Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Takhta

Takhta atau singgasana adalah kursi duduk resmi bagi seorang penguasa untuk menjalankan fungsi seremonial maupun negara. Dalam pandangan abstrak, istilah takhta bisa merujuk kepada monarki maupun raja sendiri, dan juga digunakan dalam beberapa ungkapan seperti Kekuasaan di balik takhta. DI era zaman yang modren di Indonesia, istilah takhta sering disebutkan di dalam kalangan masyarakat dengan sbeutan "harta, takhta, dan wanita". Dalam sebutan ketiga hal ini dapat membahayakan dan menghancurkan karier dan reputasi jika tidak waspada.

Wikipedia article
Diperbarui 23 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Takhta
Untuk ibu kota kabupaten, lihat Singasana (kota).
Untuk grup musik, lihat Tahta (grup musik).
Eunjeongjeon adalah aula utama Istana Gyeongbokgung, dimana Raja melakukan urusan negara.

Takhta (ejaan tidak baku: takhta) atau singgasana adalah kursi duduk resmi bagi seorang penguasa untuk menjalankan fungsi seremonial maupun negara. Dalam pandangan abstrak, istilah takhta bisa merujuk kepada monarki maupun raja sendiri, dan juga digunakan dalam beberapa ungkapan seperti Kekuasaan di balik takhta. DI era zaman yang modren di Indonesia, istilah takhta sering disebutkan di dalam kalangan masyarakat dengan sbeutan "harta, takhta, dan wanita". Dalam sebutan ketiga hal ini dapat membahayakan dan menghancurkan karier dan reputasi jika tidak waspada (khususnya bagi kalangan pria).[1]

Etimologi

Singgasana Kesultanan Serdang di Taman Bacaan Masyarakat Tengku Luckman Sinar

Istilah takhta dalam bahasa Indonesia berasal dari pengaruh serapan bahasa Persia yang memiliki arti sama persis, yaitu kursi kebesaran penguasa. Istilah yang lebih awal dalam kebudayaan Indonesia purba adalah singgasana yang berasal dari bahasa Sanskerta Sīṃhasana yang berarti tempat duduk singa. Singa adalah lambang kebesaran dan keagungan dalam kebudayaan Hindu dan Buddha, sebagai contoh singgasana berukir singa lazim ditemukan dalam kesenian Jawa kuno abad ke-8, seperti di relief Borobudur dan Prambanan. Singgasana Buddha Wairocana di Candi Mendut, serta singgasana Dewi Tara di Candi Kalasan berukir Makara, Singa, dan Gajah.Dalam Eksistensi Takhta Suci adalah sebagai subjek hukum internasional sejak berabad-abad yang telah diakui oleh masyarakat internasional.[2]

Daftar singgasana terkenal

Tahta di Katedral Aachen.
  • Takhta Sulaiman
  • Takhta Apollo, Amyclae
  • Takhta Santo Edward, Westminster Abbey, London
  • Takhta Charlemagne, Aachen
  • Sedia gestatoria kepausan
  • Takhta Daud milik Kaisar Etiopia
  • Takhta Gading Ivan yang Ganas
  • Tahta Suci
  • Takhta Emas Ashanti
  • Takhta Merak Kaisar Mughal, kemudian menjadi Takhta Merak Shah Persia dan Takht-e Marmar Shah Persia
  • Takhta Seruni, takhta Kaisar Jepang
  • Takhta Naga, takhta Kaisar Tiongkok
  • Takhta Phoenix, takhta para raja Korea
  • Takhta Singa, takhta Dalai Lama, penguasa Tibet

Referensi

  1. ↑ QURTUBY, SUMANTO AL. https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/27/harta-takhta-dan-agama. ; ;
  2. ↑ Yanubi, Yustinus Stevanus, dkk. "Eksistensi Takhta Suci Vatikan: Relevansinya terhadap Penundukan Diri Suatu Negara". ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Thrones.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Lain-lain
  • İslâm Ansiklopedisi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Daftar singgasana terkenal
  3. Referensi

Artikel Terkait

Kesultanan Mataram

kerajaan Islam di Pulau Jawa

Hamengkubuwana X

Sultan Yogyakarta ke-10 & Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-3 (sejak 1989)

Takhta Suci

yurisdiksi di Keuskupan Roma

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026