Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiWayang kancil
Artikel Wikipedia

Wayang kancil

Wayang kancil adalah wayang yang lakonnya kancil. Pada abad ke-15, Sunan Giri menciptakan wayang kancil sebagai media untuk menyiarkan agama Islam di pulau Jawa. Pada saat itu, wayang kancil tidak dapat berkembang pesat. Perkembangan mulai terjadi pada tahun 1925 saat dipopulerkan oleh seorang Tionghoa yang bernama Bo Liem.

Wikipedia article
Diperbarui 2 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Wayang kancil
Tokoh Wayang Kancil
Kancil dalam Wayang Kancil
Pementasan wayang kancil

Wayang kancil adalah wayang yang lakonnya kancil. Pada abad ke-15, Sunan Giri menciptakan wayang kancil sebagai media untuk menyiarkan agama Islam di pulau Jawa. Pada saat itu, wayang kancil tidak dapat berkembang pesat. Perkembangan mulai terjadi pada tahun 1925 saat dipopulerkan oleh seorang Tionghoa yang bernama Bo Liem.[1]

Wayang Kancil dibuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dan kemudian dibentuk menjadi gambar wayang. Pada tahun 1943, Raden Mas Sayid menyempurnakan bentuk wayang kancil dan dipentaskan dengan menggunakan kelir (layar berupa kain putih) untuk menangkap bayangan wayang. Pada tahun 1980, wayang kancil mulai berkembang di Yogyakarta terutama oleh Ki Ledjar Subroto yang berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah. Ia membuat pembaruan bentuk agar dapat dinikmati sebaik mungkin. Kiprah Ki Ledjar juga di dukung oleh budayawan sekaligus wartawan bernama R.P.A Suryanto Sastroatmodjo yang memberikan saran dan masukan pada latar budaya cerita kancil di masa lalu. Pada saat itu, terjadi degradasi peran kesenian tradisional yang mulai ditinggalkan oleh anak-anak. Kehadiran wayang kancil membuat anak-anak mulai kembali menggemari kesenian tradisional. Hal ini juga dimanfaatkan sebagai media pendidikan.

Cerita kancil yang dalam wayang kancil mengikuti zamannya. Wayang kancil memiliki figur-figur tokoh binatang berupa binatang buruan, binatang merangkak, binatang merayap, binatang yang terbang yang termasuk dalam dongeng Kancil dan beberapa manusia seperti Pak tani dan Bu Tani. Kancil dijadikan sumber lakon. Dalam cerita kancil mencuri ketimun, Ki Ledjar Subroto memberikan tafsir bukan mencuri atau menipu. Kancil mencuri karena hutan dirusak oleh masyarakat. Kancil terpaksa mencuri karena untuk mempertahankan hidupnya.Masyarakat dilarang membunuh kancil. Tafsir Ki Ledjer Subroto terhadap kisah kancil mencuri. timun memberikan perspektif yang menonjolkan nilai-nilai kebaikan yang bersifat edukatif. Wayang Kancil membuka peluang bagi anak-anak untuk menjadi dalang cilik.[2]

Pertunjukan wayang kancil dihiasi oleh perkeliran seperti perlengkapan wayang kulit purwa. Seperangkat gamelan lengkap (slendro atau pelog), gedebog, seperangkat wayang, kepyak, cempala, dan platukan, kelir dan lampu kelir listrik saat pertunjukan di malam hari. Selain gamelan lagu –lagu seperti gajah belang, Buta Galak, dan Sur-sur kulonan yang dipadukan dengan gamelan jawa menciptakan hubungan yang menarik antara dalang dan penonton. Bahasa yang digunakan dalang tergantung pada di mana pementasan itu digelar dan siapa pemirsanya. Jika pemirsanya adalah anak-anak dalang biasa menggunakan bahasa Jawa Ngoko secara utuh dan terkadang disisipi Krama Madya dan Krama Inggil saat adegan manusia.

Jumlah wayang hanya 100 buah. Dalang yang mampu menjalankan wayang hanya dua orang:

  1. Ki Lagutama dari Kampung Badran Mangkubumen. Sala
  2. Ki Sutapradangga dari kampung Sangkrah. Sala.

Di Yogyakarta, wayang kancil kembali popular pada tahun 1980, tatkala seorang dalang bernama Ki Ledjar Soebroto yang berasal dari Wonosobo, Jawa tengah mencetuskan kembali pertunjukan Wayang Kancil di Yogyakarta.

