Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bank Woori Saudara Indonesia 1906

PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk atau biasa disingkat menjadi BWS, adalah anak perusahaan Woori Bank yang berkantor pusat di Jakarta. Hingga akhir tahun 2021, bank ini memiliki 29 kantor cabang, 121 kantor cabang pembantu, 24 kantor cabang pembantu bergerak, dan 132 unit ATM yang tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.

perusahaan asal Korea Selatan
Diperbarui 4 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bank Woori Saudara Indonesia 1906
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk
Nama sebelumnya
Perkumpulan Himpoenan Soedara (HS) (1906–1974)
PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906 (1974–1993)
PT Bank Himpunan Saudara 1906 (1993–2014)
Jenis perusahaan
Perusahaan publik
Kode emitenBEI: SDRA
IndustriJasa keuangan
PendahuluPT Bank Woori Indonesia
Didirikan18 April 1906 (1906-04-18) (hari jadi resmi)
15 Juni 1974 (1974-06-15) (formal)
Kantor pusatJakarta
Wilayah operasi
Indonesia
Tokoh kunci
Kim Eung-chul[1]
(Direktur Utama)
Arief Budiman[2]
(Komisaris Utama)
Produk
  • Tabungan
  • Kredit
  • Treasuri
  • L/C
  • Remitansi
  • Bancassurance
Merek
  • Cerdas
  • K-Pop
  • SimPel
  • TabunganKu
  • KAMI
PendapatanRp 1,513 triliun (2021)[3]
Laba bersih
Rp 627,223 miliar (2021)[3]
Total asetRp 43,802 triliun (2021)[3]
Total ekuitasRp 9,257 triliun (2021)[3]
PemilikWoori Bank (90,75%)[4]
Publik (9,25%)[4]
Karyawan
1.502 (2021)[3]
Situs webwww.bankwoorisaudara.com
Nama Korea
Hangul
우리소다라은행code: ko is deprecated
Alih AksaraUri Sodara Eunheng

PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk atau biasa disingkat menjadi BWS, adalah anak perusahaan Woori Bank yang berkantor pusat di Jakarta. Hingga akhir tahun 2021, bank ini memiliki 29 kantor cabang, 121 kantor cabang pembantu, 24 kantor cabang pembantu bergerak, dan 132 unit ATM yang tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.[3][5]

Sejarah

Berdirinya Himpunan Saudara

Cikal-bakal bank ini berdiri pada tanggal 18 April 1906[6] ketika 10 saudagar batik di Pasar Baru, Bandung mendirikan sebuah perkumpulan simpan pinjam kecil bernama Vereeniging Himpoenan-Soedara (EYD: Perkumpulan Himpunan Saudara). Kesepuluh saudagar yang diantaranya sudah bergelar haji itu adalah Basoeni, Badjoeri, Marta, Domiri, R. Wargadipradja (atau R.H. Djoewaeni), Maksoedi, Basar, Jahja Adiwinata, Joened (Hoetomi), dan Kasah (Boechri). Himpoenan Soedara dimaksudkan sebagai lembaga kerjasama antar-pedagang dalam berbisnis batik di kota kembang tersebut, dengan semangat persaudaraan antar-anggota. Pada saat itu, dengan keterbatasan transportasi, bisnis batik memerlukan modal besar (hingga 20.000 gulden) yang banyak diantaranya dihabiskan untuk ongkos perjalanan ke Jawa Tengah, Jogjakarta atau Batavia. Para anggota Himpoenan Soedara (HS) diwajibkan untuk menyimpan 10 gulden yang wajib disimpan selama 5 tahun, dimana hasil pengumpulan dana akan digunakan untuk membantu usaha mereka. Perkumpulan ini awalnya tidak memiliki badan hukum dan hanya dilandasi kesepakatan tertulis antara anggotanya. Adapun sebagai pimpinan pertamanya adalah Badjoeri (ketua), Basoeni (sekretaris dan bendahara), dan M. Marta (komisaris).[7]

