Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Suku Jambak

Jambak adalah salah satu suku (klan) Minangkabau. Suku ini bersama suku Kutianyie merupakan pecahan-pecahan dari suku Guci, yang mana suku induknya merupakan bagian dari Lareh Koto Piliang yang dikenal dengan prinsipnya yaitu “bajanjang naiak, batanggo turun”. Namun suku Jambak berbeda dengan suku induknya, karena ada yang menerapkan Lareh Bodi Chaniago dan ada pula yang menerapkan Lareh Koto Piliang sekaligus Lareh Bodi Chaniago yang bisa dikatakan sebagai Lareh Nan Panjang.

klan suku Minangkabau
Diperbarui 24 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jambak adalah salah satu suku (klan) Minangkabau. Suku ini bersama suku Kutianyie merupakan pecahan-pecahan dari suku Guci,[1][2][3] yang mana suku induknya merupakan bagian dari Lareh Koto Piliang yang dikenal dengan prinsipnya yaitu “bajanjang naiak, batanggo turun”.[4] Namun suku Jambak berbeda dengan suku induknya, karena ada yang menerapkan Lareh Bodi Chaniago[5] dan ada pula yang menerapkan Lareh Koto Piliang sekaligus Lareh Bodi Chaniago[6] yang bisa dikatakan sebagai Lareh Nan Panjang.[a]

Jambak merupakan satu dari lima suku (klan) Minangkabau yang dicetuskan oleh Datuak Nan Sakelap Dunia (Sikalok Dunia)[b] yang berawal dari usahanya pada perombakan pertama terhadap tatanan suku-suku yang ada baik itu dari Lareh Koto Piliang maupun Lareh Bodi Chaniago, yang melahirkan suku-suku yang baru, dengan empat suku lainnya yaitu Kutianyie, Pitopang, Banuhampu, dan Salo.[c][4][10]

Asal Usul

Banyak faktor kemudian yang melatar belakangi penambahan suku selain empat suku induk terawal. Di antaranya perkembangan keadaan dalam sejarah, termasuk kedatangan 'kekuasaan asing' di Ranah Minang. Tambo menyatakan bahwa perombakan pertama dilakukan oleh Datuak Nan Sakelap Dunia dengan yang berkeinginan hak yang sama dengan para saudaranya[b] dengan cara memisahkan dirinya dari Lima Kaum (yang dijadikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sebagai tempat berdirinya Kerajaan Dusun Tuo[11][12]) dan kemudian Datuak Nan Sakelap Dunia membuat lima suku baru. Ke lima suku baru tersebut adalah Kutianyie, Patapang (Pitopang), Banuhampu, Salo, dan Jambak.[4][10] Nama kelima suku ini diambil dari nama Salonagari asal penduduk yang menjadi pengikutnya.[13]

Datuak Nan Sakelap Dunia (Sikalok Dunia) atau dikenal juga sebagai Datuak Nan Banego-nego yang membuat 5 suku baru tersebut, merupakan pencetus sistem "Lareh Nan Panjang"[4][9] yang menjadi lareh ketiga di Minangkabau.[a] Walaupun demikian, jika dilihat berdasarkan pada praktik penerapan tatanan adat saat ini, tidak selalu bahwa suku-suku tersebut menggunakan sistem adat Lareh Nan Panjang, karena konsep dasar lareh ini mengacu pada suatu sikap yang netral dan tidak berat berpihak pada Lareh Koto Piliang ataupun Lareh Bodi Chaniago. Sehingga ada di antara suku tersebut yang menerapkan salah satu dari dua kelarasan awal, tetapi tidak secara mutlak.

