Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Lamivudin

Lamivudin merupakan suatu obat antiretroviral yang digunakan untuk mencegah dan mengobati HIV/AIDS dan digunakan untuk mengobati hepatitis B kronis.

senyawa kimia
Diperbarui 12 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Lamivudin
Lamivudin
Data klinis
Nama dagangEpivir, Heplav
Nama lainL-2′,3′-dideoxy-3′-thiacytidine
AHFS/Drugs.commonograph
MedlinePlusa696011
Kategori
kehamilan
  • AU: B3
    Rute
    pemberian
    Oral
    Kode ATC
    • J05AF05 (WHO)
    Status hukum
    Status hukum
    • UK: POM (Hanya resep)
    • US: ℞-only
    Data farmakokinetika
    Bioavailabilitas86%
    Pengikatan proteinKurang dari 36%
    Waktu paruh eliminasi5-7 jam
    EkskresiRenal (sekitar 70%)
    Pengenal
    Nama IUPAC
    • 4-amino-1-[(2R,5S)-2-(hidroksimetil)-1,3-oksatiolan-5-il]-1,2-dihidropirimidin-2-ona
    Nomor CAS
    • 134678-17-4 checkY
    PubChem CID
    • 73339
    DrugBank
    • DB00709 checkY
    ChemSpider
    • 66068 checkY
    UNII
    • 2T8Q726O95
    KEGG
    • D00353 checkY
    ChEMBL
    • ChEMBL141 N
    NIAID ChemDB
    • 000388
    Ligan PDB
    • 3TC (PDBe, RCSB PDB)
    CompTox Dashboard (EPA)
    • DTXSID7023194 Sunting di Wikidata
    ECHA InfoCard100.132.250 Sunting di Wikidata
    Data sifat kimia dan fisik
    RumusC8H11N3O3S
    Massa molar229.26 g/mol
    Model 3D (JSmol)
    • Gambar interaktif
    SMILES
    • O=C1/N=C(/N)\C=C/N1[C@@H]2O[C@@H](SC2)CO
    InChI
    • InChI=1S/C8H11N3O3S/c9-5-1-2-11(8(13)10-5)6-4-15-7(3-12)14-6/h1-2,6-7,12H,3-4H2,(H2,9,10,13)/t6-,7+/m1/s1 checkY
    • Key:JTEGQNOMFQHVDC-RQJHMYQMSA-N checkY
     ☒NcheckY (what is this?)  (verify)

    Lamivudin (2',3'-dideoksi-3'-tiasitidina; atau dapat disebut 3TC) merupakan suatu obat antiretroviral yang digunakan untuk mencegah dan mengobati HIV/AIDS dan digunakan untuk mengobati hepatitis B kronis.[1]

    Obat ini merupakan salah satu contoh dari golongan - inhibitor transkriptase balik analog nukleosida (NRTI). Di Amerika Serikat, obat ini dijual dengan nama dagang Epivir dan Epivir-HBV.

    Lamivudin termasuk dalam Daftar Obat Penting oleh WHO, yang merupakan obat penting yang dibutuhkan pada sistem kesehatan mendasar.[2] Per tahun 2015 biaya untuk pengobatan bulanan dengan obat ini di Amerika Serikat mencapai lebih dari 200 USD.[3] Sementara di Indonesia biaya untuk terapi dengan obat ini mencapai Rp500.000,- sampai Rp1.000.000,- per bulan.[4]

    Kegunaan medis

    Lamivudine digunakan untuk mengobati hepatitis B kronis dengan dosis yang lebih rendah daripada untuk mengobati HIV/AIDS. Obat ini meningkatkan serokonversi dari e-antigen positif pada hepatitis B. Penggunaan lamivudin dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi obat pada virus hepatitis B. Walau demikian, lamivudin masih digunakan secara luas hingga saat ini karena dapat ditoleransi oleh tubuh.