Mulai tahun 1911, HS memperluas keanggotannya di luar 10 pedagang batik tadi,[7] dan di tahun 1912 mulai memformalkan bentuk organisasinya. Secara resmi, badan hukum Vereeniging Himpoenan Soedara diberikan dalam Goverment Besluit No. 33 tanggal 4 Oktober 1913.[8] Pada saat itu keanggotaannya hanya dikhususkan bagi pedagang pribumi yang beragama Islam. Seiring perkembangan zaman, HS pun berkembang dengan memiliki kantor tetap di tahun 1925. Mereka juga memperluas cakupan anggotanya ke masyarakat biasa (bukan pedagang) dengan kewajiban setoran dan biaya keanggotaan, sehingga di tahun 1935 memiliki 736 anggota dengan total simpanan mencapai Rp 308.568.[7] Kiprah Perkumpulan Himpoenan Soedara sempat mendapat apresiasi dari pemerintah kolonial, dibuktikan dari disematkannya Bintang Perak pada Masdoeki dan Djoewaeni, dua pimpinan HS saat itu. Mereka dianggap mampu menjalankan perkumpulan simpan-pinjam ini dengan profesional, dibuktikan dengan tidak adanya fraud saat kondisi perekonomian yang sulit.[9]

Dari perkumpulan ke bank

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah memberlakukan regulasi di tahun 1955 yang menetapkan semua lembaga pemberi kredit merupakan usaha perbankan. Maka, sejak 11 November 1955 Perkumpulan Himpunan Saudara berubah menjadi bank. Lalu, pada tanggal 15 Juni 1974, menyesuaikan kebijakan pemerintah yang mewajibkan bank berbentuk perseroan (UU No. 14/1967), Bank Perkumpulan Himpunan Saudara resmi ditransformasikan menjadi perseroan terbatas bernama PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906.[8] Dengan perubahan badan hukum itu, 5.227 anggota perkumpulan HS kemudian menjadi pemegang saham PT yang baru dibentuk ini.[10]

Sayang, sejak akhir 1980-an, Bank Tabungan Himpunan Saudara justru mengalami kondisi keuangan yang parah. Kredit macet yang tinggi, modal cekak dan rugi hingga miliaran rupiah, membuat nasib Bank HS seakan hanya menunggu waktu. Adanya Pakto 88 yang melahirkan banyak bank baru, membuat bank tua ini semakin tenggelam dalam persaingan melawan bank-bank yang disokong teknologi hingga manajemen gaya baru.[10] Praktis, pada periode 1987 hingga 1991, Bank Tabungan HS 1906 disibukkan dengan upaya penyehatan yang membuat aktivitas perbankannya hampir mati.[11] Demi menyelamatkannya, sejumlah tokoh dan pengusaha Sunda pun berusaha bergotong-royong menyelamatkan Bank Tabungan HS 1906 agar kewajiban modal Rp 250 juta dapat terpenuhi.[6]

Di tengah kondisi sekarat itu, datang penyelamat yaitu raja migas Arifin Panigoro dalam PT Meta Epsi Intidinamika Corporation (kini PT Medco Intidinamika). Sebelumnya, Medco sempat berencana mendirikan bank baru sebagai responnya atas kebijakan Pakto 88. Namun, berkat rayuan dari Bank Indonesia dan Departemen Keuangan,[10] ditambah keinginan menyelamatkan bank bersejarah ini,[6] membuat mereka memilih mengakuisisi Bank Himpunan Saudara. Maka, dalam RUPS 18 April 1992, PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906 menyetujui penjualan sahamnya senilai Rp 7,5 miliar kepada Medco dan sejumlah pihak maupun penetapan manajemen baru. Hasilnya, Arifin Panigoro kini memiliki 70% saham, MS Hidayat memegang 12,5%, Agus Muhyidin 2,5%, sisanya 5.227 pemegang saham lama. Dengan masuknya pemodal baru ini, aset Bank Tabungan HS 1906 naik menjadi Rp 5,19 miliar dari Rp 1,1 miliar (1983). Meskipun masih merugi, manajemen baru Bank HS 1906 yakin dengan banyaknya nasabah loyal, bank ini akan mampu bertahan, belum lagi menjangkau sektor-sektor baru, seperti usaha informal[6] dan khususnya pebisnis pribumi menengah-kecil yang membutuhkan pengembangan usaha.[12] Setelah akuisisi selesai dilakukan, menyusul penerapan UU Perbankan No. 7/1992, status dan nama bank berubah dari PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906 menjadi PT Bank Himpunan Saudara 1906 (bank umum swasta non-devisa) mulai Juli 1993.[8]

