Cad, dengan nama resmi Republik Cad, adalah negara yang terkurung daratan di persimpangan Afrika Utara dan Afrika Tengah. Negara ini berbatasan dengan Libya di utara, Sudan di timur, Republik Afrika Tengah di selatan, Kamerun dan Nigeria di barat daya, serta Niger di barat. Cad memiliki populasi sebanyak 19 juta jiwa, dengan 1,6 juta di antaranya tinggal di ibu kota sekaligus kota terbesarnya, N'Djamena. Dengan luas wilayah sekitar 1.300.000 km², Cad merupakan negara terbesar kelima di Afrika dan negara terbesar ke-20 di dunia berdasarkan luas wilayah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Republik Cad | |
|---|---|
Lokasi Chad (hijau tua) – di Afrika (biru muda & kelabu tua) | |
| Ibu kota | N'Djamena 12°6′N 16°2′E / 12.100°N 16.033°E / 12.100; 16.033 |
| Bahasa resmi | Prancis dan Arab |
| Pemerintahan | Republik presidensial |
• Presiden | Mahamat Déby |
| Allamaye Halina | |
| Legislatif | Dewan Transisi Nasional |
| Kemerdekaan | |
• Dari Prancis | 11 Agustus 1960 |
| Luas | |
- Total | 1.284.000 km2 (20) |
| 1,9 | |
| Populasi | |
- Perkiraan 2022 | 17.963.211[1] (67) |
| 8,6/km2 | |
| PDB (KKB) | 2018 |
- Total | $30 miliar[2] (123) |
| $2.428[2] (168) | |
| PDB (nominal) | 2018 |
- Total | $11 miliar[2] (130) |
| $890[2] (151) | |
| Gini (2018) | 37,5[3] sedang |
| IPM (2021) | rendah · 190 |
| Mata uang | Franc CFA Afrika Tengah (FCFA) ( XAF) |
| Zona waktu | Waktu Afrika Barat (WAT) (UTC+1) |
| Lajur kemudi | kanan |
| Kode telepon | +235 |
| Kode ISO 3166 | TD |
| Ranah Internet | .td |
Cad,[a] dengan nama resmi Republik Cad,[b] adalah negara yang terkurung daratan di persimpangan Afrika Utara dan Afrika Tengah. Negara ini berbatasan dengan Libya di utara, Sudan di timur, Republik Afrika Tengah di selatan, Kamerun dan Nigeria di barat daya (di sekitar Danau Chad), serta Niger di barat. Cad memiliki populasi sebanyak 19 juta jiwa, dengan 1,6 juta di antaranya tinggal di ibu kota sekaligus kota terbesarnya, N'Djamena. Dengan luas wilayah sekitar 1.300.000 km²,[5] Cad merupakan negara terbesar kelima di Afrika dan negara terbesar ke-20 di dunia berdasarkan luas wilayah.
Cad memiliki beberapa wilayah geografis, yakni gurun Sahara di utara, zona kering Sahel di bagian tengah, dan zona sabana Sudan yang lebih subur di selatan. Danau Chad, yang menjadi asal nama negara ini, merupakan lahan basah terbesar kedua di Afrika. Bahasa resmi Cad adalah Arab dan Prancis.[6] Negara ini dihuni oleh lebih dari 200 kelompok etnis dan bahasa. Islam (55,1%) dan Kristen (41,1%) adalah agama utama yang dianut di Cad.[7][8]
Sejak milenium ke-7 SM, manusia mulai bermigrasi secara besar-besaran ke wilayah cekungan Cad. Menjelang akhir milenium pertama Masehi, serangkaian negara dan kekaisaran muncul dan runtuh di jalur Sahel Cad, masing-masing berfokus pada penguasaan rute perdagangan lintas Sahara yang melintasi wilayah tersebut. Prancis menaklukkan wilayah ini pada tahun 1920 dan memasukkannya sebagai bagian dari Afrika Khatulistiwa Prancis. Pada tahun 1960, Cad memperoleh kemerdekaan di bawah kepemimpinan François Tombalbaye. Ketidakpuasan terhadap kebijakannya di wilayah utara yang mayoritas Muslim memicu pecahnya perang saudara berkepanjangan pada tahun 1965. Pada tahun 1979, kelompok pemberontak berhasil merebut ibu kota dan mengakhiri dominasi wilayah selatan. Para komandan pemberontak kemudian saling bertikai hingga Hissène Habré berhasil mengalahkan rival-rivalnya. Konflik Cad–Libya meletus pada tahun 1978 akibat invasi Libya dan berakhir pada tahun 1987 setelah intervensi militer Prancis (Operasi Épervier). Hissène Habré kemudian digulingkan pada tahun 1990 oleh jenderalnya sendiri, Idriss Déby. Dengan dukungan Prancis, modernisasi Angkatan Bersenjata Cad dimulai pada tahun 1991. Sejak tahun 2003, krisis Darfur di Sudan meluas hingga melintasi perbatasan dan menyebabkan ketidakstabilan di Cad. Negara yang sudah miskin ini kesulitan menampung ratusan ribu pengungsi Sudan di wilayah timur Cad.
Meskipun banyak partai politik berpartisipasi dalam lembaga legislatif Cad, yaitu Majelis Nasional, kekuasaan tetap terpusat di tangan Gerakan Pembebasan Patriotik selama masa kepresidenan Idriss Déby, yang pemerintahannya digambarkan sebagai otoriter.[9][10][11] Setelah Presiden Déby tewas dalam pertempuran dengan pemberontak FACT pada April 2021, Dewan Militer Transisi yang dipimpin oleh putranya, Mahamat Déby, mengambil alih pemerintahan dan membubarkan Majelis tersebut.[12] Cad terus dilanda kekerasan politik dan upaya kudeta yang berulang. Negara ini menempati peringkat keempat terendah dalam Indeks Pembangunan Manusia dan termasuk di antara negara termiskin dan paling korup di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan sebagai peternak dan petani subsisten. Sejak tahun 2003, minyak mentah menjadi sumber utama pendapatan ekspor negara ini. Cad memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk.
Pada milenium ke-7 SM, kondisi ekologi di bagian utara wilayah Cad mendukung pemukiman manusia, dan populasinya meningkat secara signifikan. Beberapa situs arkeologi terpenting di Afrika ditemukan di Cad, terutama di Region Borkou-Ennedi-Tibesti; beberapa di antaranya berasal dari sebelum tahun 2000 SM.[13][14]

