Situs Sannai-Maruyama adalah sebuah situs arkeologi dan museum yang terletak di Maruyama dan Yasuda di barat daya pusat Kota Aomori di Prefektur Aomori, Jepang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

三内丸山遺跡 | |
Rekonstruksi struktur bertiang enam dan rumah lubang panjang di Sannai-Maruyama | |
| Lokasi | Aomori, Jepang |
|---|---|
| Wilayah | Tōhoku |
| Koordinat | 40°48′37″N 140°41′51″E / 40.81028°N 140.69750°E / 40.81028; 140.69750[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Situs_Sannai-Maruyama¶ms=40_48_37_N_140_41_51_E_type:landmark <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">40°48′37″N</span> <span class=\"longitude\">140°41′51″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">40.81028°N 140.69750°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">40.81028; 140.69750</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt6\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwBg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Situs_Sannai-Maruyama&params=40_48_37_N_140_41_51_E_type:landmark\" class=\"external text\" id=\"mwBw\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwCg\">40°48′37″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwCw\">140°41′51″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDg\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEA\">40.81028°N 140.69750°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwEw\">40.81028; 140.69750</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFA\"/></span>"}' id="mwFQ"/> |
| Luas | 40 hektare (400.000 m2; 99 ekar) |
| Sejarah | |
| Periode | Zaman Jōmon Awal-Tengah, zaman Heian, zaman Muromachi |
| Catatan situs | |
| Tanggal ekskavasi | 1953-1967,1976-1987, 1992-kini |
| Arkeolog | Universitas Keio, lainnya |
| Akses umum | Ya (taman arkeologi) |
| Situs web | sannaimaruyama |
Situs Sannai-Maruyama (三内丸山遺跡code: ja is deprecated , Sannai-Maruyama iseki) adalah sebuah situs arkeologi dan museum yang terletak di Maruyama dan Yasuda di barat daya pusat Kota Aomori di Prefektur Aomori, Jepang.
Reruntuhan permukiman dari zaman Jomon seluas 40 hektare (400.000 m2; 99 ekar) ini ditemukan pada tahun 1992, ketika Prefektur Aomori mulai mensurvei lahan tersebut untuk rencana pembangunan stadion bisbol. Para arkeolog meneliti situs ini untuk memperdalam pemahaman mereka tentang transisi menuju sedentisme dan kehidupan orang Jōmon. Ekskavasi telah menyingkap temuan lubang penyimpanan, gudang penyimpanan di atas tanah, dan rumah panjang. Temuan-temuan ini menunjukkan perubahan dalam struktur komunitas, arsitektur, dan perilaku organisasi masyarakat Jomon.
Berkat pentingnya informasi yang dikandungnya, situs ini ditetapkan sebagai Situs Sejarah Khusus Nasional Jepang pada tahun 2000, dan Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari kumpulan Situs Prasejarah Jōmon di Jepang Utara pada tahun 2021. Sekarang, khalayak umum dapat mengunjungi situs tersebut, melihat berbagai model rekonstruksi masyarakat Jōmon, dan museum yang memamerkan dan menyimpan sejumlah artefak yang dikumpulkan dari situs tersebut, yang secara kolektif telah ditetapkan sebagai Properti Kebudayaan Penting Jepang.
