Konklaf diadakan pada 7–8 Mei 2025 untuk memilih paus baru untuk menggantikan Paus Fransiskus yang meninggal dalam usia 88 tahun. Dari 135 kardinal elektor yang memenuhi syarat, dua di antaranya absen. Pada pengambilan suara keempat, konklaf memilih Kardinal Robert Francis Prevost, Prefek Dikasteri untuk Para Uskup dan Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin. Setelah menerima pemilihannya, ia memilih nama kepausan Leo XIV.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Konklaf Mei 2025 | |
|---|---|
Lambang Kekosongan Takhta Suci | |
| Tanggal dan lokasi | |
| 7–8 Mei 2025 Kapel Sistina, Istana Apostolik, Kota Vatikan | |
| Pejabat penting | |
| Ketua | Giovanni Battista Re[catatan 1] |
| Wakil Ketua | Leonardo Sandri[catatan 1] |
| Elektor Pertama | Pietro Parolin |
| Camerlengo | Kevin Farrell |
| Proto-imam | Michael Michai Kitbunchu[catatan 1] |
| Proto-diakon | Dominique Mamberti |
| Sekretaris | Ilson de Jesus Montanari |
| Pemilihan | |
| Elektor | 133 dari 135 (daftar) |
| Kandidat | Lihat Papabili |
| Balot | 4 |
| Paus terpilih | |
| Robert Francis Kardinal Prevost (Nama pilihan: Leo XIV) | |
Konklaf diadakan pada 7–8 Mei 2025 untuk memilih paus baru untuk menggantikan Paus Fransiskus yang meninggal dalam usia 88 tahun.[1][2] Dari 135 kardinal elektor yang memenuhi syarat, dua di antaranya absen. Pada pengambilan suara keempat, konklaf memilih Kardinal Robert Francis Prevost, Prefek Dikasteri untuk Para Uskup dan Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin. Setelah menerima pemilihannya, ia memilih nama kepausan Leo XIV.[3]
Sama seperti dalam konklaf tahun 2013, baik kepala Dewan Kardinal (Giovanni Battista Re, 91 tahun) maupun wakil kepala Dewan Kardinal (Leonardo Sandri, 81 tahun), berusia lebih dari 80 tahun sehingga mereka tidak memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam konklaf. Maka dari itu, Pietro Parolin, uskup kardinal paling senior yang berusia di bawah 80 tahun, akan memimpin jalannya konklaf.[4]
Menurut Konstitusi Apostolik yang dikeluarkan Paus Yohanes Paulus II, Universi Dominici Gregis, dan dimodifikasi oleh motu proprio yang dikeluarkan Paus Benediktus XVI, Normas nonnullas, para kardinal elektor memiliki setidaknya 15 hari setelah terjadi kekosongan takhta untuk berkumpul. Para kardinal memiliki diskresi untuk memulai konklaf lebih awal atau di kemudian hari tetapi tidak lebih dari 20 hari sejak kosongnya takhta.[5] Pada 28 April, kongregasi umum kelima kardinal menetapkan konklaf dimulai pada 7 Mei.[6]
Italia |
17 |
Eropa lainnya |
35 |
Asia |
23 |
Amerika Utara |
20 |
Amerika Selatan |
17 |
Afrika |
17 |
Oseania |
4 |
| Total elektor | 133 |
|---|---|
| Paus pendahulu | Fransiskus (2013–2025) |
| Paus penerus | Leo XIV |
Kardinal yang berusia 80 tahun atau lebih sebelum hari periode sede vacante tidak memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam konklaf. Hingga 21 April 2025, terdapat 252 kardinal, 136 di antaranya berusia di bawah 80 tahun. 108 (80 persen) elektor potensial diangkat sebagai kardinal oleh Fransiskus.[7][8]
