Air France adalah maskapai nasional terbesar di Prancis. Sejak awal pendiriannya pada tahun 1933, maskapai ini telah berkembang sebagai maskapai terbesar dunia yang didukung oleh pengembangan ekonomi Prancis yang menghubungkan daerah jajahan di Afrika, Karibia & Kepulauan Polinesia di Pasifik. Penggabungan dengan KLM Royal Dutch Airlines pada tahun 2004 membuat kehadirannya di Eropa dan dunia menjadi lebih komprehensif. Seperti kebanyakan perusahaan lain, meskipun terkena pukulan resesi ekonomi, memaksa manajemenuntuk melakukan evaluasi ulang usai menghadapi resesi yang melanda Air France. Perusahaan telah meluncurkan Program "Trasformasi 2015" yang nantinya bisa meningkatkan keuntungan yang penuh dan pemenuhan kebutuhan penumpang dalam penerbangan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| |||||||
| Didirikan | 7 Oktober 1933 | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Penghubung | Paris-Charles de Gaulle Paris-Orly | ||||||
| Kota fokus | Bordeaux-Mérignac Lyon-Saint-Exupéry Marseille-Provence Nice-Côte d'Azur Toulouse-Blagnac | ||||||
| Program penumpang setia | Flying Blue | ||||||
| Lounge bandara |
| ||||||
| Aliansi | SkyTeam | ||||||
| Anak perusahaan | Air France Hop Servair (50,01%) Transavia France | ||||||
| Armada | 214 | ||||||
| Tujuan | 211 | ||||||
| Slogan | France is in the air | ||||||
| Perusahaan induk | Air France-KLM | ||||||
| Kantor pusat | Roissypôle, Tremblay En-France, Prancis | ||||||
| Tokoh utama | Anne Regail (CEO) | ||||||
| Situs web | www.airfrance.com | ||||||
Air France adalah maskapai nasional terbesar di Prancis. Sejak awal pendiriannya pada tahun 1933, maskapai ini telah berkembang sebagai maskapai terbesar dunia yang didukung oleh pengembangan ekonomi Prancis yang menghubungkan daerah jajahan di Afrika, Karibia & Kepulauan Polinesia di Pasifik. Penggabungan dengan KLM Royal Dutch Airlines pada tahun 2004 membuat kehadirannya di Eropa dan dunia menjadi lebih komprehensif. Seperti kebanyakan perusahaan lain, meskipun terkena pukulan resesi ekonomi, memaksa manajemenuntuk melakukan evaluasi ulang usai menghadapi resesi yang melanda Air France. Perusahaan telah meluncurkan Program "Trasformasi 2015" yang nantinya bisa meningkatkan keuntungan yang penuh dan pemenuhan kebutuhan penumpang dalam penerbangan.
Per tahun 2013, Air France melayani 36 destinasi di Prancis dan mengoperasikan layanan penumpang dan kargo terjadwal di seluruh dunia ke 175 destinasi di 78 negara (93 termasuk departemen dan wilayah luar Prancis) dan juga mengangkut 46.803.000 penumpang pada tahun 2019. Hub global maskapai ini berada di Bandara Charles de Gaulle dengan Bandara Orly sebagai hub domestik utama. Kantor pusat perusahaan Air France, sebelumnya di Montparnasse, Paris, terletak di Bandara Charles de Gaulle, utara Paris.[1]

Meskipun Air France terbentuk pada tahun 1933, akar sejarah maskapai bisa ditelusuri seusai Perang Dunia 1, ketika Pierre-Georges Latécoère mendirikan maskapai penerbangan berpenumpang pertama di Prancis, Societe des Lignes Latécoère, pada tahun 1919. Pada dekade berikutnya, banyak maskapai yang berdiri seperti Air Orient, Compagnie Générale Aéropostale dan Société Générale de Transport Aérien (SGTA) telah memasuki pasar dengan tingkatan keberhasilan yang berbeda. Pada tahun 1930, terjadi resesi global yang memaksa Pemerintah Prancis untuk melakukan penyelamatan pada maskapai mereka, baik secara finansial dan manajerial untuk memastikan keberlangsungan operasional mereka ditengah krisis yang menghadang. Sementara itu Pemerintah bersama beberapa ahli keuangan merencanakan penggabungan yang nantinya bisa mengurangi risiko kebangkrutan dan kemiskinan yang sudah tinggi di negeri itu, usai menghadapi krisis tersebut, pemerintah melangsungkan penggabungan tersebut dengan berbagai penyesuaian dan pembaharuan dan akhirnya, maskapai ini resmi berdiri dengan nama "Air France", penggabungan ini dilakukan oleh pemerintah Prancis dan beberapa maskapai yang terkena merger dengan rentang waktu selama 5 tahun dan melibatkan lebih dari 250 Armada Pesawat dengan 30 jenis yang berbeda dan dikurangi menjadi 100 pesawat dengan 3 jenis pesawat.



