Giovanni Battista Re adalah seorang prelat Gereja Katolik Italia yang menjabat sebagai Kepala Dewan Kardinal sejak tahun 2020. Ia diangkat menjadi kardinal pada tahun 2001 dan menjabat sebagai prefek Kongregasi untuk Para Uskup dari tahun 2000 sampai 2010. Sebagai kardinal-uskup paling senior yang hadir dalam pemilihan, ia memimpin konklaf 2013 yang memilih Paus Fransiskus.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Yang Utama Giovanni Battista Re | |
|---|---|
| Kepala Dewan Kardinal | |
Re pada tahun 2023 | |
| Gereja | Gereja Katolik Roma |
| Takhta | Sabina-Poggio Mirteto Ostia |
| Penunjukan | 16 September 2000 |
Masa jabatan berakhir | 30 Juni 2010 |
| Pendahulu | Angelo Sodano |
| Jabatan lain |
|
| Imamat | |
Tahbisan imam | 3 Maret 1957 oleh Giacinto Tredici |
Tahbisan uskup | 7 November 1987 oleh Paus Yohanes Paulus II |
Pelantikan kardinal | 21 Februari 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II |
| Peringkat | Kardinal-Uskup (2002-sekarang) |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 30 Januari 1934 Borno, Kerajaan Italia |
| Kewarganegaraan | Italia |
| Denominasi | Katolik Roma |
| Orang tua | Matteo Re (ayah) |
Jabatan sebelumnya |
|
| Semboyan |
|
| Lambang | |
| Gelar bangsawan untuk Giovanni Battista Re | |
|---|---|
| Gaya referensi | Yang Mulia |
| Gaya penyebutan | Yang Mulia |
| Informal style | Kardinal |
| Lihat | Ostia dan Sabina-Poggio Mirteto (keuskupan suburbikaris) |
Giovanni Battista Re (lahir 30 Januari 1934) adalah seorang prelat Gereja Katolik Italia yang menjabat sebagai Kepala Dewan Kardinal sejak tahun 2020. Ia diangkat menjadi kardinal pada tahun 2001 dan menjabat sebagai prefek Kongregasi untuk Para Uskup dari tahun 2000 sampai 2010. Sebagai kardinal-uskup paling senior yang hadir dalam pemilihan, ia memimpin konklaf 2013 yang memilih Paus Fransiskus.
Lahir di Borno, Italia sebagai putra dari seorang tukang kayu, Matteo Re (1908–2012),[1] Giovanni Battista Re ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Giacinto Tredici di Brescia pada 3 Maret 1957. Ia meraih gelar doktoral dalam bidang hukum kanonik dari Universitas Kepausan Gregoriana, Roma dan mengajar di seminari Brescia. Untuk persiapan karier diplomatik, ia memasuki Akademi Eklesiastikal Kepausan pada tahun 1961.[2]
Re telah menjadi anggota Kuria Roma sejak tahun 1963, di mana ia menjabat sebagai sekretaris pribadi Uskup Agung Giovanni Benelli. Ia diangkat menjadi monsinyur dan menjabat dalam berbagai jabatan diplomatik sebelum diangkat menjadi uskup takhta tituler Forum Novum dan Sekretaris Kongregasi untuk Para Uskup pada 9 Oktober 1987.[3] Pada 7 November, ia menerima tahbisan episkopal dari Paus Yohanes Paulus II
Pada 12 Desember 1989, ia menjadi sostituto ("pengganti") untuk urusan umum Sekretaris Negara Vatikan, salah satu posisi kunci di bawah Kardinal Sekretaris Negara.[3]
Re ditunjuk pada 16 September 2000 untuk mengepalai Kongregasi untuk Para Uskup dan Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.[3] Re menjadi Kardinal-Imam Ss. XII Apostoli dalam konsitori yang diadakan pada 21 Februari 2001, menjadi salah satu dari orang-orang yang diangkat menjadi kardinal. Pada 1 Oktober tahun berikutnya, ia diangkat menjadi Kardinal-Uskup Sabina-Poggio Mirteto. Re secara otomatis kehilangan posisinya sebagai prefek pada 2 April 2005 setelah kematian Yohanes Paulus II dan kembali ditunjuk untuk menjabat di posisi ini oleh Paus Benediktus XVI pada 21 April 2005. Ia memegang kedua posisi ini sampai 30 Juni 2010.
