Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiAdud al-Din al-Iji
Artikel Wikipedia

Adud al-Din al-Iji

Abū al-Faḍl Aḍud al-Din 'Abd al-Raḥman bin Aḥmad bin Abd al-Ghaffar al-Ījī atau lebih umum dikenal sebagai Aḍud al-Din al-Ījī, adalah seorang ulama Islam yang hidup di era Ilkhanat. Ia merupakan seorang kadi bermazhab Syafi'i yang berpengaruh. Al-Iji juga merupakan ahli bahasa Arab dan juga dianggap sebagai teolog Asy'ariyah berpengaruh di zamannya.

ulama Islam asal Iran, pakar teologi Islam
Diperbarui 1 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Infobox orangAdud al-Din al-Iji
Nama dalam bahasa asli(ar) عبد الرحمن بن أحمد بن عبد الغفار Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahirank. 1281 Suntingan nilai di Wikidata
Ij (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Kematian1355 Suntingan nilai di Wikidata (73/74 tahun)
Ij (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
AgamaIslam, Islam Sunni dan Asy'ariyah Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
SpesialisasiIlmu Kalam dan Fikih Suntingan nilai di Wikidata
Pekerjaanteolog, filsuf Suntingan nilai di Wikidata
MuridAl-Taftazani Suntingan nilai di Wikidata
Karya kreatif
Karya terkenal
  • Al-Mawaqif fi ilm al-Kalam
  • Aqaid al-Adudiyya (en) Terjemahkan
  • Ahlaq al-Adudiyya (en) Terjemahkan
  • Jawahir al-Kalam (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata

Abū al-Faḍl Aḍud al-Din 'Abd al-Raḥman bin Aḥmad bin Abd al-Ghaffar al-Ījī atau lebih umum dikenal sebagai Aḍud al-Din al-Ījī (Arab: عضد الدين الإيجيcode: ar is deprecated , 1281–1356), adalah seorang ulama Islam yang hidup di era Ilkhanat. Ia merupakan seorang kadi bermazhab Syafi'i yang berpengaruh. Al-Iji juga merupakan ahli bahasa Arab dan juga dianggap sebagai teolog Asy'ariyah berpengaruh di zamannya.[1][2]

Riwayat hidup dan karir keilmuan

Kehidupan awal

Al-Iji lahir di kota Īj yang terletak di dekat Syiraz di provinsi Fars, Iran pada tahun 680 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun 1281. Ia lahir dari keluarga yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Abu Bakar As-Shiddiq.[3] Pada masa awal kehidupannya, al-Iji pindah ke kota Tabriz dan mempelajari ilmu Nahwu dan ilmu-ilmu rasional di bawah bimbingan Fakhru al-Din al-Jarbadadi, murid dari ulama dan kadi yang terkenal, Al-Baidhawi. Ia juga belajar di bawah bimbingan Quthbuddin asy-Syirazi, murid terkenal dari Nashiruddin al-Ṭūsī. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa ia juga mempelajari filsafat di kota Soltaniyeh, saat itu merupakan ibukota dari kesultanan Ilkhanat, dibiayai oleh wazir Ilkhanat Rashid-al-Din Hamadani.[4]

Spesialisasi keilmuan

Al-Ījī dikenal atas kontribusinya dalam bidang teologi, meskipun ia juga menguasai berbagai disiplin keilmuan lain. Ia memiliki spesialisasi dalam fikih, ia juga dipandang sebagai otoritas utama mazhab Syafi‘i di wilayah dinasti Ilkhan pada masanya, dan bergelar kehormatan Syaikhus Syafi'iyyah. Al-Suyuti dalam karya biografinya Bughyat al-Wuʻāh fī Ṭabaqāt al-Lughawīyīn wa-al-Nuḥāh memasukkannya sebagai bagian dari ulama ilmu bahasa Arab dan mengakui keluasan pengetahuannya dalam kaidah serta makna kebahasaan.[5] Selain itu, al-Ījī juga memiliki kepakaran dalam tafsir Al-Qur’an dan pemahaman yang mendalam pada ilmu-ilmu rasional seperti usul fikih, ilmu kalam, logika, dan filsafat Islam.[6] Ia dikenal sebagai pendebat dan dialektikus yang andal, menguasai metode argumentasi secara sistematis. Ketekunan dalam penelitian, ketajaman analisis, serta ketelitian dalam mengkaji persoalan menjadi ciri utama reputasinya sebagai seorang cendekiawan.[7]

