Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Pulau Penyengat

Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti adalah sebuah pulau di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 m dan lebar 850 m, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

pulau di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau
Diperbarui 23 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pulau Penyengat
Penyengat Inderasakti
ڤولاو ڤڽڠت ايندراسقتي
Peta lokasi Penyengat Inderasakti
ڤولاو ڤڽڠت ايندراسقتي
Koordinat0°55′40″LU, 104°25′00″BT
NegaraIndonesia
Gugus kepulauanKepulauan Riau
ProvinsiKepulauan Riau
KotaTanjungpinang
Luas2 km2

Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti (dalam sebutan sumber-sumber sejarah) adalah sebuah pulau di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 m dan lebar 850 m, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.[1]

Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang di antaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi.

Sejarah

Peta Pulau Penyengat di papan kedatangan

Menurut cerita, pulau mungil di muara Sungai Riau, Pulau Bintan ini sudah lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang cukup banyak tersedia di pulau ini.[butuh rujukan]

Belum terdapat catatan tertulis tentang asal mula nama pulau ini. Namun, dari cerita rakyat setempat, nama ini berasal dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat. Menurut cerita tersebut, ada para pelaut yang melanggar pantang-larang ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa. Binatang ini yang kemudian dipanggil Penyengat dan pulau tersebut dipanggil dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang Belanda menyebut pulau tersebut dengan nama Pulau Mars.[1][2]

Tatkala pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ditambah menjadi Pulau Penyengat Inderasakti. Pada 1803, Pulau Penyengat telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga sementara Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu.[2]

Imperium Melayu

Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwan jatuh bangunnya Imperium Melayu, yang sebelum terdiri dari wilayah Kesultanan Johor, Pahang, Siak dan Lingga, khususnya di bagian selatan dari Semenanjung Melayu. Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau pada 1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh Belanda pada 1911.[1]

Perang Saudara tahta Johor

Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan sekitarnya. Namun pada 1719, meletus perang saudara memperebutkan tahta Kesultanan Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku Sulaiman.[1]

Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722.[1] Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan seterusnya mendirikan Kesultanan Siak.[butuh rujukan]

Yang Dipertuan Muda Riau

Artikel utama: Yang Dipertuan Muda

Pada masa Kerajaan Johor-Riau-Lingga, Pulau Penyengat tetap berperan sebagai pusat pertahanan sekaligus tempat kediaman dan pusat pemerintahan dari Yang Dipertuan Muda Johor-Pahang-Riau-Lingga. Di kerajaan Riau-Lingga terdapat dua posisi jabatan utama, yaitu Yang Dipertuan Besar atau Sultan yang berkedudukan di Daik, Lingga dan Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Pulau Penyengat. Walaupun lebih rendah kedudukan Yang Dipertuan Muda, tetapi dia mengatur pemerintahan, angkatan perang, perekonomian dan masalah-masalah operasional lainnya.[1]

Bangunan Bersejarah

Masjid Raya Sultan Riau

Masjid ini awalnya dibangun oleh Sultan Mahmud pada 1803. Kemudian pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, pada 1832 masjid ini direnovasi dalam bentuk yang terlihat saat ini. Bangunan utama masjid ini berukuran 18 x 20 m yang ditopang oleh 4 buah tiang beton. Di keempat sudut bangunan, terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan azan. Pada bangunan Masjid Sultan Riau terdpat 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah di Masjid Sultan Riau sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib lima waktu sehari semalam.[butuh rujukan]

Di sisi kiri dan kanan bagian depan masjid terdapat bangunan tambahan yang disebut dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.[butuh rujukan]

Mushaf al-Quran

Terdapat dua buah al-Quran tulisan tangan yang tersimpan di dalam Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat. Salah satu yang diperlihatkan kepada pengunjung adalah hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam, sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan "khat" gaya Istambul. Al-Quran ini diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar. Keistimewaan al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan "Ya Busra" serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya.[butuh rujukan]

Istana Kantor

Istana Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857), atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman, bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh Raja Ali.[butuh rujukan]

Istana Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan puing yang masih ada memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.[butuh rujukan]

Balai Adat Melayu

Balai Adat Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting.[butuh rujukan]

Di dalam gedung, kita dapat melihat tata ruang dan beberapa benda perlengkapan adat resam Melayu, serta berbagai perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu tertentu.[butuh rujukan]

Di bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang konon sudah berabad lamanya dan sampai sekarang airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum.[butuh rujukan]

Monumen Bahasa Melayu

Pada 19 Agustus 2013, diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu di areal dalam bekas Benteng Kursi, Pulau Penyengat, oleh Gubernur Kepulauan Riau, HM Sani. Pembangunan monumen ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional di bidang bahasa. Selain itu juga untuk lebih mengenalkan tentang asal dan arti bahasa Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau dan Lingga, serta bahasa Indonesia yang digunakan saat ini.[3]

