Shekhina(h) (juga dieja Shekina(h), Schechina(h), atau Shechina(h)) (bahasa Ibrani: שכינהcode: he is deprecated ) adalah transliterasi dari kata Ibrani yang berarti "tempat tinggal" atau "menetap" dalam arti tempat tinggal atau tempat menetapnya hadirat Allah. Shekhinah adalah aspek pribadi dari Keilahian, juga disebut sebagai Hadirat Ilahi. Istilah ini memiliki kognat dalam bahasa Arab Sakīnah (bahasa Arab: سكينةcode: ar is deprecated ) yang diserap ke dalam bahasa Indonesia Sakinah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Shekhina(h) (juga dieja Shekina(h), Schechina(h), atau Shechina(h)) (bahasa Ibrani: שכינהcode: he is deprecated ) adalah transliterasi dari kata Ibrani yang berarti "tempat tinggal" atau "menetap" dalam arti tempat tinggal atau tempat menetapnya hadirat Allah. Shekhinah adalah aspek pribadi dari Keilahian, juga disebut sebagai Hadirat Ilahi.[1]: 231 Istilah ini memiliki kognat dalam bahasa Arab Sakīnah (bahasa Arab: سكينةcode: ar is deprecated ) yang diserap ke dalam bahasa Indonesia Sakinah.
Istilah ini tidak tercatat dalam Alkitab, dan hanya dijumpai dalam Literatur Rabinik.[2]: 148 [3][4]
Shekhinah diturunkan dari kata Ibrani שכן. Akar Semitik kata ini berarti "menetap, menghuni, tinggal, atau berdiam". Merupakan kata benda abstrak yang tidak terdapat dalam Alkitab, dan pertama kali ditemui dalam literatur rabinik.[2]: 148–149 , [3] Akar kata ini sering digunakan untuk merujuk kepada sarang burung. ("Setiap unggas berdiam dekat jenisnya dan orang dekat dengan yang setara dengannya.")[5] dan juga bisa berarti "tetangga" ("Jika dua Tobia muncul, salah satunya adalah tetangga dan yang lainnya seorang sarjana, maka yang sarjana harus didahulukan."[6]
Kata untuk Kemah Suci, mishkan, merupakan turunan dari akar kata yang sama dan digunakan dalam arti "tempat tinggal" atau "kediaman" dalam Alkitab, misalnya Mazmur 132:5 ("sampai aku menemukan tempat untuk LORD, kediaman untuk yang mahakuat dari Yakub.") dan Bilangan 24:5 ("Bagaimana indah tendamu, Yakub, tempat tinggalmu, Israel!" di mana kata "tempat tinggalmu" adalah mishkenotecha). Dengan demikian, dalam pemikiran Yahudi, Shekhinah mengacu pada tempat tinggal atau tempat menetap dalam arti khusus, di mana yang tinggal atau menetap adalah hadirat ilahi, sehingga menimbulkan efek bahwa jika dekat dengan Shekhinah, maka hubungan dengan Allah lebih mudah dirasakan.[7]
Konsep ini mirip dengan yang ada pada Injil Matius 18:20, "di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaku, di situ aku ada di tengah-tengah mereka."[2]: 149 Beberapa teolog Kristen telah menghubungkan konsep Shekhinah dengan istilah Yunani Parousia, "kehadiran" atau "kedatangan", yang digunakan dalam Perjanjian Baru dalam cara yang mirip untuk "hadirat ilahi".[8]
Shekhinah mewakili atribut feminin kehadiran Allah.[1] Shekhinah adalah kata bentuk feminin dalam bahasa Ibrani, yang didasarkan terutama pada pembacaan Talmud.[9]
Shekhinah disebut terwujud dalam Kemah Suci dan Bait Allah di Yerusalem dalam semua literatur Rabinik. Juga dinyatakan hadir dalam aksi doa umum. Dalam Mishna kata benda ini digunakan dua kali: sekali oleh Rabbi Hananya ben Teradion (c. 135 CE): 'Jika dua orang duduk bersama-sama dan kata-kata mereka adalah dari Taurat, maka Shekhinah ada di tengah-tengah mereka', dan Rabbi Halafta ben Dosa: 'Jika sepuluh orang duduk bersama dan menyibukkan diri dengan Hukum (Taurat), Shekhinah berdiam di antara mereka.'[2]: 148–149 Begitu juga dalam Talmud Sanhedrin 39a, tertulis: "Setiap kali sepuluh orang berkumpul untuk berdoa, di sanalah Shekhinah berada"; hal ini juga berkonotasi penghakiman yang benar,[10] dan kebutuhan pribadi.[11]