Bank HS 1906 di bawah Medco

Mampu bertahan dari krisis moneter, Bank HS 1906 pun terus berkembang. Di tahun 2006, Bank HS 1906 menyederhanakan nama dagangnya menjadi Bank Saudara saja, disusul berubah menjadi perusahaan publik lewat IPO di Bursa Efek Jakarta pada 15 Desember 2006.[8] Sempat pada tahun 2007 Panigoro hendak membeli bank kecil lain, Bank Sri Partha dan Bank Swaguna untuk dikonsolidasi dengan bank ini,[13] meskipun batal karena "kalah cepat". Per semester-I 2006, aset Bank Saudara mencapai Rp 829 miliar,[14] ditambah laba Rp 13 miliar dan modal dasar Rp 156 miliar di tahun yang sama.[15] Pada tahun 2007, bank ini mendapat persetujuan untuk beroperasi sebagai bank umum kustodian di pasar modal, dan setahun kemudian, bank ini juga mendapat izin untuk beroperasi sebagai bank devisa.[3][5]

Memasuki tahun 2012, Bank Saudara mencatatkan 103 kantor cabang di Jawa dan Bali yang berhasil menghimpun DPK Rp 6,28 triliun.[16] Mereka juga berencana untuk terjun ke bisnis bank syariah lewat wacana akuisisi 3 BPR syariah, dimana 2 di Jawa Barat dan 1 di Jawa Tengah. Dengan anggaran hingga Rp 10 miliar, diharapkan nantinya ada 5 BPRS yang dimiliki Bank Saudara.[17] Pada tahun 2013, bank ini meresmikan kantor pusat barunya di Jl. Diponegoro No. 28, Bandung.[3][5]

Dari Medco ke Woori

Belakangan, Medco memutuskan mengundang investor strategis ke bank miliknya ini. Bermula ketika di tahun 2009, ketika tersiar kabar bahwa Asian Development Bank akan membeli 25% saham Bank Saudara, yang kemudian tenggelam. Lalu, pada Februari 2012, pihak bank mengonfirmasi bahwa ada 10 calon investor strategis dari Asia, Timur Tengah dan Australia yang sedang menjajaki pembelian saham Bank Saudara. Namun, yang paling santer terdengar sebagai peminat adalah Woori Bank, bank terkemuka asal Korea Selatan. Sesungguhnya, sejak 1995 Woori Bank sudah memiliki usaha di Indonesia, yaitu sebuah bank korporat bernama PT Bank Woori Indonesia (BWI).[18] Berbeda dengan BWI, Woori Bank menargetkan Bank Saudara fokus di bisnis kredit konsumer,[19] yang dianggap bisa melengkapi bisnis bank saat ini di bidang kredit pensiunan.[20] Sebelum akuisisi berlangsung, Medco menguasai 80% saham bank ini, dimana 52,92%-nya dipegang Arifin Panigoro dan 36,05%-nya dikuasai PT Medco Intidinamika.[16]

Pada 5 Juni 2012, Woori Bank meneken kesepakatan dengan Arifin untuk membeli 33% saham Bank Saudara[19] dalam transaksi senilai Rp 713 miliar.[21] Mulai April 2013, tahapan akuisisi awal dilakukan dengan pembelian 6% saham oleh Woori,[22] yang disusul pembelian 27% saham pada tahun 2014. Dari rencana awalnya bahwa Bank Saudara dan BWI akan berdiri sendiri, Woori Bank kemudian memutuskan menggabungkan dua perusahaan miliknya tersebut, demi memperkuat posisinya dan memenuhi kewajiban single presence policy.[23] Setelah akuisisi mulanya Medco dan Woori memiliki persentase saham hampir serupa yaitu 34% dan 33%.[24]

Merger antara PT Bank Saudara Tbk dan PT Bank Woori Indonesia akhirnya resmi berlaku sejak 30 Desember 2014, menghasilkan bank beraset Rp 18 triliun,[21] modal inti Rp 4,2 triliun,[25] dan 117 kantor cabang di sejumlah kota. Setelah merger, PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk sebagai surviving entity kemudian mengganti namanya lagi menjadi PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk per 26 Februari 2015. Disebutkan bahwa Bank Woori Saudara (BWS) akan menggabungkan kekuatan Bank Woori di sektor korporat dan Bank Saudara di bidang ritel.[26] Dengan merger ini, Woori mengukuhkan dirinya sebagai pemegang saham pengendali dengan menguasai 66% saham, sisanya milik Medco dan publik. Seiring waktu, saham Woori terus meningkat, mulanya menjadi 74,2% (Medco 6,06% dan Arifin Panigoro 12,46%),[27] hingga saat ini mencapai 90,75%. Kini, keluarga Panigoro/Medco tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham BWS.

