2 Korintus 5 adalah bagian dari surat rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dan Timotius di Makedonia pada tahun 55–56 M.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| 2 Korintus 5 | |
|---|---|
Folio dari Papirus 46 (ditulis ~ tahun 200 M), memuat 2 Korintus 11:33-12:9. Naskah tersebut memuat hampir semua Surat-surat Paulus. | |
| Kitab | Surat 2 Korintus |
| Kategori | Surat-surat Paulus |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 8 |
2 Korintus 5 (atau II Korintus 5, disingkat 2Kor 5) adalah bagian dari surat rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen.[1][2] Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dan Timotius (2 Korintus 1:1) di Makedonia pada tahun 55–56 M.[3][4]
Teolog abad ke-18 John Gill (1697-1771) merangkum isi bab ini:
Dalam pasal ini, rasul Paulus menguraikan lebih lanjut tentang keyakinan, pengharapan, dan kerinduan orang-orang kudus akan kemuliaan surgawi; pembicaraan tentang ketekunan dan kerajinan dirinya dan para pelayan Injil lainnya dalam memberitakan firman, dengan alasan-alasan yang mendorong mereka melakukannya; dan menutupnya dengan pujian tentang pelayanan Injil berdasarkan pokok bahasan, inti, dan substansinya yang penting.[5]
Pembagian isi pasal:
Paulus menggunakan anak kalimat yang bersyarat, "jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar", karena dia tahu bahwa Kristus bisa kembali dengan segera, sehingga dia tidak akan mengalami kematian; sebaliknya tubuhnya akan langsung diubah. Kedua kemungkinan yang sama ini (kematian atau pengubahan) berlaku bagi orang percaya pada masa kini. Kristus telah menyatakan bahwa kita tidak mengetahui hari atau jam kedatangan-Nya (Matius 24:36,42,44); karena peristiwa ini sudah dekat, maka kita memiliki motivasi yang kuat untuk hidup kudus (Matius 24:42; 1 Yohanes 3:2–3).[7]
Melalui perintah Allah yang berkuasa untuk menciptakan itu (2 Korintus 4:6), mereka yang menerima Yesus Kristus oleh iman dijadikan ciptaan yang baru, yang termasuk dunia baru Allah di mana Roh Kudus memerintah (Roma 8:14; Galatia 5:25; Efesus 2:10). Orang percaya itu menjadi seorang yang baru (Galatia 6:15; Efesus 2:10,15; 4:24; Kolose 3:10) diperbarui seturut dengan citra Allah (2 Korintus 4:16; 1 Korintus 15:49; Efesus 4:24; Kolose 3:10), ikut merasakan kemuliaan-Nya (2 Korintus 3:18) dengan pengetahuan (Kolose 3:10) dan pengertian (Roma 12:2) yang dibaharui, dan hidup dalam kekudusan (Efesus 4:24).[7]
Pendamaian (bahasa Yunani: katallage) merupakan satu segi dari karya penebusan Yesus Kristus, pemulihan orang yang berdosa kepada persekutuan dengan Allah.
Alkitab sama sekali tidak menyatakan bahwa Kristus telah benar-benar menjadi seorang "berdosa", sebab Dia tetap menjadi Anak Domba Allah yang tak bercela. Tetapi Kristus telah mengambil dosa kita atas diri-Nya sendiri dan Allah Bapa menjadikan-Nya sasaran hukuman Allah Bapa ketika Kristus menjadi korban karena dosa kita di atas kayu salib (Yesaya 53:10). Pada waktu mengambil alih hukuman kita itu, Yesus telah memungkinkan Allah secara adil mengampuni orang yang berdosa (lihat Yesaya 53:5; Roma 3:24–25).