Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Gamelan Jawa

Gamelan Jawa merupakan suatu orkestra tradisional dari Jawa yang memanfaatkan berbagai instrumen perkusi, termasuk metalofon, gambang, gendang, serta gong. Suara yang dihasilkan berasal dari kombinasi bunyi gong, kenong, dan alat musik tradisional lainnya. Karakter musiknya cenderung halus dan menenangkan, mencerminkan filosofi keselarasan dan harmoni yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Jawa secara umum.

Wikipedia article
Diperbarui 20 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gamelan Jawa
Beberapa instrumen gamelan Jawa

Gamelan Jawa merupakan suatu orkestra tradisional dari Jawa yang memanfaatkan berbagai instrumen perkusi, termasuk metalofon, gambang, gendang, serta gong. Suara yang dihasilkan berasal dari kombinasi bunyi gong, kenong, dan alat musik tradisional lainnya. Karakter musiknya cenderung halus dan menenangkan, mencerminkan filosofi keselarasan dan harmoni yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Jawa secara umum.[1]

Sejarah gamelan Jawa

Gamelan Jawa diperkirakan mulai berkembang sekitar tahun 326 Saka atau 404 Masehi seiring dengan perkembangan budaya di tanah Jawa. Pada masa tersebut, masyarakat Jawa mengalami transformasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh masuknya budaya Hindu dan Buddha. Pengaruh ini turut memperkaya pemahaman masyarakat tentang bunyi-bunyian alam, seperti kicauan burung serta suara kuda dan gajah, yang kemudian menginspirasi terbentuknya pola-pola irama sederhana pada alat musik pukul seperti kendang, ketipung, dan sejenisnya. Perkembangan ini pada akhirnya mendorong terbentuknya seperangkat instrumen musik yang lebih terstruktur yang kemudian dikenal sebagai gamelan.[2]

Gambaran awal instrumen gamelan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-8. Pada relief tersebut dapat dikenali berbagai instrumen seperti kendang bertali yang digantung di leher, kendang berbentuk periuk, siter, kecapi, simbal, suling, saron, dan gambang. Sementara itu, pada Candi Prambanan juga ditemukan penggambaran instrumen seperti kendang silindris, kendang cembung, kendang berbentuk periuk, simbal (kecer), dan suling.[3]

Relief candi-candi di Jawa Timur juga menunjukkan keberadaan instrumen gamelan pada masa tersebut. Di Candi Ngrimbi (abad ke-13) misalnya, terdapat penggambaran instrumen reyong. Di Candi Jago (abad ke-13) ditemukan instrumen petik seperti kecapi berleher panjang dan celempung. Relief gong besar terdapat di Candi Kedaton (abad ke-14), sedangkan Candi Tegawangi menampilkan kendang silindris. Pada Candi Induk Panataran (abad ke-14) terdapat berbagai instrumen seperti gong, bende, kemanak, kendang, gambang, reyong, dan simbal. Sementara itu, Candi Sukuh (abad ke-15) menampilkan relief bende dan terompet.[2]

Dalam perkembangan mitologisnya, gamelan juga dikaitkan dengan tokoh dewa yang disebut Barthara Guru atau Sang Hyang Guru yang mendiami Gunung Mahendra atau saat ini lebih terkenal dengan sebutan Gunung Lawu. Barthara Guru digambarkan menciptakan gong sebagai alat untuk memanggil arwah leluhur atau dewa. Pada masa awal, instrumen musik diperkirakan masih berbentuk sederhana seperti membranofon yang terbuat dari kulit hewan yang direntangkan, serta alat pukul yang masih berbentuk sangat sederhana.[1]

Pada masa awal perkembangan, gamelan dibuat dari bahan-bahan alami seperti kayu, batu, tulang, dan kulit hewan. Seiring waktu, perkembangan teknologi dan kreativitas masyarakat Jawa menghasilkan gamelan yang lebih kompleks hingga terbentuk seperangkat gamelan lengkap yang disebut gamelan gedhe atau gamelan jangkep. Saat ini, gamelan umumnya dibuat dari logam seperti besi, kuningan, atau perunggu, bahkan dalam beberapa kasus juga dipadukan dengan bahan lain. Kualitas gamelan biasanya dibedakan berdasarkan materialnya, mulai dari besi (kualitas rendah), kuningan (kualitas sedang), hingga perunggu (kualitas tinggi).[2]

Asal-usul nama gamelan

Nama gamelan sendiri sebenarnya berasal dari dua suku kata "gamel" dan "an". Adapun Gamel dalam bahasa Jawa berarti palu,[3] sedangkan an dalam bahasa Jawa berarti kata benda.[4] Jadi gamelan merupakan suatu aktivitas menabuh yang dilakukan oleh orang zaman dahulu yang kemudian menjadi nama alat musik ansambel.