Menurut konstitusi apostolik Romano Pontifici Eligendo (1975) dan Universi Dominici gregis, jumlah kardinal elektor diatur paling banyak 120 orang. Konklaf tahun 2025 menjadi konklaf pertama di mana terdapat lebih dari 120 kardinal yang memenuhi syarat mengikuti konklaf pada saat hari takhta kepausan kosong.[9][a] Kardinal manapun yang berusia di bawah 80 tahun yang belum melepaskan atau kehilangan hak memberikan suaranya memiliki hak di bawah hukum kanonik untuk memberikan suara dalam konklaf. Keputusan seorang Paus menunjuk lebih dari 120 kardinal elektor yang memenuhi syarat berpartisipasi dalam konklaf, seperti yang dilakukan Paus Fransiskus, membuat aturan pembatasan jumlah kardinal elektor ini gugur.[9][10] Pada 30 April, Kongregasi Umum Kardinal mengonfirmasi bahwa seluruh kardinal elektor yang hadir di konklaf dapat memberikan suaranya.[11] Para kardinal yang tidak memenuhi syarat untuk memberikan suara dalam pemilihan dapat menghadiri kongregasi umum dan berpartisipasi dalam sejumlah diskusi yang mendahului konklaf.[12]
Walaupun kardinal elektor dapat memilih pria yang telah dibaptis Katolik manapun, tetapi sejak tahun 1389 mereka selalu memilih paus dari sesama kardinal elektor.[13]
Setelah sebelumnya ia akan mencoba untuk berpartisipasi dalam konklaf,[14] Kardinal Angelo Becciu, yang telah melepaskan hak-hak yang ia miliki sebagai seorang kardinal setelah dirinya terlibat dalam sebuah skandal finansial,[15] pada 29 April menyatakan bahwa ia akan menaati keinginan Paus Fransiskus untuk tidak berpartisipasi dalam konklaf.[16]
Kardinal Antonio Cañizares Llovera dan Kardinal John Njue tidak menghadiri konklaf karena alasan kesehatan,[17] sehingga jumlah partisipan berkurang menjadi 133; maka dari itu, dibutuhkan 89 suara untuk memperoleh suara supermayoritas sebanyak dua pertiga dari total partisipan. Jumlah elektor yang berpartisipasi dalam konklaf kali ini adalah yang terbanyak sepanjang sejarah.[18]
Dirawatnya Paus Fransiskus di rumah sakit pada bulan Februari dan Maret 2025 memicu spekulasi tentang akan terselenggaranya konklaf dalam waktu dekat.[19]
Karena bertambahnya keanggotaan Dewan Kardinal internasional di bawah Paus Fransiskus secara besar-besaran menjadi 252, dengan lebih dari 140 kardinal non-Eropa ditunjuk selama masa kepausannya, baik BBC dan Time berpendapat bahwa ada kemungkinan paus berikutnya berasal dari luar Eropa.[20][21] Konklaf 2025 awalnya diperkirakan akan memiliki 135 elektor dari 71 negara; sementara konklaf 2013 memiliki 115 elektor dari 48 negara, dan konklaf 2005 memiliki 115 elektor dari 52 negara. Beberapa kardinal tidak dapat berbicara dalam bahasa Italia, bahasa yang digunakan Kuria Roma dalam pekerjaan sehari-hari.[22]
Mengikuti pepatah Italia "paus gemuk, paus kurus", beberapa komentator memprediksi bahwa penerus Fransiskus akan lebih konservatif.[21][23][24] Menurut The Pillar, sampai kongregasi umum ketiga dan keempat, terdapat keinginan substantif di antara para kardinal untuk memilih seorang "paus yang menjabat sepuluh tahun lamanya" yang saat ini berusia di akhir 70-an dengan pengalaman dalam Kuria Roma yang akan lebih berfokus kepada hal internal, sehingga akan memberikan Gereja waktu untuk mencerna masa kepausan Paus Fransiskus.[25] The Wall Street Journal berargumen bahwa lebih memungkinkan terpilih paus yang berusia lebih muda.[26]

Sampai 5 Mei, melihat dari kompleksitas dan heterogenitas yang dimiliki konklaf kali ini[27] dibandingkan konklaf 2013 yang memilih Paus Fransiskus dalam dua hari, Rainer Woelki memperkirakan konklaf kali ini akan menghabiskan waktu yang lebih lama daripada konklaf 2013,[28] sedangkan Kardinal Louis Sako[29] dan Gregorio Rosa Chávez memperkirakan konklaf akan berlangsung cepat, sekitar dua atau tiga hari,[30]; Kardinal Gregorio Rosa Chávez berkata "Maksimal tiga hari".[31]