Pada suku Jambak ini, kelarasan yang diterapkan yang terlihat saat ini secara fisik diketahui bukan yang dicetuskan oleh Datuak Sikalok Dunia (Datuak Nan Banego-nego) yakni Lareh Nan Panjang, tetapi secara konsep masih sejalan karena menerapkan di antara dua kelarasan awal secara tidak mutlak. Sebagaimana kebijakannya mengenai hasil dari proses perombakannya bahwa suku Jambak tidak lagi seperti suku induknya yakni Suku Guci yang sangat jelas dan mutlak menerapkan Lareh Koto Piliang, berhubung suku Jambak ada yang menerapkan Lareh Bodi Chaniago[5] dan ada juga yang menerapkan Lareh Koto Piliang sekaligus Lareh Bodi Chaniago[6] yang bisa dikatakan sebagai Lareh Nan Panjang.

Awal terbentuknya suku Jambak jika dilihat dari historis Datuak Sikalok Dunia (Datuak Nan Banego-nego) yang memisahkan diri dari Lima Kaum,[4][10] bisa dikatakan awal terbentuknya yakni di Luhak Tanah Datar yang diperkuat juga bahwa kemungkinannya dikukuhkan di Pariangan Padang Panjang karena daerah inilah yang menjadi basis untuk Lareh Nan Panjang yang dicetuskan oleh Datuak Sikalok Dunia (Datuak Nan Banego-nego) yang dikenal membuat 5 suku baru yang salah satunya adalah suku Jambak ini.[d] Di sisi lain juga diperkuat bahwa pada era Kerajaan Pagaruyung, Pariangan menjadi rujukan adat yang tentunya mencakup hal persukuan, sebagaimana pepatah: “Baadaik ka Pariangan, barajo ka Pagaruyuang”.[4][16]

Sistem Kelarasan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa suku ini bersama suku Kutianyie merupakan pecahan-pecahan dari suku Guci[1][2][3] yang merupakan bagian dari Lareh Koto Piliang yang dikenal dengan prinsipnya yaitu “bajanjang naiak, batanggo turun”. Namun berbeda dengan suku induknya, jika merujuk pada kekerabatan persukuan yang ada di Kota Padang, suku Jambak berkerabat dengan suku Sumagek, suku Mandaliko dan suku Panyalai yang termasuk dalam Lareh Bodi Chaniago yang dikenal dengan prinsipnya yaitu “tagak samo tinggi, duduak samo randah”, sedangkan suatu suku-suku pecahannya sendiri yaitu suku Malayu dan suku Sipisang menerapkan Lareh Koto Piliang seperti halnya suku induknya dari suku Jambak yaitu suku Guci yang juga demikian,[5] walaupun pada suku Malayu juga ada yang menerapkan Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago sekaligus yang ini bisa dikatakan sebagai Lareh Nan Panjang.[a]

Adapun jika dilihat pada suatu daerah di Kota Bukittinggi, tepatnya di Kel. Bukit Cangang Kayu Ramang, Kec. Guguk Panjang, mereka menggunakan kedua aliran (Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago) sekaligus yang berdampak pada bentuk rumah gadang dan adat istiadat. Pada rumah adat suku Jambak, rumah ini tidak memiliki anjuang pada kedua ujung rumah gadang dan berlantai datar seperti rumah gadang Bodi Chaniago. Namun, dalam adatnya dikenal istilah bajanjang naiak, batanggo turun yang merupakan model kepemimpinan kelarasan Koto Piliang. Hal ini mencerminkan integrasi antara konsep kelarasan Bodi Chaniago dan Koto Piliang pada adat suku Jambak di Bukit Cangang Kayu Ramang.[6] Dan penerapan kedua lareh sekaligus bisa juga dikatakan menerapkan Lareh Nan Panjang.[a] Jika dilihat kembali pada persebaran suku Jambak yang ada di Kota Padang, berarti suku Jambak ada yang sistem adatnya menerapkan Lareh Bodi Chaniago dan ada juga yang menerapkan Lareh Nan Panjang[a] berhubung penerapan kedua lareh sekaligus.