Sistem nada

Instrumen gamelan dimainkan dengan sistem nada (laras) pelog dan slendro. Laras pelog merupakan susunan nada yang dalam satu gemyang terdiri atas lima nada dengan jarak yang tidak sama. Sementara itu, laras slendro adalah rangkaian nada yang juga berjumlah lima dalam satu gemyang, tetapi jaraknya relatif merata.[3][1]

Alat-alat musik

Dari Kanan, Demung, Saron, dan Peking.

Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut:

  • Kendang[5]
  • Bonang[6]
  • Bonang Penerus[7]
  • Demung[8]
  • Saron[9]
  • Peking (Gamelan)[10]
  • Kenong[11] & Kethuk[12]
  • Slenthem[13]
  • Gender[14]
  • Gong[15]
  • Gambang[8]
  • Rebab[9]
  • Siter[16]
  • Suling[17]
  • Kempul[11]

Ciri dan peran masing-masing dari perangkat gamelan

Kendhang

Kendhang berfungsi untuk mengatur tempo dalam permainan gamelan dan perannya paling utama.[18][19]

Bonang yang dipegang seorang "Player" (Kiri)

Bonang & Bonang Panerus

Bonang Barung adalah salah satu instrumen pemimpin, perannya lebih penting daripada Bonang Panerus. Bonang Panerus dimainkan dua kali lebih cepat dari Bonang Barung[20][7]

Demung

Demung merupakan salah satu instrumen dalam gamelan yang berfungsi sebagai balungan atau kerangka dasar dari suatu gendhing yang dimainkan.[21][22] Instrumen ini berperan sebagai pembawa melodi pokok sehingga menjadi acuan bagi instrumen lain dalam menyusun dan mengembangkan keseluruhan musik. Oleh karena itu, demung sering disebut sebagai instrumen melodi dasar dalam ansambel gamelan.[23] Pemain demung umumnya memiliki insting musikal yang kuat untuk menjaga ketepatan nada, tempo, serta keselarasan dengan instrumen lain. Secara klasifikasi, demung termasuk dalam keluarga balungan, yaitu kelompok instrumen yang bertugas menyajikan garis melodi inti dalam komposisi gamelan[21].[22]

Saron

Saron merupakan salah satu instrumen dalam gamelan yang umumnya berjumlah empat buah dalam satu set.[24] Instrumen ini termasuk dalam keluarga balungan, yaitu kelompok instrumen yang menyajikan garis melodi inti dalam suatu gendhing.[25][26] Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi dibandingkan demung, sehingga berperan dalam memperjelas dan memperkuat susunan melodi dasar.[24] Dalam teknik permainannya, saron menggunakan pola khusus, yakni tangan kanan menabuh bilah untuk menghasilkan nada berikutnya, sementara tangan kiri menyentuh bilah yang telah dipukul sebelumnya untuk meredam sisa dengungan agar tidak bertumpuk.[27]

Peking

Peking merupakan salah satu instrumen dalam gamelan yang termasuk dalam keluarga balungan, yaitu kelompok instrumen yang berfungsi menyajikan garis melodi inti dalam suatu gendhing. Dalam peranannya, peking memiliki kedudukan yang lebih menonjol dibandingkan engkuk, meskipun engkuk dimainkan dengan kecepatan dua kali lipat dari balungan. Peking berkontribusi dalam mempertegas dan memperkaya pola melodi dasar melalui permainan yang lebih rapat dan bernada tinggi dalam struktur ansambel gamelan.[28][29]

Kenong dan Kethuk

Kenong dan kethuk merupakan instrumen dalam gamelan yang memiliki bentuk menyerupai gong, namun berukuran lebih kecil dibandingkan gong dan lebih besar daripada bonang.[12][30] Keduanya termasuk dalam kelompok instrumen pencon dan berperan dalam menandai struktur serta pembagian waktu dalam suatu gendhing. Dalam permainannya, kenong dan kethuk ditabuh menggunakan tongkat khusus yang berlapis untuk menghasilkan bunyi yang jelas dan terkontrol.[31][32]

Slenthem

Slenthem merupakan salah satu instrumen dalam gamelan yang memiliki kemiripan dengan demung, namun bilahnya lebih tipis dan menghasilkan nada satu oktaf lebih rendah. Instrumen ini termasuk dalam keluarga balungan dan berperan dalam menyajikan garis melodi dasar dengan warna suara yang lebih dalam. Dalam permainannya, slenthem ditabuh menggunakan tongkat berbentuk bundar yang berbalut kain untuk menghasilkan bunyi yang lembut dan beresonansi.[33]