Pengamat proses pemilihan paus melihat, dengan beragam kriteria, beberapa kardinal lebih mungkin terpilih menjadi paus daripada yang lain – mereka disebut sebagai papabili, bentuk jamak dari papabile, sebuah istilah dalam bahasa Italia yang secara praktis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "pope-able" (ia yang dapat menjadi paus). Tetapi, konklaf tidak selalu memilih calon dari papabili. Sebelum terpilih menjadi paus pada konklaf Oktober 1978, Paus Yohanes Paulus II tidak dianggap masuk ke dalam daftar potensial calon paus.[32] Hal ini sesuai dengan kata-kata populer di kalangan Vatikanologis: "Dia yang memasuki konklaf sebagai seorang paus, akan meninggalkan konklaf sebagai seorang kardinal,”[33] walaupun pada kenyataannya, calon unggulan dalam papabili sering kali terpilih menjadi paus, seperti pada konklaf tahun 1939 (Paus Pius XII), 1963 (Paus Paulus VI), dan 2005 (Paus Benediktus XVI).[34] Ahli Vatikan, Professor Anna Rowland, menolak seluruh prediksi yang beredar saat ini, mengatakannya sebagai "murni spekulasi".[35] Media-media di seluruh dunia merilis berbagai analisis papabili di hari yang sama dengan kematian Paus Fransiskus.[32][b]
Beberapa papabili yang disebutkan di media di antaranya adalah Anders Arborelius, Jean-Marc Aveline, Fridolin Ambongo Besungu, Péter Erdő, Mario Grech, Pietro Parolin, Pierbattista Pizzaballa, Robert Sarah, Luis Antonio Tagle, Peter Turkson, dan Matteo Zuppi.[41] Prevost, yang akhirnya terpilih dalam konklaf, juga dispekulasikan sebagai papabile, paling menonjol oleh The New York Times, tapi kebanyakan media tidak memperhitungkan ia sebagai papabile karena memilih paus dari Amerika Serikat dianggap hal yang tabu.[42]
Judi pada konklaf memiliki sejarah panjang, dan beberapa perusahaan judi daring menawarkan pasar judi pada konklaf 2025. Sebelum pengumuman hasil konklaf, pasar prediksi menggunakan mekanisme pasar untuk menghitung siapa yang akan menjadi calon paus dan peringkat mereka.[26] Pasar judi merefleksikan ketertarikan budaya yang sangat besar terhadap kepausan.[43][44][45]

Setelah kematian Paus Fransiskus, persiapan untuk menyediakan tempat tinggal bagi para kardinal elektor dimulai di Domus Sanctae Marthae. Persiapan-persiapan tersebut meliputi memasang lapisan film legap pada jendela-jendela untuk mencegah kontak dengan dunia luar, dan juga konstruksi ruang-ruang untuk perayaan Sakramen Tobat, doa pribadi, dan makan.[46][47][48] Kontak dengan dunia luar juga akan dibatasi dengan alat penghambat sinyal.[48][49][50] Karena gedung ini hanya memiliki total 129 kamar tidur, diperlukan penggunaan fasilitas Vatikan lainnya untuk akomodasi 133 elektor.[51][52][53] Jumlah ini juga tidak mencakup personel pendukung lainnya yang diizinkan untuk tinggal di Domus selama pelaksaan konklaf.[47] Ruangan-ruangan di Santa Marta Vecchia, yang terletak di sebelah asrama utama, juga dijadikan sebagai ruang tambahan.[54][55][56]
Pada Kapel Sistina, persiapan-persiapan yang dilakukan meliputi penambahan meja dan kursi seperti bilik paduan suara, penutupan jendela-jendela, serta pemasangan kompor dan cerobong asap yang membakar surat suara setelah pemungutan suara.[57][58][59] Lantai kayu dipasang di kapel untuk melindungi tatahan marmer pada permukaan, membuat permukaan lantai menjadi sama tinggi, dan menyembunyikan penghambat sinyal elektronik.[59][60] Baik Domus Sanctae Marthae maupun Kapel Sistina diperiksa secara menyeluruh sebelum konklaf untuk keberadaan perangkat terlarang apapun.[48] Pada 2 Mei, pemadam kebakaran Vatikan memasang cerobong asap di Kapel Sistina.[61]
