Penaklukan Kuta Alam pada 13 November 1874 merupakan penaklukan yang berhasil oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda atas Kota Alam di Aceh. Di Kota Alam, segera setelah pendudukan, korps zeni memulai pembangunan sebuah benteng Belanda yang akan menjadi bagian dari Oosterlinie dari Linie van Pel. Ini merupakan garis pertahanan di sekitar kraton di Kota Radja.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Beberapa atau seluruh referensi dari artikel ini mungkin tidak dapat dipercaya kebenarannya. |
| ||||||||||||||||||||||
Penaklukan Kuta Alam pada 13 November 1874 merupakan penaklukan yang berhasil oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) atas Kota Alam di Aceh. Di Kota Alam, segera setelah pendudukan, korps zeni memulai pembangunan sebuah benteng Belanda yang akan menjadi bagian dari Oosterlinie dari Linie van Pel. Ini merupakan garis pertahanan di sekitar kraton di Kota Radja.
Pada 13 November 1874, letnan kolonel infanteri M.C.E. Ruempol bergerak maju dengan setengah batalyon infanteri dan satu seksi artileri untuk melanjutkan operasi tanggal 7 November 1874 terhadap Lemboe, yakni terhadap bagian tenggara yang disebut Kota Alam, di mana Sungai Aceh membentuk sebuah tikungan. Maksudnya adalah untuk mendirikan di sini, pada suatu titik yang sesuai, sebuah benteng dari mana sungai dapat diawasi dengan baik dan dari mana posisi musuh di Longbatta serta wilayah Moekims III yang terletak di sebelah selatan dapat ditembaki. Pendudukan Kota Alam tidak memerlukan banyak usaha, tetapi setelah korps zeni mulai membangun sebuah pos di bawah pimpinan letnan satu zeni C.J. Snijders, para prajurit yang bekerja di sana ditembaki dari segala arah oleh orang-orang Aceh. Infanteri kemudian membalas tembakan tersebut tetapi tidak dapat mencegah bahwa pada hari itu harus disesalkan kerugian sebanyak 20 orang tewas dan luka-luka. Pada akhir hari, posisi tersebut sudah layak untuk penempatan satu kompi. Sisa pasukan lainnya pada hari itu juga kembali ke Kota Radja.
Snijders menonjol sedemikian rupa sehingga pada 12 November 1875 ia diangkat menjadi Kesatria Kelas IV dari Orde Militer Willems (Militaire Willems-orde). Dalam Keputusan Kerajaan yang bersangkutan disebutkan peran kepemimpinannya dalam pendirian pertahanan di Kota Alam pada 13 November 1874 dan di Missigit Longbatta pada paruh pertama Januari 1875. Kota Alam pada 13 November 1874 merupakan pos kedua, seperti halnya Moesapi, yang sepenuhnya berada di luar Oosterlinie. Pos tersebut memang dimaksudkan sebagai langkah ofensif dengan mempertimbangkan rencana-rencana mendatang di Moekims III. Kolonel J.L.J.H. Pel semakin menjauh dari prinsip sikap pasif dan lebih memilih, melalui taktik ofensif, untuk dapat menjaga musuh pada jarak yang lebih jauh dari Kota Radja. Baik cara bertempur maupun politik Jenderal van Swieten secara bertahap ditinggalkan, meskipun hal itu belum diakui secara terbuka. Pada 14 November 1874 kembali sebuah kolone diberangkatkan untuk semakin memukul mundur musuh dari Kota Alam.