Perang Samalanga I atau Ekspedisi Samalanga 1877 adalah sebuah operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap wilayah pesisir Samalanga di pantai timur laut Aceh antara 8 Agustus hingga 20 Oktober 1877, dalam rangkaian Perang Aceh (1873–1914). Ekspedisi ini dipimpin oleh Karel van der Heijden dengan kekuatan sekitar 3.000 prajurit serta didukung oleh 10 kapal perang dan kapal transport. Tujuan utama ekspedisi ini adalah menghukum wilayah Samalangan yang dianggap memberikan dukungan besar kepada perlawanan Aceh di wilayah Aceh Besar.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Beberapa atau seluruh referensi dari artikel ini mungkin tidak dapat dipercaya kebenarannya. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||
Perang Samalanga I atau Ekspedisi Samalanga 1877 (bahasa Belanda: Eerste expeditie naar Samalangan) adalah sebuah operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap wilayah pesisir Samalanga di pantai timur laut Aceh antara 8 Agustus hingga 20 Oktober 1877, dalam rangkaian Perang Aceh (1873–1914). Ekspedisi ini dipimpin oleh Karel van der Heijden dengan kekuatan sekitar 3.000 prajurit serta didukung oleh 10 kapal perang dan kapal transport. Tujuan utama ekspedisi ini adalah menghukum wilayah Samalangan yang dianggap memberikan dukungan besar kepada perlawanan Aceh di wilayah Aceh Besar.
Pada masa itu Samalangan merupakan salah satu wilayah pesisir yang relatif makmur dengan jumlah penduduk sekitar 30.000 orang. Penguasa setempat pada tahun 1876–1877 bahkan melarang pengolahan sawah agar seluruh laki-laki dapat turut serta membantu perjuangan di Aceh Besar melawan pasukan kolonial Belanda. Selain itu, berbagai negara kecil di sepanjang pesisir Aceh juga memberikan dukungan kepada perlawanan tersebut dengan mengirimkan ribuan pejuang gerilya. Situasi ini memicu kemarahan Van der Heijden, yang kemudian memutuskan untuk melancarkan ekspedisi militer sebagai tindakan represif terhadap wilayah Samalangan.
Sejak pecahnya Perang Aceh pada tahun 1873, pemerintah kolonial Belanda menghadapi kesulitan besar dalam menaklukkan perlawanan rakyat Aceh. Meskipun Belanda berhasil menduduki Kota Radja (Kutaraja) dan sebagian wilayah Aceh Besar, perlawanan dari berbagai daerah lain terus berlangsung. Banyak wilayah pesisir di luar daerah pendudukan Belanda tetap mendukung perjuangan Aceh, baik melalui pengiriman pejuang maupun bantuan logistik.
Samalangan merupakan salah satu wilayah yang paling aktif dalam memberikan dukungan tersebut. Kebijakan penguasa Samalangan yang menghentikan kegiatan pertanian untuk memobilisasi tenaga laki-laki bagi perang menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi dalam perlawanan terhadap Belanda. Oleh karena itu pemerintah kolonial memandang perlu untuk melakukan operasi militer langsung guna menghentikan dukungan tersebut dan menunjukkan kekuatan militer Belanda di wilayah pesisir Aceh.
Ekspedisi militer Belanda berangkat dari Olehleh pada 8 Agustus 1877 dengan menggunakan armada kapal perang dan transport. Pendaratan pasukan di pesisir Samalangan berlangsung relatif tanpa hambatan besar. Setelah mendarat, pasukan Belanda segera mendirikan bivak berbenteng di pantai sebagai basis pertahanan sementara.
Namun situasi berubah pada malam 10–11 Agustus 1877, ketika sekitar 300 pejuang Aceh melancarkan serangan mendadak terhadap bivak Batalyon Infanteri ke-8. Pertempuran singkat namun sengit terjadi di sekitar posisi pertahanan Belanda. Setelah pertempuran tersebut, penguasa Samalangan menandatangani sebuah pernyataan yang mengakui kedaulatan Belanda. Meski demikian, pengakuan tersebut pada kenyataannya tidak memiliki dampak nyata dan tidak menghentikan perlawanan.