Pasukan Gendarmeri Vatikan, di bawah kepemimpinan Gianluca Gauzzi Broccoletti, menghadapi berbagai tantangan kontra-intelijen dalam menjaga integritas konklaf. Menurut Jorge Garay, yang menulis di majalah Wired, ancaman-ancaman yang mungkin ada di antaranya adalah sistem kecerdasan buatan, drona, mikrofon berukuran mikroskopik, kampanye misinformasi, kehadiran media sosial di berbagai tempat, dan bahkan satelit. Ada juga kekhawatiran akan kemungkinan kampanye disinformasi dan berita palsu dapat memberi efek terhadap konklaf, dengan berbagai berita bohong di media sosial yang mencoba untuk mendiskreditkan kandidat paus tertentu.[22][48] Pasukan Gendarmeri mengerahkan 650 kamera pengawas di Vatikan, serta sarana pesan terenkripsi serta deteksi dan respon endpoint untuk mengamankan jalannya konklaf.[50]
Menu makanan untuk konklaf 2025 berisi makanan-makanan sederhana yang khas dari daerah Lazio dan Abruzzo, wilayah Italia terdekat dengan Italia.[62]

Hukum kanonik mengatur bahwa kongregasi umum, yang merupakan pertemuan-pertemuan harian seluruh kardinal apapun status elektor mereka, akan dimulai sebelum seluruh kardinal tiba di Roma. Pertemuan-pertemuan awal difokuskan pada logistik pelaksanaan pemakaman paus dan konklaf, termasuk persiapan di Domus Sanctae Marthae (sebagai asrama) dan Kapel Sistina (sebagai tempat pemungutan suara).[63] Pembahasan pertemuan-pertemuan selanjutnya, biasanya pertemuan kedelapan dan seterusnya, bergeser pada diskusi terkait kebutuhan gereja dan dunia, dan isu-isu besar yang dihadapi Kuria Roma.[64][65][66] Kongregasi umum yang dilaksanakan di kemudian hari ini dipandu oleh refleksi-refleksi yang diberikan oleh dua imam "otoritas terhormat dan tepat secara moral" yang dipilih oleh para kardinal.[63] Para kardinal juga diberikan kesempatan untuk membuat pernyataan formal terkait isu yang dihadapi gereja.[67] Seluruh pidato dan diskusi dalam kongregasi umum ini diistilahkan interventi – 'intervensi' dalam bahasa bahasa Italia.[68] Kongregasi umum melakukan pertemuan di Aula Sinode Baru, di lantai pertama ruang pertemuan Aula Audiensi Paulus VI yang berukuran lebih luas, yang terletak di belakang Istana Kantor Suci, di sisi timur Domus Sanctae Marthae.[69][70]
Lebih luas lagi, perkumpulan ini memungkinkan para kardinal untuk saling bertemu sesuai dengan inisiatif mereka masing-masing, sehingga dapat mengenal satu sama lain dan juga mengemukakan pandangan spiritual mereka — banyak dari mereka yang belum pernah saling bertemu akibat keputusan Paus Fransiskus yang memilih untuk tidak mengadakan pertemuan para kardinal sebelum konsistori kepausan.[71][72][73] Sebelum berangkat ke Roma pada 24 April, Kardinal Pablo Virgilio David menekankan bahwa konklaf bukanlah sebuah kampanye politik, melainkan sebuah retret religius. Ia juga menekankan bahwa merupakan tugas Dewan Kardinal untuk memberikan penilaian satu sama lain melalui doa, surat pribadi, dan bahkan riset pada laman internet yang berisi biografi dan informasi lain yang dibuat untuk tujuan tersebut;[74] konklaf bukanlah soal "kandidat".[75] Baik diskusi formal maupun nonformal[76] diperkirakan akan bersifat sangat substantif dalam persiapan untuk, dan dalam harapan untuk, penyelenggaraan konklaf yang cepat.[77] Diskusi-diskusi yang diadakan dalam inisiatif pribadi para kardinal—pratiche, atau 'latihan'—harus dilakukan dengan sangat terbuka dan jujur.[78] Menurut hukum kanon, kongregasi terikat dengan kerahasiaan yang sama seperti dengan konklaf.[79]
