Perfilman Filipina dimulai dengan dikenalkannya film di negara tersebut pada tanggal 31 Agustus 1897, di Salón de Pertierra, Manila. Setahun kemudian, adegan-adegan film mulai direkam di Filipina oleh sutradara Spanyol, Antonio Ramos, menggunakan Sinematograf Lumiere. Meskipun sebagian besar sutradara dan produser awal di negara tersebut kebanyakan adalah orang asing dan ekspatriat Spanyol dan Amerika Serikat, penduduk lokal ikut andil dalam perfilman Filipina saat itu. Hasilnya ialah film pertama yang dibuat oleh orang Filipina dan ditayangkan di Filipina pada tanggal 12 September 1919, dengan judul Dalagang Bukid. Film tersebut didasarkan pada zarzuela populer dan disutradarai oleh José Nepomuceno, yang di kemudian hari, ia dijuluki sebagai "Bapak Perfilman Filipina". Karyanya tersebut menandai dimulainya sinema sebagai bentuk seni di Filipina.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sinema Filipina | |
|---|---|
| Jumlah layar | 920 (2018)[1] |
| • Per kapita | 0,9 per 100.000 (2013)[1] |
| Distributor utama | Star Cinema 27.1% UIP 17.0% Disney 16.1%[2] |
| Film fitur yang diproduksi (2013)[3] | |
| Total | 53 |
| Jumlah admisi (2014)[4] | |
| Total | 78,300,000 |
| • Per kapita | 0.8 |
| Keuntungan Box Office (2017)[4] | |
| Total | $218 juta |
| Bagian dari seri tentang |
| Budaya Filipina |
|---|
| Sejarah |
| Hidangan |
Perfilman Filipina [a] dimulai dengan dikenalkannya film di negara tersebut pada tanggal 31 Agustus 1897, di Salón de Pertierra, Manila. Setahun kemudian, adegan-adegan film mulai direkam di Filipina oleh sutradara Spanyol, Antonio Ramos, menggunakan Sinematograf Lumiere.[5] Meskipun sebagian besar sutradara dan produser awal di negara tersebut kebanyakan adalah orang asing dan ekspatriat Spanyol dan Amerika Serikat, penduduk lokal ikut andil dalam perfilman Filipina saat itu. Hasilnya ialah film pertama yang dibuat oleh orang Filipina dan ditayangkan di Filipina pada tanggal 12 September 1919, dengan judul Dalagang Bukid (Gadis Desa). Film tersebut didasarkan pada zarzuela populer dan disutradarai oleh José Nepomuceno,[6] yang di kemudian hari, ia dijuluki sebagai "Bapak Perfilman Filipina". Karyanya tersebut menandai dimulainya sinema sebagai bentuk seni di Filipina.[7]
Meskipun saat ini perfilman sedang menghadapi berbagai masalah di seluruh dunia, film masih dianggap sebagai salah satu bentuk hiburan populer di kalangan masyarakat Filipina. Perfilman Filipina secara langsung mempekerjakan sekitar 260.000 orang Filipina dan menghasilkan pendapatan sekitar ₱2 miliar per tahun.[8] Di antara negara-negara tetangganya di Asia Tenggara, perfilman Filipina merupakan salah satu perfilman yang kuat di kawasan Asia Tenggara, dengan mayoritas film yang dibuat di kawasan tersebut berasal dari Filipina, bersama dengan industri film Thailand dan Indonesia.
Dewan Pengembangan Film Filipina merupakan badan yang mengelola pengembangan film di Filipina. Badan tersebu juga membentuk arsip film nasional pada bulan Oktober 2011.[9] Terdapat berbagai penghargaan sebagai bentuk apresiasi film di Filipina. Luna Awards, yang diadakan setiap tahunnya, memberikan penghargaan kepada film-film Filipina terbaik yang dipilih oleh rekan-rekan pelaku industri film. Sementara itu, Manunuri ng Pelikulang Pilipino (organisasi kritik film Filipina) memberikan Gawad Urian, yang terkenal karena pilihan pemenangnya yang kredibel.

Tahun-tahun pembentukan industri perfilman Filipina dimulai sejak tahun 1930-an. Pada masa itu, berbagai pelaku perfilman bereksperiman dengan untuk menemukan genre film sebagai medium seni baru. Berbagai skenario dan penokohan dalam film masa tersebut berasal dari teater populer dan sastra lokal yang telah familiar. Film-film yang bersifat nasionalis juga cukup populer pada masa Persemakmuran, meskipun sering kali dianggap terlalu subversif.
Pada tahun 1940-an, perang membawa kesadaran akan realitas ke dalam perfilman Filipina. Tema-tema film yang utamanya bertema perang dan kepahlawanan terbukti sangat populer di kalangan penonton lokal.

Tahun 1950-an merupakan masa keemasan pertama perfilman Filipina,[10][11] dengan munculnya berbagai film-film yang lebih artistik dan matang, serta peningkatan signifikan dalam teknik sinematik di kalangan pembuat film. Sistem studio menghasilkan aktivitas yang hingar bingar di industri film lokal, karena banyak film dibuat setiap tahun dan beberapa talenta lokal mulai mendapatkan pengakuan di luar negeri. Badan-badan pemberi penghargaan pertama kali dibentuk selama periode ini. Ketika dekade tersebut hampir berakhir, monopoli sistem studio dikepung akibat konflik buruh-manajemen, dan pada tahun 1960-an, kesenian yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sudah menurun. Masa ini dapat dicirikan oleh peningkatan komersialisme film, film penggemar, film pornografi lunak, film laga, dan film sempalan koboi.
Tahun-tahun darurat militer dan setelahnya merupakan tahun-tahun yang penuh gejolak bagi industri perfilman Filipina. Film-film pada periode ini kini mengangkat topik-topik yang lebih serius setelah era Darurat Militer. Selain itu, film laga dan porno berkembang lebih jauh, memperkenalkan materi subjek yang lebih eksplisit. Tahun-tahun ini juga menandai kedatangan film alternatif atau independen di Filipina.
Tahun 1990-an menyaksikan meningkatnya popularitas film slasher, komedi romantis berorientasi remaja, serta film dewasa yang eksplisit secara seksual, meskipun komedi kasar masih menarik banyak penonton. Genre-genre dari dekade-dekade sebelumnya telah didaur ulang dengan cerita yang hampir sama, dan kisah cinta berkelompok, yang pernah populer di masa lalu, telah muncul kembali.[11]
Saat ini, industri perfilman telah mencatat penurunan yang stabil dalam jumlah penonton film dari 131 juta pada tahun 1996 menjadi 63 juta pada tahun 2004.[12][13] Dari puncaknya yang mencapai 200 film per tahun selama tahun 1980-an, industri film negara itu turun menjadi hanya membuat 56 film baru pada tahun 2006 dan sekitar 30 pada tahun 2007.[12][13] Meskipun industri ini telah mengalami masa-masa sulit, abad ke-21 menyaksikan kelahiran kembali pembuatan film independen melalui penggunaan teknologi digital, dan sejumlah film sekali lagi mendapatkan pengakuan dan prestise internasional.