Perang Samalanga II atau Ekspedisi Kedua ke Samalanga adalah operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap wilayah Samalanga di pantai timur laut Aceh antara 30 Juni hingga 10 Agustus 1880, dalam rangkaian Perang Aceh (1873–1914). Ekspedisi ini dilancarkan setelah kembali pecahnya perlawanan di Samalanga terhadap kekuasaan kolonial Belanda, yang sebelumnya telah menjadi sasaran operasi militer dalam Ekspedisi Samalangan 1877.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| ||||||||||||||||||||||||||||||
Perang Samalanga II atau Ekspedisi Kedua ke Samalanga (bahasa Belanda:Tweede expeditie naar Samalangan) adalah operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap wilayah Samalanga di pantai timur laut Aceh antara 30 Juni hingga 10 Agustus 1880, dalam rangkaian Perang Aceh (1873–1914). Ekspedisi ini dilancarkan setelah kembali pecahnya perlawanan di Samalanga terhadap kekuasaan kolonial Belanda, yang sebelumnya telah menjadi sasaran operasi militer dalam Ekspedisi Samalangan 1877.
Operasi ini dipimpin oleh Mayor W. A. Schmilau, sementara komando umum tetap berada di tangan Jenderal Karel van der Heijden. Tujuan utama ekspedisi tersebut adalah menumpas perlawanan lokal yang kembali muncul serta merebut atau menghancurkan posisi pertahanan penting di Batoe Iliq, sebuah benteng pegunungan yang menjadi pusat perlawanan Aceh di wilayah Samalanga.
Meskipun Belanda telah melakukan ekspedisi militer besar ke Samalanga pada tahun 1877, wilayah tersebut tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh pemerintah kolonial. Jaringan perlawanan Aceh di daerah pesisir maupun pedalaman tetap aktif dan sering melancarkan serangan terhadap pos-pos militer Belanda.
Pada 30 Juni 1880, sebuah detasemen Belanda yang dipimpin oleh Letnan Dua H. J. Berghuis van Woortman tiba-tiba diserang oleh pejuang Aceh di wilayah Samalanga. Serangan mendadak ini menunjukkan bahwa kekuatan perlawanan di wilayah tersebut masih cukup kuat dan mampu mengganggu operasi militer Belanda.
Situasi ini memaksa Jenderal Van der Heijden untuk kembali mengirim ekspedisi militer ke Samalanga guna menumpas perlawanan tersebut dan menegakkan kembali kontrol kolonial di wilayah pesisir timur laut Aceh.
Ekspedisi militer Belanda dipimpin oleh Mayor W. A. Schmilau. Pasukan ekspedisi tiba di perairan Samalanga pada 14 Juli 1880. Setelah mendarat, pasukan Belanda segera melancarkan operasi militer terhadap posisi pertahanan Aceh di daerah tersebut.
Salah satu target utama operasi ini adalah benteng Batoe Iliq, yang terletak di dekat kampung Aramameh. Posisi ini merupakan salah satu basis pertahanan penting bagi pejuang Aceh. Serangan awal terhadap benteng tersebut menghadapi perlawanan sengit. Dalam pertempuran tersebut pasukan Belanda mengalami kerugian 5 orang tewas dan 54 orang terluka.
Tak lama kemudian Jenderal Van der Heijden sendiri tiba di Samalanga untuk memimpin langsung operasi militer. Ia mencoba menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi dengan mengajak Pocut Meuligoe, salah satu pemimpin perlawanan Aceh di wilayah tersebut, untuk membongkar pertahanan di Batoe Iliq.
Namun upaya tersebut tidak berhasil. Karena negosiasi gagal, Belanda kembali melancarkan serangan terhadap benteng tersebut. Serangan kedua ini kembali menghadapi perlawanan keras dari pihak Aceh dan akhirnya berhasil dipukul mundur. Dalam pertempuran tersebut pasukan Belanda kembali mengalami kerugian berat, yaitu 19 orang tewas dan 56 orang terluka.
Setelah dua kali mengalami kegagalan dalam upaya merebut benteng Batoe Iliq, Van der Heijden akhirnya memutuskan untuk menghentikan upaya penyerbuan langsung terhadap posisi tersebut. Benteng itu dianggap sebagai pertahanan yang sangat kuat dan sulit ditaklukkan.
Sebagai gantinya, Belanda menggunakan artileri untuk menghancurkan posisi pertahanan tersebut dari jarak jauh. Tembakan artileri yang terus-menerus akhirnya memaksa para pejuang Aceh meninggalkan posisi pertahanan mereka di Batoe Iliq.
Meskipun benteng tersebut tidak berhasil direbut secara langsung melalui serangan infanteri, penggunaan artileri berhasil melemahkan posisi pertahanan Aceh di wilayah tersebut.
Setelah posisi Batoe Iliq berhasil dilemahkan, Van der Heijden kemudian mengadakan pertemuan dengan para kepala wilayah Samalanga serta beberapa pemimpin dari wilayah Jangka Buya, yang sebelumnya dikenal sebagai daerah yang menentang kekuasaan Belanda.
Dalam pertemuan tersebut, sang jenderal berhasil mencapai suatu penyelesaian yang relatif damai. Para pemimpin lokal bersedia meredakan perlawanan sehingga operasi militer besar tidak lagi diperlukan.
Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, Belanda memutuskan untuk menghentikan operasi militernya di Samalanga. Pada 10 Agustus 1880, pasukan ekspedisi Belanda kembali ke Koeta Radja (Kutaraja).
Ekspedisi kedua ke Samalanga menunjukkan bahwa meskipun Belanda mampu melancarkan operasi militer besar di wilayah Aceh, mereka tetap menghadapi perlawanan yang kuat dari masyarakat lokal. Benteng Batoe Iliq menjadi salah satu simbol ketahanan perlawanan Aceh terhadap kekuatan militer kolonial.
Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa selain operasi militer, pemerintah kolonial sering mengombinasikan tekanan militer dengan negosiasi politik dengan para pemimpin lokal untuk mengendalikan wilayah Aceh selama berlangsungnya Perang Aceh.