Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Suku Pitopang

Pitopang atau ditulis juga sebagai Patopang atau Patapang adalah salah satu suku (klan) Minangkabau. Mengenai kelarasan, suku ini diketahui menerapkan Lareh Nan Panjang yang diketahui sebagai kelarasan yang ketiga setelah Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago.

klan suku Minangkabau
Diperbarui 7 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pitopang atau ditulis juga sebagai Patopang atau Patapang adalah salah satu suku (klan) Minangkabau. Mengenai kelarasan, suku ini diketahui menerapkan Lareh Nan Panjang yang diketahui sebagai kelarasan yang ketiga setelah Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago.

Pitopang merupakan satu dari lima suku (klan) Minangkabau yang dicetuskan oleh Datuak Nan Sakelap Dunia (Sikalok Dunia)[a] yang berawal dari usahanya pada perombakan pertama terhadap tatanan suku-suku yang ada baik itu dari Lareh Koto Piliang maupun Lareh Bodi Chaniago, yang melahirkan suku-suku yang baru, dengan empat suku lainnya yaitu Kutianyie, Banuhampu, Salo, dan Jambak.[b][4][5]

Etimologi

Kadang-kadang suku ini disebut Patapang, Petopang, Pitapang dan Patopang. Mungkin asal katanya adalah Topang yang berarti Sangga atau Dukung (Penopang/Penumpu). Patapang adalah nama sejenis pohon, ketapang.

Asal Usul

Banyak faktor kemudian yang melatar belakangi penambahan suku selain empat suku induk terawal. Di antaranya perkembangan keadaan dalam sejarah, termasuk kedatangan 'kekuasaan asing' di Ranah Minang. Tambo menyatakan bahwa perombakan pertama dilakukan oleh Datuak Nan Sakelap Dunia dengan yang berkeinginan hak yang sama dengan para saudaranya[a] dengan cara memisahkan dirinya dari Lima Kaum (yang dijadikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sebagai tempat berdirinya Kerajaan Dusun Tuo[6][7]) dan kemudian Datuak Nan Sakelap Dunia membuat lima suku baru. Ke lima suku baru tersebut adalah Kutianyie, Patapang (Pitopang), Banuhampu, Salo, dan Jambak.[4][5] Nama kelima suku ini diambil dari nama Salonagari asal penduduk yang menjadi pengikutnya.[8]

Datuak Nan Sakelap Dunia (Sikalok Dunia) atau dikenal juga sebagai Datuak Nan Banego-nego yang membuat 5 suku baru tersebut, merupakan pencetus sistem "Lareh Nan Panjang"[4][3] yang menjadi lareh ketiga di Minangkabau.[c] Walaupun demikian, jika dilihat berdasarkan pada praktik penerapan tatanan adat saat ini, tidak selalu bahwa suku-suku tersebut menggunakan sistem adat Lareh Nan Panjang, karena konsep dasar lareh ini mengacu pada suatu sikap yang netral dan tidak berat berpihak pada Lareh Koto Piliang ataupun Lareh Bodi Chaniago. Sehingga ada di antara suku tersebut yang menerapkan salah satu dua kelarasan awal, tetapi tidak secara mutlak.

Pada suku Pitopang ini, kelarasan yang diterapkan sangat sejalan dengan yang dicetuskan oleh Datuak Sikalok Dunia (Datuak Nan Banego-nego) yakni Lareh Nan Panjang, sebagaimana kebijakannya mengenai hasil dari proses perombakannya bahwa suku Pitopang tidak lagi seperti pendahulunya yang berasal dari antara kedua kelarasan terawal baik itu Lareh Koto Piliang ataupun Lareh Bodi Chaniago.

Awal terbentuknya suku Pitopang ini kemungkinan dikukuhkan di Pariangan Padang Panjang karena daerah inilah yang menjadi basis untuk Lareh Nan Panjang.[d] Di sisi lain juga diperkuat bahwa pada era Kerajaan Pagaruyung, Pariangan menjadi rujukan adat yang tentunya mencakup hal persukuan, sebagaimana pepatah: “Baadaik ka Pariangan, barajo ka Pagaruyuang”.[4][11]

Mitos Suku

Adapun mengenai mitos pada suku Pitopang dan juga pada suku Jambak dan suku Kutianyie yakni turunnya hujan jika ada orang Minang yang berasal dari ketiga suku ini saat melaksanakan acara pesta pernikahan (baralek). Namun jika dilihat berdasarkan saksi mata di lapangan, tidak selalu bahwa orang Minang yang berasal dari antara ketiga suku tersebut pasti selalu turun hujan saat melaksanakan acara baralek, karena bahkan ada yang saat acara tersebut dilaksanakan pun cuaca juga biasa saja (tidak turun hujan).

