William James Sidis adalah seorang anak ajaib asal Amerika Serikat dengan keterampilan matematika dan linguistik. Dia aktif sebagai matematikawan, ahli bahasa, sejarawan, dan penulis. Dia menulis buku yang berjudul The Animate and the Inanimate, yang diterbitkan pada tahun 1925, di mana dia berspekulasi tentang asal-usul kehidupan dalam konteks termodinamika. Karya-karyanya diterbitkan dengan berbagai nama samaran, karena dia tidak pernah menggunakan nama aslinya sebagai seorang penulis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| William James Sidis | |
|---|---|
William James Sidis pada saat wisudanya di Harvard pada tahun 1914. | |
| Lahir | (1898-04-01)1 April 1898 Boston, Massachusetts, A.S. |
| Meninggal | 17 Juli 1944(1944-07-17) (umur 46) Boston, Massachusetts, A.S. |
| Nama lain |
|
| Pendidikan | Universitas Harvard (BA, 1914) |
| Tempat kerja | Institut Rice |
| Karya terkenal |
|
William James Sidis (/ˈsaɪdɪs/; 1 April 1898 – 17 July 1944) adalah seorang anak ajaib asal Amerika Serikat dengan keterampilan matematika dan linguistik. Dia aktif sebagai matematikawan, ahli bahasa, sejarawan, dan penulis. Dia menulis buku yang berjudul The Animate and the Inanimate, yang diterbitkan pada tahun 1925, di mana dia berspekulasi tentang asal-usul kehidupan dalam konteks termodinamika. Karya-karyanya diterbitkan dengan berbagai nama samaran, karena dia tidak pernah menggunakan nama aslinya sebagai seorang penulis.
Ayahnya, yaitu psikiater Boris Sidis, membesarkan putranya menurut prinsip-prinsip tertentu dengan keinginan agar putranya berbakat. Sidis menjadi terkenal pertama karena kedewasaannya dan kemudian karena keanehannya dan penarikan diri dari kehidupan publik. Pada akhirnya, ida menghindari matematika sama sekali, menulis tentang subjek yang lain dengan menggunakan sejumlah nama samaran. Dia masuk Universitas Harvard pada usia 11 tahun dan, sebagai orang dewasa, anggota keluarganya mengklaim bahwa dia memiliki IQ antara 250 dan 300, dan fasih dalam sekitar 25 bahasa dan dialek. Pernyataan ini belum diverifikasi, tetapi banyak orang sezamannya, termasuk Norbert Wiener dan Daniel Frost Comstock, setuju bahwa dia sangat cerdas.
Sidis lahir dari pasangan emigran Yahudi dari Kekaisaran Rusia (sekarang Ukraina),[1] pada tanggal 1 April 1898, di Boston, Massachusetts.[2] Ayahnya, yaitu Boris Sidis, berimigrasi pada tahun 1887 untuk melarikan diri dari penganiayaan politik dan antisemit.[3] Ibunya, yaitu Sarah (Mandelbaum) Sidis, dan keluarganya telah melarikan diri dari pogrom pada akhir tahun 1880-an.[4] Dia kuliah di Boston University dan lulus dari Fakultas Kedokteran pada tahun 1897.[5] William dinamai sesuai dengan nama ayah baptisnya, yang merupakan teman sekaligus kolega Boris, yaitu seorang filsuf asal Amerika Serikat William James. Boris adalah seorang psikiater dan telah menerbitkan banyak buku serta artikel, serta melakukan pekerjaan pionir dalam psikologi abnormal. Boris juga merupakan seorang poliglot.
Kedua orang tua Sidis percaya bahwa cinta pengetahuan yang tumbuh cepat dan tidak kenal takut harus dipupuk, meskipun metode pengasuhan mereka dikritik di media dan secara retrospektif.[6][7] Sidis dapat membaca New York Times pada usia 18 bulan.[8] Pada usia delapan tahun, dia dilaporkan telah belajar sendiri delapan bahasa (Latin, Yunani, Prancis, Rusia, Jerman, Bahasa Ibrani, Turki, dan Armenia) dan menemukan bahasa yang lain, yang dia sebut sebagai "Vendergood".