Jadi, kemungkinan suku Jambak pada awalnya menerapkan Lareh Koto Piliang hingga terjadi perubahan penerapan sistem adat menjadi Lareh Nan Panjang[a] jika dilihat pada demikian, hingga ada juga setelah itu berubah penerapannya menjadi Lareh Bodi Chaniago. Dan itu suatu penerapan yang berbeda dengan suku Guci yang merupakan suku induknya dan juga suku Malayu maupun suku Sipisang yang merupakan suku-suku pecahannya, di mana ketiganya pada dasarnya menerapkan Lareh Koto Piliang. Sehingga bisa dilihat bahwa di antara suku-suku yang pada dasarnya berada di bawah naungan Lareh Koto Piliang (selain suku Koto dan suku Piliang) juga ada yang mengalami perubahan penerapan sistem adat dengan juga menggunakan Lareh Bodi Chaniago sekaligus berarti penerapannya bisa dikatakan sebagai Lareh Nan Panjang,[a] di mana ini terjadi pada suku Jambak dan suku Malayu. Bedanya, suku Jambak dilihat saat ini ada yang menerapkan Lareh Bodi Chaniago dan ada juga yang menerapkan Lareh Nan Panjang,[a] sedangkan suku Malayu pada dasarnya menerapkan Lareh Koto Piliang dan ada juga yang menerapkan Lareh Nan Panjang.[a]

Adanya riwayat penerapan kelarasan yang diyakini sebagai Lareh Nan Panjang juga didukung bahwa suku Jambak ini dibentuk oleh Datuak Sikalok Dunia (Datuak Nan Banego-nego) yang dikenal sebagai pencetus Lareh Nan Panjang.[4][9]

Versi Lain

Dalam versi lain, suku ini adalah rombongan pengembara yang dipimpin Hera mong Champa/Harimau Champo yang datang dari Tiongkok, Champa, dan Siam.[butuh rujukan] Versi ini cukup berbeda dengan asal-usul suku Jambak yang jelas merupakan pecahan dari suku Guci yang itu tentunya jelas lahir dari etnis Minangkabau itu sendiri. Namun mengenai ini tidak memiliki referensi pendukung yang kuat dan malah ada di antara orang Minang sendiri yang menolak hal tersebut dikarenakan suku ini memang pecahan dari suku lain yaitu suku Guci, dan penolakan ini juga dikarenakan hal tersebut terkesan 'pemaksaan' dalam merelasikan antara "Champa" dengan "Jambak" yang penyebutan kedua namanya hampir mirip. Dan secara kosakata, kedua ini bermaksud pada hal yang berbeda.

Sebagaimana kedua hal ini pada dasarnya juga berbeda, karena Champa adalah suatu daerah, sedangkan "Jambak" pada dasarnya adalah suatu buah jenis jambu yang berukuran besar. Bisa dilihat bahwa beberapa suku pada etnis Minangkabau ada yang namanya merupakan nama buah, seperti suku Sipisang (Pisang) dan suku Dalimo. Jika misal sebut saja bahwa kedua versi di atas berkaitan, maka bisa jadi suku ini lahir dari suatu ikatan pernikahan antara orang Minang yang kemungkinan masih bersuku Guci dari pihak perempuan dengan kalangan rombongan Hera mong Champa/Harimau Champo dari pihak laki-laki, mengingat bahwa etnis Minangkabau menganut sistem matrilineal, dan tentu ini hanya suatu kemungkinan yang tidak memiliki dasar yang jelas.

Memang tidak dipungkiri bahwa berdasarkan berbagai sumber dalam kajian ilmu etnologi, antropologi, arkeologi, dan genetika, disebutkan bahwa moyang orang Minangkabau di antaranya berasal dari Champa, Siam, Cina selatan, India belakang, Persia, dan Eropa.[17][18][19][20][21] Namun mengenai Champa ini tidaklah bisa direlasikan langsung begitu saja dengan suku Jambak ini hanya karena melihat namanya yang hampir mirip bunyinya. Karena suku-suku di Minangkabau ini lahir dari peradaban yang telah terbentuk lama, apalagi suku Jambak ini merupakan pecahan dari suku lain yaitu suku Guci. Sedangkan moyang orang Minangkabau menjadi cikal bakal yang membentuk awal peradaban Minangkabau yang keberadaannya pada masa yang jauh sebelum suku-suku ini terbentuk.