Pada tahun 2018, bank ini memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta, serta berekspansi ke Sumatera dan Sulawesi dengan membuka kantor cabang di Medan dan Makassar.[3][5]

Manajemen

Komisaris

Title Nama
Komisaris Utama Arief Budiman
Komisaris Independen Ahmad Fajarprana
Komisaris Independen Adi Haryadi

Direktur

Title Nama
Direktur Utama[1]
Kim Eungchul
Direktur Bisnis Support[1]
Edwin Sulaeman
Direktur Risiko dan Kepatuhan[1]
Wuryanto
Direktur Korporat[1]
Kim Wook Bae
Direktur Konsumer[1]
Abdurachman Hadi
Direktur TI dan Jaringan & Operasi[1]
Benny Sudarsono Tan

Produk dan Jasa

Simpanan

  • Tabungan Woori Saudara
  • Tabungan Woori Saudara (USD)
  • Tabungan Premium
  • Tabungan Pensiunan Saudara
  • Tabungan Asuransi Berjangka (TASKA)
  • Tabungan Cerdas
  • Tabungan K-Pop
  • Tabungan KAMI
  • Giro dan Rekening Koran
  • Deposito
  • Deposito Retail

Kredit

  • Kredit Usaha UKM
  • Kredit Umum Pensiun (Kupen)
  • Kupen Hybrid
  • Kredit Pegawai (KUPEG)
  • Kredit Tunjangan Hari Tua (THT)
  • Kredit Pemilikan Hunian (KPH)
  • Kredit Korporat
  • Kupen & Kupeg SPAN

Layanan lainnya

  • BWS Internet & Mobile Banking
  • ATM Woori Saudara (Member ATM Bersama dan Prima)
  • Pembayaran Telepon Telkom
  • Mediasi Perbankan
  • Bancassurance
  • International Banking
  • Common Reporting Standard (CRS)
  • Pembayaran Kartu Kredit
  • Electronic Data Capture (EDC)
  • Transfer/Inkaso
  • Layanan Penerimaan Negara
  • SIMODIS

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 "Profil Manajemen". PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. Diakses tanggal 7 Oktober 2024.
  2. ↑ "Profil Manajemen". PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. Diakses tanggal 7 Oktober 2024.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Laporan Tahunan 2021" (PDF). PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. Diakses tanggal 3 Juli 2022.
  4. 1 2 "Pemegang Saham". PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. Diakses tanggal 7 Oktober 2024.
  5. 1 2 3 4 "Sekilas Perusahaan". PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. Diakses tanggal 3 Juli 2022.
  6. 1 2 3 4 Bank Saudara 1906-2006 : Seratus Tahun Perjalanan Bank Urang Sunda
  7. 1 2 3 Dari Vereeniging Himpoenan Soedara ke Bank Woori Saudara
  8. 1 2 3 4 Bab III
  9. ↑ Masdoeki dan Himpoenan Soedara
  10. 1 2 3 Infobank No. 151/1992, hlm. 26-27
  11. ↑ Informasi
  12. ↑ Mereka dari Bandung: pergerakan mahasiswa Bandung, 1960-1967
  13. ↑ Dunia EKUIN dan PERBANKAN
  14. ↑ Bank Saudara Jadi Emiten Pamungkas 2006
  15. ↑ Bank Saudara Berambisi Jadi Bank Devisa dan Kustodian
  16. 1 2 Tahun 2013 Bank Saudara Targetkan DPK Rp 8 Triliun
  17. ↑ Bank Saudara tuntaskan akuisisi
  18. ↑ RUMOR AKUISISI: Bank Saudara Diincar Woori Bank
  19. 1 2 Merger Bank Saudara dan Woori Dipercepat
  20. ↑ Targetkan Tutas Akhir Tahun - Agresifitas Bank Saudara Lewat Akusisisi Bank Woori
  21. 1 2 Merger Bank Saudara-Woori Indonesia segera tuntas
  22. ↑ Akuisisi Bank Saudara oleh Woori Bank Direstui BI
  23. ↑ Bank Saudara merger dengan Bank Woori Indonesia
  24. ↑ Akuisisi saham Bank Saudara selesai akhir 2012
  25. ↑ Modal Bank Woori Saudara Diproyeksikan Rp 4,2 Triliun
  26. ↑ Bank Saudara Ganti Nama Bank Woori Saudara dengan Logo Baru
  27. ↑ BWS Q3 2017 Report