    Resistensi

    Pada HIV, resistensi terhadap lamivudin berhubungan dengan mutasi M184V/I pada gen transkriptase balik berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Raymond Schinazi dkk di Universitas Emory. GlaxoSmithKline mengklaim jika mutasi M184V dapat mengurangi "kebugaran virus", GSK berpendapat bahwa terdapat kemungkinan manfaat untuk melanjutkan pengobatan dengan lamivudin walau sudah terjadi resistensi tingkat tinggi, karena GSK menemukan jika pengobatan lamivudin dilanjutkan maka viral load dari HIV akan kembali meningkat tetapi dengan laju yang lebih rendah, sedangkan jika penggunaan lamivudin langsung dihentikan maka viral load dari HIV akan meningkat dengan sangat cepat disertai hilangnya mutasi M184V. Studi dari COLATE menyarankan bahwa tidak ada manfaat untuk melanjutkan pengobaan pada pasien yang telah resisten dengan lamivudin perlawanan.[5] Dari sebuah data yang lebih baik menunjukkan lamivudin tetap mempunyai efek antivirus parsial bahkan ketika telah terjadi mutasi pada M184V.

    Pada hepatitis B, resistensi lamivudin pertama kali diketahui di lokus YMDD (tirosina-metionina-aspartat-aspartat) dari gen transkriptase balik HBV. Gen transkriptase balik HBV memiliki panjang 344 asam amino dan menempati kodon 349 sampai 692 pada genom virus. Mutasi resistensi yang paling sering terjadi adalah pada M204V/l/S.[6] Perubahan sekuens asam amino dari YMDD menjadi YIDD mengakibatkan pengurangan tingkat kegagalan dari transkriptase balik hingga 3.2 lipat, yang berkorelasi dengan pertumbuhan dari virus. Mutasi yang menyebabkan resistensi lainnya adalah L80V/I, V173L dan L180M.[7]

    Mekanisme aksi obat

    Lamivudin merupakan analog dari sitidina. Obat ini dapat menghambat kedua jenis (1 dan 2) dari transkriptase balik HIV dan juga transkriptase balik dari virus hepatitis B. Lamivudin harus difosforilasi terlebih dahulu menjadi metabolit aktif agar dapat berkompetisi dengan nukleosida lainnya untuk masuk ke dalam DNA virus. Obat ini menghambat enzim transkriptase balik HIV secara kompetitif dan bekerja sebagai sebuah rantai penghenti dari sintesis DNA. Kurangnya gugus 3'-OH dalam analog nukleosida tersebut mencegah pembentukan ikatan fosfodiester dari 5' ke 3' yang penting untuk elongasi rantai DNA, sehingga pertumbuhan DNA virus dapat berhenti.

    Lamivudin diberikan secara peroral, dan dengan cepat diabsorbsi dengan bioavailabilitas lebih dari 80%. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lamivudin dapat melewati sawar darah otak. Lamivudin sering diberikan dalam bentuk kombinasi dengan zidovudin, yang sangat sinergistik. Pengobatan dengan lamivudin memperlihatkan peningkatan sensitivitas terhadap zidovudin dari HIV yang sebelumnya resisten terhadap zidovudin. Lamivudin tidak menunjukkan dapat menyebabkan karsinogenisitas atau mutagenisitas dalam studi in vivo pada mencit dan tikus dengan dosis setara 10 sampai 58 kali dari dosis normal pada manusia.[8]

    Sejarah

    Racemic BCH-189 (enantiomer minus yang kemudian dikenal sebagai Lamivudine) ditemukan oleh Dr Bernard Belleau ketika bekerja di Universitas McGill dan Dr Paul Nguyen-Ba di laboratorium IAF BioChem International, Inc. yang berbasis di Montreal pada tahun 1988 dan enantiomer minus dari senyawa tersebut diisolasi pada tahun 1989. Sampel pertama kali dikirim ke Dr Yung-Chi Cheng dari Universitas Yale untuk mempelajari potensi toksisitas. Ketika digunakan dalam bentuk kombinasi dengan zidovudin, ia menemukan bahwa bentuk negatif dari Lamivudin mengurangi efek samping obat dan meningkatkan efikasi obat dalam menghambat transkriptase balik.[9] Kombinasi Lamivudin dan Zidovudin meningkatkan penghambatan enzim HIV yang digunakan untuk mereproduksi materi genetik virus. Hasilnya, Lamivudin telah terbukti sebagai senyawa yang lebih tidak toksik terhadap DNA mitokondria jika dibandingkan dengan obat antiretroviral lainnya.[10]

    Lamivudine telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) pada tanggal 17 November 1995 untuk digunakan dengan zidovudin (AZT) dan disetujui sekali lagi pada tahun 2002 sebagai obat dengan dosis sehari sekali. Lamivudin merupakan obat antiretroviral ke lima di pasar, dan obat golongan NRTI terakhir selama tiga tahun ketika proses persetujuan beralih ke penghambat protease. Menurut laporan tahunan dari produsen obat pada tahun 2004, paten obat ini akan berakhir di Amerika Serikat pada 2010 dan di Eropa pada 2011.

