Murad Aidit adalah seorang politikus berkebangsaan Indonesia. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) II di Belitung dari Partai Komunis Indonesia pada tahun 1955.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Murad Aidit (21 Agustus 1927 – 29 Maret 2008) adalah seorang politikus berkebangsaan Indonesia. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) II di Belitung dari Partai Komunis Indonesia pada tahun 1955.
| Murad Aidit | |
|---|---|
| Lahir | (1927-08-21)21 Agustus 1927 Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Hindia Belanda |
| Meninggal | 29 Maret 2008(2008-03-29) (umur 80) Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Almamater | Universitas Persahabatan Rakyat Rusia |
| Pekerjaan |
|
| Suami/istri | Noer Tjahja (died)Lilik Hartini (m. 1980) |
| Anak | 6 |
| Orang tua |
|
| Kerabat | D. N. Aidit (kakak) Sobron Aidit (adik tiri) Asahan Alham (adik tiri) Ilham Aidit (keponakan) Ananta Rispo (cucu) Fico Fachriza (cucu) |
Murad dilahirkan pada 21 Agustus 1927 di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, sebagai putra keempat dari pasangan Abdullah Aidit dan Mailan.[1][2] Pada tahun 1940-an, ia pindah ke Batavia.[1] Di sana, ia tinggal disebuah kos yang berada di daerah Tanah Tinggi bersama dengan kakaknya, D. N. Aidit, yang telah tinggal tiga tahun sebelumnya di tempat tersebut.[1] Murad kemudian bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, tetapi terpaksa berhenti ketika Pendudukan Jepang di Hindia Belanda terjadi pada 8 Maret 1942.[1] Sejak saat itu, ia dan Aidit mengalami kesulitan keuangan akibat kiriman dari orangtuanya yang berada di Kabupaten Belitung terhenti.[1] Hal tersebut mengharuskan mereka untuk mencari pendapatan sendiri yang di mana Aidit bekerja sebagai kolportir dengan nama Antara yang bergerak mencari iklan, pelanggan surat kabar, dan penjualan buku, sedangkan Murad bekerja sebagai penjual koran di Kramat Plein.[1] Selain itu, ia juga menjual lencana gambar-gambar tokoh perjuangan seperti Sutomo, Kartini, hingga Diponegoro, buatan salah seorang teman Aidit yang memiliki usaha lencana bernama Minora.[1] Hasil usaha mereka ternyata masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama biaya kos. Akhirnya, Murad meminta bantuan kelompok Pekope (Penolong Korban Perang), yang diketuai oleh Pak Alim, untuk diizinkan tinggal di asramanya yang terletak di Matraman Raya 13.[1] Setelah itu, ia berpindah-pindah tempat tinggal dari Jalan Besuki No. 15 hingga Gedung Nederlands Indische Sociale Vrouwen Organisatoe di Jalan Kramat sebelum akhirnya dipulangkan ke Kabupaten Belitung.[1] Setibanya di Kabupaten Belitung, keluarga Murad juga mengalami kesulitan.[1] Ayahnya ikut bergabung dalam perjuangan rakyat menghadapi pasukan tentara Jepang.[1] Tidak lama setelah itu, ayahnya menyuruh ia dan Basri Aidit bersama Mohammad Thaib, yang merupakan anak pertama dari ibu tirinya, Marisah, untuk segera pergi ke Batavia.[1] Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan anak-anaknya dari penjaringan tenaga rōmusha.[1] Perjalanan ke Batavia menemui rintangan.[1] Kapal laut yang mereka tumpangi terseret arus hingga terdampar di Kabupaten Pekalongan.[1] Setelah itu, mereka harus berurusan dengan militer Jepang karena ketidaksesuaian kota tujuan yang tercatat dalam surat perjalanannya.[1] Namun, setelah menunggu cukup lama, Jepang akhirnya mengizinkan mereka pergi ke Batavia menggunakan kereta api.[1] Di Batavia, Murad bersekolah di SMP Pratapan dan kemudian mulai bergaul dengan teman-teman Aidit, seperti Soekarni, Wikana, Chaerul Saleh, Adam Malik, Anak Marhaen Hanafi, dan yang lainnya dalam kelompok Menteng 31.[1] Sambil melanjutkan studinya ke sekolah menengah atas, ia terlibat dalam perjuangan fisik di masa revolusi bersama Angkatan Pemuda Indonesia yang dipimpin oleh Wikana.[1] Pada tahun 1946 hingga 1948, Murad bergabung dengan Tentara Laskar Rakyat Jakarta Raya dan Tentara Pelajar.[1] Pada saat yang bersamaan, salah satu adik tirinya yakni Sobron Aidit tiba di Jakarta untuk melanjutkan sekolah di SMP 1 Manggarai.[1] Sobron tinggal bersama Murad dan Chairil Anwar di Gondangdia Binnen No. 2.[1] Sejak saat itu, ketiganya selalu bersama dan Chairil Anwar menjadi mentor Sobron dalam membuat puisi.[1] Namun, hari-hari yang dilalui oleh ketiganya tidak mudah dan terkadang mereka hanya makan sekali dalam sehari.[1] Chairil kemudian pindah ke Paseban sementara Murad pergi tanpa memberi kabar kepada Sobron dan tidak kembali sehingga ia akhirnya benar-benar mengalami masa sulit.[1] Hari-hari berikutnya, Basri mendatangi Sobron dan mengabarinya bahwa Murad sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Cilendek yang berada di Kota Bogor akibat penyakit tuberkulosis yang kambuh.[1] Sejak tahun 1948 hingga 1954, Murad dirawat di rumah sakit.[1] Ia sempat dipindahkan ke rumah sakit paru-paru yang berada di Cisarua karena kondisi kesehatannya yang parah akibat paru-parunya yang sudah lengket dengan tulang dada.[1] Menurut dr. Gunawan dan dr. Djayus yang merawatnya, tulang dada tersebut harus diamputasi untuk menyelamatkan paru-parunya.[1] Melalui jaringan pertemanan Aidit, akhirnya kesehatan Murad mulai membaik setelah dokter memberinya obat tuberkulosis dari Swiss, yang belum beredar di Indonesia.[1]