Sub-suku (Sub-klan)

Pitopang Basah, Pitopang Darek, Pitopang Dibawah, Pitopang Ditongah,Pitopang Godang, Pitopang Koto Tuo, Pitopang Lado, Pitopang Rumah Panjang dan Pitopang Ompek Dapue.

Kerabat

  1. Banuhampu
  2. Jambak
  3. Kutianyia
  4. Salo

Persebaran

Suku ini banyak menyebar di Kabupaten Tanah Datar , Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh, Kabupaten Solok, Kabupaten Sijunjung, Kota Sawahlunto, dan Riau seperti di Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, dan Kabupaten Kuantan Singingi.

Pangulu Adat

Di antara pangulu adatnya atau dikenal sebagai datuak antara lain :

  • Datuak Sibijayo
  • Datuak Sinaro Batuah
  • Datuak Paduko Sadio
  • Datuak Pangulu Mudo
  • Datuak Mutofa
  • Datuak Mangkuto Simarajo
  • Datuak Tumangguang
  • Datuak Paduko Rajo
  • Datuak monti
  • Datuak palito kayo
  • Datuak nang kodo
  • Datuak simulia
  • Datuak Paduko Simarajo

Tokoh

  • Jeffrie Geovanie Pitopang
  • Ramadanil Pitopang
  • Fadli Zon
  • Desi Anwar
  • Dewi Fortuna Anwar
  • Sri Danti Anwar
  • Afni Zulikifli (Bupati Siak 2025-2030)
  • Fatma Erlinda Kepala SMAN 47 Jakarta
  • Syifa Azka Khairina Chief Executive PT Semen Indonesia
  • l
  • b
  • s
Kerajaan Pagaruyung Daftar suku Minangkabau
Suku dalam Kalarasan
  • Koto
  • Piliang
  • Bodi
  • Caniago
Suku-suku Umum
Payobada • Pitopang • Tanjuang • Sikumbang • Guci • Panai • Jambak • Panyalai • Kampai • Bendang • Malayu • Kutianyie • Mandailiang • Sipisang • Mandaliko • Sumagek • Dalimo •Singkuan • Singkuang • Domo • Supanjang • Sumpadang • Sambilan • Simabua
Suku-suku Minang
di Negeri Sembilan
Biduanda (Dondo) • Batu Hampar (Tompar) • Paya Kumbuh (Payo Kumboh) • Mungkal • Tiga Nenek • Seri Melenggang (Somolenggang) • Seri Lemak (Solomak) • Batu Belang • Tanah Datar • Anak Acheh • Anak Melaka • Tiga Batu
Suku-suku Minang
di Rokan
Melayu • Ampu • Kuti • Kandang Kopuh • Soborang • Pungkuik • Maih • Bonuo • Muniliang
Suku-suku Minang
di Rao
Kandang Kopuh • Pungkuik • Bonuo • Moneiliang
Suku-suku Minang
di Kuantan dan Indragiri
Koto Tuo • Kampung Tonga • Koto Baru • Moneiliang • Caniago • Melayu • Patopang • Piliang • Nan Tigo • Nan Ompek • Nan Limo • Nan Onam • Piliang Lowe • Piliang Soni • Caromin • Mandahiliang • Kampung Salapan • Tigo Kampuang • Limo Kampuang • Piliang Atas • Piliang Bawah • Piabadar • Bendang • Kampai • Koto Piliang • Piliang Godang • Piliang Kociak • Piliang Tonga
Suku-suku Minang
di Kampar
Domo • Bendang • Piliong (Piliang) • Caniago • Melayu • Datuk Singo • Datuk Pandak • Melayu Bendang • Patopang (Putopang) • Melayu Tuo • Kampai
Suku-suku Pemekaran
Lubuk Batang • Sungai Napa • Tujuh Rumah • Korong Gadang • Bicu • Cubadak• Balai Mansiang