Pada tahun 1996, Uskup Fabian Bruskewitz dari Lincoln, Nebraska, memberi tahu umat Katolik di keuskupannya bahwa mereka akan terkena hukuman ekskomunkasi secara otomatis jika mereka terdaftar dalam kelompok-kelompok yang menganut kepercayaan yang kontradiktif dengan ajaran Katolik, secara spesifik Call to Action Nebraska, Catholics for a Free Choice, Freemasons, Hemlock Society, Planned Parenthood, dan lainnya.[4] Call to Action melawan otoritasnya untuk membuat deklarasi semacam itu, meminta Kongregasi untuk Para Uskup untuk memberikan sebuah "penilaian otoratif Takhta Suci".[5] Sebagai prefek kongregasi, Re mendukung tindakan Bruskewitz pada 2006.[6]
Re, yang sebagai prefek Kongregasi untuk Para Uskup membantu paus dalam memutuskan masa depan karier para klerus, mengatakan, "Ketika Monsinyur Wielgus dinominasikan, kami tidak mengetahui apapun mengenai kolaborasi dirinya [dengan dinas rahasia]. Wielgus mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Uskup Agung Warsawa pada 6 Januari 2007, hanya satu hari setelah ia diangkat dalam posisi itu dalam sebuah acara privat, tepat sebelum dimulainya pengangkatan dirinya dalam publik, karena ia terbongkar bekerjasama dengan polisi rahasia komunis Polandia beberapa dekade sebelumnya".[7]
Pada Januari 2009, Re memublikasikan sebuah dikrit yang mencabut hukuman ekskomunikasi dari para uskup Serikat Santo Pius X.[8] Kardinal Darío Castrillón Hoyos mengatakan jika ada orang di Vatikan yang tahu soal pandangan negasionis Richard Nelson Williamson, ia adalah Re, yang kongregasinya memantau informasi berkaitan para uskup dan prelat.[9][10]
Pada Maret 2009, setelah tindakan aborsi pada seorang gadis berusia sembilan tahun yang diperkosa oleh ayah tirinya dan sebagai akibatnya gadis ini mengandung anak kembar dilakukan untuk menyelamatkan hidup gadis ini, Uskup Agung José Cardoso Sobrinho dari Olinda dan Recife menyatakan bahwa hukum ekskomunikasi otomatis telah jatuh pada ibu dari gadis ini dan tim medis yang melakukan tindakan aborsi.[11] Presiden Luiz Inácio Lula da Silva mengkritik "sikap konservatif" sang uskup agung dan Menteri Kesehatan José Gomes Temporão mengarahkan kritiknya terhadap posisi Gereja Katolik, mendeskripsikannya sebagai "ekstrem, radikal dan inadekuat". Dalam komentar terhadap sebuah koran Italia, Re menyesalkan apa yang ia sebut sebagai sebuah serangan terhadap Gereja di Brasil: "Kasus ini merupakan sebuah kasus yang menyedihkan, tetapi masalah aslinya adalah dua bayi kembar yang dikandung ini merupakan dua manusia tanpa dosa, yang memiliki hak untuk hidup dan tidak dapat dieliminasi. Kehidupan harus selalu dilindungi. Serangan terhadap Gereja Brasil tidak dapat dibenarkan." Ia menambahkan bahwa hukuman ekskomunikasi terhadap tim medis yang melakukan tindakan aborsi adalah hal yang adil.[12] Konferensi Nasional Para Uskup Brasil menyatakan bahwa pernyataan Uskup Agung itu keliru.[13]
Sebagai Prefek Kongregasi untuk Para Uskup, Re memainkan peran sentral dalam usaha Benediktus XVI untuk mendisiplinkan mantan Kardinal Theodore McCarrick. Peran Re dalam masalah ini terbongkar setelah "Testimoni" Uskup Agung Carlo Maria Viganò pada Agustus 2018 membuat beberapa pernyataan publik yang spesifik terkait keterlibatannya dalam permasalahan ini, yang diklarifikasi dan diperluas oleh pelaporan berikutnya.
