Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sampar ruminansia kecil

Sampar ruminansia kecil atau pes ruminansia kecil adalah penyakit menular akibat infeksi Small ruminant morbillivirus yang terutama menyerang domba dan kambing. Selain kedua hewan ini, PPR juga dilaporkan menyerang beberapa kerabat domba dan kambing yang liar, serta unta. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) memasukkan PPR dalam daftar penyakit yang kasusnya wajib dilaporkan oleh negara-negara di dunia. Bersama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), WOAH menargetkan penyakit ini diberantas dari muka Bumi pada tahun 2030.

penyakit viral yang terutama menyerang kambing dan domba
Diperbarui 6 April 2023

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sampar ruminansia kecil
Sampar ruminansia kecil
Nama lainPes ruminansia kecil, peste des petits ruminants, ovine rinderpest, goat plague
Seekor domba dengan PPR; terdapat cairan mukopurulen yang menyumbat lubang hidungnya.
SpesialisasiKedokteran hewan
GejalaDemam, leleran mata dan hidung, stomatitis, pneumonia, dan diare
PenyebabSmall ruminant morbillivirus
Metode diagnostikRT-PCR, immunocapture ELISA
PencegahanVaksinasi
PengobatanTerapi suportif

Sampar ruminansia kecil atau pes ruminansia kecil (bahasa Prancis: peste des petits ruminants; disingkat PPR) adalah penyakit menular akibat infeksi Small ruminant morbillivirus yang terutama menyerang domba dan kambing. Selain kedua hewan ini, PPR juga dilaporkan menyerang beberapa kerabat domba dan kambing yang liar, serta unta. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) memasukkan PPR dalam daftar penyakit yang kasusnya wajib dilaporkan oleh negara-negara di dunia. Bersama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), WOAH menargetkan penyakit ini diberantas dari muka Bumi pada tahun 2030.[1]

Penyebaran penyakit

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Pantai Gading pada tahun 1942 dan kini telah menyebar ke berbagai belahan Afrika dan Asia, serta sejumlah negara Eropa. Negara-negara Asia dan Eropa yang melaporkan kasus pertama PPR di wilayahnya dalam beberapa tahun terakhir yaitu Georgia dan Mongolia (2016),[2][3] Bulgaria (2018),[4] serta Thailand (2021).[5]

Tanda klinis

Pada umumnya, masa inkubasi PPR adalah 4–6 hari, tetapi dapat berkisar antara 3–10 hari.[6] Untuk keperluan perdagangan, WOAH menetapkan masa inkubasi PPR selama 21 hari.[7]

Tanda klinis PPR bervariasi dari ringan sampai berat. Pada kasus perakut, hewan mengalami demam tinggi dan kematian mendadak. Pada bentuk akut, hewan terinfeksi akan demam selama 3–5 hari serta mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan kesadaran. Muncul cairan dari mata dan hidung yang bersifat serosa dan lama-kelamaan menjadi mukopurulen. Leleran ini dapat keluar selama dua pekan hingga menutupi hidung. Sekitar empat hari sejak demam, gusi akan menjadi kemerahan dan akan muncul erosi dangkal di bagian mulut yang biasanya tertutup bintik abu-abu kecil yang berbau busuk dan menjadi nekrosis. Mulut hewan terasa nyeri sehingga mereka menjadi enggan untuk makan. Mereka juga mengalami hipersalivasi. Pneumonia dapat terjadi, sedangkan batuk, ronki pleura, serta pernapasan perut dapat teramati. Selain itu, banyak hewan juga menunjukkan diare berat yang terkadang berbau busuk dan bercampur darah.[6][8]

Pada kasus berat, tingkat morbiditas dapat mencapai 100% dengan tingkat kematian kasus yang tinggi. Namun, angka kesakitan dan angka kematian bisa jauh lebih rendah pada wabah yang ringan.[6]