Untuk konklaf 2025, setelah kematian Paus Fransiskus, kongregasi umum melakukan pertemuan setiap hari sampai dimulainya konklaf pada 7 Mei, kecuali tanggal 26 dan 27 April serta 1 dan 4 Mei.[57][80]
Pada 22 April, anggota staff dan rumah tangga kepausan diminta untuk mengosongkan ruangan mereka di Domus Sanctae Marthae setelah meninggalnya Paus Fransiskus di kamar tidurnya di lantai kedua untuk memungkinkan dimulainya persiapan konklaf di gedung tersebut.[46] Di hari yang sama, kongregasi umum pertama dari 12 kongregasi diselenggarakan. Pada kongregasi pertama, sekitar 60 kardinal hadir untuk mendengarkan Kardinal Kevin Farrell membacakan surat wasiat dari Paus Fransiskus. Kanonisasi Carlo Acutis, yang dijadwalkan untuk dilaksanakan di Roma pada 27 April, ditunda, dan para kardinal menetapkan tanggal untuk prosesi pemakaman paus. Pertemuan ini juga membahas logistik prosesi pemakaman.[81][82] Meskipun faktanya kongregasi umum bersifat tertutup terhadap para non-kardinal, Sr. Simona Brambilla, seorang biarawati yang merupakan perempuan pertama yang mengepalai sebuah departemen Vatikan, secara tidak sengaja dikirimi surat elektronik standar yang mengundang dirinya untuk berpartisipasi dalam kongregasi umum.[83]
Pada 23 April, Museum Vatikan mengumumkan penutupan Kapel Sistina mulai 28 April untuk persiapan pelaksanaan konklaf.[84][85] Pada kongregasi umum kedua, program untuk novemdiales, atau sembilan hari masa berkabung untuk paus yang meninggal, disetujui oleh 103 kardinal yang hadir.[86] Norberto Rivera Carrera menyatakan bahwa diskusi-diskusi yang terjadi kebanyakan bersifat prosedural, karena banyak kardinal dari seluruh dunia masih berada dalam perjalanan.[87]

Pada kongregasi umum ketiga, tanggal 24 April, dilakukan penunjukkan terhadap dua imam konklaf, Donato Ogliari dan Kardinal Raniero Cantalamessa. Para kardinal yang berjumlah 113 orang memulai pembicaraan mengenai gereja dan dunia, dan 34 dari mereka berbicara dalam kongregasi umum.[88][89] Pada kongregasi umum keempat tanggal 25 April, 149 kardinal yang hadir mendengarkan presentasi ritus pemakaman Paus Fransiskus.[90] Sampai saat ini, hampir 70 pidato formal, atau "intervensi", telah diberikan.[91] Terdapat diskusi juga menyangkut status Angelo Becciu sebagai kardinal elektor di tengah-tengah partisipan, yang berlanjut di kongregasi berikutnya sampai penerimaan status non-elektor dirinya pada 29 April.[73]
Kongregasi umum kelima pada 28 April memutuskan bahwa konklaf akan dimulai pada 7 Mei 2025, 16 hari setelah kematian Paus Fransiskus.[6][92] Pertemuan ini juga mendiskusikan krisis pelecehan seksual oleh klerus, tantangan dalam penginjilan, dan hubungan antar agama. Dua puluh kardinal memberikan intervensi dengan tema yang relevan terhadap masa depan Gereja. Kongregasi umum diputuskan akan terus diadakan setiap pagi pada jam 9.00, kecuali pada 1 dan 4 Mei.[57] Para kardinal konservatif, seperti Gerhard Müller dan Francis Arinze (bukan elektor), secara khusus vokal pada sesi ini.[93][94]
Hari selanjutnya, pada kongregasi umum keenam tanggal 29 April menetapkan konklaf akan dimulai pada pada pukul 16.30, dan Kardinal Re ditetapkan sebagai selebran untuk Misa pembukaan konklaf.[95] Donato Ogliari menyampaikan refleksi terjadwalnya terhadap 183 kardinal yang hadir, 124 di antara mereka adalah elektor, dan menekankan tema sinodalitas dari kepausan Fransiskus.[93][95][96]