Gambang

Gambang merupakan salah satu instrumen dalam gamelan yang terdiri atas 18 bilah kayu yang diletakkan di atas sebuah resonator berbentuk perahu.[34][35][36] Instrumen ini dimainkan menggunakan dua alat pemukul, sehingga memungkinkan penyajian pola melodi yang lebih lincah dan variatif. Gambang memiliki jangkauan tangga nada yang mencakup nada mayor dan minor.[37]

Rebab

Rebab merupakan salah satu alat musik gesek dalam gamelan yang terbuat dari bahan kayu. Instrumen ini dimainkan dengan cara digesek menggunakan busur, sehingga menghasilkan bunyi yang khas dan lembut.[38][39] Dalam pertunjukan gamelan, rebab berfungsi sebagai pembawa melodi yang sering mengiringi sinden saat bernyanyi, serta memperkuat nuansa ekspresif dalam sajian gendhing.[40]

Siter

Siter merupakan salah satu instrumen petik dalam gamelan yang umumnya memiliki panjang sekitar 30 cm dengan jumlah senar berkisar antara 11 hingga 13 buah.[24][41] Instrumen ini menghasilkan bunyi yang khas melalui petikan senarnya, yang memberi warna tersendiri dalam ansambel gamelan. Siter memiliki senar yang disetel sesuai sistem nada slendro dan pelog, sehingga dapat digunakan dalam berbagai gendhing dengan laras yang berbeda.[41]

