Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiAl-Mawaqif fi Ilmil Kalam
Artikel Wikipedia

Al-Mawaqif fi Ilmil Kalam

al-Mawāqif fi Ilmil Kalām adalah buku mengenai akidah Islam yang ditulis oleh 'Adud al-Din al-Iji, seorang kadi, ulama fikih Syafi'i dan teologi Asy'ariyah asal Persia. Buku ini diselesaikan sekitar tahun 1330 ketika Al-Iji mengajar sebagai cendekiawan untuk penguasa Ilkhanat.

buku mengenai akidah Islam karya Adud al-Din al-Iji
Diperbarui 7 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Al-Mawaqif fi Ilmil Kalam
Kitab Sharh al-Mawāqif fi Ilmil Kalām karya Syarif al-Jurjani dengan Hasyiah karya Abdul Hakim Sialkoti dan Muhammad bin Hasan bin Ahmad al-Kawakibi al-Halabi

al-Mawāqif fi Ilmil Kalām (Arab: المواقف في علم الكلام, romanized: al-Mawāqif fī ʿilm al-kalāmcode: ar is deprecated , Indonesia: Tingkatan-tingkatan dalam Ilmu Kalām) adalah buku mengenai akidah Islam yang ditulis oleh 'Adud al-Din al-Iji, seorang kadi, ulama fikih Syafi'i dan teologi Asy'ariyah asal Persia. Buku ini diselesaikan sekitar tahun 1330 ketika Al-Iji mengajar sebagai cendekiawan untuk penguasa Ilkhanat.[1]

Al-Mawāqif disusun dalam enam bab besar (mawāqif), yaitu pengantar metodologis (fī al-muqaddimāt), pembahasan metafisika umum (al-umūr al-ʿāmmah), kajian tentang aksiden atau sifat-sifat yang melekat pada sesuatu (al-aʿrāḍ), substansi sebagai entitas dasar yang menjadi penopang aksiden (al-jawāhir), teologi dalam arti khusus (ilāhiyyāt), serta persoalan-persoalan yang diketahui melalui wahyu (samʿiyyāt), yang mencakup pembahasan tentang imamah dan diakhiri dengan lampiran mengenai berbagai aliran.[2] Dalam karya ini, al-Ījī memaparkan secara ringkas namun padat berbagai posisi dan argumen pemikiran para filsuf maupun beragam mazhab kalām, lalu mengajukan kritik atas premis dan kesimpulan mereka, sembari tetap menunjukkan komitmen tegas pada tesis-tesis utama teologi Asyʿarī.[3] Meskipun struktur dan terminologi yang digunakan Al-Iji dalam al-Mawāqif mengadopsi dari kerangka metafisika para ulama filsafat, sebagaimana dicirikan oleh Ibn Khaldun sebagai corak kajian kalām “modern” (mutaʾakhkhirūn)[4], al-Ījī memanfaatkan perangkat tersebut untuk membingkai ulang, menata kembali, dan mempertahankan doktrin kalām secara sistematis, sehingga melalui karya ini pembaca berinteraksi secara intens dengan logika, filsafat alam, dan metafisika dalam format yang kritis terhadap filsafat.[3]

Meskipun ditulis dengan gaya yang sangat padat dan teknis, al-Mawāqif sejak awal beredar di kalangan murid-murid al-Ījī dan segera melahirkan tradisi syarah (commentary) dan hasyiah (supercommentary), seperti yang ditulis oleh Syarif al-Jurjani dan Syamsuddin al-Kirmani. Melalui tradisi penjelasan ilmiah ini, al-Mawāqif mengalami kanonisasi dan kemudian menjadi bagian penting kurikulum pengajaran kalām Asyʿarī di berbagai madrasah di dunia Islam, termasuk dalam lingkungan pendidikan madrasah Usmaniyyah di Turki Usmani dan tradisi Dars-i-Nizami di Asia Selatan.[5][6] Sejumlah sarjana modern menilai karya ini sebagai salah satu teks berpengaruh dalam perkembangan kalām Asyʿarī periode pascaklasik.[3]