Selain itu, mengenai versi ini yang mengatakan bahwa ada relasinya suku Jambak dengan Champa ataupun yang berhubungan dengan Hera mong Champa,[butuh rujukan] secara jelas pun juga tidak ditemukan dalam literatur Tambo Minangkabau. Sehingga versi ini cukup diragukan dan benar-benar tidak bisa dijadikan sebagai rujukan. Sedangkan yang sangat dijelaskan dalam Tambo Minangkabau mengenai suku Jambak ini adalah bahwa suku ini lahir atas kebijakan Datuak Sikalok Dunia (Datuak Nan Banego-nego) yang dikenal sebagai pencetus Lareh Nan Panjang.[4][9]

Mitos Suku

Adapun mengenai mitos pada suku Jambak dan juga pada suku Kutianyie dan suku Pitopang yakni turunnya hujan jika ada orang Minang yang berasal dari ketiga suku ini saat melaksanakan acara pesta pernikahan (baralek). Namun jika dilihat berdasarkan saksi mata di lapangan, tidak selalu bahwa orang Minang yang berasal dari antara ketiga suku tersebut pasti selalu turun hujan saat melaksanakan acara baralek, karena bahkan ada yang saat acara tersebut dilaksanakan pun cuaca juga biasa saja (tidak turun hujan).

Persebaran

Suku Jambak terdapat di beberapa daerah di Sumatera Barat seperti di Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang. Mengenai keberadaan suku Jambak di Kota Padang, pada mulanya merupakan pendatang yang bermigrasi dari Solok ke Padang pada abad ke-14 yang bersamaan dengan suku Tanjuang, Sikumbang, Guci, Malayu, Koto, dan Balaimansiang.[22]

Turunan Suku

Di daerah Malalo (Nagari Padang Laweh Malalo & Nagari Guguak Malalo), Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar, suku Jambak mengalami pertumbuhan populasi yang pesat dan ini mengakibatkan mereka mesti memekarkan diri menjadi 10 pecahan suku yaitu:[3][23][24]

  • Suku Muaro Basa.
  • Suku Nyiur.
  • Suku Makaciak.
  • Suku Pauh.
  • Suku Simawang (diambil dari nama nagari tetangga).
  • Suku Talapuang.
  • Suku Malayu (sehingga bisa disebut sebagai suku Jambak Malayu).
  • Suku Pisang (nama suku ini sudah ada juga di daerah lain sehingga disebut sebagai suku Jambak Pisang).
  • Suku Sapuluh.
  • Suku Baringin.

Pangulu Suku

  • Datuk Rajo Alam.
  • Datuk Mejan Sati.
  • Datuk Basa.
  • Datuk Nan Baruso.
  • Datuk Alam Basa.
  • Datuk Rajo Bandaro.
  • Datuk Rajo Basa.
  • Datuk Panduko.
  • Datuk Panduko Tuan.
  • Datuk Tumenggung.
  • Datuk Rangkayo Basa atau Datuk Rangkayo Nan Basa.
  • Datuk Nagari Labiah.
  • Datuk Pangulu Basa.
  • Datuk Tan Ameh.
  • Datuk Rajo Perak.
  • Datuk Rajo Mantari.
  • Datuk Marajo.
  • Datuk Kayo.
  • Datuk Gadang Basa.
  • Datuak Rajo Mangkuto di Nagari Kurai Taji.
  • Datuak Majo Lelo di Nagari Talu.

