Sirindhorna adalah sebuah genus dinosaurus ornithopoda hadrosauroid yang berasal dari deposit Kapur Awal di timur laut Thailand. Nama genus ini merupakan bentuk penghormatan kepada Putri Maha Chakri Sirindhorn atas kontribusinya terhadap dukungan dan minat pada paleontologi di Thailand.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sirindhorna Rentang waktu: Aptian ~ | |
|---|---|
| Pajangan kerangka Sirindhorna di Museum Dinosaurus Prefektur Fukui | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Klad: | Dinosauria |
| Klad: | †Ornithischia |
| Klad: | †Neornithischia |
| Superfamili: | †Hadrosauroidea |
| Genus: | †Sirindhorna |
Sirindhorna adalah sebuah genus dinosaurus ornithopoda hadrosauroid yang berasal dari deposit Kapur Awal di timur laut Thailand.[1] Nama genus ini merupakan bentuk penghormatan kepada Putri Maha Chakri Sirindhorn atas kontribusinya terhadap dukungan dan minat pada paleontologi di Thailand.
Pada tahun 2007, Museum Dinosaurus Prefektur Fukui (FPDM) menjajaki kemungkinan kolaborasi dengan Institut Riset Timur Laut untuk Kayu Terpetrifikasi dan Sumber Daya Mineral, Universitas Nakhon Ratchasima Rajabhat (NRRU), serta Museum Fosil Khorat yang terkait. Motivasi dari upaya tersebut didasarkan pada kesamaan usia batuan di Subdistrik Suranaree, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand, dengan Katsuyama, Prefektur Fukui, Jepang. Dinosaurus yang serupa diketahui berasal dari formasi di kedua lokasi tersebut, sehingga para peneliti ingin berkolaborasi dalam penelitian agar dapat membandingkan masa prasejarah kedua negara secara lebih mendalam. Kolaborasi ini disetujui sebagai Proyek Dinosaurus Jepang-Thailand (JTDP), yang kemudian menjadi dasar bagi pendirian Asosiasi Dinosaurus Asia pada tahun 2013. Hingga saat itu, lebih dari 30.000 fosil telah ditemukan melalui upaya bersama tersebut.[2]
Fosil Sirindhorna dikumpulkan sebagai bagian dari JTDP di situs Ban Saphan Hin dari Formasi Khok Kruat. Penentuan umur formasi ini masih belum pasti (karena fosil indeks tergolong langka), namun diperkirakan berasal dari tahap Aptium pada periode Kapur Awal, antara 125 hingga 112 juta tahun yang lalu. Formasi ini biasanya tidak menyembul ke permukaan di provinsi Nakhon Ratchasima, karena fitur geologinya tertutup oleh lapisan tanah merah tipis (legenda setempat mengklaim warna ini berasal dari darah dinosaurus); batuan dasar dari Kapur Awal di Suranaree umumnya ditemukan sekitar satu meter di bawah permukaan tanah. Lokasi lapisan tulang Sirindhorna biasanya digunakan untuk pertanian jagung dan tapioka. Saat sedang menggali untuk membuat waduk, para petani secara tidak sengaja menemukan fosil dinosaurus tersebut. Para peneliti kemudian mengidentifikasi ulang lokasi hamparan tulang tersebut dan mengumpulkan informasi mengenai tafonomi serta fosil lain yang ditemukan di sana, yang berkaitan dengan berbagai vertebrata namun tidak ditemukan tumbuhan atau invertebrata. Kegiatan pertanian dihentikan selama proses penggalian fosil berlangsung.[3]
Dideskripsikan pada 2015 oleh paleontolog asal Jepang, Thailand, dan Tiongkok, yaitu Masateru Shibata, Pratueng Jintasakul, Yoichi Azuma, dan Hai-Lu You, Sirindhorna merupakan satu dari delapan belas taksa dinosaurus pada tahun tersebut yang dideskripsikan dalam jurnal akses terbuka atau bebas baca.[4] Hewan ini merupakan spesies iguanodont ketiga yang ditemukan di Thailand, setelah Siamodon dan Ratchasimasaurus yang keduanya diketahui dari material yang lebih sedikit, serta merupakan ornithopoda pertama dari Asia Tenggara yang memiliki tengkorak dengan kondisi pengawetan yang baik.
Spesies tipe dan satu-satunya spesies dari genus ini adalah Sirindhorna khoratensis. Takson ini diketahui dari holotipe NRRU3001-166 yang berupa tempurung otak (braincase) terartikulasi, serta sejumlah spesimen rujukan yang tidak terartikulasi. Material dari spesimen rujukan tersebut terdiri dari tiga bagian tempurung otak lainnya (satu dengan postorbital terartikulasi), satu premaskila kanan, maskila kiri dan kanan, jugal kanan, surangular, kuadrat, satu predentari, dentari kanan dan kiri, serta berbagai jenis gigi. Nama generiknya didedikasikan kepada Putri Maha Chakri Sirindhorn atas kontribusinya dalam mendukung dan memajukan paleontologi di Thailand. Nama spesifiknya berasal dari Khorat, nama informal dari Provinsi Nakhon Ratchasima.
Ilium dan iskium dari S. khoratensis hingga saat ini belum dideskripsikan.[5]