Pranala luar

  • (Indonesia) Situs web resmi
  • l
  • b
  • s
Bank di Indonesia
Bank sentral: Bank Indonesia
Sistem konvensional
Bank BUMN
Bank Mandiri · Bank Negara Indonesia · Bank Rakyat Indonesia · Bank Tabungan Negara
Anak usaha bank BUMN: Bank Hibank · Bank Mandiri Taspen · Bank Raya
Bank pembangunan daerah
Bank Sumut · Bank Nagari · Bank Jambi · Bank Sumsel Babel · Bank Bengkulu · Bank Lampung · Bank Jakarta · Bank BJB · Bank Jateng · Bank BPD DIY · Bank Jatim · Bank Banten · Bank BPD Bali · Bank NTT · Bank Kalbar · Bank Kalteng · Bank Kalsel · Bank Kaltimtara · Bank BSG · Bank Sulteng · Bank Sulselbar · Bank Sultra · Bank Maluku Malut · Bank Papua
Bank swasta
Bank Allo · Bank Amar · Bank ANZ Indonesia · Bank Artha Graha Internasional · Bank BNP Paribas Indonesia · Bank Bumi Arta · Bank Capital · Bank CCB Indonesia · Bank Central Asia · Bank CIMB Niaga · Bank CTBC Indonesia · Bank Danamon · Bank Digital BCA · Bank DBS Indonesia · Bank Ganesha · Bank Hana Indonesia · Bank HSBC Indonesia · Bank IBK Indonesia · Bank ICBC Indonesia · Bank Ina · Bank Index · Bank Jago · Bank J Trust Indonesia · Bank KB Indonesia · Bank Krom · Bank Maspion · Bank Mayapada · Bank Maybank Indonesia · Bank Mega · Bank Mestika · Bank Mizuho Indonesia · Bank MNC · Bank Multiarta Sentosa · Bank Nobu · Bank Neo Commerce · Bank OCBC Indonesia · Bank of India Indonesia · Bank OK! Indonesia · Bank Panin · Bank Permata · Bank QNB Indonesia · Bank Resona Perdania · Bank Saqu Indonesia · Bank Sahabat Sampoerna · Bank SBI Indonesia · Bank Seabank Indonesia · Bank Shinhan Indonesia · Bank Sinarmas · Bank SMBC Indonesia · Bank Superbank · Bank UOB Indonesia · Bank Victoria · Bank Woori Saudara
Kantor cabang bank asing
Bank of America · Bank of China · Citibank · Deutsche Bank · MUFG Bank · JPMorgan Chase · Standard Chartered
Sistem syariah
Bank syariah BUMN
Bank Syariah Indonesia · Bank Syariah Nasional
Bank syariah daerah
Bank Aceh Syariah · Bank BJB Syariah · Bank NTB Syariah · BRK Syariah
Bank syariah swasta
Bank Aladin · Bank BCA Syariah · Bank BTPN Syariah · Bank KB Syariah · Bank Muamalat Indonesia · Bank Mega Syariah · Bank Nano Syariah · Bank Panin Dubai Syariah
Unit usaha syariah
Bank BPD DIY Syariah · Bank CIMB Niaga Syariah · Bank Danamon Syariah · Bank Jago Syariah · Bank Jakarta Syariah · Bank Jambi Syariah · Bank Jateng Syariah · Bank Jatim Syariah · Bank Kalbar Syariah · Bank Kalsel Syariah · Bank Kaltimtara Syariah · Bank Maybank Syariah · Bank Nagari Syariah · Bank OCBC Syariah · Bank Permata Syariah · Bank Sulselbar Syariah · Bank Sumsel Babel Syariah · Bank Sumut Syariah
Lihat pula: Bank Perekonomian Rakyat
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • VIAF
Nasional
  • Amerika Serikat

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Berdirinya Himpunan Saudara
  3. Dari perkumpulan ke bank
  4. Bank HS 1906 di bawah Medco
  5. Dari Medco ke Woori
  6. Manajemen
  7. Komisaris
  8. Direktur
  9. Produk dan Jasa
  10. Simpanan
  11. Kredit
  12. Layanan lainnya
  13. Referensi
  14. Pranala luar

Artikel Terkait

Korea Selatan

negara di Asia Timur

Kakao (perusahaan)

perusahaan asal Korea Selatan

Cortis

Boyband asal Korea Selatan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026