Tokoh

  • Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), ayah Buya Hamka, pendiri Sumatera Thawalib (sekolah Islam modern pertama di Indonesia yang didirikan pada era Hindia Belanda).
  • Asmawi Jambak.
  • Is Anwar Datuak Rajo Perak, seorang pengusaha yang sukses di Jakarta, pernah menjadi anggota aktif Partai Bintang Reformasi, juga seorang anggota DPR RI Komisi X.
  • Tanboy Kun, Youtuber Indonesia.
  • Inge Inkiriwang Jambak.
  • Rio Septianda Djambak.
  • Suci Wulandari, atlet pencak silat wanita Indonesia.
  • Prof. Deliar Noer, seorang ilmuwan yang berasal dari Desa Parak Laweh, Pakan Kamih, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.
  • Williardi Wizard, Kapolres Jakarta Selatan.
  • Benny Dwifa Yuswir Bupati Kabupaten Sijunjung

Lihat Pula

  • Daftar suku Minangkabau
  • Suku Guci
  • Suku Kutianyie
  • Suku Pitopang

Pranala luar

http://bs-ba.facebook.com/notes.php?id=48648344230

  • http://www.angelfire.com/id2/adyan/minang/Tambo_Rang_Kurai.html
  • http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/04/25/1/103807/suku-jambak-padang-segel-9-toko Diarsipkan 2008-06-07 di Wayback Machine.
  • http://wikimapia.org/7061116/id/Pakuburan-kawak-Dt-Panduko-Tuan-suku-Jambak-di-Kubu-jo-Marabuo
  • http://politik.vivanews.com/news/read/3300-h__is_anwar_datuk_rajo_perak%5B%5D
  • http://profiltokohmasyarakat.blogspot.com/2008/10/h-is-anwar-datuk-rajo-perak-sh.html
  • http://pemilu09.blogdetik.com/tag/is-anwar-rajo-perak/%5B%5D

Catatan

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lareh Nan Panjang digambarkan dengan pepatah: “Pisang sikalek kalek hutan, pisang tambatu nan bagatah; Bodi Chaniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah”.[4][14] Kelarasan ini bukanlah bermaksud sebagai campuran antara Lareh Koto Piliang dengan Lareh Bodi Chaniago, karena sebagai lareh ketiga dalam kehidupan adat Minangkabau yang muncul setelah adanya konflik dan sengketa di antara pihak 2 lareh tersebut dan berakhir dengan Batu Batikam sebagai simbol perdamaian, maka perannya mengambil jalan netral antara keduanya. Dan penerapan sistem adat Lareh Nan Panjang ini yang terlihat seperti penggunaan antara 2 lareh tersebut secara makna sederhananya adalah bersifat "pembauran", bukan peleburan. Karena jika bersifat peleburan maka disebut sebagai "Lareh Nan Bunta" yang merupakan lareh yang dianggap sebagai persilangan antara Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago, dengan tiga konsep pemerintahan yang dipakai yaitu “bapucuak bulek; baurek tunggang; & tan di langik rajo di sandi”,[15] tetapi keberadaannya tidak begitu dikenal secara luas oleh masyarakat Minang pada umumnya.
  2. 1 2 Sikalok Dunia yang bergelar Datuak Nan Banego-nego, merupakan saudara seibu sebapak dengan Datuak Parpatiah Nan Sabatang,[7][8] yang tentu juga merupakan saudara seibu dengan Datuak Katumangguangan.[7][9] Datuak Nan Sakelap Dunia (Sikalok Dunia) atau dikenal juga sebagai Datuak Nan Banego-nego, merupakan pencetus sistem "Lareh Nan Panjang"[4][9] yang menjadi lareh ketiga di Minangkabau.
  3. ↑ Perombakan pertama ini bermaksud dalam hal melahirkan suku-suku baru yang berada di luar ranah kepemimpinan langsung "Lareh Nan Duo" yang terdiri dari Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago.
  4. ↑ Basis wilayah Lareh Nan Panjang pertama kali berada di daerah sepanjang aliran Sungai Bangkaweh, di antaranya yaitu VIII Koto di Ateh (IV Koto di Ateh: Guguak, Sikaladi, Pariangan, dan Padang Panjang (sekarang keempatnya merupakan wilayah jorong di Nagari Pariangan); & IV Koto di Baruah: Koto Baru, Sialahan, Koto Tuo, dan Batu Basa (sekarang satu di antaranya merupakan wilayah jorong di Nagari Simabua dan tiga di antaranya merupakan wilayah jorong di Nagari Batu Basa)) yang saat ini keseluruhannya berada di Kecamatan Pariangan; dan VII Koto di Bawah (Galogandang, Padang Lua, Turawan (yang ketiganya saat ini membentuk Nagari III Koto); lalu Balimbiang, Kinawan, Sawah Kareh, dan Bukik Tumasu (yang keempatnya saat ini membentuk Nagari Balimbiang)) yang keseluruhannya saat ini berada di Kecamatan Rambatan.[14]