    Pada September 2014, Dr Gorbee Logan, seorang dokter Liberia, melaporkan hasil positif ketika diberikan lamivudin kepada pasien penyakit virus Ebola. Dari 15 pasien yang diobati dengan lamivudin, 13 (yang diberikan obat pada hari ketiga sampai kelima setelah gejala terlihat) selamat dari penyakit ini dan dinyatakan terbebas dari virus; sisanya (yang baru diberikan setelah hari kelima atau lebih lama) meninggal.[11][12]

    Produk di pasar

    • Epivir tablet 150 mg atau 300 mg (GlaxoSmithKline; AS dan Britania Raya) untuk pengobatan HIV;
    • Epivir-HBV tablet 100 mg tablet (GlaxoSmithKline; hanya AS) untuk pengobatan hepatitis B;
    • Zeffix tablet100 mg (GlaxoSmithKline; hanya Britania Raya) untuk pengobatan hepatitis B.
    • 3TC tablet150 mg tablet (GlaxoSmithKline; Afrika Selatan) untuk pengobatan HIV;

    Lamivudine juga tersedia dalam bentuk kombinasi dosis tetap dengan obat HIV lain:

    • Combivir (dengan zidovudin);
    • Epzicom/Kivexa (dengan abacavir);
    • Trizivir (dengan zidovudin dan abacavir)

    Referensi

    1. ↑ "Lamivudine". The American Society of Health-System Pharmacists. Diakses tanggal 31 July 2015.
    2. ↑ "WHO Model List of EssentialMedicines" (PDF). World Health Organization. October 2013. Diakses tanggal 22 April 2014.
    3. ↑ Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. hlm. 65. ISBN 9781284057560.
    4. ↑ "Terapi Hepatitis B Kronis". Kompas.com. Kompas.com. Diakses tanggal 12 July 2015.
    5. ↑ Fox Z; Dragsted UB; Gerstoft J; et al. (2006). "A randomized trial to evaluate continuation versus discontinuation of lamivudine in individuals failing a lamivudine-containing regimen: The COLATE trial". Antiviral Therapy. 11 (6): 761–70. PMID 17310820.
    6. ↑ "HIV Drug Resistance Database". hivdb.stanford.edu. Diakses tanggal 2025-07-22.
    7. ↑ Koziel MJ, Peters MG (2007). "Viral hepatitis in HIV infection". N Engl J Med. 356 (14): 1445–54. doi:10.1056/NEJMra065142. PMID 17409326.
    8. ↑ "Epivir package insert" (PDF). GlaxoSmithKline. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-09-28. Diakses tanggal January 20, 2011.
    9. ↑ Curtis, John (June 20, 1998). "Hunting Down HIV". Yale Medicine.
    10. ↑ Soderstrom, E John (July 10, 2003). "National Institutes of Health: Moving Research from the Bench to the Bedside". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 2016-07-11.
    11. ↑ Cohen, Elizabeth (September 29, 2014). "Doctor treats Ebola with HIV drug in Liberia -- seemingly successfully". CNN.
    12. ↑ "HIV drug may stop Ebola". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-06-13. Diakses tanggal 2016-07-11.

    Pranala luar

    • Epivir Diarsipkan 2012-02-08 di Wayback Machine. (situs dari pembuat obat)
    • l
    • b
    • s
    Obat antivirus: obat antiretroviral yang digunakan melawan HIV (terutama J05)
    Inhibitor fusi
    • gp41 (Enfuvirtida (ENF, T-20))
    • CCR5 (Maraviroc (MVC)
    • Vicriviroc†, Cenicriviroc†, PRO 140†)
    • CD4 (Ibalizumab†)
    • gp120 (Fostemsavir†)
    Inhibitor
    transkriptase balik
    (RTI)
    Nukleosida dan
    nukleotida (NRTI)
    • Analog nukleosida/NRTI: Abakavir (ABC)°#
    • Didanosin (ddI)
    • Emtrisitabin (FTC)°
    • Lamivudin (3TC)°#
    • Stavudin (d4T)#
    • Zidovudin (AZT, ZDV)#
    • Amdoksovir†
    • Aprisitabin†
    • Sensavudin†
    • Elvusitabin†
    • Rasivir†
    • Stampidin†
    • Zalsitabin (ddC)◊
    • Analog nukleotida/NtRTI: Tenofovir disoproksil (TDF)°#
    • Tenofovir alafenamida (TAF)
    Non-nukleosida (NNRTI)
    • (Generasi pertama) Efavirenz (EFV)°#
    • Nevirapin (NVP)#
    • Delavirdina (DLV)◊

