Xie Chengen adalah seorang animator, sutradara, dan pengusaha asal Tiongkok. Ia merupakan pendiri sekaligus direktur eksekutif dari Shenzhen Seventh Impressions Culture Media Co., Ltd. Namanya dikenal secara luas sebagai pencipta karakter dinosaurus fiktif populer, Nailoong.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Xie Chengen | |
|---|---|
| Nama asal | 谢承恩code: zh is deprecated |
| Kebangsaan | Tiongkok |
| Pekerjaan | Animator, pengusaha, sutradara animasi |
| Dikenal atas | Pencipta Nailoong |
| Gelar | Pendiri Shenzhen Seventh Impressions Culture Media Co., Ltd. |
Xie Chengen (Hanzi: 谢承恩; Pinyin: Xiè Chéng'ēn) adalah seorang animator, sutradara, dan pengusaha asal Tiongkok. Ia merupakan pendiri sekaligus direktur eksekutif dari Shenzhen Seventh Impressions Culture Media Co., Ltd. Namanya dikenal secara luas sebagai pencipta karakter dinosaurus fiktif populer, Nailoong.[1]
Xie Chengen memiliki latar belakang dalam bidang desain grafis dan animasi komputer. Pada tahun 2017, ia mendirikan perusahaan Seventh Impressions di Shenzhen dengan visi untuk mengembangkan kekayaan intelektual (IP) asli yang memiliki daya tarik universal.
Inspirasi untuk karakter utamanya, Nailoong, berasal dari pengalaman masa kecil Xie yang sangat mengagumi dinosaurus. Ia bermimpi untuk menjelajahi dunia prasejarah, yang kemudian ia tuangkan ke dalam desain karakter dinosaurus kuning yang imut dan elastis. Karakter ini resmi diperkenalkan kepada publik pada tahun 2020 melalui platform video pendek.[2]
Di bawah kepemimpinannya, waralaba Nailoong berkembang pesat dari sekadar konten video pendek menjadi ekosistem media yang mencakup serial animasi, gim video, dan produk konsumen berskala internasional.
Sebagai seorang kreator, Xie menekankan pada kualitas visual CGI dan penceritaan yang sederhana namun menyentuh. Ia merancang karakter-karakternya, termasuk Xiao Qi dan Bombloong, untuk menyampaikan pesan mengenai persahabatan, rasa ingin tahu, dan kebahagiaan sederhana. Pendekatan "minim dialog" yang ia terapkan memungkinkan karyanya menembus batasan bahasa dan diterima oleh audiens global, termasuk di Indonesia.[3]