Selama lebih dari 2.000 tahun, Cekungan Cad telah dihuni oleh masyarakat agraris dan menetap. Wilayah ini menjadi titik pertemuan berbagai peradaban. Yang paling awal di antaranya adalah Sao yang legendaris, dikenal melalui artefak dan sejarah lisan. Peradaban Sao ditaklukkan oleh Kekaisaran Kanem,[15][16] yang merupakan kekaisaran pertama dan paling lama bertahan di jalur Sahel Cad menjelang akhir milenium pertama Masehi. Dua negara lain di wilayah ini, Kesultanan Bagirmi dan Kekaisaran Wadai, muncul pada abad ke-16 dan ke-17. Kekuatan Kanem dan para penerusnya didasarkan pada penguasaan jalur perdagangan trans-Sahara yang melintasi wilayah tersebut.[14] Negara-negara ini, yang setidaknya secara tersirat beragama Islam, tidak pernah memperluas kekuasaannya ke padang rumput di selatan, kecuali untuk melakukan perburuan budak.[17] Di Kanem, sekitar sepertiga dari populasinya adalah budak.[18]

Ekspansi kolonial Prancis menyebabkan terbentuknya Territoire Militaire des Pays et Protectorats du Tchad pada tahun 1900. Pada tahun 1920, Prancis berhasil menguasai wilayah ini sepenuhnya dan memasukkannya sebagai bagian dari Afrika Khatulistiwa Prancis.[19] Pemerintahan kolonial Prancis di Cad ditandai oleh tidak adanya kebijakan untuk menyatukan wilayah ini serta lambatnya proses modernisasi dibandingkan dengan koloni Prancis lainnya.[20]
Prancis memandang koloni ini terutama sebagai sumber tenaga kerja yang tidak terlatih dan kapas mentah yang tidak penting. Produksi kapas skala besar mulai diperkenalkan pada tahun 1929. Pemerintahan kolonial di Cad mengalami kekurangan tenaga kerja yang parah dan harus bergantung pada aparatur sipil Prancis kelas bawah. Hanya wilayah Sara di selatan yang dikelola secara efektif; kehadiran Prancis di wilayah utara dan timur yang mayoritas Islam bersifat nominal. Sistem pendidikan sangat terdampak oleh pengabaian ini.[14][20]
Fokus pemerintahan Prancis pada kapas menyebabkan terbentuknya kelas bawah yang rapuh, terdiri dari pekerja pedesaan dengan upah rendah, penurunan produksi pangan, bahkan kelaparan di beberapa wilayah.[21] Ketegangan antara petani dan elit memuncak pada peristiwa pembantaian Bébalem tahun 1952 oleh otoritas kolonial.[22][23]