Pada 11 Agustus 1877, dua perwira Belanda, yaitu Kapten Infanteri H. J. Jonker dan Kapten J. Lojenga, tewas dalam pertempuran. Kedua perwira tersebut kemudian dimakamkan di Peutjoet, salah satu kompleks pemakaman militer Belanda di Aceh.
Gerakan maju utama pasukan Belanda melalui kawasan laguna baru dimulai pada 26 Agustus 1877. Pada hari itu kolom pasukan Van der Heijden secara tiba-tiba mendapat tembakan hebat dari kampung berbenteng Kota Blang Temoelit, sebuah posisi pertahanan Aceh yang sangat kuat.

Belanda kemudian melakukan penyerbuan terhadap benteng tersebut, namun perlawanan sengit dari pihak Aceh menyebabkan pertempuran berlangsung keras. Dalam pertempuran ini Van der Heijden terkena tembakan di mata kirinya dan harus dievakuasi dari medan tempur. Luka tersebut membuatnya kemudian dikenal dengan julukan “Generaal Eenoog” atau “Jenderal Bermata Satu.”
Menjelang akhir hari, wakil komandan Belanda berhasil mematahkan perlawanan dan merebut posisi Temoelit. Setelah mendapatkan perawatan, Van der Heijden kembali ke pasukannya dan disambut dengan sorakan oleh para prajurit.
Dalam pertempuran tersebut Mayor Infanteri P. E. J. H. van Dompseler mengalami luka serius, sementara Letnan Satu Artileri J. L. Granpré Molière gugur. Dompseler kemudian meninggal dunia pada 30 April 1878 di Elburg akibat luka yang dideritanya. Keduanya dimakamkan di kompleks pemakaman militer Peutjoet.
Peristiwa penyerbuan Kota Blang Temoelit kemudian diabadikan dalam sebuah lukisan karya Willem de Famars Testas yang kini disimpan di Rijksmuseum Amsterdam, yang menggambarkan Van der Heijden berada di tengah pasukannya bersama kudanya di medan pertempuran.
Meskipun berhasil merebut beberapa posisi penting, pasukan Belanda tidak mampu menaklukkan Batoe Iliq, sebuah posisi pegunungan yang juga berfungsi sebagai pusat keagamaan. Tempat tersebut dipertahankan oleh kelompok pelajar dan ulama yang sangat fanatik dalam mempertahankan wilayahnya.
Karena kuatnya pertahanan di daerah pegunungan tersebut, Van der Heijden akhirnya memutuskan untuk menarik pasukannya kembali ke Temoelit. Rencana untuk menaklukkan wilayah tersebut ditunda hingga beberapa tahun kemudian ketika Belanda kembali dengan kekuatan yang lebih besar.
Selama ekspedisi berlangsung, pastor militer Verbraak juga hadir dan memberikan pelayanan rohani kepada para prajurit yang terluka atau sekarat. Rumah sakit lapangan didirikan di Kampong Temboea untuk merawat korban pertempuran.
Ekspedisi Samalangan menunjukkan bahwa meskipun Belanda mampu melakukan operasi militer besar di wilayah pesisir Aceh, mereka masih menghadapi kesulitan besar untuk menguasai daerah pedalaman yang dipertahankan oleh jaringan perlawanan lokal.
Sebagai pengakuan terhadap partisipasi militer dalam operasi tersebut, pemerintah Belanda melalui Keputusan Kerajaan tanggal 15 Oktober 1878 nomor 62 memberikan gesper “Samalangan 1877” pada Kruis voor Krijgsverrichtingen (Salib Operasi Militer). Penghargaan ini diberikan kepada para prajurit yang terlibat dalam operasi militer di Pantai Timur Laut Aceh antara 8 Agustus hingga 20 Oktober 1877.