Referensi

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Wayang Kancil.
  1. ↑ Pursubaryanto, Eddy (2013). "Seni Pertunjukan Wayang Kancil dan Kemungkinan Pengembangannya di Indonesia". Jurnal Humaniora.
  2. ↑ Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. hlm. 159–160. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • l
  • b
  • s
Wayang
Menurut
media
Kulit
  • Wayang purwa
  • Wayang madya
  • Wayang gedog
  • Wayang Yogyakarta
  • Wayang dupara
  • Wayang Cirebon
  • Wayang wahyu
  • Wayang suluh
  • Wayang kancil
  • Wayang calonarang
  • Wayang krucil
  • Wayang Sasak
  • Wayang Banjar
  • Wayang parwa
  • Wayang arja
  • Wayang gambuh
  • Wayang cupak
Kayu
  • Wayang Ajen
  • Wayang cepak
  • Wayang Gantung
  • Wayang golek
  • Wayang klithik
  • purwa
  • Wayang menak
  • Wayang potehi
  • Wayang thengul
  • Wayang timplong
Orang
  • Wayang Carita
  • Topeng Cirebon
  • Wayang gung
  • Ketoprak
  • Ludruk
  • Sriwedari
  • Wayang topeng
  • Wayang Topeng Malang
Bambu
  • Wayang bambu
  • Wayang bambu Osing
  • Wayang golek langkung
Kain
  • Wayang beber
  • Remeng
Rumput
  • Wayang suket



Menurut
asal
  • Wayang kulit Bali
  • Wayang golek Bandung
  • Wayang kulit Banjar
  • Wayang kulit Gagrag Banyumasan
  • Wayang kulit Betawi
  • Wayang Cina
  • Wayang Kulit Cirebon
  • Wayang Kulit Gagrag Pesisiran
  • Wayang kulit Ponorogo
  • Wayang Kedu Wonosaban
  • Wayang kulit gagrag Yogyakarta
  • Wayang Sasak Lombok
  • Wayang Kulit Palembang
  • Wayang siam
  • Wayang Thailand
Inovasi
  • Wayang arja
  • Wayang gremeng
  • Wayang listrik
  • Wayang revolusi
  • Wayang sadat (gedog)
  • Wayang siam
  • Wayang Suluh
  • Wayang wahyu
Properti dan
kesenian
pendukung
  • Blencong
  • Catur
  • Cempurit
  • Dalang
  • Gamelan
  • Gapit
  • Gunungan
  • Keprak
  • Kriya
  • Lakon
  • Pakeliran
  • Pathet
  • Pedalangan
  • Sabet
  • Sinden
  • Suluk
  • Tancepan
Sumber
cerita
  • Sastra Hindu
    • Mahabharata
    • Ramayana
  • Kakawin
    • Arjunawiwāha
    • Arjunawijaya
    • Bharatayuddha
    • Bomantaka
    • Kresnayana
  • Pustaka Raja Purwa (Serat)
Organisasi
  • Persatuan Pedalangan Indonesia
  • CenkBlonk
  • Indra Swara
  • Ngesti Pandowo
  • Sriwedari
Museum
  • Museum Wayang Beber Sekartaji (Bantul)
  • Museum Wayang Sendang Mas (Banyumas)
  • Museum Topeng Cirebon (Cirebon)
  • Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma (Gianyar)
  • Museum Wayang (Jakarta)
  • Museum Potehi Gudo Jombang (Jombang)
  • Museum Wayang Kekayon (Yogyakarta)
  • Museum Wayang R. Boediardjo (Magelang)
  • Museum Panji (Malang)
  • Museum Gubug Wayang (Mojokerto)
  • Museum Wayang dan Artefak Purbalingga (Purbalingga)
  • Museum Peradaban Asia (Singapura)
  • Museum Sonobudoyo (Yogyakarta)
  • Museum Wayang Indonesia (Wonogiri)
Lihat pula: Daftar tokoh dan lakon wayang
Portal · Kategori


Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi

Artikel Terkait

Wayang

seni pertunjukan drama tradisional Jawa Indonesia

Wayang kulit

seni pertunjukan wayang yang berasal dari Jawa

Wayang purwa

Wayang Suluh, wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila dan sebagainya. Purwa berarti awal, wayang purwa diperkirakan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026