Setelah sembuh dari tuberkulosis, Murad menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Kabupaten Belitung dari Partai Komunis Indonesia pada tahun 1955.[1] Ia kemudian menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia di Tanjungpandan.[1] Pada bulan September 1959, Murad menghadiri Kongres Nasional ke-VI PKI sebagai sekretaris CP PKI Belitung.[1] Pada konferensi tersebut, ia berpidato dan berseru kepada anggota partai agar tidak lengah terhadap ancaman modal asing di Indonesia.[1] Pada tahun yang sama, Murad terpilih sebagai wakil bupati Belitung, tetapi ia memilih pergi ke Moskow untuk melanjutkan studi di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia dengan menempuh program studi ekonomi.[1] Setelah enam tahun berkuliah, ia lulus dan kemudian diminta oleh D. N. Aidit untuk kembali ke Indonesia.[1] Sekembalinya di Jakarta, Murad diharuskan mengikuti Wajib Latih Sarjana (Walatsa) di Kota Bandung yang merupakan kewajiban bagi setiap sarjana di Indonesia untuk mengikuti pelatihan militer sehingga hal tersebut membuatnya tidak mengetahui apa-apa tentang kondisi politik yang sedang berkembang di Indonesia, khususnya di Jakarta.[1] Pada 30 September 1965, ia bersama dengan ayahnya tidur di rumah Aidit yang berada di Pegangsaan Barat No. 4, Jakarta Pusat.[1] Pada saat pukul 21:00 WIB, Aidit bersama dengan Soekarno pergi meninggalkan rumah setelah dijemput oleh orang tidak dikenal dengan meninggalkan pesan untuk mematikan lampu serambi.[1] Murad kemudian ditangkap pada bulan Oktober 1965 dan dalam dua tahun awal masa penahanannya, ia dipindahkan dari penjara ke penjara yang berada di Kota Bogor, Kabupaten Pandeglang, dan Bandung.[1] Pada tahun 1967, ia sempat dibebaskan tetapi kembali ditangkap setahun berikutnya dan kemudian ditahan selama tiga tahun di Rumah Tahanan Khusus Salemba di Jakarta.[1] Bersamaan dengan hal tersebut, istri Murad yakni Noer Tjahja ikut ditangkap bersama dengan anak bungsunya, yaitu Eli Yulia Putri Bungsu alias Poppy Antasari dan kemudian mendekam di kamp tahanan Jakarta.[1] Pada tahun 1969, mereka dipindahkan ke penjara Bukit Duri dan kembali dipindahkan ke Kamp Plantungan dua tahun kemudian hingga dipindahkan ke penjara Bulu di Kota Semarang pada tahun 1976.[1] Sementara itu, ia dipindahkan dari Salemba ke Pulau Buru dan ditempatkan di unit 15 yang dikenal sebagai barak isolasi.[1] Selama masa penahanan tersebut, Murad bersama dengan tahanan lainnya harus mencukupi hidup dengan bertani.[1] Pada tahun 1978, ia dibebaskan dengan syarat wajib lapor kepada pihak yang berwenang dan kemudian tinggal di Jalan Tebet Raya No. 69 dengan hidup sederhana sebagai penerjemah.[1] Status Murad sebagai mantan tahanan politik Orde Baru berdampak pada anak-anaknya yang mendapatkan perlakuan diskriminatif.[1] Ia sempat menanggalkan nama Aidit sebagai nama belakang setelah menerima saran dari beberapa kawannya saat berada di Cikole, tetapi akhirnya, ia kembali menggunakannya.[1] Murad juga mengalami kendala pada saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1996 karena sebenarnya ia tidak boleh meninggalkan Indonesia.[1] Pada tahun 1999, melalui sebuah surat kepada Presiden B. J. Habibie, ia meminta rehabilitasi nama Aidit dan keluarga besarnya dan juga meminta pemerintah untuk menunjukkan tulang belulang Aidit untuk dilakukan pemakaman yang semestinya, serta perlunya dilakukan peninjauan ulang tentang peristiwa Gerakan 30 September.[1] Murad juga mengirim surat yang sama kepada dua presiden setelahnya, yakni Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri tetapi ia tidak mendapatkan balasan.[1]
Murad menikah dengan Noer Tjahja, seorang mahasiswi Indonesia lulusan bahasa dan sastra Rusia di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia, dan dikaruniai lima orang anak.[1] Pernikahan mereka berakhir dengan kematian Noer.[1] Ia kemudian menikah untuk yang kedua kalinya dengan Lilik Hartini pada tahun 1980 dan dikaruniai seorang putra.[1] Komika Ananta Rispo dan Fico Fachriza merupakan cucunya.[2]
Pada bulan Maret 2007, Murad jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati.[3] Ia meninggal dunia di Kota Depok, Jawa Barat, pada 29 Maret 2008 pada sekitar pukul 04:45 WIB pada usia 80 tahun dan dimakamkan di Jakarta.[1][3]