Kedungwaru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung. Kedungwaru adalah penyangga utama dari ibu kota Tulungagung yang terletak di utara dan timur Kecamatan Tulungagung. Kedungwaru adalah kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kabupaten Tulungagung yaitu sekitar 96 ribu jiwa di tahun 2024. Hal ini karena Kedungwaru merupakan kecamatan yang ramai dan padat penduduk, tetapi wilayahnya jauh lebih luas dari Kecamatan Tulungagung. Banyak infrastruktur penting di pusat kota Tulungagung yang berada di Kedungwaru seperti kantor dinas, taman kota, rumah sakit, Stadion Rejoagung, hingga sekolah dan perguruan tinggi unggulan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kedungwaru | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Tulungagung | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Rachmad Adhityo Kuncoro, S.STP., M.M | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 96.370 jiwa | ||||
| Kode pos | 66221 - 66229 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.04.03 | ||||
| Kode BPS | 3504130 | ||||
| Luas | 29,74 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 19 | ||||
| |||||
Kedungwaru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung. Kedungwaru adalah penyangga utama dari ibu kota Tulungagung yang terletak di utara dan timur Kecamatan Tulungagung. Kedungwaru adalah kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kabupaten Tulungagung yaitu sekitar 96 ribu jiwa di tahun 2024. Hal ini karena Kedungwaru merupakan kecamatan yang ramai dan padat penduduk, tetapi wilayahnya jauh lebih luas dari Kecamatan Tulungagung.[1] Banyak infrastruktur penting di pusat kota Tulungagung yang berada di Kedungwaru seperti kantor dinas, taman kota, rumah sakit, Stadion Rejoagung, hingga sekolah dan perguruan tinggi unggulan.[2][3]
Kedungwaru menjadi lokasi beberapa tempat bersejarah di Tulungagung. Salah satunya adalah Masjid Tawangsari peninggalan Kyai Abu Manshur dan Masjid Al-Mimbar di Desa Majan peninggalan Kyai Hasan Mimbar, keduanya merupakan penyebar Agama Islam penting di Tulungagung. Saat itu Tulungagung masih bernama Kadipaten Ngrowo dan memiliki banyak desa berstatus perdikan (bebas pajak) seperti Desa Majan, Winong, dan Tawangsari. Status perdikan ini adalah hak istimewa yang diberikan oleh Kesultanan Mataram atas jasa tokoh di desa tersebut.[4][5]

Kedungwaru adalah kecamatan penyangga ibu kota Tulungagung yang terletak di utara dan timur Kecamatan Tulungagung. Kedungwaru terletak di dataran rendah dengan wilayah yang didominasi lahan persawahan dan kawasan perkotaan. Perbatasan utara dengan Kecamatan Ngantru dibatasi oleh Sungai Brantas, sedangkan perbatasan barat dibatasi oleh Sungai Ngrowo.[6] Namun, juga terdapat beberapa desa yang berada di barat Sungai Ngrowo seperti Desa Tawangsari dan Mangunsari. Wilayah tersebut terhubung langsung dengan timur sungai dengan berbagai jembatan seperti Jembatan Plengkung dan Dam Majan.[7]
Jalan utama di Kedungwaru adalah Jalan Pahlawan yang terhubung ke Jalan Jayeng Kusuma yang melintasi Kedungwaru dari selatan ke utara. Jalan tersebut berstatus jalan nasional dan menjadi penghubung Tulungagung dengan Kediri. Tidak hanya itu, jalan nasional lain juga melewati ujung selatan Kedungwaru yaitu Desa Plosokandang. Jalan tersebut melintas dari barat ke timur dan menjadi penghubung Tulungagung-Ngunut-Blitar.[6]