Setelah Perang Dunia II, Prancis memberikan status wilayah seberang laut kepada Cad dan memberikan hak kepada penduduknya untuk memilih perwakilan di Majelis Nasional serta di majelis Cad sendiri. Partai politik terbesar saat itu adalah Partai Progresif Cad (bahasa Prancis: Parti Progressiste Tchadiencode: fr is deprecated , PPT), yang berbasis di wilayah selatan koloni. Cad memperoleh kemerdekaan pada 11 Agustus 1960 dengan pemimpin PPT, François Tombalbaye, yang berasal dari etnis Sara, sebagai presiden pertamanya.[14][25][26]
Dua tahun kemudian, Tombalbaye melarang partai-partai oposisi dan mendirikan sistem satu partai. Pemerintahannya yang otokratis dan pengelolaan yang tidak sensitif memperparah ketegangan antar etnis. Pada tahun 1965, umat Muslim di utara, yang dipimpin oleh Front Pembebasan Nasional Cad (bahasa Prancis: Front de libération nationale du Tchadcode: fr is deprecated , FRONILAT), memulai perang saudara. Tombalbaye digulingkan dan dibunuh pada tahun 1975,[27] tetapi pemberontakan tetap berlanjut. Pada tahun 1979, faksi-faksi pemberontak yang dipimpin oleh Hissène Habré merebut ibu kota, dan seluruh otoritas pusat di negara itu runtuh. Faksi-faksi bersenjata, banyak di antaranya berasal dari pemberontakan di utara, saling berebut kekuasaan.[28][29]
Runtuhnya kekuasaan di Cad menyebabkan posisi Prancis di negara itu ikut melemah. Libya mengambil kesempatan untuk mengisi kekosongan kekuasaan dan terlibat dalam perang saudara di Cad.[30] Rencana Libya berakhir dengan bencana pada tahun 1987; Presiden Hissène Habré, yang didukung oleh Prancis, memicu respons persatuan dari rakyat Cad yang belum pernah terjadi sebelumnya[31] dan berhasil memaksa tentara Libya mundur dari wilayah Cad.[32]
Habré mengonsolidasikan kediktatorannya melalui sistem kekuasaan yang bergantung pada korupsi dan kekerasan, dengan ribuan orang diperkirakan tewas selama masa pemerintahannya.[33][34] Presiden Habré memihak kelompok etnisnya sendiri, yaitu Toubou, dan mendiskriminasi mantan sekutunya, suku Zaghawa. Jenderalnya, Idriss Déby, menggulingkannya pada tahun 1990.[35] Upaya untuk mengadili Habré menyebabkan ia dikenai tahanan rumah di Senegal pada tahun 2005; pada tahun 2013, ia secara resmi didakwa atas kejahatan perang yang dilakukan selama masa kekuasaannya.[36] Pada Mei 2016, ia dinyatakan bersalah atas pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pemerkosaan, perbudakan seksual, dan perintah pembunuhan terhadap 40.000 orang, serta dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.[37]

Déby berupaya mendamaikan kelompok-kelompok pemberontak dan mengembalikan sistem politik multipartai. Masyarakat Cad menyetujui konstitusi baru melalui referendum, dan pada tahun 1996, Déby dengan mudah memenangkan pemilihan presiden yang bersifat kompetitif. Ia kembali terpilih untuk masa jabatan kedua lima tahun kemudian.[38] Eksploitasi minyak dimulai di Cad pada tahun 2003, yang sempat menimbulkan harapan bahwa negara ini akhirnya akan memperoleh kedamaian dan kemakmuran. Namun, justru ketidakpuasan internal semakin memburuk, dan perang saudara baru pun pecah. Déby secara sepihak mengubah konstitusi untuk menghapus batas dua masa jabatan presiden; hal ini memicu kemarahan dari masyarakat sipil dan partai-partai oposisi.[39]
Pada tahun 2006, Déby memenangkan masa jabatan ketiga dalam pemilu yang diboikot oleh pihak oposisi. Kekerasan antar etnis di Cad bagian timur meningkat; Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi memperingatkan bahwa genosida seperti di Darfur bisa saja terjadi di Cad.[40] Pada tahun 2006 dan 2008, pasukan pemberontak mencoba merebut ibu kota dengan kekuatan senjata, tetapi gagal dalam kedua upaya tersebut.[41] Kesepakatan untuk memulihkan hubungan antara Cad dan Sudan, yang ditandatangani pada 15 Januari 2010, menandai berakhirnya perang selama lima tahun.[42] Perbaikan hubungan ini menyebabkan para pemberontak Cad yang sebelumnya berbasis di Sudan kembali ke negara asal, perbatasan kedua negara dibuka kembali setelah tujuh tahun ditutup, dan pasukan gabungan dikerahkan untuk mengamankan perbatasan. Pada Mei 2013, pasukan keamanan Cad berhasil menggagalkan kudeta terhadap Presiden Idriss Déby yang telah dipersiapkan selama beberapa bulan.[43]
Cad menjadi salah satu mitra utama dalam koalisi Afrika Barat dalam memerangi Boko Haram dan militan Islam lainnya.[44] Militer Cad mengumumkan kematian Déby pada 20 April 2021, menyusul serangan kelompok FACT di wilayah utara, di mana presiden tewas dalam pertempuran di garis depan.[44] Putranya, Jenderal Mahamat Idriss Déby, ditunjuk sebagai presiden sementara oleh Dewan Transisi yang terdiri dari perwira militer. Dewan transisi tersebut menggantikan konstitusi dengan piagam baru yang memberikan kekuasaan presiden kepada Mahamat Déby dan menobatkannya sebagai kepala angkatan bersenjata.[12] Pada 23 Mei 2024, Mahamat Idriss Déby dilantik sebagai Presiden Cad setelah pemilu tanggal 6 Mei yang menuai sengketa.[45]

