Puger adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Jember yang terletak di pesisir selatan. Pusat Kecamatan Puger merupakan sebuah kota kecil dengan alun-alun, masjid, hingga pasar yang ramai. Puger dikenal sebagai sentra perikanan, dengan pelabuhan serta tempat pelelangan ikan (TPI) terbesar di Jember. Masyarakat memasarkan hasil tangkapan berupa ikan segar maupun diolah menjadi terasi dan abon. Puger juga memiliki obyek wisata populer seperti Pantai Pancer dan Cemara. Ikon lain dari kecamatan ini adalah Suaka Margasatwa Nusa Barung berupa pulau kecil yang dapat diakses dari Pelabuhan Puger.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Puger | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Jember | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Beny Armindo Ginting, S.STP. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 126.660 jiwa | ||||
| Kode pos | 68164 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.09.08 | ||||
| Kode BPS | 3509030 | ||||
| Luas | 158,97 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 12 | ||||
| |||||
Puger adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Jember yang terletak di pesisir selatan. Pusat Kecamatan Puger merupakan sebuah kota kecil dengan alun-alun, masjid, hingga pasar yang ramai. Puger dikenal sebagai sentra perikanan, dengan pelabuhan serta tempat pelelangan ikan (TPI) terbesar di Jember.[1] Masyarakat memasarkan hasil tangkapan berupa ikan segar maupun diolah menjadi terasi dan abon.[2] Puger juga memiliki obyek wisata populer seperti Pantai Pancer dan Cemara.[3] Ikon lain dari kecamatan ini adalah Suaka Margasatwa Nusa Barung berupa pulau kecil yang dapat diakses dari Pelabuhan Puger.[4]
Selain sebagai sentra perikanan, Puger juga merupakan pusat penambangan gamping atau batu kapur di Kabupaten Jember. Kawasan tambang berada di Gunung Sadeng, sebuah bukit kecil di utara pusat kecamatan.[5] Banyak perusahaan tambang yang beroperasi di daerah tersebut, salah satunya yang terbesar adalah PT Semen Imasco Asiatic asal China yang memproduksi semen dengan merk Singa Merah.[6]

Puger adalah kecamatan yang terletak di pesisir selatan Kabupaten Jember. Puger terletak di muara Sungai Bedadung yang merupakan sungai terpanjang di Jember. Sungai ini bermuara di Pantai Pancer dan menjadi pembatas geografis dengan Lojejer dan Bukit Watangan di timur. Pelabuhan perikanan terbesar di Jember yaitu Pelabuhan Puger berada di muara sungai ini. Selain Bedadung, Puger juga dilintasi oleh sungai lain yang lebih kecil seperti Sungai Besini. Puger memiliki geografi dataran rendah dengan lahan yang didominasi areal persawahan. Namun Puger juga memiliki bentang alam berupa gumuk atau bukit kecil bernama Gunung Sadeng yang dikenal dengan tambang gamping serta pabrik semennya. Gunung ini terletak di utara pusat kecamatan.[5] Puger merupakan ujung timur dari Jalur Lintas Selatan Jawa (JLS) pada tahun 2025 karena belum terhubung dengan Banyuwangi.[1]
Beberapa kilometer di barat daya Puger terdapat pulau kecil bernama Nusa Barung. Nusa Barung adalah pulau terbesar di pesisir selatan Jawa Timur dan merupakan kawasan konservasi yang alamnya masih terjaga dengan baik. Dahulu pada masa Kerajaan Blambangan, Nusa Barung dikenal sebagai produsen sarang burung walet yang dijual dengan harga tinggi. Hal ini karena Nusa Barung memiliki geografi berupa karst, sehingga memiliki banyak gua yang dihuni walet. Kemudian pada tahun 1920, Nusa Barung ditetapkan sebagai cagar alam dan akhirnya diubah menjadi suaka margasatwa pada tahun 2013. Nusa Barung memiliki keanekaragaman hayati seperti penyu, monyet, lutung, rusa, dan berbagai burung laut.[4]
Batas wilayah Kecamatan Puger adalah sebagai berikut:[7]
| Utara | Kecamatan Balung |
| Timur | Kecamatan Wuluhan dan Sungai Bedadung |
| Selatan | Samudera Hindia |
| Barat | Kecamatan Gumukmas |

