dengan kapal dagang dari pelabuhan Temralipti untuk pulang ke Tiongkok.[30]
Peziarah Tiongkok Hieun Tsang (645 M) menceritakan tentang pelayaran laut dari pelabuhan Tamralipta (Tamluk modern) dan Chelitalo ke Simhala (Sri Lanka modern) dan Tiongkok.[31] Seorang mantan raja Odra (Odisha) bernama Subhakararisha, yang telah turun takhta untuk menjadi biksu, berlayar ke Tiongkok pada tahun 716 M dan memperkenalkan Buddha Tantra.[32] Ada catatan tentang pengangkutan melalui laut pada tahun 794 M dari hadiah oleh Raja Udra kepada Kaisar Tiongkok.[31]
Odisha mengimpor sutra dari Tiongkok, dan koin Tiongkok dari abad ke-8 telah ditemukan di Sirpur.[30] Antara tahun 813 dan 818, tiga misi dikirim dari kerajaan Jawa Kalingga ke istana Hsien Tung di Tiongkok, membawa barang-barang langka seperti badak hidup, burung beo lima warna dan beberapa anak laki-laki dan perempuan berkulit hitam dari Afrika Timur.[33]

Kalinga memiliki ikatan yang kuat dengan Simhala (Sri Lanka). Beberapa cendekiawan mengatakan bahwa raja pertama Simhala, Wijaya, berasal dari Simhapura di timur India, ibu kota Kalingga, dan neneknya adalah putri raja Kalingga. Maharaja Asoka mengirim putranya ke Sailan untuk menyebarkan agama Buddha, dan kemudian mengirim putrinya, Sanghamitra, untuk memimpin para biarawati. Kitab Samantapasadika mengatakan bahwa ia ditemani oleh delapan keluarga dari Kalingga. Dathavamsa menceritakan tentang persahabatan antara Raja Guhasiva dari Kalinga dan Raja Mahasena dari Sailan (277 – 304 M). Dathavamsa juga menceritakan tentang raja Kalingga yang memberikan relik gigi Buddha Gotama sebagai mahar kepada Dantakumara atas pernikahannya dengan putri raja. Dantakumara membawa relik tersebut ke Sailan dan diabadikan dalam sebuah stupa.[23]
Buddha Hīnayāna berkembang di Sailan pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, dan pengaruh para cendekiawan dari Sailan menyebar melalui Burma, Siam, dan Kamboja, membentuk kepercayaan dan praktik yang masih berlanjut di negara-negara tersebut hingga saat ini. Kalingga juga sangat dipengaruhi oleh budaya Sailan, khususnya ajaran Theravada Buddhaghosa, karena terletak di jalur yang dilalui para peziarah dari Sailan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di India. Para peziarah dari Kalingga berlayar ke Sailan untuk menghormati relik gigi dan mengunjungi biara-biara.[23] Peziarah Tiongkok Hieun Tsang menggambarkan pelayaran laut ini dari pelabuhan Tamralipta dan Chelitalo ke Simhala.[31]
Menurut Chulavamsa, raja Kalingga mengunjungi Sailan pada masa pemerintahan Aggabodhi II (610–611 M). Raja Wijayabahu I dari Sailan (1055–1110 M) menikahi putri raja Kalingga. Nissanka Malla, putra Raja Gaparaja dari Kalingga, menjadi penguasa Sailan (1187–1196 M). Seorang pangeran Kalingga bernama Magha menyerbu Sailan dengan armada yang membawa 24.000 tentara dan memerintah pulau itu dari tahun 1214 hingga 1235 M.[23]
Antara abad ke-11 dan ke-16 M, nama Kalingga secara bertahap berubah jadi Odra Desa, Uddisa, dan akhirnya Odisha.[7] Pada masa pemerintahan Kapilendradeva (1435–1466 M), Kerajaan Odia membangun supremasi politik atas wilayah yang luas di luar batas geografis Odisha sekarang, memerintah dari Sungai Gangga hingga Arcot di selatan. Para penerusnya tetap mempertahankan kekuasaan mereka atas wilayah yang luas tersebut. Pada masa pemerintahan Prataprudradewa, dari tahun 1497 M hingga 1541 M, luas kerajaan tersebut bertambah mulai dari Distrik Hooghly dan Midnapore di Benggala Barat hingga Distrik Guntur di Andhra Pradesh.[13]
Para pelaut Arab mulai memasuki Teluk Benggala sejak abad ke-8, dan kemudian disusul kapal-kapal Portugis, Belanda, Inggris, dan Prancis menjadi dominan, sehingga para pelaut Odisha hanya menguasai perdagangan pesisir.[31] Pada tahun 1568, penguasa Muslim Benggala, Sulaiman Khan Karrani, dan kemudian Kekaisaran Mughal, berhasil menaklukkan wilayah tersebut, mengakhiri kemerdekaannya. Odisha kemudian diserahkan kepada Kemaharajaan Maratha pada tahun 1751, dan berada di bawah kekuasaan Inggris selama Perang Britania Raya–Maratha Kedua (1803–1805).[13]
Perdagangan maritim menurun setelah masa pemerintahan Dinasti Gajapati dan juga dengan meningkatnya dominasi kekuatan angkatan laut Eropa di Asia, meskipun kontak-kontak kecil terus berlanjut di bawah pemerintahan dinasti Bhoi di Khurda seperti yang dicatat dari tugu peringatan dan dekrit berbahasa Manchu yang menceritakan kontak-kontak dengan Dinasti Qing di Tiongkok, di mana Kaisar Qianlong menerima hadiah dari Brahmana (Polomen 婆羅門, atau Bolomen) utusan seorang penguasa bernama Birakišora han dari Utg’ali (Wutegali bilaqishila han 烏特噶里畢拉奇碩拉汗), yang disebut-sebut sebagai pemimpin di India Timur. Nama tersebut diketahui merujuk pada Birakisore Dewa I dari Khurda (1736–1793) yang menyebut dirinya sebagai Gajapati, penguasa Utkala. Banyak gosain yang sedang menuju Tibet mampir ke kuil Jagannath di Puri.[34] Dengan kekalahan Maratha dalam Perang Inggris-Maratha Kedua pada tahun 1803[35] dan pencaplokan Odisha ke dalam Kemaharajaan Britania, berakhirlah sisa hubungan perdagangan maritim.