al-Mawāqif fi Ilmil Kalām adalah buku mengenai akidah Islam yang ditulis oleh 'Adud al-Din al-Iji, seorang kadi, ulama fikih Syafi'i dan teologi Asy'ariyah asal Persia. Buku ini diselesaikan sekitar tahun 1330 ketika Al-Iji mengajar sebagai cendekiawan untuk penguasa Ilkhanat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


al-Mawāqif fi Ilmil Kalām (Arab: المواقف في علم الكلام, romanized: al-Mawāqif fī ʿilm al-kalāmcode: ar is deprecated , Indonesia: Tingkatan-tingkatan dalam Ilmu Kalām) adalah buku mengenai akidah Islam yang ditulis oleh 'Adud al-Din al-Iji, seorang kadi, ulama fikih Syafi'i dan teologi Asy'ariyah asal Persia. Buku ini diselesaikan sekitar tahun 1330 ketika Al-Iji mengajar sebagai cendekiawan untuk penguasa Ilkhanat.[1]
Al-Mawāqif disusun dalam enam bab besar (mawāqif), yaitu pengantar metodologis (fī al-muqaddimāt), pembahasan metafisika umum (al-umūr al-ʿāmmah), kajian tentang aksiden atau sifat-sifat yang melekat pada sesuatu (al-aʿrāḍ), substansi sebagai entitas dasar yang menjadi penopang aksiden (al-jawāhir), teologi dalam arti khusus (ilāhiyyāt), serta persoalan-persoalan yang diketahui melalui wahyu (samʿiyyāt), yang mencakup pembahasan tentang imamah dan diakhiri dengan lampiran mengenai berbagai aliran.[2] Dalam karya ini, al-Ījī memaparkan secara ringkas namun padat berbagai posisi dan argumen pemikiran para filsuf maupun beragam mazhab kalām, lalu mengajukan kritik atas premis dan kesimpulan mereka, sembari tetap menunjukkan komitmen tegas pada tesis-tesis utama teologi Asyʿarī.[3] Meskipun struktur dan terminologi yang digunakan Al-Iji dalam al-Mawāqif mengadopsi dari kerangka metafisika para ulama filsafat, sebagaimana dicirikan oleh Ibn Khaldun sebagai corak kajian kalām “modern” (mutaʾakhkhirūn)[4], al-Ījī memanfaatkan perangkat tersebut untuk membingkai ulang, menata kembali, dan mempertahankan doktrin kalām secara sistematis, sehingga melalui karya ini pembaca berinteraksi secara intens dengan logika, filsafat alam, dan metafisika dalam format yang kritis terhadap filsafat.[3]
Meskipun ditulis dengan gaya yang sangat padat dan teknis, al-Mawāqif sejak awal beredar di kalangan murid-murid al-Ījī dan segera melahirkan tradisi syarah (commentary) dan hasyiah (supercommentary), seperti yang ditulis oleh Syarif al-Jurjani dan Syamsuddin al-Kirmani. Melalui tradisi penjelasan ilmiah ini, al-Mawāqif mengalami kanonisasi dan kemudian menjadi bagian penting kurikulum pengajaran kalām Asyʿarī di berbagai madrasah di dunia Islam, termasuk dalam lingkungan pendidikan madrasah Usmaniyyah di Turki Usmani dan tradisi Dars-i-Nizami di Asia Selatan.[5][6] Sejumlah sarjana modern menilai karya ini sebagai salah satu teks berpengaruh dalam perkembangan kalām Asyʿarī periode pascaklasik.[3]
Dalam mukadimah al-Mawāqif, al-Ījī menyampaikan kritik terhadap karya-karya teologi Asyʿarī yang telah ada sebelumnya. Ia menilai bahwa sebagian di antaranya terlalu ringkas, sementara yang lain justru terlalu panjang tanpa kejelasan tujuan.[7] Menurutnya, ada pula karya yang hanya bersifat persuasif, repetitif, atau tidak sepenuhnya memenuhi standar argumentasi yang diharapkan. Kritik tersebut mencerminkan pandangannya bahwa literatur teologi Asyʿarī pada masanya belum memberikan respons yang memadai terhadap tantangan-tantangan teologis pada masa itu, sehingga diperlukan penyusunan karya yang lebih sistematis dan komprehensif.[2]
Dalam al-Mawāqif, al-Ījī merespons berbagai arus intelektual yang berkembang pada masanya. Ia menanggapi doktrin-doktrin Syiah yang dalam dekade-dekade sebelumnya dipromosikan oleh para teolog Syi'ah seperti al-Allamah al-Hilli, serta mengkritisi posisi teologis Syamsuddin al-Samarqandi. Ia juga memberikan catatan terhadap mistisisme Ibnu Arabi, yang pada waktu itu menyebar di Tabriz melalui aktivitas keilmuan Abd al-Razzāq al-Kāshānī.[2]