Referensi

  1. 1 2 Tambo kaum suku Kutianyie (bagian dari Tambo Minangkabau).
  2. 1 2 Tambo Nagari III Koto - Kec. Rambatan (bagian dari Tambo Minangkabau).
  3. 1 2 3 Tambo Luhak Tanah Data (bagian dari Tambo Minangkabau).
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tambo Adat Minangkabau.
  5. 1 2 3 Jumhari (April 2013). "Urgensi Penguatan Identitas Kewarganegaraan Subnasional di Kota Padang Pasca Gempa 2009: Studi Tentang Reposisi Etnis Cina Terhadap Kebijakan Publik dan Politik Lokal". Wacana Etnik, Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. Vol. 4, no. 1. Padang: Pusat Studi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PSIKM) dan Sastra Daerah FIB Universitas Andalas: 8. ISSN 2098-8746. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-04-29. ;
  6. 1 2 3 GDC Unand. "Rumah Gadang Suku Jambak". Explore the Beautiful Places Bukit Cangang Kayu Ramang. Diakses pada 19 November 2024.
  7. 1 2 Tambo Alam Minangkabau
  8. ↑ Jamil, Muhammad (26 Februari 2025). "Siapakah Datuk Pertama di Minangkabau?". Elipsis: Majalah Kita. Diakses pada tanggal 28 Juni 2025.
  9. 1 2 3 4 5 Syajidin, Minas (31 Mei 2022). "Sejarah Minangkabau". JamBerita.com. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025.
  10. 1 2 3 Ismail, dkk. (2021). "Pewarisan Harta Etnis Minang Urang Darek Luhak Nan Tigo dan Urang Rantau Negeri Sembilan Malaysia". Penelitian Terapan Pengembangan Nasional. Bukittinggi: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. hlm. 43-44.
  11. ↑ Idris, Abdul Samad (1990). Payung Terkembang. Kuala Lumpur: Pustaka Budiman.
  12. ↑ Salim, Zulkifli Ampera (2005). Minangkabau dalam Catatan Sejarah yang Tercecer. Padang: Citra Budaya Indonesia.
  13. ↑ Hayati, Syahadatul (1 Oktober 2024). "Masyarakat Minangkabau: Struktur Sosial dan Budaya yang Khas". Kumparan. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025.
  14. 1 2 Nagari Pedia (27 Januari 2025). "Lareh Nan Panjang: Kelarasan Ketiga di Minangkabau". YouTube. Diakses pada tanggal 11 Mei 2025.
  15. ↑ Akbar, Muhammad Farid (21 April 2025). "Sistem Lareh, Mengenal Bagaimana Sistem Pemerintahan Masyarakat Suku Minang Berjalan". GoodNews from Indonesia. Diakses pada tanggal 11 Mei 2025.
  16. ↑ Sikumbang Minangkabau, Asro (9 April 2015). "Kesatuan Harmonis di Nagari Tuo Pariangan". Good News From Indonesia. Diakses pada tanggal 6 Oktober 2025.
  17. ↑ Wonderful Indonesia (15 April 2014). "Travelling to West Sumatera (Japanese Language)". YouTube. Diakses pada sekitar tahun 2015 - 2017.
  18. ↑ Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1978). Sejarah Daerah Sumatra Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 16.
