Sumbul adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Dairi, provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Ibukota kecamatan berada di Sumbul, lebih tepatnya di kelurahan Pegagan Julu I.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sumbul | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Peta lokasi Kecamatan Sumbul | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Sumatera Utara | ||||
| Kabupaten | Dairi | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Jaspin Sihombing [1] | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 48,598 jiwa | ||||
| • Kepadatan | 237/km2 (610/sq mi) | ||||
| Kode pos | 22284 | ||||
| Kode Kemendagri | 12.11.02 | ||||
| Kode BPS | 1210050 | ||||
| Luas | 192,58 km² | ||||
| Kepadatan | 237 | ||||
| Desa/kelurahan | 18 Desa 1 Kelurahan | ||||
| |||||
Sumbul adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Dairi, provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Ibukota kecamatan berada di Sumbul, lebih tepatnya di kelurahan Pegagan Julu I.
Kecamatan Sumbul terdiri dari 18 desa dan 1 kelurahan yang adalah sebagai berikut:
Pada umumnya masyarakat adalah petani dengan komoditas utama kopi, padi, dan sayur-sayuran.
Penduduk kabupaten Dairi, pada umumnya merupakan etnis Pakpak, dan ada juga sebagian besar lainnya berasal dari suku Karo dan Batak Toba, serta sebagian kecil Batak Angkola dan Batak Simalungun. Beberapa suku pendatang yang umumnya berada di ibukota kabupaten, seperti suku Aceh, Jawa, Minangkabau, dan suku lainnya. Dan di kecamatan Sumbul, merupakan tempat pemukiman masyarakat multi-etnis yang meliputi Toba, Pakpak, Simalungun, dan Karo.
Mayoritas penduduk Kecamatan Sumbul memeluk agama Kristen Protestan.
Kecamatan ini memiliki objek wisata terkenal yakni objek wisata air seperti Air terjun Lae Pendaroh yang artinya "Air Berdarah". Kecamatan ini terletak tidak jauh dari lokasi Taman Wisata Iman yang terletak di kecamatan Sitinjo dan ibukota kabupaten Dairi, Sidikalang.
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Renun dibangun di dusun Lae Rias Tor Nauli, salah satu dari 14 dusun di Desa Pegagan Julu IV, Kecamatan Sumbul, sekitar 3,5 jam berkendaraan dari Kota Medan. Proyek ini memanfaatkan air dari Sungai Renun dan sebelas sungai lain yang berada di kawasan Hutan Lindung Lae Pondom.[3]