Trigana Air adalah sebuah maskapai penerbangan yang berbasis di Jakarta, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| |||||||
| Didirikan | 1991 | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pusat operasi | Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta | ||||||
| Armada | 16 | ||||||
| Tujuan | 20 | ||||||
| Slogan | We Serve you Here, There, and Everywhere | ||||||
| Kantor pusat | Jakarta, Indonesia | ||||||
| Tokoh utama | Kapten Rubijanto Adisarwono (Presiden Direktur) | ||||||
| Situs web | www | ||||||
Trigana Air (terdaftar sebagai Trigana Air Service) adalah sebuah maskapai penerbangan yang berbasis di Jakarta, Indonesia.[1]
Perusahaan ini mulai beroperasi pada awal tahun 1991 dengan dua pesawat sayap tetap Beechcraft King Air 200, dan pada akhir tahun tersebut telah menambahkan dua helikopter Bell 412SP yang dibuat dengan lisensi. Mereka juga mengoperasikan dua pesawat ATR untuk Hainan Airlines dari Sanya ke Haikou dan Hanoi hingga tahun 2016.[2]
Meskipun maskapai ini tidak pernah terbang ke Uni Eropa, namun kawasan tersebut memberlakukan larangan terbang bagi semua maskapai Indonesia di wilayah udaranya pada tahun 2007 setelah jatuhnya pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 200, yang juga termasuk Trigana Air.[3] Larangan tersebut dicabut pada tahun 2018.
Pada bulan Maret 2021, perusahaan mengumumkan kemitraan dengan J&T Express. Disebutkan juga bahwa J&T Express akan menggunakan beberapa pesawat yang dimiliki oleh Trigana Air untuk operasinya.
Trigana Air terbang ke 20 destinasi di seluruh Indonesia, dengan fokus utama ke Papua.[4]

Armada Trigana Air terdiri dari pesawat-pesawat berikut ini (per April 2024):[5]
| Pesawat | Total |
|---|---|
| ATR 42-300 | 4 |
| ATR 42-500 | 1 |
| ATR 72-500 | 2 |
| Boeing 737-300 | 1 |
| Boeing 737-300F | 6 |
| Boeing 737-300QC | 1 |
| Boeing 737-500 | 1 |
| Dornier 328-100 | 1 |
| Total | 17 |
Maskapai ini sebelumnya mengoperasikan pesawat berikut (per Mei 2022):[6]
Pesawat yang dioperasikan oleh Trigana Air telah terlibat dalam 14 insiden serius, 10 di antaranya mengakibatkan kehilangan lambung pesawat.[7]
Pada tanggal 3 Januari 2018, Airline Ratings memberikan penghargaan yang meragukan kepada Trigana Air sebagai salah satu yang terburuk di dunia dalam hal keselamatan, dengan peringkat satu bintang dari tujuh bintang.[17] Maskapai lain yang mendapat peringkat terburuk adalah Air Koryo dari Korea Utara, Blue Wing Airlines dari Suriname, dan Buddha Air, Nepal Airlines, Tara Air, dan Yeti Airlines dari Nepal.[18][19][20]