2 Korintus 11 adalah bagian surat rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dan Timotius di Makedonia pada tahun 55–56 M. Menurut teolog Heinrich Meyer, bab 10-13 "mengandung bagian utama ketiga dari Surat ini, pembelaan polemik sang rasul mengenai martabat dan efisiensi kerasulannya, dan kemudian kesimpulannya".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| 2 Korintus 11 | |
|---|---|
Folio dari Papirus 46 (ditulis ~ tahun 200 M), memuat 2 Korintus 11:33-12:9. Naskah tersebut memuat hampir semua Surat-surat Paulus. | |
| Kitab | Surat 2 Korintus |
| Kategori | Surat-surat Paulus |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 8 |
2 Korintus 11 (atau II Korintus 11, disingkat 2Kor 11) adalah bagian surat rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen.[1][2] Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dan Timotius (2 Korintus 1:1) di Makedonia pada tahun 55–56 M.[3][4] Menurut teolog Heinrich Meyer, bab 10-13 "mengandung bagian utama ketiga dari Surat ini, pembelaan polemik sang rasul mengenai martabat dan efisiensi kerasulannya, dan kemudian kesimpulannya".[5]
Pembagian isi pasal:

Referensi silang: Galatia 1:9.
Pengajar-pengajar sesat mungkin mengatakan bahwa penyataan alkitabiah itu benar, tetapi pada saat yang sama mereka juga mengatakan bahwa mereka memiliki penyataan dan pengetahuan tambahan di luar yang alkitabiah yang setara dengan kekuasaan Alkitab dan absah bagi jemaat secara keseluruhan. Pengajaran palsu semacam itu biasanya mendatangkan suatu sinkretisme antara iman Kristen dengan agama-agama atau filsafat-filsafat lain. Hal ini akan mengakibatkan kesalahan berikut:

Kisah ini juga dicatat pada Kisah Para Rasul 9:25 dan surat Galatia pasal 1:17. Raja Aretas (Harithat IV) yang wafat pada tahun 40 memerintah dari tahun 9 sampai 40 M.[9] Sejarawan Flavius Yosefus mencatat detail perselisihan antara raja Aretas dengan raja Herodes Antipas mengenai perbatasan.[10] Yosefus menuliskan Aretas sebagai "raja Arabia Petrea".[10][11] Kaisar Romawi Tiberius berpihak kepada Herodes Antipas dan memerintahkan Vitellius, prokonsul di Suriah, "untuk berperang melawan Aretas." Dalam perjalanan Vitellius menerima komunikasi yang mengabarkan kematian Tiberius, maka ia menarik kembali tentaranya. Tiberius wafat pada tanggal 16 Maret 37 dan pada saat itu Damaskus berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh Vitellius. Raja Aretas wafat pada tahun 40 sehingga lolosnya Paulus dari Damaskus terjadi antara tahun 37 dan 40. Belum jelas kapan Aretas menerima kuasa atas Damaskus dari Kaisar Caligula dalam penyelesaian kasus di Suriah. Pemerintahan Areta di Damaskus dapat berawal dari tahun 37 berdasarkan penemuan arkeologi berupa mata uang logam. Dosker menulis: "Waktu Tiberias wafat pada tahun 37, dan mengingat urusan Arabia sudah tuntas pada tahun 39, jelas bahwa pertobatan Paulus terjadi antara tahun 34 dan 36. Tanggal ini kemudian menjadi pasti berkat sebuah koin dari Damaskus, dengan gambar raja Aretas dan tahun "101". Jika tahun itu mengacu pada era Pompian, berarti sama dengan tahun 37 M, sehingga pertobatan Paulus terjadi pada tahun 34.[12]"[13]