Kongregasi ketujuh pada 30 April berisi diskusi seputar masalah-masalah keuangan Vatikan oleh 180 kardinal yang hadir, 124 di antaranya adalah kardinal elektor.[97][98] Rainer Woelki menyatakan bahwa pertemuan-pertemuan yang sudah diadakan sejauh ini telah bersifat "persaudaraan dan ramah ... suasana kerja yang sangat terkonsentrasi, tenang, dan faktual".[28] Beniamino Stella membuat kritikan keras terhadap keputusan Paus Fransiskus untuk mengizinkan orang awam memiliki pengaruh dalam pemerintahan gereja yang sebelumnya terbatas untuk kaum klerus. Hal ini mengejutkan banyak kardinal karena Stella dipandang sebagai salah satu penasihat terpercaya Paus Fransiskus dan pendukung utama Parollin dalam pemilihan.[99][100]
Kongregasi umum tidak melakukan pertemuan pada 1 Mei, hari perayaan St. Yusuf Sang Pekerja, hari libur publik Takhta Suci dan padanan gerejawi untuk Hari Buruh Internasional sekuler yang diperingati pada hari yang sama.[57][80] Pada kongregasi kesembilan tanggal 2 Mei, 177 kardinal hadir, 127 di antaranya adalah elektor. Dua puluh enam kardinal berbicara dalam kongregasi ini. Di antara subjek-subjek yang dibahas adalah tentang persekutuan dalam Gereja dan persaudaraan dengan dunia, harapan bahwa paus berikutnya akan menjadi profetik, dan peringatan Yubelium tahun ini.[101] Kongregasi kesepuluh dan kesebelas diadakan tanggal 5 Mei dan membahas berbagai topik gerejawi.[102][103] Pada tanggal 6 Mei, kongregasi kedua belas dan terakhir dari Dewan Kardinal berlangsung.[104] Kongregasi ini menandai kematian Paus Fransiskus dengan penghancuran cincin nelayan dan segel timah miliknya. Ini adalah pertama kalinya salah satu ritual ini direkam secara digital dan dibuat terlihat oleh publik.[104]

Pada 7 Mei, konklaf untuk memilih pengganti Paus Fransiskus dimulai. Dimulainya konklaf secara resmi telah didahului oleh Misa Pro Eligendo Pontifice ("Untuk Pemilihan Paus") yang dipimpin Kardinal Giovanni Battista Re, Kepala Dewan Kardinal, di Basilika Santo Petrus pada pukul 10.00 CEST.[105] Seluruh staff pendukung, seperti koster, staff medis, operator elevator, dan kepala keamanan Vatikan, bersama dengan petugas dan pejabat konklaf, melakukan sumpah kerahasiaan mereka pada 5 Mei.[55][106][107]
Pada pukul 16.30 waktu setempat, konklaf secara resmi dimulai dengan kebaktian doa di Kapel Paulina, yang pada akhirnya para elektor memasuki Kapel Sistina dalam prosesi sambil menyanyikan doa Litani Orang Kudus. Sesampainya di sana, himne Veni Creator Spiritus ("Datanglah, Sang Roh Pencipta") dinyanyikan dan 133 kardinal yang memberikan suara kemudian disumpah untuk menjaga kerahasiaan konklaf.[95][108][109][110] Kardinal Raniero Cantalamessa menyampaikan refleksi kepada para kardinal setelah prosesi mereka memasuki konklaf.[111] Kemudian, setiap kardinal elektor berdasarkan urutan senioritas meletakkan tangannya di atas Injil dan mengucapkan pernyataan berikut dengan lantang dalam bahasa Latin:
Et ego [forename] Cardinalis [surname] spondeo, voveo ac iuro. Sic me Deus adiuvet et haec Sancta Dei Evangelia, quae manu mea tango.code: la is deprecated
Dan saya, [nama pemberian] Kardinal [nama keluarga], berjanji dan bersumpah. Semoga Tuhan menolong saya dan Injil Suci yang saya sentuh dengan tangan saya.
