Henri III merupakan Raja Persemakmuran Polandia-Lituania dari tahun 1573 sampai 1575 dan Raja Prancis dari tahun 1574 sampai kematiannya. Ia merupakan raja Prancis terakhir dari Wangsa Valois.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Henri III | |
|---|---|
Potret oleh François Clouet | |
| Raja Polandia Adipati Agung Lituania | |
| Berkuasa | 16 Mei 1573 – 12 Mei 1575 |
| Penobatan | 22 Februari 1574, Katedral Wawel |
| Pendahulu | Zygmunt II August |
| Penerus | Anna and István |
| Interrex | Jakub Uchański |
| Raja Prancis | |
| Berkuasa | 30 Mei 1574 – 2 Agustus 1589 |
| Penobatan | 13 Februari 1575, Katedral Reims |
| Pendahulu | Charles IX |
| Penerus | Henri IV |
| Kelahiran | (1551-09-19)19 September 1551 Château de Fontainebleau |
| Kematian | 2 Agustus 1589(1589-08-02) (umur 37) Château de Saint-Cloud |
| Pemakaman | |
| Pasangan | Louise de Lorraine-Vaudémont |
| Wangsa | Valois-Angoulême |
| Ayah | Henri II dari Prancis |
| Ibu | Catherine de' Medici |
| Agama | Katolik Roma |
| Tanda tangan | |
Henri III (19 September 1551 – 2 Agustus 1589; nama lahir Alexandre Édouard de France, bahasa Polandia: Henryk Walezycode: pl is deprecated , bahasa Lituania: Henrikas Valuacode: lt is deprecated ) merupakan Raja Persemakmuran Polandia-Lituania dari tahun 1573 sampai 1575 dan Raja Prancis dari tahun 1574 sampai kematiannya. Ia merupakan raja Prancis terakhir dari Wangsa Valois.
Sebagai putra keempat Raja Henri II dari Prancis, ia tidak diharapkan menjadi ahli waris takhta Prancis dan dengan demikian merupakan calon yang baik untuk takhta kosong Persemakmuran Polandia-Lituania, di mana ia terpilih sebagai Raja Polandia atau Adipati Agung Lituania pada 1573. Selama masa jabatannya yang singkat, ia menandatangani Artikel Henri menjadi undang-undang, mengakui hak bangsawan Polandia untuk secara bebas memilih raja mereka. Pada usia dua puluh dua tahun, Henri meninggalkan Polandia-Lithuania saat mewarisi takhta Prancis ketika saudaranya, Charles IX, meninggal tanpa keturunan.
Prancis pada saat itu terganggu oleh Pertempuran agama, dan wewenang Henri dirusak oleh partai politik yang didominasi oleh kekuatan asing: Liga Katolik (didukung oleh Spanyol), Huguenot yang Protestan (didukung oleh Inggris dan Belanda) dan Malcontents, yang dipimpin oleh saudara kandung Henri sendiri, Adipati Alençon, yang merupakan partai aristokrat Katolik dan Protestan yang bersama-sama menentang ambisi absolut raja. Henri III sendiri adalah seorang tokoh Politique, dengan alasan bahwa monarki yang kuat dan religius toleran akan menyelamatkan Prancis dari keruntuhan.
Setelah kematian adik Henri, François dari Anjou, dan ketika menjadi jelas bawah Henri tidak akan menghasilkan keturunan, Pertempuran Agama berkembang menjadi krisis suksesi, Pertempuran Tiga Henri. Pewaris sah Henri III adalah sepupu jauhnya, Henri III, Raja Navarra, seorang Protestan. Liga Katolik, yang dipimpin oleh Henri I dari Guise, berusaha untuk menyingkirkan umat protestan dari suksesi dan memperjuangkan Charles, Kardinal Bourbon yang beragama Katolik sebagai pewaris Henri.
Pada tahun 1589, Jacques Clément, seorang fanatik Katolik, membunuh Henri III. Ia digantikan oleh Raja Navarra, Henri IV yang naik takhta Prancis setelah beralih ke agama Katolik, sebagai raja Prancis pertama dari Wangsa Bourbon.
Henry III lahir di Château de Fontaineblau atau Castle of Fontainebleau, putera ke empat dari pasangan raja Henry II dan Catherine de' Medici, yang juga merupakan cucu dari Francis I dan Claude of France. Tiga kakak tertuanya ialah Francis II, Charles IX, dan Louis. Dia menjadi Adipati Angoulême dan Adipati Orléans tahun 1560, kemudian menjadi Adipati Anjou tahun 1566. Ibunya, ratu Chaterine, menyebut Henry III dengan sapaan chers yeux ("mata berharga") karena Henry merupakan anak kesayangan Catherine.[1] Anak-anak raja Henry II dibesarkan di bawah pengawasan Diane de Poitiers.[2]
Ketika berusia sembilan tahun, dia menunjukkan ketertarikan pada ajaran Protestan. Henry pernah menolak untuk mengikuti ibadah atau misa di gereja Katolik, dan juga pernah menyanyikan lagu pujian Mazmur untuk saudara perempuannya Margaret yang biasa dinyanyikan di gereja Protestan. Dia juga mengajak Margaret untuk pindah agama menjadi Protestan, dan pernah menggigit hidup patung Santo Paulus, sebagai bentuk penolakan kepada gereja Katolik. Hal tersebut menjadikan ibunya, Chaterine, memperingatkan Henry atas perilaku tersebut. Dan kemudian Henry III tidak lagi menunjukkan sikap ketertarikan akan ajaran Protestan.[3]
Henri III dari Prancis Cabang kadet Dinasti Kapetia Lahir: 19 September 1551 Meninggal: 2 Agustus 1589 | ||
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Charles IX |
Raja Prancis 1574-1589 |
Diteruskan oleh: Henri IV |
| Didahului oleh: Sigismund II August I |
Raja Polandia-Lituania 16 Mei 1573 – 12 Mei 1575 |
Diteruskan oleh: Anna bersama Stefan |