Meskipun universitas sebelumnya menolak untuk mengizinkan ayahnya untuk mendaftarkannya pada usia 9 tahun karena dia masih anak-anak, tetapi pada tahun 1909, pada usia 11 tahun, Sidis membuat rekor dengan menjadi orang termuda yang mendaftar di Universitas Harvard. Pada awal tahun 1910, penguasaan Sidis terhadap matematika tingkat tinggi sedemikian rupa sehingga dia memberikan kuliah di Klub Matematika Harvard mengenai benda empat dimensi, yang menarik perhatian nasional.[9][10] Anak ajaib yang terkenal dan pelopor sibernetika, yaitu Norbert Wiener, yang kuliah di Harvard pada saat itu dan mengenal Sidis, menulis dalam bukunya Ex-Prodigy: "Pembicaraan itu akan memberikan penghargaan kepada seorang mahasiswa pascasarjana tahun pertama atau kedua dari segala usia...pembicaraan itu menggambarkan kemenangan usaha tanpa bantuan dari seorang anak yang sangat cerdas."[11][12] Profesor fisika MIT, yaitu Daniel F. Comstock, memuji dengan menyatakan bahwa: "Karl Friedrich Gauss adalah satu-satunya contoh dalam sejarah, dari semua keajaiban, yang mirip dengan Sidis. Saya meramalkan bahwa Sidis muda akan menjadi matematikawan astronomi yang hebat. Dia akan mengembangkan teori-teori baru dan menemukan cara-cara baru untuk menghitung fenomena astronomi. Saya yakin dia akan menjadi matematikawan hebat, pemimpin dalam sains itu di masa depan."[13] Sidis mulai mengambil beban kuliah penuh waktu pada tahun 1910 dan memperoleh gelar Sarjana Seni, cum laude, pada tanggal 18 Juni 1914, pada usia 16 tahun, dengan nilai campuran A, B, dan C.[14][15]
Tidak lama setelah lulus, Sidis mengatakan kepada wartawan bahwa: "Saya ingin menjalani kehidupan yang sempurna. Satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yang sempurna adalah dengan menjalaninya dalam pengasingan". Dia memberikan kesempatan wawancara kepada seorang wartawan dari Boston Herald. Koran tersebut melaporkan sumpah Sidis untuk tetap selibat dan tidak akan pernah menikah, karena dia mengatakan bahwa wanita tidak menarik baginya. Kemudian, dia mengembangkan rasa sayang yang kuat kepada Martha Foley, dan mendaftar di Harvard Graduate School of Arts and Sciences.[16]
Setelah sekelompok mahasiswa Harvard mengancam Sidis secara fisik, kedua orang tuanya memberilannya pekerjaan di William Marsh Rice Institute for the Advancement of Letters, Science, and Art (sekarang Universitas Rice) di Houston, Texas, sebagai asisten pengajar matematika. Dia tiba di Rice pada bulan Desember 1915 pada usia 17 tahun. Dia adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang berusaha untuk meraih gelar doktornya.