Cad merupakan negara besar yang terkurung daratan dan membentang di Afrika tengah-utara. Negara ini memiliki luas wilayah sebesar 1.284.000 kilometer persegi,[5] terletak di antara garis lintang 7° hingga 24° LU dan garis bujur 13° hingga 24° BT, menjadikannya negara terbesar ke-20 di dunia. Secara ukuran, Cad sedikit lebih kecil dari Peru dan sedikit lebih besar dari Afrika Selatan.[46][47]
Cad berbatasan di utara dengan Libya, di timur dengan Sudan, di barat dengan Niger, Nigeria, dan Kamerun, serta di selatan dengan Republik Afrika Tengah. Ibu kotanya, N'Djamena, berjarak sekitar 1.060 kilometer dari pelabuhan laut terdekat, yaitu Douala di Kamerun.[48][49] Karena jaraknya yang jauh dari laut serta iklimnya yang sebagian besar berupa gurun, Cad kadang disebut sebagai "Jantung Mati Afrika".[50]
Struktur fisik utama negara ini adalah cekungan luas yang dibatasi di utara dan timur oleh Dataran Tinggi Ennedi dan Pegunungan Tibesti, yang mencakup Emi Koussi, sebuah gunung berapi tidak aktif yang mencapai ketinggian 3.414 meter di atas permukaan laut. Danau Chad, yang menjadi asal nama negara ini (yang berasal dari kata Kanuri yang berarti "danau"),[51] merupakan sisa dari danau raksasa yang 7.000 tahun lalu menutupi wilayah seluas 330.000 kilometer persegi di Cekungan Chad.[48] Meskipun pada abad ke-21 luas permukaannya hanya sekitar 17.806 kilometer persegi dan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi musiman,[52] danau ini tetap menjadi lahan basah terbesar kedua di Afrika.[53]

Cad merupakan rumah bagi enam ekoregion daratan, yaitu sabana Sudan Timur, sabana Akasia Sahel, sabana tergenang Danau Chad, hutan kering pegunungan Sahara Timur, stepa dan hutan Sahara Selatan, serta hutan kering pegunungan Tibesti–Jebel Uweinat.[54] Padang rumput tinggi dan rawa-rawa luas di kawasan ini menjadikannya habitat yang mendukung bagi burung, reptil, dan mamalia besar. Sungai-sungai utama di Cad—yaitu Chari, Logone, dan anak-anak sungainya—mengalir melalui sabana di selatan dari arah tenggara menuju Danau Cad.[48][55]
Setiap tahun, sistem cuaca tropis yang dikenal sebagai Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis melintasi Cad dari selatan ke utara, membawa musim hujan yang berlangsung dari Mei hingga Oktober di selatan, dan dari Juni hingga September di wilayah Sahel.[56] Variasi curah hujan lokal menciptakan tiga zona geografis utama. Sahara terletak di sepertiga bagian utara negara ini. Curah hujan tahunan di wilayah ini berada di bawah 50 milimeter; hanya ada kebun-kebun kurma yang tumbuh secara alami dan sporadis, semuanya berada di selatan garis balik utara.[49]
Sahara kemudian beralih ke sabuk Sahel di bagian tengah Cad; curah hujan tahunan di sini berkisar antara 300 hingga 600 mm. Di Sahel, stepa yang didominasi semak berduri (terutama akasia) secara bertahap berubah ke arah selatan menjadi sabana Sudan Timur di zona Sudan Cad. Curah hujan tahunan di zona ini melebihi 900 mm.[49]

Politik Cad berlangsung dalam kerangka republik semi-presidensial, dengan penekanan kuat pada jabatan presiden.[57] Presiden Cad bertindak sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh pemerintah. Kekuasaan legislatif berada di tangan pemerintah dan parlemen.[58]
Setelah kematian Presiden Idriss Déby pada tahun 2021, kekuasaan diambil alih oleh anaknya Mahamat Déby yang membubarkan Majelis Nasional dan Pemerintahan Cad serta digantikan oleh Dewan Militer Transisi.[59][60][61] Konstitusi baru disahkan melalui referendum pada 17 Desember 2023 yang menjadi dasar pemilihan umum 6 Mei 2024.[62][63] Mahamat Déby memenangkan pemilihan tersebut dengan memperoleh 61 persen suara,[45] menandai perpanjangan 34 tahun pemerintahan keluarga Déby.[64][65][66]
Pada tahun 2024, konstitusi baru Cad menyediakan badan legislatif bikameral yang terdiri dari Senat dan Majelis Nasional.[67] Senat memiliki 69 anggota, 23 di antaranya ditunjuk oleh presiden, dan sisanya dipilih secara tidak langsung oleh dewan elektoral yang terdiri dari anggota dewan provinsi dan komunal. Para senator memiliki masa jabatan enam tahun, dan sepertiga dari mereka dipilih setiap dua tahun.[68][69] Sedangkan Majelis Nasional terdiri dari 188 anggota yang dipilih secara langsung.[70]


Sebelum masa transisi, Cad memiliki hubungan dekat dengan Prancis, bekas kekuatan kolonialnya. Prancis merupakan pemberi bantuan dan pelindung asing terpenting bagi Cad selama tiga dekade pertama setelah kemerdekaannya pada tahun 1960.[71] Walaupun hubungan tersebut sempat memburuk pada tahun 1999, akibat Cad memberikan hak pengeboran minyak kepada perusahaan Amerika Serikat Exxon,[72] Prancis tetap menjadi kekuatan asing utama yang memberikan bantuan militer pada pemerintah Cad dalam melawan para pemberontak.[73] Setelah Mahamat Déby mengambil alih kekuasaan, ia mulai mengkritik hubungan dengan Prancis, terutama dalam hal perjanjian pertahanan dan keamanan, yang ia anggap sudah usang serta mencerminkan hubungan yang tidak seimbang dan lebih menguntungkan pihak Prancis.[74] Pada tahun 2025, militer Prancis menyerahkan pangkalan terakhirnya di Cad kepada militer Cad, mengakhiri kehadirannya di negara tersebut.[75]
Hubungan dengan negara tetangga Libya dan Sudan berubah secara berkala. Cad pernah berperang dengan Libya memperebutkan Jalur Aouzou, yang akhirnya dimenangkan Cad melalui putusan Mahkamah Internasional pada 1994.[76] Hubungan dengan Sudan juga mengalami ketegangan, terutama karena konflik Darfur dan dukungan timbal balik terhadap kelompok pemberontak. Meskipun sempat membaik lewat perjanjian damai pada 2010,[77] perang saudara di Sudan yang meletus kembali pada 2023 menimbulkan tekanan baru bagi Cad, terutama dalam menangani arus pengungsi.[78]

