Yesaya 1 adalah pasal pertama Kitab Yesaya dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Berisi Firman Allah yang disampaikan oleh nabi Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem. Nabi ini hidup pada zaman raja Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia dari Kerajaan Yehuda sekitar abad ke-8 SM.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Yesaya 1 | |
|---|---|
Gulungan Besar Kitab Yesaya, yang memuat lengkap seluruh Kitab Yesaya, dibuat pada abad ke-2 SM, diketemukan di gua 1, Qumran, pada tahun 1947. | |
| Kitab | Kitab Yesaya |
| Kategori | Nevi'im |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Lama |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 23 |
Yesaya 1 (disingkat Yes 1) adalah pasal pertama Kitab Yesaya dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen.[1] Berisi Firman Allah yang disampaikan oleh nabi Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem. Nabi ini hidup pada zaman raja Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia dari Kerajaan Yehuda sekitar abad ke-8 SM.[2][3]
Teks Masoret/Gulungan Laut Mati (dibaca dari kanan ke kiri):
Transliterasi:
Rujukan: Kejadian 19
Dikutip pada: Roma 9:29
Kota Sodom dan Gomora binasa sama sekali karena dahsyatnya dosa mereka (Kejadian 19:1–25). Yesaya menyamakan Yehuda dengan kedua kota ini karena ketidaksetiaan mereka yang hebat.[8]
Terjemahan Baru (LAI, 1974)
Transliterasi
Terjemahan bebas
Kata-kata "sha·nim" (diterjemahkan "kirmizi") dan "to·la" (diterjemahkan "kain kesumba") sebenarnya bersama-sama dalam bahasa Ibrani membentuk nama suatu serangga Kermes ilicis darimana diperoleh zat pewarna "merah kirmizi" yang terkenal berasal dari daerah sekitar Laut Tengah, termasuk Israel.
Ayat ini mengandung janji Allah, bahwa orang-orang Israel (dan umat manusia) yang sudah berdosa berat dapat disucikan dari dosa oleh kuasa Allah.[10] Allah tidak ingin mengutuk dan membinasakan umat-Nya. Ia menawarkan pengampunan penuh jikalau mereka mau bertobat, membuang kejahatan, berusaha melakukan yang benar, dan menaati firman-Nya (Yesaya 1:16–19). Pengampunan Allah kini tersedia bagi semua orang, yang sekalipun telah berbuat dosa, mengakui dosa-dosa mereka, bertobat, dan menerima penyucian Allah melalui darah Yesus Kristus (Lukas 24:46–47; 1 Yohanes 1:9). Orang yang menolak kemurahan Allah dan malah memilih untuk mengikuti jalannya sendiri dalam pemberontakan akan dibinasakan (Yesaya 1:20).[8]