Secara khusus, shekhinah adalah api suci yang berdiam dalam rumah pasangan yang sudah menikah.[1] Shekhinah merupakan yang tertinggi dari enam jenis api kudus. Ketika suatu pasangan yang sudah menikah layak untuk menerima manifestasi ini, semua jenis api lain akan dikonsumsi olehnya.[1]: 111, n. 4
Kata shekinah tidak ada di Alkitab, meskipun terdapat kata yang mirip shakan, dan istilah-istilah lain dari akar škn. Juga tidak ditemukan dalam literatur pra-rabinik seperti Gulungan Laut Mati. Hanya ditemukan setelahnya dalam targum dan literatur rabinik sebagai istilah Ibrani shekhinah, atau istilah bahasa Aram yang setara shekinta,, dan kemudian menjadi sangat umum. McNamara menganggap bahwa ketiadaanya mungkin mengarah pada kesimpulan bahwa istilah ini hanya muncul setelah kehancuran Bait Allah pada tahun 70 M, tetapi perlu dicatat bahwa dalam 2 Makabe 14:35 "sebuah kuil untuk tempat tinggal-Mu", teks yunani (naon tes skenoseos) menunjukkan kemungkinan pemahaman yang paralel, dan kata benda Yunani skenosis dapat menjadi terjemahan untuk bahasa Aram shekinta.[2]: 148
Shekhinah ini terkait dengan transformasi roh Allah yang dianggap sebagai sumber dari nubuatan:
Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Allah, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi di depan mereka; mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi. Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain.
Para nabi membuat banyak referensi untuk visi dari hadirat Allah, khususnya dalam konteks Kemah Suci atau Bait Allah, dengan gambaran seperti singgasana atau jubah mengisi Tempat Kudus, yang secara tradisional telah dikaitkan dengan kehadiran Shekhinah. Yesaya menulis: "aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci" (Yesaya 6:1). Yeremia memohon " janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu" (Yeremia 14:21) dan disebut "Takhta kemuliaan, luhur dari sejak semula, tempat bait kudus kita!" (Yeremia 17:12). Dalam Kitab Yehezkiel berbicara tentang "Lihat, di sana [Bait Suci] tampak kemuliaan Allah Israel, seperti penglihatan yang kulihat di lembah itu." (Yehezkiel 8:4)
Dalam Targum tambahan istilah kata benda Shekhinah menjadi parafrasa kata kerja Ibrani seperti pada Keluaran 34:9 "let the Lord go among us" (suatu ekspresi verbal kehadiran-Nya) di mana Targum memberi parafrasa sebagai "shekhinah" Allah (bentuk kata benda).[12] Dalam periode setelah kehancuran Bait Suci, penggunaan istilah Shekhinah dapat memberi pemecahan masalah bahwa Allah itu Maha-hadir (omnipresent) dan tidak berdiam pada satu tempat manapun.[13]
Talmud juga mengatakan bahwa "Shekhinah bertumpu pada manusia baik melalui kegelapan, atau melalui kemalasan, atau melalui kesembronoan, atau melalui kesembronoan, atau melalui berbicara, maupun melalui obrolan kosong, tetapi hanya melalui hal sukacita dalam kaitannya dengan ajaran, seperti yang dikatakan, Tapi sekarang membawa saya penyanyi. Dan terjadilah, ketika penyanyi dimainkan, bahwa tangan Tuhan datang kepadanya (2 Raja–raja 3:15)". (Traktat Shabbat 30b)
Berkat ke-17 dalam doa harian Amidah pada ibadah Ortodoks, Konservatif, dan Reformasi adalah "[Terpujilah Engkau, Tuhan,] yang mengembalikan Hadirat-Nya (shekhinato) ke Sion" (הַמַּחֲזִיר שְׁכִינָתוֹ לְצִיּוֹן) seperti yang dapat dilihat dalam setiap siddur (buku doa harian Yahudi).