Saat melakukan sumpah, beberapa kardinal menggunakan bentuk Latin dari nama mereka.[112] Mgr. Diego Ravelli, pemimpin upacara kepausan, kemudian menyerukan kata-kata "Extra omnes!" ('Di luar, kalian semua!'), sebuah perintah bagi seluruh orang yang bukan kardinal elektor untuk meninggalkan ruangan pemilihan.[112] Pintu masuk Kapel Sistina secara resmi dikunci pada pukul 17.46 CEST.[108][112] Kardinal Raniero Cantalamessa kemudian memberikan refleksi kepada para kardinal setelah prosesi menuju konklaf.[111] Karena konklaf dimulai pada sore hari, hanya ada satu pemungutan suara yang diadakan pada hari ini.[113]
Balot pertama konklaf berakhir pada pukul 21.00 (19.00 UTC), setelah asap hitam muncul dari cerobong Kapel Sistina, menandakan bahwa para kardinal belum menemukan konsensus.[114] Media Vatikan melaporkan bahwa sebanyak 45.000 orang bekumpul di Lapangan Santo Petrus.[114]

Hari kedua konklaf dimulai dengan dua pemungutan suara, masing-masing selesai pada pukul 10.30 dan 11.45.[115] Asap hitam tampak pada pukul 11.51, lagi-lagi menandakan bahwa belum ada paus baru yang terpilih. Asap tidak harus dihasilkan di setiap pemungutan suara, karena kartu suara dari dua pemungutan suara yang gagal di sesi pagi atau sesi sore biasanya dibakar bersamaan, sehingga menghasilkan asap hanya di akhir setiap sesi.[116][117] Menurut media harian Italia Il Giornale, Kardinal Pietro Parolin menerima 40 sampai 50 suara, tetapi gagal memperoleh dukungan dari para kardinal Afrika dan Asia; para pendukung kuat Paus Fransiskus terbagi antara Kardinal Jean-Marc Aveline dan Mario Grech; dan Kardinal Timothy Dolan memainkan peran sebagai kingmaker, dengan sukses mengamankan dukungan bagi Kardinal Prevost dengan menggarisbawahi daya tarik mutlikultur yang ia miliki.[118] Wall Street Journal menambahkan bahwa Parolin tidak dapat menembus perolehan 40 suara, sementara suara sisa lainnya berkonsolidasi mendukung Prevost.[119] Para kardinal kemudian kembali ke Santa Marta untuk makan siang, di mana, menurut Wall Street Journal, luasnya dukungan bagi Prevost menjadi lebih jelas.[119][120]
Di akhir sesi pagi, terdapat 15.000 orang yang berkumpul di Lapangan St. Petrus dan 5.000 orang di Basilika Santa Maria Maggiore. Diperkirakan akan lebih banyak orang yang berkumpul di sesi sore, karena dalam dua konklaf terakhir, paus baru terpilih pada pemungutan suara keempat atau kelima.[121]
Setelah istirahat makan siang, para kardinal kembali ke Kapel Sistina untuk menjalani ronde pemungutan suara selanjutnya.[120] Setelah pemilihan keempat, asap putih muncul pada pukul 18.07, diikuti oleh bunyi lonceng Basilika Santo Petrus untuk menandakan pemilihan paus baru.[122][123] Tak lama kemudian, pasukan Garda Swiss dan Carabinieri berparade melalui Lapangan Santo Petrus dan membentuk formasi di bawah loggia pusat Basilika Santo Petrus, sambil melantangkan lagu kebangsaan Vatikan.[46] Dari sana, Kardinal Protodeacon Dominique Mamberti mengumumkan bahwa Robert Francis Prevost adalah Paus,[124] dan memilih nama Leo XIV.[46] Setelah ia menerima pemilihannya sebagai paus, para kardinal bertepuk tangan dan ia memeluk mereka segera setelah ia keluar dari Kapel Sistina, setelah itu[125] situs web Vatikan diubah, mencantumkan "Habemus papam".[126] Paus yang baru terpilih itu melangkah ke balkon tak lama setelah pengumuman resmi pemilihannya dan menyapa umat beriman di Lapangan Santo Petrus dan dunia dengan Urbi et Orbi dan pesan dalam bahasa Italia dan Spanyol.[127]
Segera setelah munculnya asap putih, 40.000 orang dilaporkan hadir di Lapangan Santo Petrus;[128] menurut penegak hukum Italia, pada saat pengumuman Habemus papam, ada hingga 150.000 orang di lapangan tersebut.[129]