Situs Sannai-Maruyama tidak dinamai berdasarkan nama orang. Situs ini dinamai berdasarkan dua distrik di Kota Aomori dan fitur geografisnya, yang menjadi letak di mana situs ini berada: Maruyama ("Gunung melingkar atau gundukan", 丸山) dan Sannai ("Tiga kedalaman", 三内) merujuk pada tiga jurang di area tersebut. Distrik Maruyama merupakan bagian dari Distrik Kota Sannai. Sebagian kompleks ini berada di Distrik Kota Yasuda (安田code: ja is deprecated , Padang Kedamaian).[1]

Permukiman Sannai-Maruyama mulai dihuni sejak pertengahan periode Jōmon Awal hingga akhir periode Jōmon Tengah (3900–2200 SM), dan merupakan permukiman Jōmon terbesar yang pernah ditemukan di Jepang, dengan 648 rumah lubang.[2] Populasi mencapai puncaknya pada periode Tengah.[3] Permukiman ini terletak di teras sungai setinggi 20 meter (66 ft) di tepi Sungai Okidate, di ujung punggung bukit yang membentang ke barat daya dari Pegunungan Hakkōda.[1]
Kawasan ini pertama kali dihuni sekitar tahun 3900 SM. Para pemukim pertama di situs ini tinggal di rumah lubang.[3] Rumah-rumah ini biasanya berdiameter sekitar 3–4 meter (9,8–13,1 ft). Para pemukim menyimpan makanan di dalam lubang, yang memungkinkan mereka menyembunyikan stok ketika meninggalkan situs tersebut karena mereka masih hidup seminomaden.[3]
Sekitar tahun 2900 SM, para penduduknya memmulai hidup lebih menetap.[3] Mereka mulai menyimpan makanan di atas tanah, di bangunan tinggi, alih-alih di dalam lubang. Rumah panjang juga mulai bermunculan pada masa ini. Rumah panjang di Sannai-Maruyama adalah bangunan besar berbentuk lonjong. Rumah panjang terpanjang yang ditemukan di situs tersebut memiliki panjang 32 meter (105 ft). Para ahli percaya bahwa rumah panjang digunakan sebagai tempat pertemuan, bengkel, atau ruang tinggal. Rumah lubang masih dihuni pada saat yang sama ketika rumah panjang mulai didirikan.[4]
Salah satu struktur di Sannai-Maruyama yang paling terkenal adalah sebuah rekonstruksi bangunan besar bertiang enam, yang dibangun sekitar tahun 2.600 SM. Struktur ini terdiri dari enam tiang besar dari kayu kastanye dalam dua garis paralel yang diyakini menopang serangkaian lantai bertingkat.[5] Masing-masing pilar ini berdiameter sekitar 1 meter (3,3 ft) dan ditempatkan tepat dengan jarak 4,2 meter (14 ft). Sebagian besar struktur kayunya, seperti halnya sisa-sisa biologis lain di situs tersebut, mengalami kerusakan akibat asamnya tanah; namun, bagian bawah pilar-pilar tersebut terawetkan karena tergenang air sebab lokasinya yang berdekatan dengan rawa.[6] Tujuan dari struktur ini belum diketahui pasti. Struktur ini diduga berfungsi entah sebagai monumen, menara pengawas, kuil keagamaan, observatorium, atau mercusuar yang menghadap Teluk Mutsu.[7] Kemungkinan juga struktur ini digunakan sebagai kalender karena posisinya yang sejajar dengan matahari terbit pada titik balik matahari musim panas dan matahari terbenam pada titik balik matahari musim dingin.[5]
Sisa-sisa bangunan bertiang enam lainnya dari periode waktu yang berbeda telah ditemukan di seluruh situs. Banyak lubang tiang dari bangunan-bangunan ini saling tumpang tindih, yang menunjukkan bahwa struktur-struktur tersebut dibangun kembali di lokasi yang sama dan menghadap ke arah yang sama.[8]