Batas wilayah Kecamatan Kedungwaru adalah sebagai berikut:[6]
| Utara | Kecamatan Ngantru dan Sungai Brantas |
| Timur | Kecamatan Sumbergempol |
| Selatan | Kecamatan Tulungagung dan Kecamatan Boyolangu |
| Barat | Kecamatan Karangrejo |

Wilayah Tulungagung pada zaman Kesultanan Mataram bernama Kadipaten Ngrowo yang berpusat di Kalangbret. Ngrowo terdiri dari beberapa desa, tetapi di antara desa-desa tersebut terdapat desa yang memiliki kedudukan spesial dari desa lainnya. Desa tersebut dinamakan desa perdikan yang memiliki status bebas pajak karena kekhususan tertentu. Di Kedungwaru terdapat beberapa desa perdikan seperti Majan, Tawangsari, dan Winong. Desa-desa tersebut menjadi pusat penyebaran Islam di Ngrowo dengan berdirinya masjid seperti Masjid Tawangsari dan Masjid Al-Mimbar di Majan.[4]
Sekitar tahun 1700-an, Masjid Tawangsari didirikan oleh pemimpin Desa Tawangsari yaitu Kyai Abu Manshur yang merupakan putra Amangkurat IV. Abu Manshur setelah menempuh pendidikan di Pesantren Tegalsari Ponorogo, kemudian mendirikan desa sekaligus pesantren di sebuah lahan di tepian Sungai Ngrowo yang dinamakan Tawangsari. Sedangkan lahan lainnya diberikan kepada kerabat Abu Manshur yaitu Kyai Ilyas yang mendirikan Desa Winong. Tawangsari dan Winong sama-sama berstatus perdikan karena jasa Kyai Abu Manshur dalam membantu Pakubuwono II melawan pemberontakan dalam peristiwa Geger Pecinan.[4]
Desa perdikan lainnya yaitu Majan yang dipimpin oleh KH Hasan Mimbar. Beliau mendapat tugas dari Bupati Ngabehi Mangundirono (bupati pertama Ngrowo) atas perintah Pakubuwono II untuk bertindak sebagai Penghulu Nikah di Desa Majan. Tradisi ini bertahan hingga zaman modern dan dikenal dengan nama "Nikah Majan". Sejak tahun 1979, nikah majan tidak lagi diakui negara karena kyai bukan pejabat berwenang untuk menikahkan. Sekarang status desa perdikan dicabut sehingga semua desa memiliki hak yang sama.[4][8]
Kecamatan Kedungwaru terdiri dari 19 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun atau dukuh, yakni sebagai berikut:[6]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bangoan | Krajan, Karangarum, Ngipik | [6] |
| 2 | Boro | Boro, Baron, Plandangan, Tebokan | [6] |
| 3 | Bulusari | Karangsari, Mulyosari | [6] |
| 4 | Gendingan | Alfatah, Gendingsari, Khasan Anom, Pucangsongo | [9] |
| 5 | Kedungwaru | Kedungindah, Kedungtaman, Warujaya | [6] |
| 6 | Ketanon | Ketanon, Gempolan, Kedungsingkal | [6] |
| 7 | Loderesan | Gempolsari, Kedungdoro | [6] |
| 8 | Majan | Krajan, Cikalan, Rowosapen | [6] |
| 9 | Mangunsari | Mangunsari, Grobogan | [6] |
| 10 | Ngujang | Dwi Wibowo, Trimulyo | [6] |
| 11 | Plandaan | Anengjoyo, Baliyoso | [6] |
| 12 | Plosokandang | Kudusan, Manggisan, Srigading | [6] |
| 13 | Rejoagung | Rejoagung, Kebonagung, Sukorejo | [6] |
| 14 | Ringinpitu | Ringinagung, Ringinputih, Ringinsari | [6] |
| 15 | Simo | Simo I, Simo II | [6] |
| 16 | Tapan | Tapan, Donorejo, Melikan, Serut | [6] |
| 17 | Tawangsari | Tawangsari | [6] |
| 18 | Tunggulsari | Mekarsari, Sekarsari, Sumbersari | [6] |
| 19 | Winong | Winong | [6] |