Karir

Pada masa mudanya, Aḍud al-Din al-Ījī berupaya meniti karier di lingkungan penguasa Ilkhanat, dinasti Mongol yang saat itu menguasai Iran dengan ibukota di kota Tabriz. Karena kepandaiannya, ia berhasil memperoleh penghormatan dari wazir Ilkhanat, Rashid al-Din Hamadani, seorang Yahudi yang memeluk Islam saat para penguasa Mongol meninggalkan keyakinan Syamanisme dan Buddhisme. Sebagai seorang Sunni, al-Ījī sempat terancam ketika Öljaitü memeluk Syiah pada tahun 1310. Meskipun demikian, ia dilaporkan pernah menjabat sebagai kadi di Soltaniyeh dan bahkan, melalui pengaruh Rashid al-Din, ditawari posisi mengajar di sekolah Madrasa-yi Sayyār, dalam semacam “universitas keliling” yang mengikuti Öljaitü dalam berbagai ekspedisi yang ia lakukan.[8][3]

Setelah ayahnya wafat pada 1317, al-Ījī kembali ke Shābankārah untuk mengelola tanah keluarga yang dijadikan wakaf demi menjaga kekayaan keluarga. Ia memutus hubungan dengan pemerintahan Ilkhanat setelah Rashid al-Din dihukum mati pada 1318, dan baru kembali menjalin relasi ketika putra wazir Rashid al-Din, Ghiyath al-Din Muhammad, diangkat sebagai wazir pada 1327 dan kemudian menjadi hakim agung kesultanan Ilkhanat. Ketika Dinasti Ilkhanat runtuh pada 1335, al-Ījī pindah ke Syiraz, memperoleh perlindungan dari penguasa setempat Abu Ishaq Injü, dan menjabat sebagai hakim agung kota tersebut. Meskipun pendapatannya menurun, ia menikmati suasana pusat pemerintahan yang mencintai seni serta bersosialisasi dengan para sastrawan di Syiraz, termasuk Hafidz asy-Syirazi.[9]

Murid

Ia memiliki banyak murid, beberapa yang terkenal di antaranya[6]:

  • Sa'ad al-Din al-Taftazani
  • Syarif al-Jurjani
  • Syamsuddin al-Kirmani
  • Diya' al-Din al-Afifi

Meninggal dunia

Setelah hampir dua dekade menikmati masa yang relatif tenang di Shiraz, Abu Ishaq Injü digulingkan pada 1354 oleh penguasa saingannya, Mubariz al-Din Muhammad, yang wilayah kekuasaannya juga mencakup Shābankārah. Menyadari perubahan politik tersebut, al-Ījī menjalin hubungan secara diam-diam dengan pihak baru dan kembali ke kampung halamannya sebelum Shiraz sepenuhnya direbut. Namun, langkah itu tidak luput dari perhatian. Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan di sebuah benteng dekat Īj, tempat ia wafat pada 1356. Kematiannya diduga terjadi atas hasutan atau perintah dari seorang mantan pendukung Abu Ishaq Injü, dalam konteks pergolakan politik yang menyertai runtuhnya kekuasaan sebelumnya.[9]

Pengaruh keilmuan dan karya ilmiah

Setelah masa Al-Ghazali, Aḍud al-Din al-Ījī tampil sebagai salah satu pemikir utama periode pascaklasik (muta’akhkhirīn) dalam tradisi intelektual Islam. Salah satu ciri penting karyanya adalah pendekatan tahqiq atau verifikasi, yakni upaya menelaah kembali warisan literatur keislaman sebelumnya melalui analisis kritis dan argumentasi logis, khususnya dalam ranah filsafat dan teologi. Melalui metode ini, ia menguji ketahanan doktrin-doktrin teologis terhadap penalaran rasional yang berkembang dalam diskursus kalam dan filsafat Islam.[1]

Karya teologinya yang paling berpengaruh adalah Al-Mawaqif fi 'ilm al-Kalam, yang menjadi kontribusi paling berpengaruh dalam sejarah intelektual teologis Sunni. Walaupun ia juga menulis dalam berbagai bidang seperti usul fikih, akidah, kebahasaan, serta teologi filosofis, pengaruh Al-Mawaqif sangat besar dalam alam pikiran peradaban Islam melalui karya penjelas (syarah) yang ditulis oleh dua murid al-Iji yang terkemuka, Syarif al-Jurjani dan Sa'ad al-Din al-Taftazani. Melalui karya-karya tersebut, kerangka teologi yang dirumuskannya menjadi fondasi penting bagi teologi Sunni selama berabad-abad. Pandangan teologis al-Ījī bahkan dipandang sebagai bentuk final dari mazhab Asy‘ari, tanpa pembaruan konseptual besar setelahnya.[1][10][4]

Selain itu, ia juga menulis al-Akhlaq al-Adudiyyah, sebuah karya dalam bidang filsafat moral. Meskipun tidak seterkenal karya teologinya, teks ini memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan studi etika dalam dunia Islam dan menunjukkan keluasan minat intelektualnya di luar disiplin kalam.[4]