Namun demikian, objek kajian utama al-Mawāqif adalah pemikiran para filsuf, yang dalam pandangan al-Iji saat itu merupakan tantangan intelektual paling signifikan. Sebagaimana ditunjukkan oleh Abdelhamid Sabra, karya ini berupaya menampilkan diskursus kalām yang percaya diri dan ofensif terhadap kajian filsafat saat itu, serta terhadap astronomi yang prinsip-prinsip teoretisnya dianggap bersumber dari filsafat.[8] Dalam konteks ini, al-Ījī memposisikan teologinya berbeda dari sebagian teolog Asyʿarī sezamannya yang menunjukkan kedekatan metodologis dengan filsafat. Tokoh seperti Burhān al-Dīn al-ʿIbrī, yang mempelajari astronomi kepada Quthbuddin asy-Syirazi, dan Shams al-Din al-Isfahani, yang dalam karya-karyanya memperlihatkan kecenderungan filosofis yang kuat, dapat dipandang mewakili arus Asyʿarī yang lebih akomodatif terhadap filsafat.[9]
Dalam penyusunannya, al-Mawāqif secara jelas melanjutkan pola yang telah dirintis oleh al-Baidhawi dalam Ṭawāliʿ al-anwār.[3] Struktur dan urutan pembahasannya menunjukkan kedekatan yang kuat dengan karya tersebut, baik dalam pengelompokan tema maupun dalam sejumlah persoalan yang diangkat. Keterkaitan ini dapat dijelaskan melalui jalur transmisi intelektual, karena dua guru al-Ījī, yakni Zayn al-Din al-Hanaki dan Ahmad ibn Hasan al-Jarburdi, merupakan murid al-Baidhawi.[10] Sejalan dengan karakter kalām mutaʾakhkhirūn yang dicatat oleh Ibn Khaldun, al-Ījī mempertahankan kerangka konseptual yang memadukan kalām dan filsafat, tetapi mengembangkannya dengan uraian yang lebih sistematis, lebih rinci, dan lebih polemis dalam membela posisi teologi Asyʿarī.[1]
Karya ini tampaknya mengalami setidaknya dua tahap penyusunan. Menurut Hajji Khalifa, resensi pertama didedikasikan kepada wazir Ilkhanat, Ghiyāth al-Dīn Muḥammad, dan telah beredar sebelum 1330.[11] Sekitar dua dekade kemudian, al-Ījī merevisinya dan mempersembahkan versi kedua, dengan judul al-Mawāqif al-sulṭāniyyah, kepada Abū Isḥāq Īnjū. Menurut keterangan muridnya, Shams al-Din al-Kirmani, bagian akhir karya, termasuk pembahasan yang lebih tajam terhadap kelompok-kelompok tertentu, ditambahkan dalam tahap revisi ini.[2] Tradisi transmisi awal yang bertumpu pada salinan draf menyebabkan munculnya sejumlah kekeliruan tekstual, yang kemudian diupayakan klarifikasinya melalui syarah-syarah awal.
Al-Mawāqif terdiri dari 6 bab besar, yang disebut al-Ījī dengan mawqif (bentuk tunggal, jamak mawāqif, bermakna literal tingkatan dalam bahasa Arab), dan pada revisi keduanya mengandung satu buah apendiks (tadhyil):[7][3]
Shams al-Din al-Kirmani, murid langsung al-Iji dan hidup bersamanya, menyusun syarah berjudul al-Kawāshif al-Burhāniyya fī sharḥ al-Mawāqif al-sulṭāniyya. Ia menekankan kedekatannya dengan gurunya serta otoritas teks yang digunakannya. Kontribusinya penting bukan hanya secara interpretatif, tetapi juga dalam menstabilkan transmisi awal teks al-Mawāqif.[2]
Karya turunan paling berpengaruh dari al-Mawāqif adalah Sharḥ al-Mawāqif karya al-Jurjani.[1][12] Dalam syarah ini, ia tidak hanya menjelaskan ungkapan al-Ījī yang padat dan teknis, tetapi juga memperluas perdebatan dengan mengintegrasikan analisis kalām dan filsafat secara sistematis. Karyanya kemudian menjadi rujukan utama dalam tradisi madrasah, bahkan sering kali menjadi medium utama bagi generasi berikutnya untuk memahami teks al-Ījī.[3]
Pada periode selanjutnya, tradisi komentar ini berlanjut melalui hasyiah atas syarah al-Jurjānī yang ditulis oleh Mir Muhammad Zahid al-Harawi.[6] Berbeda dengan fase sebelumnya ketika al-Mawāqif lebih banyak dikaji di wilayah Asia Tengah, hasyiah al-Harawi pada abad ke 17 justru menjadi titik balik kajian kalam di wilayah Asia Selatan. Sejak karya ini diterbitkan, hampir seluruh sarjana kalam di Asia Selatan terlibat dengan al-Mawāqif dengan bentuk karya hasyiah atas syarah atas teksnya (supercommentaries).[6] Menariknya, tradisi ini terutama berfokus pada Mawqif Kedua tentang al-umūr al-ʿāmmah, khususnya pembahasan awal mengenai definisi wujud, relasi wujud dan māhiyyah, gradasi wujud, serta wujud mental. Penekanan ini selaras dengan dinamika disiplin maʿqūlāt (ilmu rasional) di Asia Selatan, terutama perdebatan logis mengenai non-eksisten dan yang mustahil sebagai objek pengetahuan.[5]