Sidis mengajar di tiga kelas: Geometri Euklides, Geometri non-Euklides, dan matematika untuk mahasiswa yang baru (dia menulis buku teks untuk mata kuliah geometri Euclidean dalam bahasa Yunani).[17] Setelah kurang dari setahun, karena merasa frustrasi dengan jurusannya, persyaratan mengajarnya, dan perlakuan dari mahasiswa yang lebih tua darinya, dia meninggalkan jabatannya dan kembali ke New England. Ketika seorang teman kemudian bertanya kepadanya mengapa dia berhenti, dia menjawab bahwa, "Saya tidak pernah tahu mengapa mereka memberi saya pekerjaan itu sejak awal—saya bukan guru yang baik. Saya tidak berhenti: saya diminta untuk berhenti." Sidis meninggalkan usahanya untuk meraih gelar pascasarjana di bidang matematika dan mendaftar di Harvard Law School pada bulan September 1916, tetapi mengundurkan diri dengan reputasi yang baik pada tahun terakhirnya pada bulan Maret 1919.[18]
Pada tahun 1919, tidak lama setelah dia keluar dari sekolah hukum, Sidis ditangkap karena berpartisipasi di dalam pawai Hari Buruh Sosialis di Boston yang berubah menjadi kekerasan. Dia dijatuhi hukuman selama 18 bulan penjara berdasarkan Undang-Undang Penghasutan 1918 oleh Hakim Pengadilan Kota Roxbury Albert F. Hayden. Penangkapan Sidis menjadi berita utama di surat kabar, karena kelulusannya yang cepat dari Harvard telah membuatnya menjadi seorang selebriti lokal yang cukup terkenal. Selama persidangan, Sidis mengatakan bahwa dia pernah menjadi penentang wajib militer Perang Dunia I, seorang sosialis, dan tidak percaya pada Tuhan seperti "bos besar orang Kristen", tetapi pada sesuatu yang jauh dari manusia.[19][20] Dia kemudian mengembangkan filsafat libertarian sendiri yang berdasarkan pada hak individu dan "kontinuitas sosial Amerika".[21][22] Ayahnya mengatur dengan jaksa wilayah agar Sidis tidak dipenjara sebelum bandingnya diajukan ke pengadilan; sebagai gantinya, kedua orang tuanya menahannya di sanatorium mereka di New Hampshire selama setahun. Mereka membawanya ke California, di mana dia menghabiskan waktu selama satu tahun lagi. Di sanatorium, kedua orang tuanya berusaha untuk "mereformasi" dirinya dan mengancamnya dengan pemindahannya ke rumah sakit jiwa.[23]
Setelah kembali ke Pantai Timur pada tahun 1921, Sidis bertekad untuk menjalani kehidupan yang mandiri dan pribadi. Dia hanya mengambil pekerjaan mengoperasikan mesin hitung atau tugas-tugas kasar yang lainnya. Dia bekerja di Kota New York dan menjadi terasing dari kedua orang tuanya. Butuh waktu selama bertahun-tahun sebelum dia diizinkan secara hukum untuk kembali ke Massachusetts, dan dia merasa khawatir selama bertahun-tahun tentang risiko penangkapannya. Dia terobsesi mengumpulkan transportasi kereta trem, menulis terbitan berkala yang diterbitkan sendiri, dan mengajarkan versinya tentang sejarah Amerika kepada sekelompok kecil teman yang tertarik. Pada tahun 1933, Sidis berhasil lulus ujian Pegawai Negeri Sipil di New York, tetapi mendapatkan nilai yang rendah, yaitu 254.[24] Dalam surat pribadinya, Sidis menulis bahwa hal ini "tidak begitu menggembirakan".[24] Pada tahun 1935, dia menulis sebuah naskah yang tidak diterbitkan, yaitu The Tribes and the States, yang menelusuri kontribusi penduduk asli Amerika Serikat terhadap demokrasi Amerika Serikat.[25]