Meskipun memiliki ikatan budaya yang panjang dengan Dunia Arab, pada tahun 1980-an Pemerintah Cad hanya menjalin sedikit hubungan signifikan dengan negara-negara Arab di Afrika Utara atau Asia Barat. Pada September 1972, Cad memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel di bawah kepemimpinan Presiden François Tombalbaye dan berupaya menjalin hubungan lebih erat dengan negara-negara Arab sebagai cara untuk melepaskan Cad dari ketergantungan pascakolonial terhadap Prancis.[79] Pada tahun 1988, Cad mengakui Negara Palestina, yang kemudian membuka misi diplomatik di N'Djamena.[80] Pada November 2018, Presiden Idriss Déby mengunjungi Israel dan mengumumkan niatnya untuk memulihkan hubungan diplomatik yang direalisasikan pada Januari 2019.[81][82]
Dengan Indonesia, Cad telah menjalin hubungan diplomatik sejak 22 September 2016.[83] Kedua negara tidak memiliki kedutaan di masing-masing ibu kota negara. Misi diplomatik Indonesia diwakili oleh kedutaan Yaoundé, Kamerun;[84] sedangkan Cad melalui perwakilan non-residen seperti kedutaan Cad di New Delhi, India.
Cad berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional di antaranya Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Buruh Internasional (ILO), Uni Afrika (AU), Komunitas Ekonomi dan Moneter Afrika Tengah (CEMAC), Bank Pembangunan Afrika, Organisasi Kerjasama Islam dan lainnya.

Angkatan Bersenjata Cad adalah pasukan bersenjata di negara tersebut. Pada tahun 2024, Cad diperkirakan memiliki 33.250 personel militer aktif, yang terdiri dari 27.500 di Angkatan Darat, 350 di Angkatan Udara, dan 5.400 di Direktorat Jenderal Keamanan Lembaga Negara (DGSSIE). Selain itu, terdapat 4.500 personel di Gendarmerie Nasional dan 7.400 di Garda Nasional dan Nomaden. Angkatan Darat terbagi dalam tujuh wilayah militer dan dua belas batalion, yang mencakup satu batalion lapis baja, tujuh infanteri, satu artileri, dan tiga logistik. Cad merupakan anggota G5 Sahel dan Pasukan Gabungan Multinasional, yang dibentuk untuk memerangi kelompok militan Islam di kawasan tersebut.[85] Cad juga pernah mengirim pasukan untuk misi MINUSMA di Mali, sebelum misi tersebut dibubarkan. Pada tahun terakhir keikutsertaannya pada 2023, Cad mengerahkan 1.449 tentara di sana. Selama bertahun-tahun, Prancis menjadi mitra keamanan utama Cad, termasuk dalam pelatihan militer, tetapi kerja sama militer dengan Prancis diakhiri oleh Cad pada 2024.[86][87]
Menurut CIA World Factbook, anggaran militer Cad diperkirakan mencapai 4,2% dari PDB pada tahun 2006.[88] Dengan PDB saat itu sebesar $7,095 miliar, pengeluaran militer diperkirakan sekitar $300 juta. Namun, angka ini menurun setelah berakhirnya perang saudara Cad (2005–2010), dan pada tahun 2011, Bank Dunia memperkirakan proporsi anggaran militer menjadi sekitar 2,0% dari PDB.[89]

Sejak tahun 2018, Cad terbagi menjadi 23 provinsi. Pembagian wilayah ini berasal dari reformasi pada tahun 2003 sebagai bagian dari proses desentralisasi, ketika pemerintah menghapus 14 prefektur lama dan menggantinya dengan wilayah administratif yang disebut region. Namun, pada 2018, nama wilayah tersebut secara resmi diubah menjadi provinsi.[90] Setiap provinsi dipimpin oleh seorang gubernur yang ditunjuk langsung oleh presiden. Di bawah tingkat provinsi terdapat 120 departemen yang dikelola oleh para prefek, dan departemen ini dibagi lagi menjadi 454 sub-prefektur.[91]
Konstitusi Cad menetapkan pemerintahan yang terdesentralisasi guna mendorong partisipasi aktif masyarakat lokal dalam pembangunan wilayah mereka sendiri.[92] Untuk mewujudkannya, konstitusi menyatakan bahwa setiap satuan administratif harus dipimpin oleh majelis lokal yang dipilih melalui pemilu.[93] Namun, hingga kini belum pernah dilaksanakan pemilihan lokal, dan pemilu tingkat komunal yang dijadwalkan pada tahun 2005 telah berulang kali ditunda.[94][95]


Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan Cad sebagai negara termiskin ketujuh di dunia, dengan sekitar 80% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita berdasarkan paritas daya beli diperkirakan sebesar US$1.651 pada tahun 2009.[96] Cad merupakan anggota Bank Sentral Negara-Negara Afrika Tengah, Uni Bea Cukai dan Ekonomi Afrika Tengah (UDEAC), serta Organisasi untuk Harmonisasi Hukum Bisnis di Afrika (OHADA).[97]
Mata uang Cad adalah franc CFA. Pada 1960-an, industri pertambangan Cad menghasilkan natrium karbonat (natron), dan pernah dilaporkan adanya kandungan kuarsa yang mengandung emas di Prefektur Biltine. Namun, bertahun-tahun konflik sipil menyebabkan para investor asing meninggalkan negara tersebut; para investor yang hengkang antara 1979 hingga 1982 baru mulai kembali menunjukkan kepercayaan terhadap masa depan Cad. Pada tahun 2000, investasi asing langsung berskala besar mulai masuk ke sektor minyak, yang memberikan dorongan bagi prospek ekonomi Cad.[1][98]
Keterlibatan Cad yang timpang dalam ekonomi politik global sebagai lokasi eksploitasi sumber daya kolonial—terutama kapas dan minyak mentah—didukung oleh sistem ekonomi dunia yang tidak mendorong industrialisasi di Cad maupun mendukung produksi pertanian lokal.[99] Hal ini menyebabkan sebagian besar penduduk Cad hidup dalam ketidakpastian dan kelaparan setiap hari.[100][101] Lebih dari 80% penduduk Cad bergantung pada pertanian subsisten dan peternakan sebagai sumber penghidupan.[1] Jenis tanaman yang ditanam dan lokasi penggembalaan ternak sangat bergantung pada kondisi iklim setempat. Wilayah paling subur berada di 10% bagian paling selatan negara, dengan hasil pertanian utama berupa sorgum dan millet. Di wilayah Sahel, hanya varietas millet yang lebih tahan kering yang bisa tumbuh, dan hasilnya jauh lebih rendah dibandingkan wilayah selatan. Namun, Sahel sangat cocok sebagai padang penggembalaan bagi kawanan besar ternak komersial seperti sapi, kambing, domba, keledai, dan kuda. Sementara itu, oase di Sahara hanya mendukung pertanian terbatas seperti kurma dan kacang-kacangan.[14] Kota-kota di Cad menghadapi krisis infrastruktur serius; hanya 48% penduduk perkotaan yang memiliki akses air bersih, dan hanya 2% yang memiliki akses ke sanitasi dasar.[48][102]

Sebelum berkembangnya industri minyak, kapas menjadi sektor dominan dalam industri dan pasar tenaga kerja, menyumbang sekitar 80% dari pendapatan ekspor.[103] Meskipun kini tidak ada data pasti, kapas tetap menjadi salah satu komoditas ekspor utama. Perusahaan kapas utama negara, CotontCad, sempat melemah akibat turunnya harga kapas dunia, tetapi upaya pemulihannya dibiayai oleh Prancis, Belanda, Uni Eropa, dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD). Perusahaan milik negara ini kini direncanakan untuk diprivatisasi.[98] Selain kapas, komoditas ekspor utama lainnya adalah ternak dan getah arab.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Cad telah mengalami krisis kemanusiaan setidaknya sejak tahun 2001. Pada 2008, Cad menampung lebih dari 280.000 pengungsi dari wilayah Darfur di Sudan, lebih dari 55.000 pengungsi dari Republik Afrika Tengah, serta sekitar 170.000 orang yang mengungsi di dalam negeri.[104] Pada 2023, diperkirakan 700.000 hingga satu juta orang Sudan melarikan diri ke Cad akibat perang saudara yang sedang berlangsung.[78]
Pada Februari 2008, pasca Pertempuran N'Djamena, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, John Holmes, menyatakan keprihatinan mendalam bahwa krisis tersebut dapat menghambat upaya pemberian bantuan kemanusiaan kepada sekitar setengah juta orang yang sangat bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.[105] Juru bicara PBB, Maurizio Giuliano, mengatakan kepada The Washington Post bahwa jika bantuan tidak dapat diberikan secara memadai, krisis kemanusiaan ini dapat berubah menjadi bencana besar.[106] Selain itu, organisasi seperti Save the Children menghentikan kegiatannya karena terjadinya pembunuhan terhadap pekerja bantuan kemanusiaan.[107]
Meskipun Cad telah mencatat kemajuan dalam pengurangan kemiskinan, dengan penurunan angka kemiskinan nasional dari 55% menjadi 47% antara tahun 2003 dan 2011, jumlah penduduk miskin secara absolut justru meningkat dari 4,7 juta pada 2011 menjadi 6,5 juta pada 2019. Pada 2018, sekitar 4 dari 10 orang di Cad masih hidup di bawah garis kemiskinan.[108]

