Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiIstana Bung Hatta
Artikel Wikipedia

Istana Bung Hatta

Istana Bung Hatta atau Gedung Negara Tri Arga adalah gedung bekas kediaman Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Bangunan yang berdiri saat ini adalah hasil renovasi pada 1961 setelah bangunan asli dibumihanguskan sewaktu Agresi II Militer Belanda pada 1948.

bangunan cagar budaya di Indonesia
Diperbarui 12 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Istana Bung Hatta
Gedung Residen Padangse Bovenlanden, yang hancur pada masa revolusi fisik, pendahulu Istana Bung Hatta

Istana Bung Hatta[1] atau Gedung Negara Tri Arga (pernah bernama Rumah Tamu Agung) adalah gedung bekas kediaman Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Bangunan yang berdiri saat ini adalah hasil renovasi pada 1961 setelah bangunan asli dibumihanguskan sewaktu Agresi II Militer Belanda pada 1948.

Saat ini, Istana Bung Hatta digunakan sebagai tempat seminar, lokakarya, pertemuan kenegaraan, serta sebagai rumah tamu negara yang berkunjung ke Bukittinggi.[2]

Sejarah

Bangunan asli gedung ini, yang sudah berdiri sebelum kemerdekaan Indonesia, pernah menjadi tempat kedudukan Residen Padangse Bovenlanden dan Asisten Residen Agam. Riwayat pembangunannya tidak diketahui.[3]

Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan tersebut sempat menjadi istana sekaligus tempat kediaman Wakil Presiden Mohammad Hatta antara bulan Juni 1947 hingga Februari 1948. Di sini, Hatta mengadakan pertemuan baik dengan tamu kenegaraan maupun pemimpin setempat sambil mempelajari masalah-masalah mendesak yang dihadapi. Hatta mengundang semua orang yang menduduki jabatan pimpinan

Pawai besar-besaran Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) pada September 1947

Pada September 1947, Hatta menerima delegasi Komisi Tiga Negara (KTN) yang mengawasi gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda di gedung ini. Bersamaan dengan kunjungan KTN tersebut, sekitar 15.000 pemuda yang tergabung dalam Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) melakukan arak-arakan membawa bambu runcing dan menyampaikan hasrat ingin merdeka di depan istana.[4]

Di gedung ini pula, Hatta pada akhir November 1947 menerima sumbangan emas dari kaum ibu-ibu Sumatera Barat seberat 14 kg yang selanjutnya digunakan untuk membeli pesawat terbang Avro Anson RI-003.[5]partai, tentara, guru agama, dan pegawai negeri di daerah guna mendengar arahannya.[6]

Menjelang Agresi II Militer Belanda pada 1948, gedung ini dibumihanguskan bersama sejumlah bangunan penting lainnya di Bukittinggi. Komandan militer setempat mengeluarkan perintah membumihanguskan Bukittinggi sebagai taktik perang dan mengimbau warga kota agar mengungsi keluar kota.[7]

Pembangunan kembali

Pada tahun 1952, usaha mendirikan kembali istana ini dimulai.

Istana Bung Hatta yang berdiri saat ini dibangun pada tahun 1961, seiring pemecahan Sumatra Tengah menjadi tiga provinsi pada 1958. Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa menggagas renovasi bangunan dan menyematkan nama Gedung Negara Tri Arga. Nama ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti tiga gunung tinggi, meruju pada tiga gunung yang mengelilingi Kota Bukittinggi: Gunung Singgalang, Gunung Marapi, dan Gunung Sago.

Pada tahun 1965, gedung ini menjadi tempat pengukuhan gelar Bundo Kandung Agung kepada istri Soekarno, Hartini.[8][9][10] Pemberian gelar tersebut merupakan upaya Gubernur Sumatera Barat Kaharudin Datuk Rangkayo Basa meraih simpati Soekarno setelah peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).[11]

Namanya diganti dari Gedung Negara Tri Arga menjadi Istana Bung Hatta oleh Gubernur Hasan Basri Nurin bertepatan dengan HUT ke-93 lahirnya Mohammad Hatta pada tahun 1995.

Bangunan

Istana Bung Hatta, dari puncak menara Jam Gadang

Berdiri di atas lahan seluas 12.425 meter persegi, Istana Bung Hatta memiliki luas bangunan 3.672 meter persegi dengan denah berukuran 65 x 54 meter. Bangunannya meliputi ruang utama, ruang tamu, ruang rapat, dan delapan kamar yang luas (belakangan ada penambahan kamar menjadi 12 kamar). Sebagian bangunan bagian barat sudah dibongkar akibat adanya pembangunan Hotel Novotel.[2]

Pada halaman depan, terdapat koridor yang disangga oleh pilar-pilar berbentuk silinder. Di dalam kompleks bangunan, terdapat dua patung Bung Hatta masing-masing terletak di bagian depan bangunan (patung separuh badan) dan di sisi samping bangunan (patung seluruh badan) yang berukuran tinggi dua meter.[2]

Di dalam bangunan, terdapat banyak foto-foto yang menceritakan perjalanan hidup Bung Hatta, mulai dari masa kecil hingga Bung Hatta menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.[2]