Viganò mengatakan bahwa pada tahun 2000, Re, sebagai Prefek Kongregasi untuk Para Uskup yang baru dilantik, menentang penunjukkan McCarrick sebagai Uskup Agung Washington. Pernyataan ini didukung oleh laporan Catholic News Agency[14] dan oleh buku Il Giorno del Giudizio karya Andrea Tornielli dan Gianni Valente.[15]
Lebih jauh lagi, menurut Tornielli dan Valente, beberapa waktu setelah Uskup Paul Bootkoski dari Metuchen, keuskupan McCarrick sebelumnya, lapor ke Nuncio Gabriel Montalvo Higuera pada 5 Desember 2005, bahwa keuskupannya telah membuat sedikitnya satu kesepakatan damai dengan mantan seminaris yang menuduh McCarrick melakukan pelecehan seksual, Re memberi tahu McCarrick secara tertulis bahwa laporan-laporan negatif tentangnya telah terungkap.[15] Segera setelah itu, McCarrick dicopot dari jabatannya sebagai uskup agung Washington. Pada akhir tahun 2006 atau awal tahun 2007, setelah McCarrick telah dicopot sebagai uskup agung dan lebih banyak laporan soal pelecehan seksual terhadap orang dewasa oleh McCarrick yang telah mencapai Roma, Re mengirimkan sebuah surat ke McCarrick melalui Nuncio Pietro Sambi di mana ia menginstruksikan McCarrick untuk meninggalkan Seminari Redemptoris Mater, tempat ia tinggal, untuk menjalani hidup retret dan doa.[16] Instruksi-instruksi ini tidak diindahkan. Setelah publikasi "Pernyataan untuk Paus Benediktus XVI" olehRichard Sipe pada April 2008, Re mengirimkan McCarrick sebuah surat tertulis lainnya, yang diberikan kepadanya di nunsiatur oleh Nuncio Pietro Sambi, memerintahkan dirinya untuk meninggalkan Redemptoris Mater dan tinggal di sebuah biara atau menjadi imam untuk panti lansia yang dikelola oleh para biarawati. Dalam sebuah surat respon, McCarrick menolak instruksi-instruksi dari Re dan malah mengusulkan agar dirinya tinggal di hunian bagi para imam di Washington, sebuah paroki di Washington, sebuah apartemen di Roma, atau di sebuah hunian dekat sebuah universitas Katolik Amerika. Ia juga berargumen bahwa tindakan membatalkan seluruh undangan dan penampilan publiknya yang tertunda akan mengundang perhatian yang tidak diinginkan.[16] Dalam sebuah komunikasi kepada Fr. Anthony Figueiredo pada 7 Oktober 2008 yang kemudian bocor, McCarrick menyatakan bahwa "Kardinal Re telah menyetujui kepindahan saya ke sebuah paroki dan Uskup Agung saya [Donald Wuerl] telah bertindak hebat dalam memulai usaha untuk menyelesaikan masalah ini". Ia juga menyatakan bahwa ia telah setuju untuk sama sekali tidak membuat penampilan publik baik di Amerika Serikat maupun di luar negeri tanpa persetujuan Re dan untuk mengundurkan diri dari semua entitas Roma dan USCCB, dan bahwa Re telah melarang dirinya untuk pergi ke Roma.[17] Namun, McCarrick terus membuat penampilan publik di seluruh dunia dan pergi ke Roma dalam tahun-tahun berikutnya, tanpa adanya keberatan publik dari Re.
Menurut "Testimoni" buatannya pada Agustus 2018, Viganò mengetahui dari sebuah pembicaraan dengan Re pada suatu waktu antara 16 Juli 2009 dan 30 Juni 2010[a] bahwa Benediktus XVI telah menjatuhkan hukuman disipliner (yang Viganò salah maksudkan sebagai "sanksi kanonik") pada McCarrick yang mewajibkan ia untuk meninggalkan Seminari Redemptoris Mater dan melarang ia untuk merayakan Misa di depan publik, terlibat dalam pertemuan publik, memberikan kuliah, atau bepergian. Sementara pernyataan asli Vigano memberikan kesan bahwa ia percaya bahwa Re memberi tahu dirinya tentang peristiwa-peristiwa baru daripada tindakan-tindakan yang diambil pada 2007–2008, pernyataan lanjutan pada Oktober 2018 [18] mengklarifikasi bahwa rentang waktu 2009-2010 merujuk pada waktu ketika Re memberi tahu dirinya tentang hukuman-hukuman ini, bukan waktu di mana hukuman-hukuman ini diimplementasikan.