Struktur kayu besar serupa telah ditemukan di situs-situs lain di Jepang dan seluruh Eurasia, termasuk situs kayu pendahulu Stonehenge.[9] Situs Sannai-Maruyama serupa dengan Stonehenge karena beberapa bangunannya sejajar dengan kedudukan benda-benda langit. Kesesuaian tiang-tiang di Situs Sannai-Maruyama dan Lingkaran Batu Ōyu di Prefektur Akita di dekatnya dengan perilaku benda-benda langit menunjukkan bahwa masyarakat Jōmon telah memahami pola pergerakan benda langit.[10]
Di situs ini juga terdapat dua timbunan sampah rumah tangga, termasuk artefak upacara.[11] Sejumlah besar tembikar dan periuk batu ditemukan dari timbunan sampah ini, termasuk sekitar 2.000 figur tanah liat, produk kayu, tulang dan benda serta peralatan tanduk rusa, juga pecahan keranjang dan pernis. Situs ini juga berisi lebih dari 500 liang kubur untuk jenazah orang dewasa, dan banyak kuburan guci untuk bayi. Beberapa pemakaman, yang diduga untuk kalangan elit, dikelilingi lingkaran batu.[12][13][14][15]
Beberapa barang yang terbuat dari giok, ambar, dan batu kendan hanya mungkin sampai ke situs ini melalui perdagangan karena bukan merupakan benda asli daerah tersebut. Orang Jōmon diketahui telah mengenal jaringan perdagangan yang luas.[16] Misalnya, tembikar bergaya Moroiso, yang terletak di selatan Tokyo, di Wilayah Kansai, telah ditemukan jauh ke selatan hingga situs Satogi di Prefektur Okayama dan ke utara sejauh situs Taigi dan Tashirojima di Prefektur Miyagi,[17][18] keduanya berjarak sekitar 500 kilometer (310 mi) dari Moroiso. Meski tembikar Moroiso tidak diketahui telah sampai ke Sannai-Maruyama, perdagangan yang signifikan memang terjadi di sana, termasuk beberapa tembikar yang dibuat secara lokal di Sannai-Maruyama.[19]
Pemukiman Sannai-Maruyama berakhir sekitar tahun 2300 SM karena alasan yang tidak diketahui. Situs ini ditinggalkan kemungkinan besar karena ekonomi penduduk yang tidak mampu menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan, dan berakhirnya pemukiman tersebut didorong oleh menipisnya sumber daya alam selama neoglasiasi.[20] Namun, pada zaman Heian, sebagian situs tersebut dihuni kembali oleh pendatang baru yang juga membangun rumah-rumah lubang, dan selama zaman Muromachi, sebagian situs tersebut ditempati oleh benteng khas abad pertengahan.[21]

Keberadaan reruntuhan di Sannai-Maruyama telah diketahui bahkan sejak zaman Edo, sebagaimana dicatat oleh para pelancong yang melintasi area tersebut dan menemukan puing-puing tembikar dan patung-patung tanah liat. Survei pertama dilakukan oleh Universitas Keio dan Dewan Pendidikan Kota Aomori dari tahun 1953 hingga 1967, dan dari tahun 1976 hingga 1987 M, Dewan Pendidikan Prefektur Aomori dan Kota Aomori melakukan penggalian lebih lanjut di bagian selatan situs tersebut.[22]
Arti sebenarnya dari situs ini baru diketahui ketika pembangunan stadion bisbol prefektur dimulai pada tahun 1992.[23] Karena banyaknya temuan selama penggalian arkeologi yang dilakukan pada saat itu, termasuk fondasi bangunan dengan enam tiang besar pada bulan Juni 1994, pemerintah akhirnya membatalkan proyek stadion dan memutuskan untuk melestarikan situs tersebut pada bulan Agustus 1994 sebagai taman arkeologi. Setelah pengumuman ini, sejumlah penggalian ditimbun kembali untuk melindungi situs tersebut.[24] Sejak tahun 1994, sekitar 26 tes penggalian tambahan telah dilakukan. Penggalian ini telah mengungkap sekitar 40% situs yang digali. Pada bulan Maret 1997, sebuah jalan selebar 12 meter (39 ft) yang menembus gundukan pemakaman ditemukan, dengan lubang kuburan di setiap sisinya. Jalan ini dimulai dari tengah permukiman ke arah timur sejauh 420 meter (1.380 ft).[23] Taman arkeologi ini kini memiliki luas 40 hektare (400.000 m2; 99 ekar).[25]