Latar belakang

Dalam mukadimah al-Mawāqif, al-Ījī menyampaikan kritik terhadap karya-karya teologi Asyʿarī yang telah ada sebelumnya. Ia menilai bahwa sebagian di antaranya terlalu ringkas, sementara yang lain justru terlalu panjang tanpa kejelasan tujuan.[7] Menurutnya, ada pula karya yang hanya bersifat persuasif, repetitif, atau tidak sepenuhnya memenuhi standar argumentasi yang diharapkan. Kritik tersebut mencerminkan pandangannya bahwa literatur teologi Asyʿarī pada masanya belum memberikan respons yang memadai terhadap tantangan-tantangan teologis pada masa itu, sehingga diperlukan penyusunan karya yang lebih sistematis dan komprehensif.[2]

Dalam al-Mawāqif, al-Ījī merespons berbagai arus intelektual yang berkembang pada masanya. Ia menanggapi doktrin-doktrin Syiah yang dalam dekade-dekade sebelumnya dipromosikan oleh para teolog Syi'ah seperti al-Allamah al-Hilli, serta mengkritisi posisi teologis Syamsuddin al-Samarqandi. Ia juga memberikan catatan terhadap mistisisme Ibnu Arabi, yang pada waktu itu menyebar di Tabriz melalui aktivitas keilmuan Abd al-Razzāq al-Kāshānī.[2]

Namun demikian, objek kajian utama al-Mawāqif adalah pemikiran para filsuf, yang dalam pandangan al-Iji saat itu merupakan tantangan intelektual paling signifikan. Sebagaimana ditunjukkan oleh Abdelhamid Sabra, karya ini berupaya menampilkan diskursus kalām yang percaya diri dan ofensif terhadap kajian filsafat saat itu, serta terhadap astronomi yang prinsip-prinsip teoretisnya dianggap bersumber dari filsafat.[8] Dalam konteks ini, al-Ījī memposisikan teologinya berbeda dari sebagian teolog Asyʿarī sezamannya yang menunjukkan kedekatan metodologis dengan filsafat. Tokoh seperti Burhān al-Dīn al-ʿIbrī, yang mempelajari astronomi kepada Quthbuddin asy-Syirazi, dan Shams al-Din al-Isfahani, yang dalam karya-karyanya memperlihatkan kecenderungan filosofis yang kuat, dapat dipandang mewakili arus Asyʿarī yang lebih akomodatif terhadap filsafat.[9]

Penulisan

Dalam penyusunannya, al-Mawāqif secara jelas melanjutkan pola yang telah dirintis oleh al-Baidhawi dalam Ṭawāliʿ al-anwār.[3] Struktur dan urutan pembahasannya menunjukkan kedekatan yang kuat dengan karya tersebut, baik dalam pengelompokan tema maupun dalam sejumlah persoalan yang diangkat. Keterkaitan ini dapat dijelaskan melalui jalur transmisi intelektual, karena dua guru al-Ījī, yakni Zayn al-Din al-Hanaki dan Ahmad ibn Hasan al-Jarburdi, merupakan murid al-Baidhawi.[10] Sejalan dengan karakter kalām mutaʾakhkhirūn yang dicatat oleh Ibn Khaldun, al-Ījī mempertahankan kerangka konseptual yang memadukan kalām dan filsafat, tetapi mengembangkannya dengan uraian yang lebih sistematis, lebih rinci, dan lebih polemis dalam membela posisi teologi Asyʿarī.[1]

Karya ini tampaknya mengalami setidaknya dua tahap penyusunan. Menurut Hajji Khalifa, resensi pertama didedikasikan kepada wazir Ilkhanat, Ghiyāth al-Dīn Muḥammad, dan telah beredar sebelum 1330.[11] Sekitar dua dekade kemudian, al-Ījī merevisinya dan mempersembahkan versi kedua, dengan judul al-Mawāqif al-sulṭāniyyah, kepada Abū Isḥāq Īnjū. Menurut keterangan muridnya, Shams al-Din al-Kirmani, bagian akhir karya, termasuk pembahasan yang lebih tajam terhadap kelompok-kelompok tertentu, ditambahkan dalam tahap revisi ini.[2] Tradisi transmisi awal yang bertumpu pada salinan draf menyebabkan munculnya sejumlah kekeliruan tekstual, yang kemudian diupayakan klarifikasinya melalui syarah-syarah awal.