Diagnosis

Spesimen untuk pengujian laboratorium adalah sampel darah atau usap cairan konjungtiva, cairan hidung, mukosa pipi, atau mukosa rektum dari hewan yang sedang berada dalam fase akut penyakit. Metode yang digunakan untuk menegakkan diagnosis PPR adalah reaksi berantai polimerase transkipsi-balik dan immunocapture ELISA. Selain itu isolasi virus dengan kultur jaringan dan imunodifusi gel agar (AGID) juga dapat digunakan.[9][10]

Penanganan

Tidak ada terapi spesifik untuk mengobati PPR. Antibiotika dan terapi suportif dapat diberikan untuk mengatasi infeksi sekunder.[11] Sementara itu, vaksin aktif yang dilemahkan telah tersedia untuk mencegah penyakit ini.[12]

Lihat pula

  • Sampar sapi

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Organisasi Kesehatan Hewan Dunia. "Peste des Petits Ruminants". Diakses tanggal 24 Maret 2023.
  2. ↑ "WAHIS: EVENT 1911". World Organization for Animal Health. 2016. Diakses tanggal 30 Maret 2023.
  3. ↑ "WAHIS: EVENT 2025". World Organization for Animal Health. 2016. Diakses tanggal 30 Maret 2023.
  4. ↑ "WAHIS: EVENT 2941". World Organization for Animal Health. 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2023.
  5. ↑ "WAHIS: EVENT 3543". World Organization for Animal Health. 2021. Diakses tanggal 30 Maret 2023.
  6. 1 2 3 WOAH Manual 2022, hlm. 2.
  7. ↑ Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (2022), Chapter 14.7. Infection with the Peste des Petits Ruminants Virus, Terrestrial Animal Health Code, World Organisation for Animal Health (WOAH)
  8. ↑ Spickler 2019, hlm. 2.
  9. ↑ WOAH Manual 2022, hlm. 3.
  10. ↑ Spickler 2019, hlm. 3-4.
  11. ↑ Spickler 2019, hlm. 4.
  12. ↑ WOAH Manual 2022, hlm. 1.

