Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta ataupun yang lebih dikenal dengan penyebutan sebagai 6 (enam) Ruas Jalan Tol Dalam Kota Jakarta adalah sebuah jaringan jalan tol yang akan mengadopsi konstruksi jalan layang penuh dengan integrasi transportasi umum (BRT).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta | |
|---|---|
| Jakarta Inner Ring Road 2 Jakarta Intra Urban Toll Road 2 | |
| JIRR 2 / JIUTR 2 | |
| Informasi rute | |
| Dikelola oleh : Jakarta Toll Road Development (PT Pembangunan Jaya) | |
| Panjang | 69,77 km (43,35 mi) |
| Berdiri | Sejak 5 Januari 2017 hingga 23 Agustus 2021 |
| Persimpangan besar | |
| Orbital around inti kota Jakarta | |
| Ujung Barat & Barat Daya | |
| Ujung Timur & Selatan | |
| Lokasi | |
| Negara | Indonesia |
| Kota | |
| Sistem jalan | |
Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta (bahasa Inggris: Jakarta Inner Ring Road 2code: en is deprecated (JIRR 2 atau JIRR II) atau Jakarta Intra Urban Toll Road 2 (JIUTR 2 atau JIUTR II)) ataupun yang lebih dikenal dengan penyebutan sebagai 6 (enam) Ruas Jalan Tol Dalam Kota Jakarta adalah sebuah jaringan jalan tol yang akan mengadopsi konstruksi jalan layang penuh dengan integrasi transportasi umum (BRT).
Jalan tol ini terdiri dari 6 ruas dan secara keseluruhan memiliki panjang 69,77 kilometer. Jalan Tol JIRR 2 Pertama yang dibangun adalah tahap 1, ruas Semanan – Pulogebang segmen Kelapagading – Pulogebang, yang beroperasi sejak 19 Juli 2021. Keseluruhan dari ruas Tol ini dikelola oleh PT Pembangunan Jaya melalui PT Jakarta Toll Road Development yang merupakan konsorsium dari 12 perusahaan dengan porsi mayoritas dimiliki PT Pembangunan Jaya. Perusahaan ini menguasai 72,20% saham JTD lewat tiga anak usahanya, yaitu PT Jaya Real Property Tbk., PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., dan PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk. [1]
Adapun jalan tol ini termasuk ke dalam rencana 5 jalan cincin (ring road) yang akan dihadirkan dalam wilayah cakupan Jabodetabekpunjur. Dari urutan perencanaanya, yaitu merupakan jalan lingkar yang pertama dan terdalam[2] dari sistem jaringan Jalan Bebas Hambatan Jabodetabek. Di antaranya adalah:
(secara berurutan dari terdalam hingga terluar)
Jalan tol ini merupakan ruas yang masih sebagian dalam tahap konstruksi dan perencanaan, serta sebagian telah beroperasi secara parsial.
Wacana pembangunan 6 Ruas Tol Dalam Kota (JIRR 2) telah ada sejak tahun 2005 silam.[3] Namun, proyek ini terus tertunda karena berbagai faktor, seperti krisis ekonomi, pertimbangan dampak lingkungan, pertimbangan dampak bagi lalu lintas kendaraan, serta berberapa isu yang menuai kontroversi
Pada 2009 telah digagas oleh Gubernur DKI Jakarta pada saat itu Foke, tetapi ide tersebut ditolak dan tidak disetujui. Kemudian pada 2012 pada masa Jokowi masih menjabat sebagai kepala daerah di Jakarta, tetapi juga tidak menemukan titik terang. Hal serupa juga demikian ketika era kepemimpinan Anies Baswedan [4]
Akhirnya dari ke-6 Ruas Tol Layang dalam kota, Hanya ruas Semanan–Pulogebang segmen Kelapa Gading–Pulogebang yang berhasil direalisasikan. Konstruksi atas ruas Kelapa Gading–Pulogebang dimulai sejak 5 Januari 2017, selesai pada 19 Juli 2021 dan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 23 Agustus 2021.
Bedasarkan trase ataupun peta penetapan lokasi jalur tol nya dari surat edaran yang pernah dirilis / dipublis[5] oleh pihak stakeholder terkait (BUJT PT Jakarta Tollroad Development (JTD) dan BPJT[6]), Tol Layang ini tidak akan memiliki koneksi langsung dengan Tol Dalam Kota existing, dikarenakan tujuan pembangunannya yaitu untuk memecah kepadatan lalu lintas di dalam kota dengan mengarahkan kendaraan untuk keluar dari dalam Kota Jakarta, bukan untuk mengarahkan kendaraan kembali kedalam Kota Jakarta.
Sehingga Tol ini memang akan memiliki spesifikasi desain untuk akses jarak tempuh yang jauh dari pintu gerbang antar tol, antar ramp on/off nya, maupun junction terdekat nya.
Adapun sisi utara dari ruas Tol Layang Dalam Kota Jakarta (JIRR 2) yakni ruas Tol Semanan–Pulogebang akan terintegrasi langsung dengan Jaringan Tol Lingkar Luar 3 Jakarta (JORR 3) sebagai bagian dari lingkar sempurna (ring road) sisi utara Tol Lingkar Luar 3 (JORR 3).
Panjang 20,23 kilometer dengan nilai investasi Rp 9,76 triliun.
Sunter–Kelapa Gading–Pulogebang
Panjang 9,44 kilometer dengan nilai investasi Rp 7,37 triliun. Dibangun sejak Februari 2017 dan selesai pada 19 Juli 2021.
Duri Pulo–Kampung Melayu
Panjang 12,65 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,96 triliun.
Kampung Melayu–Kemayoran
Panjang 9,60 kilometer dengan nilai investasi Rp 6,95 triliun.
Ulujami–Tanah Abang
Panjang 8,70 kilometer dengan nilai investasi Rp 4,25 triliun.
Pasar Minggu–Casablanca
Panjang 9,15 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,71 trilliun.
== Simpang Susun ==tanjung barat
Jalan tol ini memiliki titik keluar masuk yang jauh lebih sedikit dibanding ruas tol lainnya dengan jarak antar titik ± 7 kilometer. Sedikitnya jumlah pintu masuk dan keluar atau on/off ramp ini bertujuan untuk mengurangi dampak kemacetan di jalan reguler yang ditimbulkan oleh kendaraan akibat penumpukan antrean di tiap gerbang pintu tolnya.[7] Adapun sembilan titik pintu tol yang ada dalam jalan tol ini, yakni:
Jalan tol ini akan menjadi rute bus ulang-alik tanpa jalur khusus. Bus ini akan ditunjang oleh halte (bus bay) yang ditempatkan di tempat yang strategis dan dilengkapi dengan eskalator untuk naik dan tangga untuk turun, sehingga bus tidak perlu keluar dari jalan tol untuk menaik-turunkan penumpang.[8]
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai pembangunan 6 ruas jalan tol Jakarta tidak akan mengurai kemacetan secara efektif dengan alasan bila jalanan bertambah, maka akan diiringi dengan penambahan kendaraan.[9] Masyarakat pun membuat petisi online untuk menentang pembangunan 6 ruas jalan tol ini.