Monumen Bahasa Melayu dibangun sebagai tindak lanjut dari dari mufakat 12 kebudayaan Melayu antara Ketua Lembaga Adat Melayu Kepri dan Provinsi Riau pada saat seminar nasional bahasa Indonesia di Pekanbaru, Riau, 2010 lalu, yang dihadiri masing-masing gubernur.[3]

Galeria gambar

Referensi

  • Makam raja-raja (Raja Ja'afar dan Raja Ali Marhum Kantor) yang berada di tengah-tengah pulau Penyengat
    Makam raja-raja (Raja Ja'afar dan Raja Ali Marhum Kantor) yang berada di tengah-tengah pulau Penyengat
  • Masjid raya Sultan Riau di pulau Penyengat
    Masjid raya Sultan Riau di pulau Penyengat
  • Selamat Datang di Pulau Penyengat.
    Selamat Datang di Pulau Penyengat.
  • Kompleks Istana Kantor sebagai objek pariwisata di pulau Penyengat
    Kompleks Istana Kantor sebagai objek pariwisata di pulau Penyengat
  • Makam Engku Putri Raja Hamidah (wafat 12/7/1844)
    Makam Engku Putri Raja Hamidah (wafat 12/7/1844)
  • Makam Raja Ja'afar dari Kesultanan Johor (Dinasti Raja Bugis Luwu)
    Makam Raja Ja'afar dari Kesultanan Johor (Dinasti Raja Bugis Luwu)
  • Makam Raja Haji Abdullah Kesultanan Johor (Dinasti ke-9 dari Raja Bugis Luwu)
    Makam Raja Haji Abdullah Kesultanan Johor (Dinasti ke-9 dari Raja Bugis Luwu)

Sumber

  1. 1 2 3 4 5 6 PUTRA, Lukmannulhakim; Pulau Penyengat Nyata-Nya Inderasakti. Bandung: CV. Rijakarsa Mandiri, 2006.
  2. 1 2 Sejarah yang tertulis di Papan Riwayat Pulau Penyengat, akses 07/09/2014.
  3. 1 2 Gubernur Kepri Resmikan Pembangunan Monumen Bahasa Melayu di Penyengat Diarsipkan 2016-03-06 di Wayback Machine., BatamToday.com

Lihat pula

  • Daftar pulau di Provinsi Kepulauan Riau
  • Kesultanan Lingga
  • Yang Dipertuan Muda
  • Raja Ali Haji

Pranala luar

  • (Indonesia) Sejarah Pulau Penyengat
  • (Indonesia) Pulau Penyengat: Jelajahi Ragam Jejak Kesultanan Johor-Riau
  • (Indonesia) Menggali Sejarah Melayu di Pulau Penyengat
  • (Inggris) Penyengat Island
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Penyengat.
  • l
  • b
  • s
Pulau di Kepulauan Riau
Kabupaten Bintan
  • Pulau Batu Berhanti
  • Pulau Bintan
  • Pulau Sentut
Kabupaten Karimun
  • Kepulauan Karimun
  • Pulau Karimun Kecil
  • Pulau Iyu Kecil
  • Pulau Kundur
Kabupaten Kepulauan Anambas
  • Kepulauan Anambas
  • Pulau Damar
  • Pulau Mangkai
  • Pulau Siantan
  • Pulau Tokong Belayar
  • Pulau Tokong Malang Biru
Kabupaten Lingga
  • Pulau Lingga
  • Pulau Singkep
Kabupaten Natuna
  • Pulau Kepala
  • Kepulauan Natuna Besar
  • Kepulauan Natuna Selatan
  • Kepulauan Tambelan
  • Pulau Bunguran
  • Pulau Laut
  • Pulau Sebetul
  • Pulau Sekatung
  • Pulau Semiun
  • Pulau Senua
  • Pulau Subi Kecil
  • Pulau Tokong Nanas
  • Pulau Tokongboro
Kota Batam
  • Pulau Batam
  • Pulau Abang
  • Pulau Belakang Padang, Batam
  • Pulau Bulan
  • Pulau Galang
  • Pulau Mubut
  • Pulau Nipa
  • Pulau Nongsa
  • Pulau Pelampong
  • Pulau Rempang
  • Pulau Sambu
Kota Tanjungpinang
  • Pulau Penyengat
  • Pulau Dompak
Lihat juga: Daftar pulau di Sumatera dan Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Imperium Melayu
  3. Perang Saudara tahta Johor
  4. Yang Dipertuan Muda Riau
  5. Bangunan Bersejarah
  6. Masjid Raya Sultan Riau
  7. Istana Kantor
  8. Balai Adat Melayu
  9. Monumen Bahasa Melayu
  10. Galeria gambar
  11. Referensi
  12. Sumber
  13. Lihat pula
  14. Pranala luar
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026