Catatan

  1. 1 2 Sikalok Dunia yang bergelar Datuak Nan Banego-nego, merupakan saudara seibu sebapak dengan Datuak Parpatiah Nan Sabatang,[1][2] yang tentu juga merupakan saudara seibu dengan Datuak Katumangguangan.[1][3] Datuak Nan Sakelap Dunia (Sikalok Dunia) atau dikenal juga sebagai Datuak Nan Banego-nego, merupakan pencetus sistem "Lareh Nan Panjang"[4][3] yang menjadi lareh ketiga di Minangkabau.
  2. ↑ Perombakan pertama ini bermaksud dalam hal melahirkan suku-suku baru yang berada di luar ranah kepemimpinan langsung "Lareh Nan Duo" yang terdiri dari Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago.
  3. ↑ Lareh Nan Panjang digambarkan dengan pepatah: “Pisang sikalek kalek hutan, pisang tambatu nan bagatah; Bodi Chaniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah”.[4][9] Kelarasan ini bukanlah bermaksud sebagai campuran antara Lareh Koto Piliang dengan Lareh Bodi Chaniago, karena sebagai lareh ketiga dalam kehidupan adat Minangkabau yang muncul setelah adanya konflik dan sengketa di antara pihak 2 lareh tersebut dan berakhir dengan Batu Batikam sebagai simbol perdamaian, maka perannya mengambil jalan netral antara keduanya. Dan penerapan sistem adat Lareh Nan Panjang ini yang terlihat seperti penggunaan antara 2 lareh tersebut secara makna sederhananya adalah bersifat "pembauran", bukan peleburan. Karena jika bersifat peleburan maka disebut sebagai "Lareh Nan Bunta" yang merupakan lareh yang dianggap sebagai persilangan antara Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago, dengan tiga konsep pemerintahan yang dipakai yaitu “bapucuak bulek; baurek tunggang; & tan di langik rajo di sandi”,[10] tetapi keberadaannya tidak begitu dikenal secara luas oleh masyarakat Minang pada umumnya.
  4. ↑ Basis wilayah Lareh Nan Panjang pertama kali berada di daerah sepanjang aliran Sungai Bangkaweh, di antaranya yaitu VIII Koto di Ateh (IV Koto di Ateh: Guguak, Sikaladi, Pariangan, dan Padang Panjang (sekarang keempatnya merupakan wilayah jorong di Nagari Pariangan); & IV Koto di Baruah: Koto Baru, Sialahan, Koto Tuo, dan Batu Basa (sekarang satu di antaranya merupakan wilayah jorong di Nagari Simabua dan tiga di antaranya merupakan wilayah jorong di Nagari Batu Basa)) yang saat ini keseluruhannya berada di Kecamatan Pariangan; dan VII Koto di Bawah (Galogandang, Padang Lua, Turawan (yang ketiganya saat ini membentuk Nagari III Koto); lalu Balimbiang, Kinawan, Sawah Kareh, dan Bukik Tumasu (yang keempatnya saat ini membentuk Nagari Balimbiang)) yang keseluruhannya saat ini berada di Kecamatan Rambatan.[9]

Referensi

  1. 1 2 Tambo Alam Minangkabau
  2. ↑ Jamil, Muhammad (26 Februari 2025). "Siapakah Datuk Pertama di Minangkabau?". Elipsis: Majalah Kita. Diakses pada tanggal 28 Juni 2025.
  3. 1 2 3 Syajidin, Minas (31 Mei 2022). "Sejarah Minangkabau". JamBerita.com. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025.
  4. 1 2 3 4 5 6 Tambo Adat Minangkabau.
  5. 1 2 Ismail, dkk. (2021). "Pewarisan Harta Etnis Minang Urang Darek Luhak Nan Tigo dan Urang Rantau Negeri Sembilan Malaysia". Penelitian Terapan Pengembangan Nasional. Bukittinggi: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. hlm. 43-44.
  6. ↑ Idris, Abdul Samad (1990). Payung Terkembang. Kuala Lumpur: Pustaka Budiman.
  7. ↑ Salim, Zulkifli Ampera (2005). Minangkabau dalam Catatan Sejarah yang Tercecer. Padang: Citra Budaya Indonesia.
  8. ↑ Hayati, Syahadatul (1 Oktober 2024). "Masyarakat Minangkabau: Struktur Sosial dan Budaya yang Khas". Kumparan. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025.
  9. 1 2 Nagari Pedia (27 Januari 2025). "Lareh Nan Panjang: Kelarasan Ketiga di Minangkabau". YouTube. Diakses pada tanggal 11 Mei 2025.
  10. ↑ Akbar, Muhammad Farid (21 April 2025). "Sistem Lareh, Mengenal Bagaimana Sistem Pemerintahan Masyarakat Suku Minang Berjalan". GoodNews from Indonesia. Diakses pada tanggal 11 Mei 2025.
  11. ↑ Sikumbang Minangkabau, Asro (9 April 2015). "Kesatuan Harmonis di Nagari Tuo Pariangan". Good News From Indonesia. Diakses pada tanggal 6 Oktober 2025.

Lihat pula

  • Suku Jambak
  • Suku Kutianyie
  • Daftar suku Minangkabau

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Asal Usul
  3. Mitos Suku
  4. Sub-suku (Sub-klan)
  5. Kerabat
  6. Persebaran
  7. Pangulu Adat
  8. Tokoh
  9. Catatan
  10. Referensi
  11. Lihat pula

Artikel Terkait

Daftar Suku Minangkabau

Daftar klan dalam sosiokultural suku bangsa Minangkabau

Suku Tanjung

klan suku Minangkabau

Suku Malayu

klan suku Minangkabau

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026