Re telah menolak untuk berbicara kepada jurnalis tentang keterlibatannya seputar kasus McCarrick.[19][20]
Re adalah anggota berbagai kantor di Kuria. Pada Mei 2008, Paus Benediktus XVI menunjuk dia sebagai anggota Dewan Kepausan untuk Naskah Legislatif. Ia juga merupakan anggota Kongregasi untuk Doktrin Iman, Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa, dan Kongregasi untuk Gereja-gereja Oriental selain juga Administrasi Patrimoni Takhta Suci. Ia memegang seluruh keanggotaan ini sampai ulang tahunnya di usia 80 tahun.
Re adalah salah satu kardinal elektor yang berpartisipasi dalam konklaf 2005 yang memilih Paus Benediktus XVI.[21] Ia disebut oleh banyak komentator sebelum dan setelah konklaf 2005 sebagai penerus potensial Yohanes Paulus II.[22][23][24]
Ketika Paus Benediktus XVI mengundurkan diri pada 28 Februari 2013, Kardinal Angelo Sodano, kepala Dewan Kardinal saat itu dan Kardinal Roger Etchegaray, wakil kepala Dewan Kardinal saat itu, berusia lebih dari 80 tahun dan maka dari itu tidak memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam konklaf untuk memilih penerus Paus. Re, sebagai kardinal elektor senior, memimpin jalannya konklaf yang memilih Kardinal Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus Fransiskus. Pada saat pelantikan paus baru pada 19 Maret 2013, Re adalah satu dari enam kardinal perwakilan Dewan Kardinal yang membuat pengakuan publik untuk setia dan taat kepada paus baru.[25][b]
Pada 10 Juni 2017, Paus Fransiskus menyetujui pemilihan Re sebagai wakil kepala Dewan Kardinal oleh para kardinal di takhta suburbikaris (keuskupan-keuskupan di pinggiran-pinggiran Roma).[26] Pada 18 Januari 2020, Paus Fransiskus menyetujui penunjukan Re sebagai kepala Dewan Kardinal selama masa jabatan lima tahun oleh sembilan kardinal uskup Gereja Latin,[27][28] dan untuk periode keduanya sebagai kepala dewan pada 7 Januari 2025.[29]
Sebagai Kepala Dewan Kardinal, Re bersama dengan Paus Fransiskus[30] memimpin jalannya prosesi pemakaman kenegaraan Paus Benediktus XVI pada 5 Januari 2023.[31] Prosesi ini adalah prosesi pemakaman pertama kalinya untuk seorang paus yang mengundurkan diri sejak pemakaman Paus Gregorius XII, yang mengundurkan diri pada tahun 1415 dan meninggal dua tahun kemudian. Dua tahun kemudian, pada 26 April 2025, sebagai Kepala Dewan Kardinal, Re memimpin jalannya prosesi pemakaman Paus Fransiskus.
| Jabatan Gereja Katolik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Lucas Moreira Neves |
Sekretaris Kongregasi bagi Uskup-uskup 9 Oktober 1987 – 12 Desember 1989 |
Diteruskan oleh: Justin Francis Rigali |
| Sekretaris Dewan Kardinal 9 Oktober 1987 – 12 Desember 1989 | ||
| — TITULER — Uskup Agung Vescovìo (pro illa vice) 9 Oktober 1987 – 21 Februari 2001 |
Diteruskan oleh: Marcelo Sánchez Sorondo | |
| Didahului oleh: Edward Idris Cassidy |
Substitut bagi Urusan Umum 12 Desember 1989 – 16 September 2000 |
Diteruskan oleh: Leonardo Sandri |
| Didahului oleh: Lucas Moreira Neves |
Prefek Kongregasi bagi Uskup-uskup 16 September 2000 – 30 Juni 2010 |
Diteruskan oleh: Marc Ouellet |
| Presiden Komisi Kepausan bagi Amerika Latin 16 September 2000 – 30 Juni 2010 | ||
| Didahului oleh: Agostino Casaroli |
Kardinal-Imam Santi XII Apostoli 21 Februari 2001 – 1 Oktober 2002 |
Diteruskan oleh: Angelo Scola |
| Didahului oleh: Lucas Moreira Neves |
Kardinal-Imam Sabina-Poggio Mirteto 1 Oktober 2002 – sekarang |
Petahana |