Al-Taftazani (1322-1390) atau memiliki nama lengkap Sa'ad al-Din Mas'ud bin Fakhruddin 'Umar bin Burhanaddin Abdullah al-Harawi al-Khurasani at-Taftazani asy-Syafi'i adalah seorang ulama Islam asal Persia yang menguasai ragam bidang. Secara umum, al-Taftazani dikenal sebagai teolog Asy'ariyah dan pakar fikih Syafi'i terkemuka.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Nama dalam bahasa asli | (ar) مسعود بن عمر بن عبد الله التفتازاني |
|---|---|
| Biografi | |
| Kelahiran | 1r Maret 1322 Taftazan (en) |
| Kematian | 10 Januari 1390 Samarkand |
| Tempat pemakaman | Samarkand |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam, Islam Sunni, Asy'ariyah dan Maturidiyah |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Ilmu Kalam, puisi, tata bahasa, geometri dan logika |
| Pekerjaan | sastrawan, Faqih, mutakallim (en) |
| Murid dari | Adud al-Din al-Iji dan Qutb al-Din Razi (en) |
| Karya kreatif | |
Karya terkenal | |
Al-Taftazani (1322-1390) atau memiliki nama lengkap Sa'ad al-Din Mas'ud bin Fakhruddin 'Umar bin Burhanaddin Abdullah al-Harawi al-Khurasani at-Taftazani asy-Syafi'i (Arab: سعدالدین مسعودبن عمربن عبداللّه هروی خراسانی تفتازانیcode: ar is deprecated ) adalah seorang ulama Islam asal Persia yang menguasai ragam bidang. Secara umum, al-Taftazani dikenal sebagai teolog Asy'ariyah dan pakar fikih Syafi'i terkemuka.
Terdapat sumber yang terbatas yang membahas mengenai kehidupan pribadi al-Taftazani.[1] Ia lahir pada bulan Safar tahun 722 Hijriyah, yang bertepatan dengan Februari 1322 di kota Taftazan, provinsi Khorasan, kini Iran. Pada masa mudanya, ia belajar di berbagai madrasah di kota Herat, Ghidjuvan, Feryumed, Gulistan, Khwarizmi, Samarkand dan Sarakhs. Salah satu gurunya yang paling terkemuka ialah Adud al-Din al-Iji. Al-Taftazani menghabiskan hidupnya di sekitar kota Sarakhs.[2] Menurut Ibnu Arabshah, ia merupakan bagian dari para cendekiawan Muslim yang berada di sekitar pemerintahan Mongol Barat Kipchak, seperti Quthbuddin asy-Syirazi. Ketika Timur Lenk menaklukan Khwarizmi, ia memperhatikan kecerdasan yang dimiliki al-Taftazani, dan memindahkannya ke kota Sarakhs.
Al-Taftazani meninggal dunia pada tahun 1390 di kota Samarkand.[3] Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis dalam bukunya Ad-Durar al-Kaminah fi al-A'yan al-Mi'ah al-Tsaminah, bahwa dengan wafatnya al-Taftazani "pengetahuan telah berakhir di Timur" dan "tidak ada yang bisa menggantikannya."[4]
Al-Taftāzānī memulai karier ilmiahnya sejak usia muda dan segera dikenal sebagai sarjana dengan keluasan disiplin yang jarang ditemukan pada masanya. Karya pertamanya, Sharḥ al-Taṣrīf al-ʿIzzī mengenai morfologi bahasa Arab, disusun ketika ia berusia sekitar enam belas tahun di Feryumed (738 H/1338 M)[2][5], menunjukkan penguasaan terhadap tata bahasa Arab. Ia belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, termasuk ʿAdud al-Din al-Iji dan Quthbuddin asy-Syirazi, yang membentuk fondasi intelektualnya dalam logika, teologi kalam, dan filsafat. Sejak pertengahan abad ke-14, ia aktif berpindah antara pusat-pusat intelektual di Khurasan dan Transoksiana, menulis dan mengajar di kota-kota seperti Herat, Ghidjuvan, dan Gulistān.