Puger adalah kecamatan yang memiliki sejarah yang panjang. Dalam Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, Puger pernah dikunjungi oleh rombongan Hayam Wuruk dari Majapahit pada tahun 1359 M. Lawatan tersebut dalam rangka menjalin hubungan diplomatik ke daerah-daerah timur yang pernah memberontak dari kekuasaan Majapahit. Setelah dari Lamajang, Hayam Wuruk diketahui bermalam di daerah bernama Basini dan Sadeng. Keduanya sekarang menjadi nama lokasi di Puger, Basini adalah nama salah satu sungai sedangkan Sadeng adalah nama gunung.[9] Sadeng sendiri adalah kerajaan kecil yang pernah memberontak kepada Majapahit pada tahun 1331 bersama dengan Lamajang dan Keta, tetapi dapat ditumpas oleh pasukan Majapahit pimpinan Gajah Mada.[10]
Nama Puger diketahui jauh lebih tua dari Jember. Salah satunya seperti yang dicatat dalam peta Belanda tahun 1724. Dalam peta tersebut, "Landschap Poegar" wilayahnya mencakup seluruh Jember. Selain itu, juga terdapat tulisan "Onder Soerapati" yang mengindikasikan bahwa Puger berada dalam kekuasaan keturunan Untung Suropati.[8] Dalam referensi lain, Puger saat itu berada dalam kekuasan Kerajaan Blambangan yang berpusat di Banyuwangi, tetapi kerajaan ini nantinya berhasil dikuasai VOC pada tahun 1770-an. Pasca dikuasai VOC, wilayah Blambangan kemudian dipecah menjadi beberapa bagian, salah satunya Puger yang dipimpin oleh Tumenggung Prawiradiningrat.[11]
Nama Puger masih terus dipakai untuk menyebut wilayah Jember dan Bondowoso hingga abad ke-19, tetapi makin tergerus dengan makin berkembangnya Kota Jember. Kabupaten Jember resmi terbentuk pada tahun 1928 dan Puger berstatus sebagai kawedanan atau daerah pembantu bupati. Puger adalah satu dari 7 kawedanan yang ada di Jember selain Kawedanan Jember, Rambipuji, Tanggul, Wuluhan, Kalisat, dan Mayang. Kawedanan Puger mencakup beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Puger, Gumukmas, Umbulsari, Kencong, dan Jombang.[12]
Kecamatan Puger terdiri dari 12 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bagon | Krajan, Kedung Sumur, Suling Kulon, Suling Wetan | [7] |
| 2 | Grenden | Krajan I, Krajan II, Kapuran, Karangsono, Karetan, Kumitir | [7][13] |
| 3 | Jambearum | Krajan, Darungan, Kedung Sumur | [7] |
| 4 | Kasiyan | Krajan, Babatan, Gadungan, Kepoh | [7] |
| 5 | Kasiyan Timur | Krajan I, Krajan II, Perjawan, Tikuan, Kebonan, Karanggenting, Pasarwetan | [7] |
| 6 | Mlokorejo | Krajan Barat, Krajan Timur, Sembungan, Wedian, Rekesan, Bregul | [7] |
| 7 | Mojomulyo | Krajan, Getem, Kalimalang, Ngebanan | [7] |
| 8 | Mojosari | Krajan, Jadugan, Ngebanan | [7] |
| 9 | Puger Kulon | Krajan I, Krajan II, Besini, Gedangan, Kauman, Mandaran I, Mandaran II | [7][14] |
| 10 | Puger Wetan | Krajan, Mandaran, Watu Ireng | [7] |
| 11 | Wonosari | Krajan, Lengkong, Penitik, Karanggenting | [7] |
| 12 | Wringintelu | Krajan, Pakem, Sonokeling | [7] |

Masyarakat Puger terdiri dari berbagai suku terutama Jawa dan Madura yang hidup berdampingan. Bahasa yang digunakan sehari-hari juga campuran antara Jawa dan Madura. Sehingga Puger merupakan bagian dari kebudayaan Pendalungan.[15] Dalam sejarahnya, Puger juga banyak didatangi suku-suku lain seperti Bugis dan Mandar dari Sulawesi yang bertujuan untuk berdagang, sehingga mungkin terdapat keturunan dari suku tersebut di zaman sekarang.[11]
Puger adalah salah satu kecamatan dengan jumlah penduduk tertinggi di Kabupaten Jember. Tercatat sekitar 126 ribu jiwa tinggal di Kecamatan Puger menurut data BPS tahun 2024. Hal ini membuat Puger menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar nomor 5 di Jember setelah Sumbersari, Wuluhan, Bangsalsari, dan Kaliwates.[7] Sedangkan Nusa Barung, sebuah pulau kecil di barat daya Puger tidak dihuni penduduk dan berstatus suaka margasatwa (dulunya cagar alam). Namun dalam sejarahnya, Nusa Barung pernah dihuni oleh ratusan orang karena pulau ini pernah dilintasi jalur pelayaran laut selatan serta memiliki potensi ekonomi yang besar berupa sarang burung walet.[11]
Puger memiliki kebudayaan tradisional yang masih dilestarikan sampai sekarang. Yang paling terkenal adalah larung sesaji atau petik laut yang dilakukan oleh nelayan di pesisir Pantai Puger. Larung sesaji bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil bumi yang melimpah serta memohon keselamatan untuk tahun depan. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali di Bulan Muharram atau Suro. Acara dimeriahkan dengan kegiatan doa bersama dan kirab budaya. Saat puncak acara, sesajen yang terdiri dari kepala kambing, nasi kuning, berbagai jajanan pasar, dan lainnya kemudian diarak keliling kampung menuju pantai. Selanjutnya sesajen diangkut dengan perahu dan secara ramai-ramai diarak ke laut lepas.[16][17]