Awal Dekade 1940an, maskapai menghadapi peperangan yang lebih besar, yaitu Perang Dunia 2 dan perang ini juga merambah ke Prancis, hal ini menyebabkan keterancaman operasional manajemen maskapai dan belum lagi jatuhnya Prancis di tangan rezim Nazi Jerman, sebelumnya Pemerintah Prancis sudah mengetahui invasi yang di lakukan oleh Nazi tersebut dan pemerintah bersama pejabat dan warga Prancis melakukan evakuasi secara massal untuk mendirikan pemerintahan pengasingan di London, Inggris dan hal itu juga dilakukan oleh Air France sendiri untuk mengamankan operasional mereka dengan mendirikan kantor pusat darurat di Casablanca, Maroko sekaligus sebagai kantor perwakilan maskapai dan negara dalam mengemban tugas pembelaan negara selama Perang Dunia 2. Setelah PD 2, tepatnya tanggal 26 Juni 1945, maskapai ini dinasionalisasikan pemerintah melalui Kementerian transportasi dengan peresmian pembukaan rute pertama mereka seusai PD 2, yaitu rute dari Paris menuju New York menggunakan Douglas DC-4 dengan waktu perjalanan selam 19 jam 51 menit termasuk perhentian dan pada waktu yang bersamaan, maskapai juga memperkenalkan pramugari dalam penerbangan tersebut dan di sela-sela keberhasilan maskapai dalam meluncurkan rute internasional mereka, parlemen Prancis pada tanggal 16 Juni 1948 mengesahkan keputusan pemerintah.
Memasuki dekade 1950an, maskapai memfokuskan pelayanan penerbangan jarak jauh, sebagai langkah awal dari program tersebut, maskapai mendatangkan Lockheed Super Constellation untuk memperkuat kehadiran mereka di rute Internasional Air France, tetapi, akibat dari ketidakseimbangan investasi melalui rute regional dan domestik menyebabkan banyak rute Internasional Air France rugi dan maskapai juga memindahkan pangkalan mereka dari Bandar Udara Paris Le Bourget ke Bandara Orly di selatan Paris diikuti dengan meningkatnya kualitas pelayanan maskapai terhadap para penumpang dan maskapai juga memperkenalkan Vicker viscount ke dalam armada mereka. Pemerintah yang kewalahan dengan jumlah rute yang bandara layani oleh maskapai semakin banyak, pemerintah Prancis melakukan regulasi terhadap beberapa maskapi asal Prancis untuk saling berbagi rute di Afrika, Asia & Pasifik dan beberapa maskapai yang terkena regulasi tersebut yaitu, Transports Aériens Intercontinentaux & Union Aéromaritime de Transport dan untuk melayani rute domestik, Perusahaan Kereta Api Prancis (SNCF), Caisses des Depo et Congsinations (Organisasi Keuangan Negara) dan beberapa investor melakukan usaha patungan untuk membentuk maskapai domestik, yaitu Air Inter dan maskapai ini merupakan maskapai pertama yang menggunakan armada jet, hal ini ditandai dengan masuknya armada De havilland Comet 1 pada tahun 1953 dan diikuti dengan masuknya beberapa armada jet seperti Boeing 707 dan Sud Aviation Caravelle untuk rute jarak menengah hingga jauh.
Memasuki Dekade 1960an, Penumpang yang ingin menaiki transportasi udara semakin banyak. Hal ini menyebabkan Air France melakukan regenerasi armada dengan memperkenalkan armada Boeing 727 sebagai pengganti Caravelle dan untuk armada jarak jauh, maskapai ini juga membeli Boeing 747 sebagai pengganti pesawat turboprop dan baling baling yang sudah menua.