Pada April 2019, situs ini digabungkan dengan museum di dekatnya, Jōmon Jiyūkan (縄文時遊館code: ja is deprecated ). Secara administratif, situs arkeologi dan museum ini sebelumnya merupakan entitas terpisah, tetapi kini berfungsi sebagai satu situs bersejarah terpadu. Kini, pengunjung dapat mengunjungi situs tersebut, berbagai rekonstruksi struktur Jōmon, beserta museumnya.[26] Artefak yang dikumpulkan di situs ini secara kolektif ditetapkan sebagai Properti Kebudayaan Penting Jepang pada tahun 2003.[27]
Situs Sannai-Maruyama merupakan pusat dari Situs Prasejarah Jōmon di Jepang Utara, kumpulan situs arkeologi Jōmon di Hokkaido dan Tōhoku yang diusulkan oleh Jepang pada tahun 2020 untuk dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, berdasarkan kriteria iii dan iv.[28][29] Situs ini pertama kali diusulkan ke UNESCO pada tahun 2009, dan secara resmi berstatus Warisan Dunia pada tanggal 27 Juli 2021.[28][29]
Situs ini menjadi tempat pengumpulan api Paralimpiade Prefektur Aomori yang dikumpulkan untuk dikirim ke Stadion Nasional di Tokyo sebagai bagian dari pawai obor Paralimpiade Musim Panas 2020.[30]

Situs Sannai-Maruyama dihuni oleh para pemburu-pengumpul sekitar tahun 3900–2900 SM. Selama periode ini, situs tersebut berubah dari perkemahan musiman menjadi rumah bagi masyarakat yang lebih nomaden, yang akhirnya bertransformasi menjadi desa yang dihuni permanen. Bukti gaya hidup menetap ini dapat ditemukan dalam bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang intensif seperti kacang-kacangan, ikan-ikanan,[20][11] dan beragam tanaman—seperti berbagai jenis kacang-kacangan, labu air, dan burdock,[31] serta perubahan fasilitas penyimpanan.[20]
Awalnya, Situs Sannai-Maruyama diperuntukkan untuk tempat tinggal sementara. Terdapat lubang-lubang besar yang digunakan untuk penyimpanan dan dapat disembunyikan karena berada di bawah tanah, yang disukai oleh masyarakat yang hidup masih berpindah-pindah. Pergeseran terjadi sekitar tahun 2900 SM dari penggunaan lubang penyimpanan ke gudang-gudang tinggi, yang ditunjukkan oleh struktur-struktur bertiang yang tidak memiliki lubang api seperti pada hunian lubang. Penafsiran dari perubahan ini adalah bahwa penduduk di situs tersebut berangsur hidup menetap.[11]
Kemudian dalam catatan mengenai situs tersebut, rumah panjang yang dibangun bersama dengan beberapa rumah lubang ditemukan di situs ini. Peningkatan jumlah rumah juga menunjukkan gaya hidup yang lebih menetap dan bertambahnya populasi.[11] Selain itu, struktur tiang besar berasal dari periode waktu ini. Konstruksi pada skala ini menyiratkan adanya tenaga kerja yang terkoordinasi karena ukuran tiang-tiang yang sangat besar. Penempatan tiang-tiang tersebut membutuhkan kerja sama beberapa orang. Interpretasi dari penggunaan platform besar yang ditopang tiang ini adalah bahwa platform tersebut merupakan dasar untuk sebuah menara, atau bahkan sebuah kuil.[8]
Dampak neoglasiasi pada ditinggalkannya Situs Sannai-Maruyama sekitar tahun 2300 SM memiliki implikasi kontemporer. Penurunan suhu sebesar 2,6 °C (36,7 °F) memengaruhi runtuhnya permukiman dan peradaban di belahan dunia lain. Dampak pemanasan serta pendinginan global di zaman kuno terhadap populasi situs tersebut menunjukkan dampak perubahan suhu terhadap keberlangsungan masyarakat.[32]