Buku doa Yahudi Liberal untuk Rosh Hashanah dan Yom Kippur (Machzor Ruach Chadashah) berisi doa kreatif berdasarkan Avinu Malkeinu, di mana kata benda feminin Shekhinah digunakan dalam kepentingan netralitas gender.[14]
Tema Shekhinah sebagai PengantinSabat berulang dalam tulisan-tulisan dan lagu-lagu dari Kabbalis abad ke-16, Rabbi Isaac Luria. Contohnya adalah lagu Asader Bishvachin, ditulis dalam bahasa Aram oleh Luria (namanya muncul dalam bentuk akrostik pada setiap baris) dan dinyanyikan pada makan malam Sabat. Lagu ini muncul khususnya pada banyak siddurs dalam bagian setelah doa Jumat malam dan dalam beberapa buku lagu Sabat.[15][16]
Sebuah paragraf dalam Zohar dimulai dengan: "Orang harus mempersiapkan tempat duduk yang nyaman dengan beberapa bantal dan penutup berbordir, dari semua yang ditemukan di rumah, seperti orang mempersiapkan tudung bagi pengantin. Karena Sabat adalah ratu dan pengantin. Inilah sebabnya tuan-tuan dari Mishna biasanya pergi keluar pada malam menjelang hari Sabat untuk menerimanya di jalan, dan biasanya mengatakan: "Datanglah, O pengantin, datanglah, O pengantin" Dan orang harus bernyanyi dan bergembira di meja untuk menghormatinya ... orang harus menerima Perempuan itu dengan banyak lilin yang menyala, banyak kesenangan, pakaian yang indah, dan sebuah rumah yang dihiasi dengan banyak hiasan ..."
Tradisi Shekhinah sebagai Pengantin Sabat, Shabbat Kallah, berlanjut hingga hari ini.
Konsep Shekhinah juga terkait dengan konsep Yahudi mengenai Roh Kudus (Yudaisme) (ruach ha kodesh) dalam tradisi Yahudi, seperti yang dapat dilihat dalam lagu Yiddish: Vel ich, sh'chine tsu dir kummen "Aku akan, Shekhinah, datang kepadamu".[17]
Kabbalah mengkaitkan Shekhinah dengan perempuan.[1]: 128, n.51 Menurut Gershom Scholem, "pengenalan ide ini adalah salah satu inovasi Kabbalisme yang paling penting dan abadi. ...tidak ada unsur lain dari Kabbalisme mendapatkan persetujuan sedemikian populer."[18] "Hadirat ilahi Yahudi feminin, Shekhinah, membedakan sastra Kabbalistik dari literatur Yahudi sebelumnya."[19]
"Dalam citra Kabbalah shekhinah adalah sefirah yang paling terang-terangan perempuan, yang terakhir dari sepuluh sefirot, disebut secara imajinatif sebagai 'putri Allah'. ... Hubungan yang harmonis antara perempuan shekhinah dan enam sefirot yang mendahuluinya menyebabkan dunia itu sendiri dapat dipertahankan oleh aliran energi ilahi. Dia seperti bulan memantulkan cahaya ilahi ke dunia."[20]
Zohar, sebuah kitab dasar kabbalah, menyajikan shekhinah sebagai memainkan peran penting dalam konsepsi dan kelahiran Musa.[21] Kemudian pada Kitab Keluaran pada "bulan baru ketiga" di padang gurun, "Shekhinah mengungkapkan Diri-Nya dan berdiam di atasnya di hadapan mata semua orang."[22][23]
Di antara orang-orang Kristen Shekhinah dalam Perjanjian Baru dapat disamakan dengan kehadiran atau berdiamnya Roh Tuhan (umumnya disebut sebagai Roh Kudus atau Roh Kristus) di dalam orang percaya, menunjukkan paralel dengan hadirat Allah di Bait Suci Salomo. Bertentangan dengan Perjanjian Lama di mana ruang Maha Kudus dalam Bait Allah itu mungkin menandakan lokasi hadirat Allah yang berkesinambungan, orang-orang Kristen dari ajaran Perjanjian Baru memahami keberadaan Allah sebagai Roh Kudus yang tinggal di dalam orang percaya.