Karya tulis

Aḍud al-Din al-Ījī merupakan penulis yang produktif, tema-tema karya-karyanya melintas berbagai bidang: ilmu kalam, fikih mazhab Syafi‘i, tafsir Al-Qur’an, retorika dan dialektika, etika, hingga historiografi. Luasnya pengaruh karya-karyanya terlihat dari banyaknya syarah dan hasyiyah yang ditulis atasnya. Sejumlah karyanya bahkan masih diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, seperti Universitas Al-Azhar, hingga hari ini.[10]

Karya teologinya yang paling terkenal adalah Al-Mawaqif fi 'ilm al-Kalam ("Posisi-posisi dalam Ilmu Kalam"), sebuah karya teologi multi-jilid yang disusun secara sistematis menyerupai summa theologica, dengan bahasa ringkas dan padat. Isinya merangkum gagasan teologi Asy‘ari era akhir, dengan pilar utama bertumpu pada Kitab Muhashshal karya Fakhr al-Din al-Razi dan Abkar al-Afkar karya Sayf al-Din al-Amidi. Selain itu, ia menulis al-Akhlaq al-Adudiyya tentang filsafat moral, serta Aqaid al-Adudiyya, sebuah risalah terkenal mengenai akidah Asy‘ari.[1][6]

Karya-karya lainnya meliputi Jawahir al-Kalam, Sharh Mukhtasar al-Muntaha, yang dianggap sebagai salah satu syarah terbaik atas Mukhtasar al-Muntaha karya Ibn al-Hajib, serta Tahqiq al-Tafsir fi Takthir al-Tanwir, komentar atas Anwar al-Tanzil wa-Asrar al-Ta'wil karya al-Baidhawi. Ia juga menulis Al-Fawaid al-Ghiyathiya dalam bidang retorika, Adab al-Bahth tentang etika perdebatan, serta Ishraq al-Tawarikh, sebuah risalah mengenai sejarah agama.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Şeyhhasan, Münzir (2025). "'Adud Al-Din Al-Iji?s Theological Works, the Chronology, Authorship Journey, and Interrelations". Nazariyat, Journal for the History of Islamic Philosophy and Sciences. 11 (2): 81–131. doi:10.65643/nazariyat.11.2.m0234en.
  2. ↑ "Imam Adud-Din al-Iji". Khairabadi Institute (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2026-02-28.
  3. 1 2 "ʿAŻOD-AL-DĪN ĪJĪ". Encyclopaedia Iranica (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.
  4. 1 2 3 Salem, Feryal (2022-01-01). "'Adud al-Din al-Iji's Ethics: A Translation of al-Akhlaq al-Adudiyya and Some Notes on Its Commentaries". Mysticism and Ethics in Islam.
  5. 1 2 Suyūṭī (1970). Kitāb bughyat al-wuʻāh fī ṭabaqāt al-lughawīyīn wa-al-nuḥāh (dalam bahasa Arab). Dār al-Maʻrifah.
  6. 1 2 3 Abu Sa'id al-Mishry. Al-Mausu'ah al-Mujazah fi al-Tarikh al-Islam (dalam bahasa Arab). Shamela. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-09-21.
  7. ↑ "اعتراف القاضي العضد بالإجماع - پایگاه اطلاع رسانی و نشر آثار حضرت آیت الله سید علی میلانی". پایگاه اطلاع رسانی و نشر آثار حضرت آیت الله سید علی میلانی (dalam bahasa Arab). 2023-06-08. Diakses tanggal 2026-02-28.
  8. ↑ Shihadeh, Ayman; Thiele, Jan, ed. (2020). Philosophical theology in Islam: later Ashʻarism east and west. Islamicate intellectual history. Leiden ; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-42660-3.
  9. 1 2 van Ess, Josef. "Adud al-Din al-Iji | Encyclopedia.com". www.encyclopedia.com. Diakses tanggal 2026-02-28.
  10. 1 2 The Biographical Encyclopaedia of Islamic Philosophy (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Continuum. 2006-01-01. doi:10.1093/acref/9780199754731.001.0001. ISBN 978-0-19-975473-1.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Belanda
  • Norwegia
  • Swedia
  • Vatikan
  • Israel
Akademik
  • CiNii
Orang
  • Deutsche Biographie
  • DDB
Lain-lain
  • IdRef
  • İslâm Ansiklopedisi
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Riwayat hidup dan karir keilmuan
  2. Kehidupan awal
  3. Spesialisasi keilmuan
  4. Karir
  5. Murid
  6. Meninggal dunia
  7. Pengaruh keilmuan dan karya ilmiah
  8. Karya tulis
  9. Referensi

Artikel Terkait

Islam di Malaysia

artikel daftar Wikimedia

Sejarah Iran

aspek sejarah

Negara Islam Irak dan Syam

kelompok militan Islam Sunni

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026