Reputasi ilmiahnya berkembang melalui karya-karya komentar (syarah) dan ringkasan sistematis atas teks-teks klasik yang menjadi kurikulum utama madrasah. Di bidang retorika, karya seperti al-Muṭawwal dan Mukhtaṣar al-Maʿānī menjadikannya otoritas penting dalam tradisi balāghah (retorika bahasa Arab) yang didasarkan kepada kitab Miftāḥ al-ʿUlūm karya al-Sakkākī. Selain itu, ia menghasilkan karya berpengaruh dalam logika dan teologi, termasuk Sharḥ al-Shamsiyya, Tahdhīb al-Manṭiq wa’l-Kalām, serta Sharḥ al-ʿAqāʾid al-Nasafiyya, yang kemudian menjadi teks standar pembelajaran di berbagai wilayah dunia Islam, digunakan oleh baik Syiah maupun Sunni.[6][1] Aktivitas intelektualnya memperlihatkan kecenderungan sintesis antara rasionalisme logika dan ortodoksi teologi Sunni.[7][1]
Pada fase akhir kariernya, al-Taftāzānī berhubungan dengan lingkungan politik dan intelektual istana Timurid. Setelah periode berkarya di Khwārizm, ia dipanggil ke Samarqand oleh Timur dan memperoleh penghormatan sebagai ulama istana. Di kota ini pula ia terlibat perdebatan intelektual terkenal dengan Syarif al-Jurjani, yang mencerminkan dinamika kompetisi ilmiah pada akhir abad ke-14. Hingga wafatnya di Samarkand pada akhir abad tersebut, al-Taftāzānī tetap diakui sebagai salah satu figur utama dalam pembentukan tradisi keilmuan madrasah pascaklasik Islam, terutama melalui karya-karya pedagogisnya yang terus digunakan selama berabad-abad.[2][6]
Di bidang tata bahasa Arab, karya awal al-Taftāzānī adalah Sharḥ Taṣrīf al-ʿIzzī (selesai ditulis tahun 738 H), komentar atas risalah morfologi karya ʿIzz al-Dīn al-Zanjānī.[8] Karya ini memperluas perhatian ilmiah terhadap teks asalnya dan memicu lahirnya banyak syarah, ḥāsyiyah, serta nazam atas kedua karya tersebut. Ia juga menyusun Irshād al-Hādī (selesai ditulis kira-kira tahun 778 H), sebuah risalah ringkas tentang nahwu yang mengikuti model al-Kāfiyah karya Ibn al-Ḥājib. Dalam ranah filologi dan adab, ia menulis al-Niʿam al-Sawābigh fī Sharḥ al-Nawābigh, komentar atas karya al-Zamakhsharī al-Kalim al-Nawābigh.
Dalam bidang balāghah, al-Taftāzānī menghasilkan tiga karya utama yang berkaitan dengan tradisi Miftāḥ al-ʿUlūm karya al-Sakkākī. al-Muṭawwal Sharḥ Talkhīṣ al-Miftāḥ (selesai ditulis tahun 747 H) merupakan komentar panjang atas Talkhīṣ al-Miftāḥ karya al-Khaṭīb al-Qazwīnī. Ia kemudian menyusun versi ringkasnya, al-Mukhtaṣar Sharḥ Talkhīṣ al-Miftāḥ (selesai ditulis tahun 756 H), yang lebih dikenal sebagai Mukhtaṣar al-Maʿānī dan menjadi teks standar di madrasah-madrasah Timur Islam. Karya ketiganya, Sharḥ Miftāḥ al-ʿUlūm (selesai ditulis 787 H), adalah penjelasan langsung atas bagian ketiga Miftāḥ al-ʿUlūm, khususnya tentang ilmu maʿānī dan bayān.[3]
Di bidang logika, ia menulis Sharḥ al-Risālah al-Shamsiyyah (selesai ditulis tahun 752 H), komentar atas risalah logika karya Najm al-Dīn al-Kātibī, yang juga dikenal dengan nama al-Saʿdiyyah di beberapa wilayah.[9] Selain itu, Tahdhīb al-Manṭiq wa’l-Kalām merupakan karya penting yang memadukan logika dan teologi kalam, dan banyak digunakan sebagai teks pengantar dalam kurikulum rasional madrasah.
Dalam bidang hukum Islam, al-Taftāzānī menulis at-Talwīḥ fī Kashf Ḥaqāʾiq al-Tanqīḥ (758 H), komentar atas karya ushul fikih Ṣadr al-Sharīʿa. Ia juga menyusun Ḥāshiyya al-Mukhtaṣar al-Muntahā (770 H), superkomentar atas karya ushul Ibn al-Ḥājib, serta Miftāḥ al-Fiqh (782 H). Karya lainnya meliputi Ikhtiṣār al-Sharḥ Talkhīṣ al-Jāmiʿ al-Kabīr (785 H), ringkasan atas literatur fikih Ḥanafī, dan al-Fatāwā al-Ḥanafiyya (759 H), kompilasi fatwa-fatwanya. Disebut pula karya Sharḥ al-Farāʾiḍ al-Sirājiyya dalam bidang faraʾiḍ.
Dalam teologi, karyanya yang paling berpengaruh adalah Sharḥ al-ʿAqāʾid al-Nasafiyya, komentar atas risalah akidah karya Abū Ḥafṣ ʿUmar al-Nasafī.[1][7] Syarah ini menjadi sangat populer dan melahirkan puluhan karya penjelas hingga abad ke-17, serta disusun menurut metodologi Māturīdī. Ia juga menulis Sharḥ al-Maqāṣid, sebuah karya teologi Asyʿarī komprehensif yang sering disejajarkan dengan Sharḥ al-Mawāqif karya Syarif al-Jurjani. Karya lainnya meliputi Ḥāshiyya ʿalā al-Kashshāf (789 H), yang tidak selesai, al-Arbaʿīn, serta Sharḥ al-Ḥadīth al-Arbaʿīn atas koleksi hadis al-Nawawī.
Beberapa manuskrip langka dari Ḥāshiyat al-Kashshāf diketahui tersimpan dalam koleksi museum dan koleksi privat, dengan salinan bertarikh abad ke-12 dan ke-13 H, meskipun karya tersebut tidak selesai pada masa hidupnya.