Shekhinah dirujuk sebagai manifestasi kemuliaan Tuhan yang dikaitkan dengan kehadiran-Nya, di mana orang-orang Kristen menemukan banyak kejadian dalam Perjanjian Baru baik yang berbentuk literal (seperti dalam Lukas 2:9 yang mengacu pada "kemuliaan Tuhan" yang bersinar pada para gembala pada saat kelahiran Yesus),[24] maupun berbentuk spiritual (seperti dalam Yohanes 17:22, di mana Yesus berbicara kepada Allah yang memberikan "kemuliaan" yang Allah berikan kepada Dia untuk umat).[25], [26]
Sejalan dengan Yudaisme, Shekhinah terkait dengan nubuat dalam agama Kristen: "sebab tidak pernah nubuat datang oleh kehendak manusia, tetapi orang berbicara dari Allah, yang digerakkan oleh Roh Kudus."[27]
Sakīnah (bahasa Arab: سكينةcode: ar is deprecated ) menandakan "kehadiran atau damai sejahtera Allah". "Dukungan dan jaminan" itu "dikirim oleh Allah ke dalam hati" umat Islam dan Muhammad, menurut John Esposito.[28] Penerjemah Al-qur'an modern, N. J. Dawood, menyatakan bahwa "tranquility" ("ketenangan") adalah kata bahasa Inggris untuk kata Arab sakīnah, tetapi itu bisa menjadi "gema dari bahasa Ibrani shekeenah (Hadirat Kudus)."[29] Ilmuwan lain menyatakan bahwa bahasa Arab Sakīnah berasal dari bahasa Ibrani/Aram Shekhinah.[30] Dalam Al-qur'an, Sakīnah disebutkan enam kali, di surat al-Baqarah, at-Taubah dan al-Fath.[31][32] Sakīnah berarti "ketenangan", "perdamaian". "tenang", dari akar kata bahasa Arab sakana: "menjadi tenang", "mereda", "berdiam". Dalam Islam, Sakīnah "menunjuk damai yang khusus, "Damai sejahtera Allah". Meskipun terkait dengan istilah Ibrani Shekhinah, keadaan rohani bukan suatu "kediaman Hadirat Ilahi"[33] Penggunaan untuk kata akar bahasa Arab ini yang biasa adalah "dalam arti berdiam atau tinggal di suatu tempat". Cerita dalam literatur Tafsir dan Isra'iliyyat mengisahkan bagaimana Ibrahim dan Ismail, ketika mencari tempat untuk membangun Ka'bah menemukan Sakīnah. Newby menulis bahwa itu seperti suatu hembusan angin "dengan wajah yang bisa bicara", berkata "Bangunlah di atasku." "Terkait dengan kesalehan dan saat-saat inspirasi ilahi, sakinah dalam mistisisme Islam menandakan interior spiritual penerangan."[30]
Al-Qurthubi menyebutkan dalam buku tafsirnya yang terkenal, dalam penjelasan ayat [2:248] yang disebutkan di atas, bahwa menurut Wahab bin Munabbih, Sakinah adalah roh dari Allah yang berbicara, dan, dalam kasus orang Israel, di mana orang-orang tidak setuju pada sejumlah persoalan, roh ini datang untuk mengklarifikasi situasi, dan menjadi penyebab kemenangan mereka dalam perang. Menurut Ali, "Sakinah adalah angin yang manis, yang wajahnya seperti wajah manusia". Mujahid menyebutkan bahwa "ketika Sakinah memandang musuh, mereka dikalahkan", dan ibn Atiyyah menyebutkan tentang Tabut Perjanjian (at-Tabut), yang terkait dengan Sakina, bahwa jiwa-jiwa yang menemukan di dalamnya kedamaian, kehangatan, persahabatan dan kekuatan.