Pada tahun 1937, dalam sebuah artikel di The New Yorker yang berjudul "Where Are They Now?" (dalam bahasa Indonesia: "Di Mana Mereka Sekarang?", James Thurber secara anonim menggambarkan kehidupan Sidis sebagai kehidupan yang sepi, di "kamar tidur lorong di daerah kumuh South End, Boston".[26] Sebagai tanggapan, Sidis mengajukan gugatan dengan tuduhan telah memuat banyak pernyataan palsu.[27] Pengadilan yang lebih rendah telah menolak Sidis sebagai seorang tokoh publik yang tidak memiliki hak untuk menentang publisitas pribadi. Dia kalah dalam banding atas gugatan pelanggaran privasi di Pengadilan Tinggi Federal Amerika Serikat untuk Wilayah II pada tahun 1940. Hakim Charles Edward Clark menyatakan simpati kepada Sidis, yang mengklaim bahwa publikasi tersebut telah mengeksposnya pada "cemoohan, ejekan, dan penghinaan publik" dan menyebabkannya menderita "penderitaan mental yang menyedihkan [dan] penghinaan", tetapi menemukan bahwa pengadilan tidak bersedia untuk "memberikan semua detail intim kehidupan pribadi kekebalan mutlak dari intip-intip pers".[28]
Namun, bagian pencemaran nama baik dari gugatan tersebut dibiarkan berlanjut, dan Sidis pada akhirnya berhasil menyelesaikan masalahnya dengan The New Yorker sebesar $3.000.[29]
Sidis meninggal dunia karena pendarahan otak pada tahun 1944 di Boston pada usia 46 tahun.[30]
Tulisan Sidis mencakup berbagai macam subjek. Dia menulis tentang kosmologi, sejarah penduduk asli Amerika Serikat, dan transportasi kereta api, serta menciptakan sebuah bahasa yang disebut sebagai Vendergood. Dalam The Animate and the Inanimate (1925), Sidis meramalkan keberadaan wilayah ruang tempat hukum termodinamika kedua berlaku dalam arah waktu terbalik wilayah lokal kita. The Tribes and the States (ca 1935) dimaksudkan untuk memberikan sejarah pemukiman Amerika Serikat dari zaman prasejarah hingga 1828.[31]
Sidis adalah seorang "peridromophile", yang merupakan istilah yang diciptakan olehnya untuk orang-orang yang terpesona dengan penelitian transportasi dan sistem trem. Dia menulis sebuah risalah tentang transfer trem, yaitu Notes on the Collection of Transfers, yang mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan penggunaan transportasi umum.[32] Pada tahun 1930, Sidis menerima paten untuk kalender abadi putar yang memperhitungkan tahun kabisat.[33]
Atas karya ini, dia diundang untuk berbicara di "pertemuan jenius" yang perdana pada tahun 1926, yang diselenggarakan oleh Liga Pembinaan Jenius milik Winifred Sackville Stoner di Tuckahoe, New York.[34]
Sidis menulis The Animate and the Inanimate untuk menguraikan pemikirannya tentang asal-usul kehidupan, kosmologi, dan potensi pembalikan hukum kedua termodinamika melalui setan Maxwell, di antara hal-hal yang lainnya. Buku ini diterbitkan pada tahun 1925, tetapi ada yang menduga bahwa Sidis telah menggarap teori tersebut sejak tahun 1916.[35] Salah satu motivasi teori ini tampaknya adalah untuk menjelaskan teori "energi cadangan" dari psikolog dan filsuf William James, yang mengusulkan bahwa orang-orang yang mengalami kondisi ekstrem dapat menggunakan "energi cadangan".[36] Pendidikan "keajaiban yang dipaksakan" yang dijalani oleh Sidis sendiri merupakan hasil dari pengujian teori tersebut. Karya tersebut merupakan salah satu dari sedikit karya yang tidak ditulis oleh Sidis dengan menggunakan nama samaran.