Lihat pula

  • Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Referensi

  1. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-08-21. Diakses tanggal 2019-08-21.
  2. 1 2 3 4 Fadhila, Fitria (2019-01-14). "PERLINDUNGAN SITUS CAGAR BUDAYA ISTANA BUNG HATTA OLEH PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT". Universitas Andalas.
  3. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-30. Diakses tanggal 2021-10-30.
  4. ↑ Bung Hatta mengabdi pada tjita-tjita perdjoangan bangsa (dalam bahasa Melayu). Panitia Peringatan Ulang Tahun Bung Hatta ke-70. 1972.
  5. ↑ Joenoes, Marah (2001). Mr. H. Sutan Mohammad Rasjid: perintis kemerdekaan, Mahaputra Adipradana, mantan Gubernur Militer Sumatera Tengah, mantan Duta Besar RI di Roma, pejuang tangguh, berani, dan jujur. Mutiara Sumber Widya.
  6. ↑ Mestika Zed (1995). Sumatera Barat di Panggung Sejarah, 1945–1995. Bidang Penerbitan Khusus, Panitia Peringatan 50 Tahun RI, Sumatera Barat.
  7. ↑ Mestika Zed (1995). Sumatera Barat di Panggung Sejarah, 1945–1995. Bidang Penerbitan Khusus, Panitia Peringatan 50 Tahun RI, Sumatera Barat.
  8. ↑ Mingguan Djaja. Pembangunan Ibu Kota Djakarta Raya. 1965.
  9. ↑ Navis, A. A.; Yusra, Abrar (1994). Otobiografi A.A. Navis: satiris dan suara kritis dari daerah. Panitia Peringatan 70 Tahun Sastrawan A.A. Navis & Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-605-141-0.
  10. ↑ Chaniago, Hasril (1998). Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa: Gubernur di tengah pergolakan. Pustaka Sinar Harapan. ISBN 978-979-416-582-9.
  11. ↑ Karsyah, Lindo (2005). Dari Gubernur M. Nasroen sampai Zainal Bakar, 1947-2005. Genta Singgalang Press. ISBN 978-979-99712-0-3.
  • l
  • b
  • s
Cagar budaya peringkat nasional di Indonesia
Kategori
Benda

  • Arca Bhairawa
  • Arca Buddha Dipangkara
  • Arca Durga Mahisasuramardhini
  • Arca Harihara
  • Arca Prajnyaparamita
  • Bendera Pusaka
  • Biola WR Supratman
  • Bokor emas cerita Ramayana
  • Mahkota Sultan Siak
  • Kakawin Nagarakretagama
  • Lukisan Penangkapan Diponegoro
  • Lukisan Pengantin Revolusi
  • Lukisan Prambanan/Seko
  • Naskah Proklamasi
  • Prasasti Ciaruteun
  • Prasasti Cidanghiang
  • Prasasti Jambu
  • Prasasti Kebonkopi I
  • Prasasti Muara Cianten
  • Prasasti Pasir Awi
  • Prasasti Yupa
  • Teks Proklamasi
  • Tengkorak Manusia Fosil Ngawi I
Bangunan

  • Benteng Belgica
  • Benteng Duurstede
  • Benteng Marlborough
  • Benteng Van der Wijck
  • Benteng Vastenburg
  • Gedung Bank Indonesia
  • Gedung Dwi Warna
  • Gedung Merdeka
  • Gedung NIAS
  • Gedung Pancasila
  • Gedung Perundingan Linggarjati
  • Gedung Petronella
  • Gedung PTPN XI Surabaya
  • GPIB Immanuel Jakarta
  • GPIB Sion Jakarta
  • Hotel Majapahit
  • Hotel Savoy Homann
  • Candi Jabung
  • Kantor Pos Besar Bandung
  • Lawang Sewu
  • Masjid Agung Surakarta
  • Monumen Pers Nasional
  • Museum Asi Mbojo
  • Museum Geologi Bandung
  • Gedung Kebangkitan Nasional
  • Museum Nasional
  • Museum Sumpah Pemuda
  • Observatorium Bosscha
  • Pesanggrahan Ngeksiganda
  • Rumah Pengasingan Bung Hatta
  • Rumah Pengasingan Bung Karno
  • Rumah Rasuna Said
  • Eks Rumah Raden Saleh
  • RSUP dr. Kariadi
  • Rumah Tjong A Fie
  • Rumah W. R. Soepratman
  • Stasiun Yogyakarta
Struktur

  • Makam Imam Bonjol
  • Tugu Jong Soematra
  • Tugu Muda
  • Tugu Lilin
  • Tugu Pahlawan
  • Jembatan Lama Kota Kediri
Situs

  • Benteng Oranje
  • Benteng Victoria
  • Candi Ceto
  • Candi Jawi
  • Candi Penataran
  • Fort Rotterdam
  • Gereja Katedral Jakarta
  • Gua Braholo
  • Gua Sunyaragi
  • GPIB Immanuel Semarang
  • Gunung Padang
  • Istana Bung Hatta
  • Kalimbuang Bori
  • Kete Kesu
  • Leang Timpuseng
  • Liang Bua
  • Makam Kyai Mojo
  • Masjid Agung Demak
  • Masjid Istiqlal
  • Masjid Raya Al-Ma’shun
  • Museum KA Ambarawa
  • Museum Kirti Griya
  • Perahu Kuno Rembang
  • Pugung Raharjo
  • Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soerojo
  • Stasiun Radio AURI
Kawasan

  • Bawomataluo
  • Borobudur
  • Candi Arjuna
  • Candi Gedong Songo
  • Candi Prambanan
  • Keraton Surakarta
  • Candi Muaro Jambi
  • Kota Lama Sawahlunto
  • Sangiran
  • Trowulan

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Pembangunan kembali
  3. Bangunan
  4. Lihat pula
  5. Referensi

Artikel Terkait

Daftar cagar budaya di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Cagar budaya Indonesia

tinjauan umum mengenai kekayaan budaya menurut peraturan perundang-undangan Indonesia

Museum Nasional Indonesia

museum di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026