  19. ↑ Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia (18 Oktober 2017). "Adakah Orang Pribumi Indonesia? Penelitian Ini Menjawabnya". BSKDN (Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri). Diakses pada tanggal 18 November 2024.
  20. ↑ Wisesa, Yosafat Diva Bayu (24 Juni 2020). "Asal-Usul Orang Indonesia: Ada Darah India, Eropa, dan China". Hops.ID. Diakses pada tanggal 18 November 2024.
  21. ↑ Yuskar, Yuskar (2015). Taratak Tuo “Galundi nan Baselo”. Padang: Universitas Andalas.
  22. ↑ Safwan, Mardanas., dkk. (1987). Sejarah Kota Padang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 9-10.
  23. ↑ Tambo kaum suku Jambak (bagian dari Tambo Minangkabau).
  24. ↑ Tambo wilayah Malalo Tigo Jurai (Padang Laweh—Guguak—Baiang) - Kec. Batipuh Selatan {bagian dari Tambo Minangkabau}.
  • l
  • b
  • s
Kerajaan Pagaruyung Daftar suku Minangkabau
Suku dalam Kalarasan
  • Koto
  • Piliang
  • Bodi
  • Caniago
Suku-suku Umum
Payobada • Pitopang • Tanjuang • Sikumbang • Guci • Panai • Jambak • Panyalai • Kampai • Bendang • Malayu • Kutianyie • Mandailiang • Sipisang • Mandaliko • Sumagek • Dalimo •Singkuan • Singkuang • Domo • Supanjang • Sumpadang • Sambilan • Simabua
Suku-suku Minang
di Negeri Sembilan
Biduanda (Dondo) • Batu Hampar (Tompar) • Paya Kumbuh (Payo Kumboh) • Mungkal • Tiga Nenek • Seri Melenggang (Somolenggang) • Seri Lemak (Solomak) • Batu Belang • Tanah Datar • Anak Acheh • Anak Melaka • Tiga Batu
Suku-suku Minang
di Rokan
Melayu • Ampu • Kuti • Kandang Kopuh • Soborang • Pungkuik • Maih • Bonuo • Muniliang
Suku-suku Minang
di Rao
Kandang Kopuh • Pungkuik • Bonuo • Moneiliang
Suku-suku Minang
di Kuantan dan Indragiri
Koto Tuo • Kampung Tonga • Koto Baru • Moneiliang • Caniago • Melayu • Patopang • Piliang • Nan Tigo • Nan Ompek • Nan Limo • Nan Onam • Piliang Lowe • Piliang Soni • Caromin • Mandahiliang • Kampung Salapan • Tigo Kampuang • Limo Kampuang • Piliang Atas • Piliang Bawah • Piabadar • Bendang • Kampai • Koto Piliang • Piliang Godang • Piliang Kociak • Piliang Tonga
Suku-suku Minang
di Kampar
Domo • Bendang • Piliong (Piliang) • Caniago • Melayu • Datuk Singo • Datuk Pandak • Melayu Bendang • Patopang (Putopang) • Melayu Tuo • Kampai
Suku-suku Pemekaran
Lubuk Batang • Sungai Napa • Tujuh Rumah • Korong Gadang • Bicu • Cubadak• Balai Mansiang

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Asal Usul
  2. Sistem Kelarasan
  3. Versi Lain
  4. Mitos Suku
  5. Persebaran
  6. Turunan Suku
  7. Pangulu Suku
  8. Tokoh
  9. Lihat Pula
  10. Pranala luar
  11. Catatan
  12. Referensi

Artikel Terkait

Daftar Suku Minangkabau

Daftar klan dalam sosiokultural suku bangsa Minangkabau

Suku Tanjung

klan suku Minangkabau

Suku Malayu

klan suku Minangkabau

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026