Dalam The Animate and the Inanimate, Sidis menulis bahwa alam semesta tidak terbatas dan mengandung bagian-bagian "kecenderungan negatif" di mana[37] hukum fisika dibalik, disandingkan dengan "kecenderungan positif", yang bertukar selama kurun waktu tertentu. Dia menulis bahwa tidak ada "asal-usul kehidupan": kehidupan selalu ada dan hanya berubah melalui evolusi. Sidis mengadopsi teori kehidupan berbasis sianogen milik Eduard Pflüger, dan mengutip hal-hal "organik" seperti kacang almond yang memiliki sianogen yang tidak membunuh. Karena sianogen biasanya sangat beracun, kacang almond merupakan anomali yang aneh. Sidis menggambarkan teorinya sebagai perpaduan model kehidupan mekanistik dan model vitalis, serta mendukung gagasan bahwa kehidupan datang ke Bumi dari asteroid (seperti yang dikemukakan oleh Lord Kelvin dan Hermann von Helmholtz). Sidis juga menulis bahwa secara fungsional, bintang-bintang "hidup" dan menjalani siklus terang-gelap yang berulang terus-menerus, membalikkan hukum yang kedua di bagian yang gelap dari siklus tersebut.[38]
Teori Sidis diabaikan setelah dirilis, dan baru ditemukan di loteng pada tahun 1979. Setelah penemuan ini, Buckminster Fuller (yang merupakan teman sekelas Sidis) menulis dalam suratnya kepada Gerard Piel:
Bayangkan kegembiraan dan kegirangan saya saat menerima fotokopi buku Sidis tahun 1925, yang di dalamnya dia dengan jelas meramalkan lubang hitam. Bahkan, saya menganggap seluruh bukunya The Animate and the Inanimate sebagai karya kosmologi yang bagus. Saya mendapati [bahwa] dia berfokus pada subjek yang sama yang membuat saya [merasa] terpesona, dan sampai pada kesimpulan yang hampir sama dengan kesimpulan yang telah saya terbitkan dalam SYNERGETICS, dan akan terbitkan dalam SYNERGETICS Volume II, yang telah dicetak. Sebagai seorang pria Harvard yang lahir satu generasi kemudian, saya harap Anda akan menjadi sama gembiranya seperti saya atas penemuan bahwa Sidis melanjutkan pemikiran dan tulisan yang paling hebat setelah kuliah.[39]
The Tribes and the States ditulis sekitar tahun 1935 tetapi tidak pernah selesai, dan tidak diterbitkan pada saat kematian Sidis. Buku ini adalah sejarah Sidis tentang penduduk asli Amerika Serikat, yang berfokus pada suku-suku Timur Laut, dan berlanjut hingga pertengahan abad ke-19. Dia menulisnya dengan menggunakan nama samaran "John W. Shattuck". Sebagian besar sejarah diambil dari sabuk wampum; Sidis menjelaskan bahwa, "Menenun sabuk wampum adalah semacam tulisan dengan menggunakan sabuk manik-manik berwarna, di mana berbagai desain manik-manik menunjukkan ide yang berbeda menurut sistem yang diterima secara pasti, yang dapat dibaca oleh siapa saja yang mengenal bahasa wampum, terlepas dari bahasa yang digunakan. Catatan dan perjanjian disimpan dengan cara ini, dan orang-orang dapat saling menulis surat dengan [menggunakan] cara ini."[40] Sebagian besar buku ini berpusat pada pengaruh penduduk asli Amerika terhadap orang Eropa yang bermigrasi dan pembentukan Amerika Serikat. Buku ini menggambarkan asal-usul federasi yang penting bagi Bapak Pendiri. Sidis berpendapat bahwa "pada suatu waktu ada orang kulit merah di Eropa dan juga di Amerika".[41]
Sidis menciptakan sebuah bahasa buatan yang disebut sebagai Vendergood dalam buku keduanya, yang berjudul Book of Vendergood, yang ditulisnya pada saat berusia 7 tahun. Meskipun penulis biografi Amy Wallace secara singkat menjelaskan bahasa dan manuskripnya, tetapi seluruh karya tersebut tidak tersedia untuk umum. Bahasanya sebagian besar didasarkan pada Latin dan Yunani, tetapi juga menggunakan Jerman dan Prancis dan Bahasa Roman yang lainnya. Buku ini membedakan delapan mood: indikatif, potensial, imperatif absolut, subjungtif, imperatif, infinitif, optatif, dan "kuat", karya Sidis sendiri.[42] Salah satu babnya berjudul "Imperfect and Future Indicative Active". Bagian yang lain menjelaskan asal-usul angka Romawi. Buku ini menggunakan basis 12, alih-alih menggunakan basis 10:
Sebagian besar contoh disajikan dalam bentuk tes:
Setelah kematiannya, saudara perempuan Sidis, yaitu Helena, mengatakan bahwa dia memiliki IQ "yang tertinggi yang pernah diperoleh", seperti yang dilaporkan dalam buku Abraham Sperling pada tahun 1946 yang berjudul Psychology for the Millions.[44] Sperling menulis bahwa:
{{Cite book |last=Sperling |first=Abraham Paul |url=https://archive.org/details/psychologyforthe032777mbp |title=Psychology for the Millions |publisher=Frederick Fell |year=1947 |location=New York |pages=332–339 |access-date=November 26, 2014 |orig-date=1946}}</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwAaA"/>Helena Sidis memberi tahu saya bahwa beberapa tahun sebelum kematiannya, saudara laki-lakinya, [yaitu] Bill, mengikuti tes kecerdasan dengan seorang psikolog. Skornya adalah yang tertinggi yang pernah diperoleh. Dalam hal IQ, psikolog tersebut mengatakan bahwa angkanya antara 250 dan 300. Di akhir hidupnya, William Sidis mengikuti tes kecerdasan umum untuk posisi Pegawai Negeri Sipil di New York dan Boston. Skor fenomenalnya sudah tercatat.[44]
Telah diakui bahwa ibu Helena dan William, yaitu Sarah, memiliki reputasi karena pernyataan yang dilebih-lebihkan tentang keluarganya. Helena mungkin telah secara keliru menyatakan bahwa ujian Dinas Sipil yang diikuti oleh William pada tahun 1933 adalah tes IQ dan bahwa peringkatnya sebesar 254 adalah skor IQ sebesar 254.[24] Diperkirakan bahwa angka "254" sebenarnya adalah penempatan William dalam daftar tersebut setelah dia lulus ujian Dinas Sipil, seperti yang dia tulis dalam suratnya kepada keluarganya.[45] Helena juga berkata bahwa: "Billy menguasai semua bahasa di dunia, sementara ayahku hanya menguasai 27 bahasa. Aku heran apakah ada bahasa yang tidak dikuasai [oleh] Billy."[24] Pernyataan ini tidak didukung oleh sumber mana pun di luar keluarga Sidis, dan Sarah Sidis juga membuat pernyataan yang tidak masuk akal dalam bukunya pada tahun 1950 yang berjudul The Sidis Story bahwa William dapat mempelajari satu bahasa hanya dalam satu hari saja.[24]
Kehidupan dan karya Sidis, khususnya gagasannya tentang kelompok pribumi di Amerika Serikat, dibahas secara luas dalam buku Robert M. Pirsig yang berjudul Lila: An Inquiry into Morals (1991).[46] Sidis juga dibahas dalam otobiografi Wiener, yang berjudul Ex-Prodigy.[47]
Dalam fiksi, novel karya seorang penulis asal Denmark, yaitu Morten Brask, yang berjudul The Perfect Life of William Sidis (2011) didasarkan pada kehidupan Sidis. Novel yang lain yang didasarkan pada kehidupan Sidis ditulis oleh seorang penulis asal Jerman, yaitu Klaus Caesar Zehrer, pada tahun 2017.[48]
Pendidikan Sidis menekankan pada pengejaran intelektual dengan mengorbankan kualitas lainnya. Pada tahun 1909, The New York Times secara mengejek menggambarkan Sidis sebagai "hasil yang sangat sukses dari eksperimen pemaksaan ilmiah".[6]
Kritik terhadap metode pengasuhan anak yang dilakukan oleh ayahnya muncul dalam wacana yang lebih luas tentang cara yang terbaik untuk mendidik seorang anak. Sebagian besar pendidik pada saat itu percaya bahwa sekolah harus memperkenalkan anak-anak pada pengalaman umum untuk menciptakan warga negara yang baik. Sebagian besar psikolog menganggap bahwa kecerdasan bersifat turun-temurun, posisi yang menghalangi pendidikan anak usia dini di rumah.[49]
Kesulitan yang dihadapi oleh Sidis dalam menghadapi struktur sosial di lingkungan perguruan tinggi mungkin telah membentuk sebuah opini yang menentang anak-anak tersebut untuk maju dengan cepat melalui pendidikan yang tinggi pada zamannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang menantang dapat meringankan kesulitan sosial dan emosional yang pads umumnya dialami oleh anak-anak berbakat.[50]