Badan statistik nasional Cad memperkirakan jumlah penduduk negara tersebut pada tahun 2015 berada antara 13.630.252 hingga 13.679.203 jiwa, dengan proyeksi tengah sebesar 13.670.084 jiwa. Berdasarkan proyeksi tersebut, sekitar 3,2 juta orang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih dari 10,4 juta orang tinggal di pedesaan.[109] Penduduk Cad tergolong muda, dengan sekitar 47% berusia di bawah 15 tahun. Angka kelahiran diperkirakan mencapai 42,35 kelahiran per 1.000 penduduk, sedangkan angka kematian 16,69 per 1.000. Harapan hidup rata-rata hanya sekitar 52 tahun.[110] Pada pertengahan 2017, jumlah penduduk Cad diperkirakan mencapai 15.775.400 jiwa, dengan lebih dari 1,5 juta tinggal di ibu kota N'Djaména.
Sebaran penduduk Cad sangat tidak merata. Kepadatan penduduk di wilayah gurun Borkou-Ennedi-Tibesti hanya 0,1 jiwa/km², sedangkan di wilayah Logone Occidental mencapai 52,4 jiwa/km². Di ibu kota, angka ini jauh lebih tinggi.[49] Sekitar setengah dari populasi Cad tinggal di wilayah selatan yang hanya mencakup seperlima luas negara, menjadikannya daerah dengan kepadatan tertinggi.[111]
Kehidupan perkotaan terkonsentrasi di ibu kota N'Djaména, yang sebagian besar penduduknya bergerak di bidang perdagangan. Kota-kota besar lainnya seperti Sarh, Moundou, Abéché, dan Doba berukuran lebih kecil, tetapi mengalami pertumbuhan pesat baik dalam jumlah penduduk maupun aktivitas ekonomi.[48] Sejak 2003, lebih dari 700.000 pengungsi Sudan melarikan diri ke Cad akibat perang. Dengan 172.600 warga Cad yang mengungsi akibat perang saudara di wilayah timur, hal ini telah meningkatkan ketegangan di antara masyarakat di wilayah tersebut.[78][112][113]

Poligami umum dijumpai di Cad; 39% perempuan hidup dalam pernikahan poligami. Praktik ini diizinkan secara hukum, kecuali jika ditolak secara eksplisit oleh pasangan saat menikah.[114] Meskipun kekerasan terhadap perempuan dilarang, kekerasan dalam rumah tangga tetap sering terjadi. Mutilasi genital perempuan juga dilarang, tetapi praktik ini masih meluas dan mengakar secara budaya. Sekitar 45% perempuan di Cad mengalami praktik tersebut, dengan tingkat tertinggi di antara etnis Arab, Hadjarai, dan Ouaddaian (lebih dari 90%). Tingkat terendah tercatat di antara etnis Sara (38%) dan Toubou (2%). Perempuan juga menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, yang menyulitkan mereka untuk bersaing dalam sektor pekerjaan formal yang terbatas. Meskipun hukum waris dan kepemilikan properti berdasarkan sistem hukum Prancis tidak mendiskriminasi perempuan, keputusan warisan biasanya ditentukan oleh pemimpin adat yang cenderung memihak laki-laki sesuai praktik tradisional.[95]
Penduduk Cad memiliki asal-usul yang beragam, mencerminkan warisan leluhur dari Afrika Timur, Tengah, Barat, dan Utara.[115] Cad dihuni oleh lebih dari 200 kelompok etnis yang berbeda,[98] membentuk struktur sosial yang sangat beragam. Meskipun pemerintahan kolonial maupun pemerintah setelah kemerdekaan telah berusaha membentuk masyarakat nasional yang terpadu, bagi sebagian besar warga Cad, ikatan lokal atau regional tetap menjadi pengaruh sosial terpenting setelah keluarga inti. Meski demikian, masyarakat Cad dapat diklasifikasikan berdasarkan wilayah geografis tempat mereka tinggal.[14][48]
Di wilayah selatan, masyarakatnya umumnya menetap, seperti etnis Sara yang merupakan kelompok etnis terbesar di negara ini, dengan garis keturunan sebagai unit sosial utama. Di wilayah Sahel, kelompok masyarakat menetap hidup berdampingan dengan kelompok nomaden, seperti etnis Arab yang merupakan kelompok etnis terbesar kedua. Sementara itu, wilayah utara didominasi oleh penduduk nomaden, terutama dari kelompok Toubou.[14][48]
Bahasa resmi Cad adalah Arab dan Prancis,[116] tetapi lebih dari 100 bahasa digunakan di seluruh negeri. Cabang bahasa Cadik dari rumpun bahasa Afroasiatik mengambil namanya dari Cad, dan mencakup puluhan bahasa yang berasal dari negara ini. Cad juga merupakan rumah bagi bahasa-bahasa dari rumpun Sudanik Tengah, Maban, serta beberapa bahasa dari keluarga Niger-Kongo.
Karena peran penting yang dimainkan oleh para pedagang Arab keliling dan saudagar yang menetap di komunitas lokal, Bahasa Arab Cad telah berkembang menjadi bahasa pengantar yang umum digunakan.[14] Bahasa dengan penutur bahasa ibu terbanyak mungkin adalah Ngambay, dengan sekitar satu juta penutur.[117]
Cad merupakan negara dengan agama yang beragam. Berbagai perkiraan, termasuk dari Pew Research pada tahun 2010, menemukan bahwa 52–58% penduduknya beragama Islam, sementara 39–44% beragama Kristen, dengan 22% beragama Katolik dan 17% beragama Protestan.[8][118][119]
Islam di Cad diekspresikan dalam berbagai bentuk; sekitar 55% umat Muslim di negara ini tergabung dalam tarekat-tarekat sufi. Bentuk yang paling umum adalah Tarekat Tijaniyah, yang dianut oleh sekitar 35% Muslim Cad dan menggabungkan unsur-unsur kepercayaan Afrika setempat.[120] Pada tahun 2020, Asosiasi Arsip Data Agama (ARDA) memperkirakan bahwa mayoritas besar Muslim Cad adalah Sunni yang tergabung dalam tarekat sufi Tijaniyah.[121] Sebagian kecil umat Muslim di negara ini (sekitar 5–10%) menganut praktik yang lebih fundamentalis, yang dalam beberapa kasus dikaitkan dengan gerakan Salafi yang berorientasi pada Arab Saudi.[121][122]
Gereja Katolik Roma merupakan denominasi Kristen terbesar di Cad.[121] Sebagian besar umat Protestan, termasuk kelompok seperti "Winners' Chapel" yang berbasis di Nigeria, tergabung dalam berbagai aliran Kristen evangelikal. Agama Kristen masuk ke Cad melalui misionaris Prancis dan Amerika; sebagaimana Islam di Cad, agama ini juga mengalami sinkretisme dengan unsur-unsur kepercayaan pra-Kristen yang telah ada sebelumnya.[14][122][123]
Komunitas agama Baháʼí dan Saksi-Saksi Yehuwa juga hadir di negara ini. Kedua agama tersebut masuk ke Cad setelah kemerdekaan pada tahun 1960, dan karena itu dianggap sebagai agama "baru" di negara ini.[122][123] Sebagian kecil penduduk masih mempraktikkan agama-agama asli. Animisme di Cad mencakup beragam kepercayaan yang berorientasi pada leluhur dan tempat-tempat suci, dengan bentuk praktik yang sangat spesifik.[14]