Isi

Al-Mawāqif terdiri dari 6 bab besar, yang disebut al-Ījī dengan mawqif (bentuk tunggal, jamak mawāqif, bermakna literal tingkatan dalam bahasa Arab), dan pada revisi keduanya mengandung satu buah apendiks (tadhyil):[7][3]

  • Mawqif Pertama - Epistemologi dan Logika: Membahas sumber dan klasifikasi pengetahuan (ʿilm), definisi (ḥadd), proposisi, serta penalaran silogistik (qiyās) sebagai perangkat metodologis dalam perdebatan kalām.
  • Mawqif Kedua - Metafisika Umum (al-umūr al-ʿāmmah): Mengulas konsep-konsep universal seperti wujud (wujūd) dan ketiadaan (ʿadam), esensi (māhiyyah), keniscayaan (wujūb), kemungkinan (imkān), kemustahilan (istiḥālah), kesatuan dan kemajemukan, serta kausalitas (ʿilliyyah). Kerangka ini menjadi dasar ontologi kalām, yang membedakan Tuhan sebagai Wājib al-Wujūd dan makhluk sebagai mumkin al-wujūd.
  • Mawqif Ketiga - Aksiden (al-aʿrāḍ): Membahas aksiden, yaitu sifat-sifat yang tidak berdiri sendiri dan hanya ada pada substansi, seperti warna, gerak, diam, dan kualitas lainnya dalam teori atomisme kalām.
  • Mawqif Keempat - Substansi (al-jawāhir) dan Filsafat Alam: Mengkaji konsep jawhar (atom atau substansi individual yang menjadi penopang aksiden), struktur tubuh majemuk, sifat-sifat fisik dan nonfisik, serta persoalan jiwa (nafs) dan intelek (ʿaql), termasuk perdebatan mengenai sifat jasmani atau immaterialnya.
  • Mawqif Kelima - Teologi Rasional (ilāhiyyāt): Membahas sifat-sifat Tuhan (ṣifāt Allāh), baik sifat zat maupun sifat perbuatan (ṣifāt al-dhāt dan ṣifāt al-fiʿl), relasi Tuhan dengan penciptaan, serta isu penciptaan perbuatan manusia (khalq al-aʿmāl).
  • Mawqif Keenam - Teologi Wahyu (samʿiyyāt): Mengulas persoalan yang diketahui melalui wahyu, seperti kenabian (nubuwwah), mukjizat (muʿjizah), kebangkitan (baʿth), iman dan kufur, serta kepemimpinan pascakenabian (imāmah).
  • Tadhyīl (Lampiran) - Aliran-aliran Islam (al-firaq): Berisi uraian mengenai berbagai mazhab dan sekte dalam Islam, sebagai penutup karya.

Karya turunan

Shams al-Din al-Kirmani, murid langsung al-Iji dan hidup bersamanya, menyusun syarah berjudul al-Kawāshif al-Burhāniyya fī sharḥ al-Mawāqif al-sulṭāniyya. Ia menekankan kedekatannya dengan gurunya serta otoritas teks yang digunakannya. Kontribusinya penting bukan hanya secara interpretatif, tetapi juga dalam menstabilkan transmisi awal teks al-Mawāqif.[2]

Karya turunan paling berpengaruh dari al-Mawāqif adalah Sharḥ al-Mawāqif karya al-Jurjani.[1][12] Dalam syarah ini, ia tidak hanya menjelaskan ungkapan al-Ījī yang padat dan teknis, tetapi juga memperluas perdebatan dengan mengintegrasikan analisis kalām dan filsafat secara sistematis. Karyanya kemudian menjadi rujukan utama dalam tradisi madrasah, bahkan sering kali menjadi medium utama bagi generasi berikutnya untuk memahami teks al-Ījī.[3]