| Balot | Tanggal | Pengumuman | Hasil |
|---|---|---|---|
| 1 | 7 Mei 2025 | 021:00 | Asap hitam–inkonklusif |
| 2–3 | 8 Mei 2025 | 011:51 | Asap hitam–inkonklusif |
| 4 | 8 Mei 2025 | 018:09 | Asap putih–habemus papam |
Leo mengumumkan bahwa acara publik besar pertamanya pascakonklaf adalah perayaan Misa bersama para kardinal pada tanggal 9 Mei pukul 11.00 di Kapel Sistina. Ia juga mengumumkan bahwa Angelus pertamanya akan dilaksanakan pada tanggal 11 Mei, disampaikan dari jendela Istana Apostolik Vatikan.[130]
Walaupun dilaksanakan secara rahasia, para kardinal kerap berbagi cerita dibalik layar kepada media dengan beberapa kardinal yang anonim bahkan membeberkan hasil pemungutan suara. Di antara mereka adalah Luis Antonio Tagle, salah satu dari beberapa papabile pada masa pra-konklaf, memberi keterangan kepada Il Messaggero bahwa saat dia melihat Prevost tegang di putaran terakhir pemungutan suara, ia menawarkan Prevost sebuah permen.[131] Seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, Tagle menggambarkan Paus yang baru terpilih sebagai “orang yang sangat manusiawi, sangat rendah hati, tetapi sangat berwawasan luas”.[132] Menurut tiga kardinal anonim, Prevost memegang kepalanya dengan tangannya saat namanya dibacakan dengan suara keras pada pemungutan suara akhir. Kardinal Mykola Bychok berbagi canda kepada media bahwa terputus dari dunia untuk waktu yang lama merupakan momen puncak dalam hidupnya. Ia menyarankan, "Cobalah... coba matikan telefon anda setidaknya selama 24 jam – telefon saya saja dimatikan selama dua setengah hari", dan menambahkan bahwa konklaf yang terjadi sangat berbeda dengan film Conclave, yang tidak menayangkan adegan doa sampai hampir pada akhir film.[133] Vincent Nichols berkata bahwa konklaf tersebut dapat dideskripsikan sebagai sangat damai dan tanpa cekcokan atau politik: tidak ada yang menyarankan siapa yang harus dipilih dan siapa yang tidak boleh dipilih.[134]
Dalam wawancara dengan kantor berita Katolik Konferensi Waligereja Bosnia dan Herzegovina, Kardinal Vinko Puljić menyatakan bahwa pemungutan suara pertama "tidak jelas" tetapi dari pemungutan suara kedua jelas bahwa yang difavoritkan adalah Prevost karena "dilihat bahwa ia memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin" dan khususnya "para kardinal yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus memberinya dukungan kuat".[135] Menurut Kardinal Gregory, Prevost tidak menyampaikan "pernyataan khusus apa pun" selama Kongregasi Umum pra-konklaf, dan sebaliknya "terlibat secara efektif" dalam diskusi kelompok kecil; Gregory mengatakan bahwa tidak ada "pidato yang luar biasa meyakinkan yang membangkitkan semangat" Dewan Kardinal, melainkan dialog terus-menerus di antara para kardinal pemilih.[136] Reinhard Marx, Uskup Agung Munich dan Freising dan seorang progresif yang dekat dengan Paus Fransiskus, tidak akan berbicara tentang diskusi konklaf secara tertutup tetapi mengatakan bahwa sebelum pintu Kapel Sistina ditutup, sekelompok kecil kardinal akan berkata, "Bagaimana dengan ini, bagaimana dengan itu?" dan ia mengamati Prevost. Ia berkata, "Ini meyakinkan saya untuk berkata, ini bisa saja berkemungkinan. Kita memiliki percakapan yang bagus. Saya menyadari bahwa ia adalah seorang pendengar, memahami perdebatan dengan serius, dan menimbangkannya. Kamu tidak bisa menempatkannya di satu kubu — dia ingin membangun sebuah jembatan. Saya sangat suka dengan itu."[137]
Berbagai pemimpin negara menyampaikan ucapan selamat dan komentar mereka atas terpilihnya paus baru.
Lembar pemungutan suara dibakar setelah dua ronde pemungutan suara, kecuali paus baru telah terpilih