2 Korintus 6 adalah bagian dari surat rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dan Timotius di Makedonia pada tahun 55–56 M. Ayat 1 dan 2 berhubungan erat dengan akhir dari bab sebelumnya. Ayat 14-18, bersama dengan 2 Korintus 7:1, sering dilihat sebagai sebuah sisipan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| 2 Korintus 6 | |
|---|---|
Folio dari Papirus 46 (ditulis ~ tahun 200 M), memuat 2 Korintus 11:33-12:9. Naskah tersebut memuat hampir semua Surat-surat Paulus. | |
| Kitab | Surat 2 Korintus |
| Kategori | Surat-surat Paulus |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 8 |
2 Korintus 6 (atau II Korintus 6, disingkat 2Kor 6) adalah bagian dari surat rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen.[1][2] Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dan Timotius (2 Korintus 1:1) di Makedonia pada tahun 55–56 M.[3][4] Ayat 1 dan 2 berhubungan erat dengan akhir dari bab sebelumnya ("bekerja bersama-sama dengan Dia" dalam ayat 1 mengikuti referensi kepada Tuhan atau Kristus dalam 2 Korintus 5:16-21).[5] Ayat 14-18, bersama dengan 2 Korintus 7:1, sering dilihat sebagai sebuah sisipan.[4]
Pembagian isi pasal:
Paulus memercayai bahwa seorang percaya dapat menerima kasih karunia Allah dan mengalami keselamatan (2 Korintus 6:2), tetapi sesudah itu, karena kecerobohan rohani atau dosa yang disengaja, orang itu mungkin saja meninggalkan iman dan kehidupan di dalam Injil lalu terhilang lagi. Semua orang harus didorong untuk diperdamaikan dengan Allah dan menerima kasih karunia-Nya (2 Korintus 5:20). Mereka yang menerima kasih karunia Allah harus didorong untuk tidak membuat kasih karunia itu menjadi sia-sia (bandingkan 2 Korintus 6:14-18).[7]
Referensi silang: Yesaya 49:8; Mazmur 69:14; Yesaya 55:6
Di sini Paulus mengutip dari Kitab Yesaya pasal 49:8:
Dalam pandangan Allah, umat manusia pada akhirnya digolongkan dalam dua kelompok, yaitu: mereka yang ada dalam Kristus dan mereka yang tidak ada dalam Kristus (2 Korintus 6:14–16). Karena itu, orang percaya jangan bermitra secara sukarela atau berhubungan intim dengan orang tidak percaya, sebab hubungan semacam itu dapat merusakkan hubungan mereka dengan Kristus. Ini meliputi kemitraan dalam dunia usaha, golongan rahasia, kencan, pernikahan, dan persahabatan karib. Hubungan orang Kristen dengan orang tidak percaya seharusnya sejauh yang diperlukan dalam kaitan dengan keberadaan sosial atau ekonomi, atau untuk menunjukkan jalan keselamatan kepada orang yang belum percaya.[7]
Referensi silang: Imamat 26:12; Yeremia 32:38; Yehezkiel 37:27; Wahyu 21:3
Referensi silang: Yesaya 52:11
Referensi silang: Keluaran 4:22; 2 Samuel 7:14; 1 Tawarikh 17:13; Yesaya 43:6; Roma 8:14