Menurut Islam Sunni, ketika Muhammad dianiaya di Makkah, tiba saatnya bagi dia untuk berhijrah ke Madinah. Ketika berusaha bersembunyi dari orang-orang Mekah yang sedang mencarinya, dia sementara berlindung bersama temannya, Abu Bakar, di sebuah gua.[34]
Dalam karya antropolog Raphael Patai bejudul The Hebrew Goddess (Dewi orang Ibrani), penulis berpendapat bahwa istilah Shekhinah mengacu pada sesosok dewi dengan membandingkan dan mengkontraskan kitab suci dengan sumber bahan Kabbalah Yahudi abad pertengahan. Patai menarik perbedaan sejarah antara Shekhinah dan Matronit. Dalam bukunya Patai juga membahas dewi Ibrani Asyera dan Anat-Yahu.[35]
Dalam thriller laris The Torah Code karya Ezra Barany, alur ceritanya mengacu pada Shekhinah sebagai sesosok dewi dan salah satu karakter bahkan bernama Patai. Dalam lampirannya terdapat makalah karya Rabbi Shefa Gold, Zvi Bellin, dan Tania Schweig tentang Shekhinah.[36]
Penyair amerika Gustav Davidson mencantumkan Shekhinah sebagai entri dalam karya referensi A Dictionary of Angels, Including the Fallen Angels (Kamus Malaikat, Termasuk Malaikat yang Jatuh), (1967), yang menyatakan bahwa ia adalah inkarnasi wanita Metatron.[38]
Lois Roden, yang diakui oleh Branch Davidian Seventh-Day Adventist Church asli sebagai guru/nabi dari tahun 1978 hingga 1986, meletakkan penekanan kuat pada kerohanian perempuan dan aspek feminin Allah. Dia menerbitkan sebuah majalah, Shekinah, sering ditulis SHEkinah, di mana dia meneliti konsep bahwa Shekhinah adalah Roh Kudus. Artikel dari Shekinah dicetak ulang secara online di situs web Branch Davidian.[39]
Whereas the verb shakan and terms from the root škn occur in the Hebrew Scriptures, and while the term shekhinah/shekinta is extremely common in rabbinic literature and the targums, no occurrence of it is attested in pre-rabbinic literature.
The term "shekhinah" is not found in the Bible, and it was formulated in talmudic literature from the biblical verb designating the residence (shkn) of God in the temple in Jerusalem and among the Jewish people. "Shekhinah" is used in rabbinic literature as one of the many abstract titles or references to God.
Let us invite the Shechinah with a newly-laid table
and with a well-lit menorah that casts light on all heads.
Three preceding days to the right, three succeeding days to the left,
and amid them the Sabbath bride with adornments she goes, vessels and robes
...
May the Shechinah become a crown through the six loaves on each side
through the doubled-six may our table be bound with the profound Temple services
Their prophet said to them: "The sign of his kingship is that the Ark will come to you in which there is tranquility from your Lord and a relic from the family of Moses and the family of Aaron, borne by the angels. In this is a sign for you if you are true believers. (Al Qur'an 2:248; Tarif Khalidi)
Muhammad and Abu Bakr hid in a cave south of Mecca for a day or two during Hegira