Pada periode selanjutnya, tradisi komentar ini berlanjut melalui hasyiah atas syarah al-Jurjānī yang ditulis oleh Mir Muhammad Zahid al-Harawi.[6] Berbeda dengan fase sebelumnya ketika al-Mawāqif lebih banyak dikaji di wilayah Asia Tengah, hasyiah al-Harawi pada abad ke 17 justru menjadi titik balik kajian kalam di wilayah Asia Selatan. Sejak karya ini diterbitkan, hampir seluruh sarjana kalam di Asia Selatan terlibat dengan al-Mawāqif dengan bentuk karya hasyiah atas syarah atas teksnya (supercommentaries).[6] Menariknya, tradisi ini terutama berfokus pada Mawqif Kedua tentang al-umūr al-ʿāmmah, khususnya pembahasan awal mengenai definisi wujud, relasi wujud dan māhiyyah, gradasi wujud, serta wujud mental. Penekanan ini selaras dengan dinamika disiplin maʿqūlāt (ilmu rasional) di Asia Selatan, terutama perdebatan logis mengenai non-eksisten dan yang mustahil sebagai objek pengetahuan.[5]

Pranala luar

  • Kitab al-Mawaqif fi Ilmil Kalam di Internet Archive

Referensi

  1. 1 2 3 Şeyhhasan, Münzir (2025). "'Adud Al-Din Al-Iji?s Theological Works, the Chronology, Authorship Journey, and Interrelations". Nazariyat, Journal for the History of Islamic Philosophy and Sciences. 11 (2): 81–131. doi:10.65643/nazariyat.11.2.m0234en.
  2. 1 2 3 4 5 Shihadeh, Ayman; Thiele, Jan (2020). "The Legacy of ʿAḍud al-Dīn al-Ījī: His Works and His Students". Philosophical theology in Islam: later Ashʻarism east and west. Islamicate intellectual history. Leiden Boston (Mass.): Brill. ISBN 978-90-04-42660-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 4 5 6 El-Rouayheb, Khaled; Schmidtke, Sabine (2016-10-03). "Al- Mawāqif fī ʿilm al- kalām by ʿAḍūd al- Dīn al- Ījī (d. 1355), and Its Commentaries". The Oxford Handbook of Islamic Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-062113-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Abdurrahman, Muhammad bin Khaldun, Al-Allamah. Mukaddimah Ibnu Khaldun. Pustaka Al Kautsar. ISBN 978-979-592-561-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  5. 1 2 Robinson, Francis (1997). "Ottomans-Safavids-Mughals: Shared Knowledge and Connective Systems". Journal of Islamic Studies. 8 (2): 151–184. ISSN 0955-2340.
  6. 1 2 3 Shihadeh, Ayman; Thiele, Jan, ed. (2020). "The Mawāqif of ʿAḍud al-Dīn al-Ījī in India". Philosophical theology in Islam: later Ashʻarism east and west. Islamicate intellectual history. Leiden ; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-42660-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. 1 2 ʿAḍad al-dīn ʿAbd al-Raḥmān al-ʾĪjī. "Muqaddimah". Kitab al-Mawāqif fī ʿilm al-kalām (dalam bahasa Arabic). Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Sabra, Abdelhamid Ibrahim (1994). "Science and philosophy in medieval Islamic theology: The evidence of the fourteenth century". Zeitschrift für Geschichte der arabisch-islamischen Wissenschaften. 9 (1–42).
  9. ↑ Morrison, Robert (2014). "What Was the Purpose of Astronomy in Ījī's Kitāb al-Mawāqif fī ʿilm al-kalām?". Dalam Pfeiffer, Judith (ed.). Politics, patronage, and the transmission of knowledge in 13th-15th century Tabriz. Iran studies. Leiden ; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-25539-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ Abu Sa'id al-Mishry. Al-Mausu'ah al-Mujazah fi al-Tarikh al-Islam (dalam bahasa Arab). Shamela. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-09-21.
  11. ↑ Çelebi, Kâtip (1892). Kitab kashf al-zunun ʼan asami al-kutub waal-funun. al-Tabʼah al-awwal (dalam bahasa Arab). Matbʼah al-ʼilm.
  12. ↑ Binbas E (2018). "al-Jurjānī, al-Sayyid al-Sharīf". Dalam Fleet Kate, Krämer Gudrun, Matringe Denis, Nawas John, and Stewart DJ (ed.). Encyclopaedia of Islam Three Online. Brill. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • İslâm Ansiklopedisi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Penulisan
  3. Isi
  4. Karya turunan
  5. Pranala luar
  6. Referensi

Artikel Terkait

Al-Taftazani

ulama Islam Persia, pakar logika dan teologi Islam

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026