Karena keragaman etnis dan bahasanya yang besar, Cad memiliki warisan budaya yang kaya. Pemerintah Cad secara aktif mempromosikan budaya dan tradisi nasional dengan mendirikan Museum Nasional Cad dan Pusat Kebudayaan Cad.[48] Enam hari libur nasional diperingati setiap tahun, ditambah hari-hari libur keagamaan yang tanggalnya berubah-ubah, seperti Senin Paskah dalam tradisi Kristen, serta Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi dalam tradisi Islam.[124]

Millet merupakan makanan pokok dalam kuliner Cad. Bahan ini digunakan untuk membuat adonan berbentuk bola yang kemudian dicelupkan ke dalam saus. Di wilayah utara, hidangan ini dikenal sebagai alysh, sementara di selatan disebut biya. Ikan juga sangat digemari, biasanya disiapkan dan dijual dalam bentuk salanga (ikan Alestes dan Hydrocynus yang dikeringkan di bawah sinar matahari dan diasap ringan) atau banda (ikan besar yang diasap).[125] Carcaje adalah teh manis berwarna merah yang populer, dibuat dari seduhan daun kembang sepatu. Minuman beralkohol, meskipun tidak ditemukan di wilayah utara, cukup umum di selatan, di mana masyarakat setempat meminum bir millet yang disebut billi-billi jika dibuat dari millet merah, dan coshate jika berasal dari millet putih.[126]
Musik Cad melibatkan berbagai jenis alat musik tradisional, seperti kinde (sejenis harpa busur), kakaki (terompet panjang dari logam tipis), dan hu hu (alat musik berdawai yang menggunakan labu sebagai pengeras suara). Beberapa alat musik dan kombinasinya berkaitan erat dengan kelompok etnis tertentu: etnis Sara, misalnya, menggunakan peluit, balafon, harpa, dan drum kodjo, sementara Kanembu menggabungkan suara drum dengan alat musik tiup mirip seruling.[126]
Grup musik Chari Jazz yang dibentuk pada tahun 1964 menjadi pelopor musik modern di Cad. Kemudian muncul kelompok terkenal lainnya seperti African Melody dan International Challal yang mencoba memadukan unsur modern dengan tradisi. Grup populer seperti Tibesti tetap setia pada warisan budaya mereka dengan mengangkat gaya musik tradisional sai dari Cad selatan. Masyarakat Cad secara tradisional kurang menghargai musik modern, tetapi sejak tahun 1995 mulai tumbuh minat yang lebih besar terhadap musik lokal, yang mendorong penyebaran CD dan kaset audio berisi karya para artis Cad. Meski demikian, pembajakan dan minimnya perlindungan hukum atas hak-hak seniman masih menjadi hambatan utama bagi perkembangan industri musik di negara ini.[126][127]
Sepak bola merupakan olahraga paling populer di Cad.[128] Tim nasional negara ini selalu menjadi perhatian masyarakat saat mengikuti kompetisi internasional, dan beberapa pemain sepak bola asal Cad pernah bermain untuk tim-tim di Prancis. Bola basket dan gulat gaya bebas juga banyak dimainkan, dengan gulat gaya bebas dilakukan dalam bentuk tradisional di mana para pegulat mengenakan kulit binatang dan menutupi tubuh mereka dengan debu.[126]