Raden Mas Djajeng Pratomo adalah seorang aktivis Indonesia yang aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda. Selain menjadi aktivis kemerdekaan Indonesia, ia juga dikenal karena pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Belanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Raden Mas Djajeng Pratomo (EYD: Raden Mas Jayeng Pratomo; 22 Februari 1914 – 15 Februari 2018)[1] adalah seorang aktivis Indonesia yang aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda. Selain menjadi aktivis kemerdekaan Indonesia, ia juga dikenal karena pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Belanda.
Djajeng lahir di Bagansiapiapi, Sumatera Utara pada tanggal 22 Februari 1914 dengan nama Amirool Koesno dari pasangan Raden Pratomo dan Raden Sujatilah.[2] Ayahnya, Raden Mas Pratomo, merupakan keturunan Pakualaman dan dikenal sebagai salah satu dokter lulusan STOVIA pertama; namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit di Rokan Hilir, Riau.[3][4] Pada usia 7 tahun, Djajeng pindah ke Medan untuk masuk sekolah dasar, kemudian melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta dan di Koning Willem School Batavia. Setelah lulus, dia mengenyam pendidikan kedokteran di Medische School (Leiden), kemudian pindah ke Economische Hogeschool di Rotterdam setahun kemudian.[2]
Kegiatan pergerakan Djajeng dimulai dengan partisipasinya sebagai penari dan penabuh gamelan Jawa di kelompok musik Insulinde.[5] Kegiatan kesenian Insulinde menjadi salah satu sumber keuangan dalam berlangsungnya kegiatan Perhimpunan Indonesia.[5][6] Selain itu, Djajeng bersama kelompok Insulinde juga sering terlibat dalam program cetusan organisasi pemuda Roekoen Peladjar Indonesia (Roepi).[6] Namun saat Jerman berhasil menduduki Belanda, kegiatan Insulinde harus berhenti akibat nota dari Kulturkamer (Dewan Budaya) yang menolak kaum Indonesia terlibat dalam kegiatan kebudayaan. Dengan kondisi ini, Djajeng kemudian aktif melawan fasisme dengan melakukan penerbitan bawah tanah dibantu oleh Stennie Gret yang saat itu bekerja untuk De Waarheid.[7][5] Untuk mengurangi resiko aktivitasnya, Djajeng dipindahkan ke Den Haag oleh Perhimpunan Indonesia tetapi akhirnya ditangkap oleh tentara Nazi pada 18 Januari 1943.[7] Djajeng dimasukkan ke kamp konsentrasi Vught kemudian dipindah ke kamp konsentrasi Dachau. Saat berada di kamp Dachau, Djajeng dipaksa untuk bekerja di pabrik pesawat dan dijadikan sebagai perawat bagian barak rumah sakit.[8] Pada akhirnya, ia dibebaskan pada 29 April 1945 oleh tentara Amerika Serikat.[5]
Setelah dibebaskan, Djajeng kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Indonesia. Dia diminta oleh pengurus Perhimpunan Indonesia untuk tetap tinggal di Belanda dan diperbantukan di Kementerian Penerangan.[5] Pada saat Agresi Militer I meletus, Djajeng bersama Perhimpunan Indonesia turut menggelar demonstrasi di Amsterdam.[4] Pada tahun 1948 dan 1965, Djajeng bermaksud kembali ke Indonesia, tetapi gagal karena terjadinya Peristiwa Madiun dan peristiwa 1965. Akibat dari serangkaian peristiwa tersebut, ia memutuskan untuk memindah kewarganegaraannya pada tahun 1975.[4] Meskipun begitu, Djajeng dan istrinya akhirnya berkesempatan untuk berkunjung ke Indonesia pada tahun 1996.[7]
Djajeng menikah pada Februari 1946 dengan Stijntje "Stennie" Gret yang dulu bekerja untuk surat kabar Partai Komunis Belanda, De Waarheid.[5][9] Djajeng dan Stennie pertama kali bertemu di sebuah toko buku di Rotterdam pada tahun 1937.[5] Keduanya memiliki ketertarian yang sama tentang kebudayaan Indonesia khususnya pada seni tari Jawa.[5] Sejak saat itu, Stennie mendampingi Djajeng dalam kiprah politiknya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.[7] Mereka sempat terpisah karena sama-sama dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi dan baru bertemu kembali pada September 1945.[9]
Pada masa tuanya, Djajeng hidup di sebuah panti wreda di Belanda.[5] Djajeng wafat pada tanggal 15 Februari 2018.[1]