Pada bulan Maret 1974, Bandara Internasional Charles de Gaulle yang merupakan pengganti dari bandara Paris Le Bourget menjadi gerbang internasional terbesar Prancis dan secara bertahap, maskapai ini memindahkan operasional maskapai menuju bandara tersebut dan diikuti dengan selesainya pembangunan bandara tersebut pada tahun 1982. Pada tanggal 21 Januari 1976, Air France meresmikan penerbangan angkutan supersonik (SST) yang bernama "Concorde". Pesawat ini merupakan hasil dari kerjasama dari BAC (British Aerospace Corporation)& Aerospatiale yang sudah di jalin sejak tahun 1970an. Pesawat ini dioperasikan oleh Air France dan British Airways, operasional pertamanya di Air france yaitu, menerbangi rute dari Bandar Udara Paris Charles de Gaulle menuju Rio de Janeiro dengan perhentian di Dakar, Senegaldan pesawat ini juga mendukung penerbangan yang dilakukan oleh Boeing 747 dari Paris CDG menuju New York JFK dan setahun kemudian, pesawat ini juga membuka rute menuju Bandar Udara Internasional Washington Dulles. Dengan Concorde, Waktu tempuh antara Paris-New York yang sebelumnya ditempuh dalam waktu 19 Jam 51 menciut menjadi 3 jam dan 23 menit (dengan dua kali kecepatan suara).
Mengakhiri Dekade 1970an, maskapai ini sempat terkena resesi ekonomi yang menimbulkan mahalnya minyak di pasaran dunia, tetapi hal ini tidak membuat Air France kehilangan pengaruh di dunia, malah menjadikan sebagai maskapai yang mampu bertahan di antara beberapa maskapai lainnya dan sepanjang dekade 80an, maskapi ini mengalami pertumbuhan jumlah penumpang yang terus meningkat dan maskapai ini juga memperkenalkan armada terbaru yang bernama Airbus A320 yang berkemudikan Fly by wire pertama didunia.

Memasuki Milenium baru, muncul sebuah kesadaran akan persaingan yang semakin ketat di lingkup trans-atlantik. Hal ini membuat Pemerintah Prancis & Amerika Serikat melakukan perjanjian jangka panjang dalam rangka "Open Skies" yang ditandatangani pada tanggal 19 Oktober 2001 yang membuat maskapai kedua negara lebih leluasa untuk terbang di antara Prancis dan Amerika Serikat sendiri dan langkah ini diikuti oleh anggota negara Uni Eropa yang resmi berlaku pada tahun 2008. Sementara itu, di sisi LCC, terjadi ekspansi yang cepat dan membuat Air France melakukan program terafiliasi terhadap kelima maskapai mereka dengan menggabungkan semua perusahaan di bawah satu nama yaitu, Air France Regional. Sementara itu, di dalam kancah perbangan Internasional, maskapai ini menjalin hubungan kerjasama dengan salah satu maskapai terbesar di Amerika, Delta Airlines yang sudah di rintis sejak bulan Juni 1999, Kemitraan ini menghasilkan hubungan kuat dengan Delta menghasilkan sebuah Poros yang terkenal dengan nama "Atlantic Exellence" dan hubungan ini melebar ke beberapa maskapai dengan dibentuknya aliansi Skyteam pada tanggal 22 Juli 2000, terdiri dari Aeromexico, Delta Airlines & Korean Air. Kini, aliansi tersebut berkembang menjadi 20 anggota yang melayani penerbangan ke 178 Negara dengan jumlah destinasi sebanyak 1064 kota tujuan. Tidak hanya itu saja, untuk memperkuat kehadiran mereka di pasar penerbangan benua Eropa, maskapi ini juga membuat mega kolaborasi dengan maskapai asal Belanda, KLM dan masuknya KLM sebagai partner utama Air France membuat KLM memiliki akses khusus untuk bergabung ke aliansi Skyteam dan kolaborasi ini menghasilkan beberapa langkah yang baru seperti privatisasi maskapai, pengalihan saham yang sebelumnya lebih dominan dimiliki oleh pemerintah berganti lebih dominan di swasta dan secara resmi, pada tanggal 5 Mei 2004. Air France berubah nama perusahaan menjadi "Air France-KLM" dengan pangkalan yang berbasis di dua ibu kota negara yaitu di Paris / Charles de Gaulle dan di Amsterdam / Schiphol dan pada tahun 2007, untuk mengisi celah antara layanan maskapi Full Services dan Low cost, maskapi ini berafiliasi bersama dengan KLM untuk membentuk anak perusahaan yang bernama Transavia yang terbang perdana pada tanggal 12 Mei 2007 yang berpangkalan di bandara Orly,Paris.