    • (Generasi kedua) diarilpirimidin (Etravirin (ETR)
    • Rilpivirin (RPV)°)
    • Doravirin
    Inhibitor integrase
    (Inhibitor transfer untai integrase (INSTI))
    • Dolutegravir (DTG)°
    • Elvitegravir (EVG)°
    • Raltegravir (RAL)°
    Inhibitor Protease (PI)
    Generasi pertama
    • Amprenavir (APV)◊
    • Fosamprenavir (FPV)
    • Indinavir (IDV)◊
    • Lopinavir (LPV)
    • Nelfinavir (NFV)
    • Ritonavir (RTV)#
    • Sakuinavir (SQV)#
    Generasi kedua
    • Atazanavir (ATV)°#
    • Darunavir (DRV)°#
    • Tipranavir (TPV)
    Kombinasi
    • Abakavir/lamivudin°#
    • Abakavir/dolutegravir/lamivudin°
    • Abakavir/lamivudin/zidovudin
    • Atazanavir/kobisistat
    • Darunavir/kobisistat
    • Efavirenz/emtrisitabin/tenofovir°#
    • Elvitegravir/kobisistat/emtrisitabin/tenofovir°
    • Emtrisitabin/rilpivirin/tenofovir°
    • Lamivudin/raltegravir
    • Lamivudin/zidovudin#
    • Lopinavir/ritonavir°#
    • Tenofovir/emtrisitabin°#
    Agen penguat
    • Kobisistat (c)
    • Ritonavir (r)#
    #WHO-EM  · ‡Ditarik dari pasaran  · Uji klinis: (†Fase III  · §Tidak masuk fase III)
    °Direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama oleh DHHS. ◊Jarang atau tidak digunakan.
    • l
    • b
    • s
    Antivirus untuk virus DNA (terutama J05, juga S01AD dan D06BB)
    Baltimore I
    Herpesvirus
    Penghambat
    sintesis DNA
    Diaktivasi TK
    Analog Purin
    • guanin (Asiklovir#/Valasiklovir
    • Gansiklovir/Valgansiklovir
    • Pensiklovir/Famsiklovir)
    • adenin (Vidarabin)
    Analog Pirimidin
    • uridin (Idoksuridin
    • Trifluridin (+tipirasil)
    • Edoksudin)
    • timin
      • Brivudin
      • Sorivudin
    • sitosin (Sitarabin)
    Tidak diaktivasi TK
    • Foskarnet
    Lainnya
    • Dokosanol
    • protein awal (Fomivirsen)
    • Tromantadin
    HPV/MC
    • Imikuimod/Resikuimod
    • Podofilotoksin
    Vaccinia
    • fase perakitan: Rifampisin
    Poxviridae
    • Methisazon
    Hepatitis B (VII)
    • Analog Nukleosida/NARTI: Entecavir
    • Lamivudin
    • Telbivudin
    • Klevudin
    • Analog Nukleotida/NtRTIs: Adefovir
    • Tenofovir
    Berbagai/umum
    Penghambat asan Nukleat
    • Sidofovir
    Interferon
    • Interferon alfa 2b
    • Peginterferon alfa-2a
    Berbagai/tidak diketahui
    • Ribavirin#/Taribavirin†
    • Moroksidin
    #WHO-EM  · ‡Ditarik dari pasaran  · Uji klinis: (†Fase III  · §Tidak masuk fase III)

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Kegunaan medis
    2. Resistensi
    3. Mekanisme aksi obat
    4. Sejarah
    5. Produk di pasar
    6. Referensi
    7. Pranala luar

    Artikel Terkait

    Senyawa kimia

    sifat fisik

    Tata nama senyawa kimia

    Seperangkat aturan pembuatan nama sistematik untuk senyawa kimia

    Kimia

    Ilmu pengetahuan tentang susunan, sifat, dan reaksi suatu unsur atau zat

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026