Referensi

  1. 1 2 3 "Gamelan Jawa » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-28.
  2. 1 2 3 Indriani, Silvia (2017). Katalog Gamelan Jawa: Etnis Jawa Timur (Edisi Pertama). PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 12–15. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia (PDF). Jakarta: Museum Nasional.
  4. ↑ Sugiarto, R. Toto (2016-01-01). Ensiklopedi Seni Dan Budaya 2: Alat Musik Tradisional. Media Makalangan. hlm. 39. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 48
  6. ↑ Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.44 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  7. 1 2 Spiller, Henry (2008). Focus : Gamelan music of Indonesia. Internet Archive. New York : Routledge. hlm. 80. ISBN 978-0-415-96067-0. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. 1 2 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
  9. 1 2 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 54
  10. ↑ Pickvance, Richard (2005). A Gamelan Manual: A Player's Guide to the Central Javanese Gamelan (dalam bahasa Inggris). Jaman Mas Books. ISBN 978-0-9550295-0-9.
  11. 1 2 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 51
  12. 1 2 Nurwanti, Y. H., & Munawaroh, S. (2019). Dhangglung Lumajang: Pertunjukan dan pelestarian (Ed. 1). BPNB D.I. Yogyakarta. hlm. 59
  13. ↑ Sugiarto, R. Toto (2016-01-01). Ensiklopedi Seni Dan Budaya 2: Alat Musik Tradisional. Media Makalangan. hlm. 42. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
  15. ↑ "Gong | Asian origin, percussion, metal | Britannica". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-05.
  16. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 55
  17. ↑ Zanten, Wim van (1989). Sundanese Music in the Cianjuran Style: Anthropological and Musicological Aspects of Tembang Sunda (dalam bahasa Inggris). Foris Publications. hlm. 99. ISBN 978-90-6765-455-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. ↑ REGINA, BELINDA DEWI (2025-04-15). SENI BUDAYA JAWA DAN KARAWITAN SEKOLAH DASAR (Ungkapan Keindahan dalam Sebuah Musik Gamelan). UMMPress. hlm. 134. ISBN 978-979-796-980-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ↑ Benamou, Marc (2010-09-02). RASA: Affect and Intuition in Javanese Musical Aesthetics (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 130. ISBN 978-0-19-971995-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  20. ↑ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awrx_LgEnIRp.wEA0V3LQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771507972/RO=10/RU=https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230606113530-569-958153/alat-musik-bonang-jenis-fungsi-dan-cara-memainkan/RK=2/RS=4yyDTgXCNfK.fdh.34CYuGJPu_8-. Diakses tanggal 2026-02-05.
  21. 1 2 Sugiarto, R. Toto (2016-01-01). Ensiklopedi Seni Dan Budaya 2: Alat Musik Tradisional. Media Makalangan. hlm. 38. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. 1 2 "Mengenal Alat Musik Saron dalam Gamelan Jawa dan Cara Memainkannya". www.orami.co.id. 2021-08-02. Diakses tanggal 2024-05-10.
  23. ↑ M.Pd, Prof Dr Suryanti; M.Pd, Dr Ari Metalin Ika Puspita, S. Pd SD; Roifah, Miftakhur; Utari, Risna Silvi Dwi; Budiantoro, Eko; Rahmawati, Yeni; Listyowati, Enik; Hartik; Lamin (2025-04-21). Desain Etnopedagogi Berkelanjutan dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar : Kearifan Lokal Gresik. Indonesia Emas Group. hlm. 153. ISBN 978-623-8762-48-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  24. 1 2 3 dkk, R. Toto Sugiarto (2021-05-02). Ensiklopedi Alat Musik Tradisional: D.K.I Jakarta hingga Kalimantan Selatan. Hikam Pustaka. ISBN 978-623-311-195-9.
  25. ↑ Becker, Judith; Feinstein, Alan H. (2020-08-06). Karawitan: Source Readings in Javanese Gamelan and Vocal Music, Volume 1 (dalam bahasa Inggris). University of Michigan Press. ISBN 978-0-472-90164-7.
  26. ↑ Balungan: A Publication of the American Gamelan Institute (dalam bahasa Inggris). American Gamelan Institute for Music and Education. 1998.
  27. ↑ "Nama-Nama Alat Musik Gamelan, Fungsi, dan Cara Memainkannya". edukasi. Diakses tanggal 2026-02-05.
  28. ↑ "Mengenal Alat Musik Saron dalam Gamelan Jawa dan Cara Memainkannya". www.orami.co.id. 2021-08-02. Diakses tanggal 2026-02-05.
  29. ↑ DeBouzek, Jeanette (1985). The Five Brothers: Javanese Systems of Symbolic Classification (dalam bahasa Inggris). University of California, Berkeley.
  30. ↑ Seni pertunjukan Indonesia. Masyarakat Musikologi Indonesia,1990. 1991. hlm. 141. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  31. ↑ Sugita, Nabila Meidy. "17 Instrumen dalam Gamelan Jawa". detikjatim. Diakses tanggal 2024-05-10.
  32. ↑ Waluyo, Djoko; et al. (Sarasehan Empu Karawitan 1985) (1990). Karawitan Cara Ngayogyakarta Hadiningrat: Kempyang Kethuk Kenong Kempul Gong. hlm.3. Yogyakarta : Taman Budaya Yogyakarta
  33. ↑ "8.1 Slenthem – Nada Indonesia". Diakses tanggal 2026-02-05.
  34. ↑ Sugiarto, R. Toto (2016-01-01). Ensiklopedi Seni Dan Budaya 2: Alat Musik Tradisional. Media Makalangan. hlm. 38. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  35. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
  36. ↑ Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.4 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  37. ↑ Peralatan hiburan dan kesenian tradisional Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Proyek Pengkajian Dan Pembinaan, Nilai-Nilai Budaya, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 1998.
  38. ↑ Liputan6.com (2023-10-05). "Cara Memainkan Rebab, Pahami Teknik-teknik Bermainnya". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-02-05. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  39. ↑ Ensiklopedi nasional Indonesia. Vol. 14. Cipta Adi Pustaka. 1990. hlm. 122. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  40. ↑ Khuluq, Akhmalul (2016-06-18). Alat Musik Tradisional Nusantara. JPBOOKS. ISBN 978-602-206-480-0.
  41. 1 2 Harmony, A.R. (2012). Teknik dan cengkok siteran Jawa pada Ketawang Puspowarno Laras Slendro Pathet Manyuro (PDF) (S1). Jakarta: Jurusan Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s
Ikon rintisan

Artikel bertopik alat musik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah gamelan Jawa
  2. Asal-usul nama gamelan
  3. Sistem nada
  4. Alat-alat musik
  5. Ciri dan peran masing-masing dari perangkat gamelan
  6. Kendhang
  7. Bonang & Bonang Panerus
  8. Demung
  9. Saron
  10. Peking
  11. Kenong dan Kethuk
  12. Slenthem
  13. Gambang
  14. Rebab
  15. Siter
  16. Referensi

Artikel Terkait

Gamelan

ansambel musik tradisional Jawa

Notasi gamelan

Notasi gamelan adalah penggunaan notasi musik dan partitur dalam penciptaan komposisi musik gamelan (gendhing). Dalam sejarahnya, notasi gamelan sangat

Gamelan sekaten

jenis gamelan untuk acara Sekaten

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026