Ekspansi maskapai ini berlanjut pada tahun 2008 ketika Air France membeli saham sebanyak 50% pada maskapai kargo, Martin Air asal Belanda dan maskapai juga melakukan akuisi saham sebanyak 25% pada maskapai nasional Italia, Alitalia seharga € 323 Juta, tidak menutup kemungkinan pada bulan Januari 2013, maskapi ini menurut media massa sedang berdiskusi dengan KLM dalam rencana pengakuisian saham yang lebih besar pada Alitalia.
MeNjelang akhir dekade 2000an, maskapi ini mengalami berbagai dampak negatif seperti Kecelakaan Air France penerbangan 447 yang menewaskan 228 penumpang yang terbang dari Rio De Janeiro, belum pulih dari peristiwa itu, maskapi ini terkena dampak letusan gunung Eyjafjallajökull di Islandia dan menyebabkan maskapai ini mengalami gangguan dalam penrbangannya dan ditambah lagi membengkaknya dana yang dialokasikan untuk manajemen mendatang, sehingga perubahan data angka harus dilakukan dengan program tranformasi 2015. Pada tahun 2010, maskapai ini juga melakukan sistem kerjasama yang mirip pada hubungan dengan Delta pada tahun sebelumnya dengan menggaet maskapai China Southern dan menghasilkan Code sharing route antara Paris dan Guangzhou. Sebagai efek dari berbagai krisis yang mendera maskapai ini, Air France melaksanakan program transformasi 2015 yang nantinya bisa membalikkan keadaan maskapai yang sebelumnya merugi sebanyak € 353 Juta dengan defisit sebanyak € 8,009 Juta dan hal ini terjadi karena ketidak mendukungnya lingkungan yang membuat Air France menjadi goyah dalam mempertahankan pasar yang ada dan pada tahun 2011, dilaporkan bahwa hutang yang mendera grup adalah € 6,5 Miliar dan pada tahun 2014, ditargetkan hutang ini menurun menjadi € 2 Miliar dengan merancang ulang perencanaan keuangan maskapai yang nantinya bisa lebih efisien dalam penggunaannya, dengan pengalaman yang sudah lebih dari 80 tahun ini, tampaknya bekal yang sudah dipersiapkan oleh Air France telah cukup untuk membawa kembali masa kejayaan merek seperti di dekade 1960an lalu.
Air France memiliki empat kelas kabin yang terdiri dari:
La Première, merupakan produk kelas pertama Air France. Kelas ini tersedia pada pesawat Airbus A380-800. Kabin La Première memiliki beberapa keistimewaan, yaitu:

L'Espace Affaires, merupakan produk kelas bisnis Air France dengan jangkauan jarak menengah hingga jauh. L'Espace Affaires memiliki kelebihan yang terdiri dari:
Alizé adalah kelas premium ekonomi Air France yang tersedia pada penerbangan ke Karibia dan Samudra Hindia (seperti Antillen Belanda, Guyana Prancis, dan Mauritius). Beberapa hal yang terdapat di kursi Alizé, yaitu:
Tempo merupakan kelas ekonomi Air France yang tersedia hampir disemua armada dan kenyaman dari Tempo tidak jauh dari Alize, tetapi yang membedakan yaitu, ketiadaan Headset yang mengurangi kebisingan dan kelebaran kursi yang tidak selebar di Alize.

Per tahun 2019, Air France terbang ke 36 destinasi domestik dan 175 destinasi internasional di 93 negara (termasuk departemen dan wilayah luar Prancis) di 6 benua. Ini termasuk layanan Air France Cargo dan tujuan yang dilayani oleh franchisee Air Corsica, CityJet, dan Air France HOP. Sebagian besar penerbangan internasional Air France beroperasi dari Bandara Paris-Charles de Gaulle. Air France juga memiliki kehadiran yang kuat di bandara Paris-Orly, Lyon-Saint-Exupéry, Marseilles Provence, Toulouse Blagnac, Nice Côte d'Azur dan Bordeaux-Merignac.