Daftar pustaka

  • Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (2022), Chapter 3.8.9. Peste des Petits Ruminants (Infection with Small Ruminant Morbillivirus) (PDF), Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals, World Organisation for Animal Health (WOAH)
  • Spickler, Anna Rovid (2015), Peste des Petits Ruminants (PDF), CFSPH Technical Disease Fact Sheets, The Center for Food Security and Public Health, Iowa State University
  • l
  • b
  • s
Hama dan penyakit hewan karantina (HPHK)
HPHK Golongan I
Penyakit prion
  • Penyakit sapi gila
  • Skrapi
Penyakit viral
  • Adenokarsinoma paru domba
  • Anemia infeksius kuda
  • Arteritis viral kuda
  • Artritis dan ensefalitis kambing
  • Cacar domba dan cacar kambing
  • Cacar kuda genital
  • Cacar unta
  • Demam babi Afrika
  • Demam berdarah Krimea–Kongo
  • Demam lembah rift
  • Ensefalitis lembah murray dan demam nil barat
  • Ensefalitis virus nipah
  • Ensefalomielitis burung
  • Ensefalomielitis kuda (timur, barat, venezuela)
  • Ensefalomielitis teskovirus
  • Enteritis viral bebek
  • Flu babi
  • Flu burung patogenisitas tinggi
  • Flu kuda
  • Gastroenteritis menular babi
  • Hepatitis viral bebek
  • Infeksi Hendravirus
  • Maedi-visna
  • Miksomatosis
  • Penyakit domba nairobi
  • Penyakit hemoragik kelinci
  • Penyakit kuda Afrika
  • Penyakit kulit berbenjol
  • Penyakit mulut dan kuku
  • Penyakit virus ebola
  • Penyakit virus marburg
  • Penyakit vesikular
  • Penyakit vesikular babi
  • Pseudorabies
  • Rhinopneumonitis kuda
  • Rhinotrakeitis kalkun
  • Sampar ruminansia kecil
  • Sampar sapi
  • Sindrom reproduksi dan respirasi babi
Penyakit bakterial
  • Agalaksia menular
  • Aktinomikosis sapi
  • American foulbrood
  • Bruselosis kambing dan bruselosis domba
  • Epididimitis domba
  • European foulbrood
  • Heartwater
  • Ingus jahat
  • Ingus tenang
  • Kampilobakteriosis
  • Metritis kuda menular
  • Pleuropneumonia kambing menular
  • Pleuropneumonia sapi menular
  • Rhinitis atropik babi
  • Septisemia Yersinia pseudotuberkulosis
  • Tularemia
Penyakit parasitik
  • Akarapisosis lebah madu
  • Dourin
  • Infestasi lalat sekrup Dunia Baru (miasis)
  • Infestasi kumbang sarang lebah kecil
  • Infestasi Tropilaelaps lebah madu
  • Leismaniasis
  • Trikomoniasis
  • Varroosis lebah madu
HPHK Golongan II
Penyakit viral
  • Anemia ayam infeksius
  • Bronkitis infeksius
  • Cacar unggas
  • Demam babi klasik
  • Demam kataral malignan
  • Diare ganas/penyakit mukosal sapi
  • Ensefalitis Jepang
  • Flu burung patogenisitas rendah
  • Laringotrakeitis infeksius
  • Leukosis limfoid
  • Leukosis sapi enzootik
  • Orf
  • Penyakit gumboro
  • Penyakit Jembrana
  • Penyakit lidah biru
  • Penyakit Marek
  • Penyakit Newcastle
  • Penyakit parvovirus anjing
  • Rabies
  • Rhinotrakeitis sapi infeksius/vulvovaginitis pustular infeksius
  • Sindrom kekerdilan ayam
  • Sindrom penurunan telur
Penyakit bakterial
  • Antraks
  • Bruselosis
  • Dermatofilosis
  • Disentri babi
  • Erisipelas
  • Kolera unggas
  • Leptospirosis
  • Listeriosis
  • Mikoplasmosis burung (penyakit respirasi kronis, sinovitis infeksius)
  • Paratuberkulosis
  • Psitakosis
  • Radang paha
  • Septisemia epizotik
  • Tifoid unggas
  • Tuberkulosis
  • Tuberkulosis burung
  • Tuberkulosis sapi
Penyakit fungal
  • Pebrin
  • Ringworm
  • Selakarang
Penyakit parasitik
  • Anaplasmosis
  • Anaplasmosis sapi
  • Babesiosis
  • Babesiosis sapi
  • Ekinokokosis
  • Infestasi lalat sekrup Dunia Lama (miasis)
  • Kaskado
  • Mange (skabies, demodikosis)
  • Piroplasmosis kuda
  • Sistiserkosis
  • Sistiserkosis babi
  • Theileriosis
  • Trikinosis
  • Tripanosomosis
  • l
  • b
  • s
Penyakit hewan menular strategis (PHMS)
PHMS yang telah ada di Indonesia
  • Antraks
  • Bruselosis
  • Demam babi Afrika
  • Demam babi klasik
  • Diare ganas sapi
  • Flu burung
  • Koronavirus zoonotik
  • Leptospirosis
  • Penyakit Jembrana
  • Penyakit kulit berbenjol
  • Penyakit mulut dan kuku
  • Penyakit surra dan tripanosomiasis
  • Rabies
  • Rhinotrakeitis sapi infeksius
  • Salmonelosis pada unggas
  • Septisemia epizotik
  • Sindrom reproduksi dan respirasi babi
  • Tuberkulosis sapi
PHMS yang belum ada di Indonesia
  • Demam lembah rift
  • Penyakit sapi gila
  • Sampar ruminansia kecil

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Penyebaran penyakit
  2. Tanda klinis
  3. Diagnosis
  4. Penanganan
  5. Lihat pula
  6. Referensi
  7. Catatan kaki
  8. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Domba

hewan ruminansia yang didomestikasi dibiakkan untuk daging, wol, dan susu

Virus dalam sejarah manusia

pengaruh virus dan infeksinya dalam riwayat peradaban manusia

Latto-latto di Indonesia

Indonesia pada tahun 2002–2003, terutama bagi yang tinggal di wilayah pedesaan. Permainan latto-latto kembali viral belakangan ini melalui tayangan-tayangan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026