Sebagai tambahan bagi HOP! dan anggota aliansi SkyTeam, Air France memiliki perjanjian codeshare dengan maskapai berikut:[2]
Air France memiliki perjanjian Interline dengan maskapai berikut:[10]
Atas kerjasama dengan afiliasi Belanda, Transavia, Air France akan meluncurkan subsidiari bertarif rendah baru yang dipusatkan di Paris Orly dan memulai operasinya pada Mei 2007 dengan layanan rute wisata di Mediterania dan Afrika Utara. Maskapai ini akan mengoperasikan pesawat Boeing 737-800 "Next Generation". Transavia memegang 40% saham, dengan Air France sisanya
Berikut adalah armada Air France per Desember 2021:[11]
| Armada Air France | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pesawat | Beroperasi | Pesanan | Kelas penumpang | Catatan | ||||
| F | J | W | Y | Total | ||||
| Airbus A220-300 | 6 | 54[12] | — | 20 | — | 128 | 148 | Menggantikan Airbus A318 dan A319. |
| Airbus A318-100 | 12 | — | — | 18 | — | 113 | 131 | Akan dipensiunkan dan digantikan Airbus A220-300 dari 2021.[13] |
| Airbus A319-100 | 30 | — | — | 20 | — | 122 | 142 | |
| 123 | 143 | |||||||
| Airbus A320-200 | 42 | — | — | 20 | — | 154 | 174 | Dua dicat dengan livery SkyTeam. |
| 18 | 160 | 178 | ||||||
| Airbus A321-100 | 5 | — | — | 20 | — | 182 | 202 | |
| Airbus A321-200 | 14 | — | — | 20 | — | 182 | 202 | Satu dicat dengan livery SkyTeam. |
| Airbus A330-200 | 15 | — | — | 36 | 21 | 167 | 224 | |
| Airbus A350-900 | 13 | 25[14][15] | — | 34 | 24 | 266 | 324[16] | Akan menggantikan Boeing 777-200ER.[17] |
| Boeing 777-200ER | 21 | — | — | 40 | 24 | 216 | 280 | Akan dipensiunkan dan digantikan Airbus A350-900. |
| 28 | 260 | 312 | ||||||
| Boeing 777-300ER | 43 | — | 4 | 28 | 58 | 206 | 296 | Launch customer.
Tiga dicat dengan livery SkyTeam. |
| — | 42 | 24 | 315 | 381 | ||||
| 14 | 32 | 422 | 468 | |||||
| 14 | 28 | 430 | 472[18] | |||||
| Boeing 787-9 | 10 | — | — | 30 | 21 | 228 | 279 | [19] |
| Armada kargo Air France | ||||||||
| Airbus A350F | — | 4 | Kargo | Pengiriman akan dimulai 2025.[butuh rujukan] | ||||
| Boeing 777F | 2 | — | Kargo | |||||
| Total | 213 | 83 | ||||||
Pada tahun 2000, Air France memiliki armada sebanyak 197 buah yang mewakili 12 jenis yang berbeda dari berbagai perusahaan, hal ini menyebabkan ketidakefisienan penggunaan armada yang mengharuskan Air France untuk melakukan pembelian pesawat yang baru yang nantinya akan menggantikan pesawat yang ada, berikut beberpa usaha dan langkah Air France untuk merombak armada:
Terdapat beberapa insiden dan kecelakaan yang melibatkan pesawat atau penerbangan Air France. Dua belas kecelakaan berakibat fatal.[20]
Kecelakaan dan insiden besar yang dipilih tertulis di bawah:
Sebagai tambahan dari kecelakaan di atas, Air France juga pernah menjadi target beberapa pembajakan. Pembajakan ini terjadi dalam urutan waktu berikut:
Tanggal 24 Desember 2003, tiga penerbangan Air France ke Bandar Udara Internasional Los Angeles dibatalkan karena kekhawatiran teroris berencana menyerang penerbangan tersebut.